5. Alasan dan Paksaan

1372 Kata
"Selamat pagi, Karina," sapa Tristan. Lalu dapat dia lihat ekspresi penuh keterkejutan dari perempuan di hadapannya ini. Mata Karina membulat sempurna. "Apa yang kamu lakukan di sini?!" pekik Karina. “Kamu?” tanya Tristan karena sapaan Karina yang mendadak berbeda. “Maksud saya ANDA,” tandas Karina, meralat. Tapi kemudian dia segera menggelengkan kepalanya. “Ah terserah!” Karina tidak memusingkan sapaan dalam Bahasa Indonesia yang bermacam bentuknya lagi untuk menunjukkan sebuah kondisi hubungan orang yang tengah mengobrol. “Jadi kenapa kamu ada di sini lagi menemui saya? Dan ini masih sangat pagi! Oh my God!” tanya Karina dengan berapi-api karena dia kesal diganggu sepagi ini. Padahal selama 3 hari kemarin dia baru saja selesai bekerja untuk pemotretan, jadi hari ini dia bisa istirahat total sampai Senin tiba. Namun keberadaan pria yang menjadi pewaris lebih dari separuh harta kakeknya ini, jelas memberikan informasi kalau harinya tidak akan damai-damai saja. “Membujukmu,” jawab Tristan dengan singkat. Karina mendecakkan lidahnya, tidak lupa juga dengan putaran bola matanya yang sangat tidak sopan dilakukan pada orang lain. Tapi sepertinya Tristan pantas mendapatkan hal ini, sebab setelah dirinya meminta untuk tidak diganggu, pria ini justru kembali muncul di hadapannya. “Jawaban saya tetap tidak,” ujar Karina dengan tegas. Kembali menolak niat Tristan untuk membujuknya. Tristan membentuk senyum tipis di wajahnya pada Karina. Dia sama sekali tidak terpengaruh akan penolakan perempuan di hadapannya ini. “Waktu saya tidak banyak untuk membujukmu, saya bisa saja meminta sepupumu sebagai istri saya, tapi itu sama saja untuk masuk pada jebakan yang selanjutnya. Hanya kamu yang saya pikir paling netral untuk dipilih,” tutur Tristan meski Karina ogah-ogahan mendengarkan kalimat panjangnya tadi. “Lalu saya harus menurutimu, begitu?” Karina bertanya dengan nada malas. “Tentu saya tidak mau. Karena apa? Karena saya baru saja ditawari untuk dimanfaatkan,” sambungnya. Usai bertemu dengan Tristan di acara after party, Karina tidak bisa langsung mengenyahkan peristiwa tersebut. Bohong kalau dirinya tidak memedulikan kakeknya dan perusahaan keluarga mereka. Karina bahkan pingsan setelah mendengar kabar bahwa Briyan meninggal. Dia berada jauh dari Jakarta, ketika pulang dia sudah mendapati kakeknya telah dikuburkan. Tidak ada pelukan perpisahan meski dirinya meminta pada keluarganya untuk menunggunya pulang. Namun keluarganya justru tidak mempertimbangkan permintaannya. Karina tahu kalau sebaiknya kakeknya segera dikuburkan, tapi dia tetap berharap bisa menemui kakeknya. Melihat salah satu orang yang dia sayangi di dunia ini untuk terakhir kali. Hal ini juga yang membuatnya benar-benar ingin memutuskan hubungannya dengan keluarganya, bahkan menyembunyikan nama belakangnya, “Sutoyo”. “Saya bukan memanfaatkan kamu. Tapi ini win win solution,” ujar Tristan, mengoreksi pemahaman Karina akan penawarannya. “Apapun itu, saya tetap menolak,” kata Karina. Lalu— BRAKK Sebuah pintu tertutup keras di hadapan Tristan sebab Karina memilih untuk menyudahi percakapan mereka. Sekali lagi dia gagal membujuk Karina yang memang seperti dugaannya, tidak bisa dilobi hanya dengan kata-kata. /// “Sudah kumpulin informasi soal cowoknya?” tanya Tristan di balkon sebuah tempat tinggal yang akan menjadi huniannya selama di Milan. “Gue udah nyari banyak. Tapi ini gue rapiin dulu biar lo gampang cari dia,” jawab Anwar dari sambungan telepon. “Oke. Gue musti gerak hari ini dan setidaknya besok bisa cari bahan buat bujuk Karina lagi,” kata Tristan yang kemudian menolehkan kepalanya ke arah kanan. “Gue tutup,” pungkasnya, sebelum mematikan sambungan telepon. Kini matanya menatap pemandangan seorang perempuan dengan sport bra dan celana pendek di atas lutut tengah meregangkan tubuhnya. Perempuan itu masih belum menyadari kalau Tristan bahkan sudah mendekat ke arahnya yang berjarak 1 setengah meter dari balkonnya, sebab dia masih terfokus pada peregangan yang dia lakukan. Mungkin perempuan ini baru saja berolahraga karena keringatnya cukup banyak. Perempuan itu adalah Karina. Dan Tristan memang sengaja membeli apartemen ini untuk membujuk Karina dengan posisi yang lebih dekat, sangat tidak efektif bila dia harus memesan hotel. “Butuh minum?” celetuk Tristan sembari mengulurkan sebotol air mineral dengan lengan panjanganya. “Kamu?!” pekik Karina dengan terkejut. “Apa yang kamu lakukan di situ?” tanyanya kemudian. “Berdiri,” jawab Tristan. Karina langsung menyugar rambutnya. Dia tampak sangat terkejut karena melihat Tristan berada di balkon apartemen yang selama ini dia tahu kosong. Tidak ada yang menghuni apartemen tersebut. Tapi dia juga kesal dengan jawaban Tristan yang sangat singkat itu, tidak menjawab sama sekali pertanyaannya. “Kenapa harus di sana?” tanya Karina dengan kesal. “Sekali pun kamu tinggal bersebelahan begini, keputusan saya tetap akan sama.” Tristan menarik lagi lengannya karena Karina tidak kunjung menerima air minum yang dia berikan. “Tidak masalah, masih ada satu bulan lebih untuk membujukmu,” balas Tristan. “Dan aku pastikan akan membuatmu tidak bisa menemuiku dalam kurun waktu itu,” kata Karina sambil menahan emosinya yang mulai meluap. “kalau begitu caramu, maka semua jadwal modelmu akan dibatalkan. Karirmu akan turun dan sia-sia sudah apa yang selama ini kamu bangun,” ujar Tristan. Dia kini sudah memasang wajah datar, sama seperti ekspresi Karina saat ini. Perempuan di hadapannya ini tampak jelas sudah mulai membenci Tristan. Apalagi dengan kalimat provokasi yang dilayangkan Tristan barusan. “Jangan pernah mengusik kerja kerasku,” kata Karina dengan penekanan. Tapi Tristan tampak santai untuk mengedikkan bahunya, merasa kalau kalimat Karina sama sekali tidak mengintimidasinya. “Itu tergantung dengan apa yang kamu putuskan.” “b******k!” umpat Karina pada Tristan, lalu dia pergi meninggalkan Tristan sekali lagi. Alhasil bujukan yang ke 3 tetap gagal. Tapi setidaknya Tristan telah membuat Karina tidak akan mencoba untuk kabur atau bersembunyi darinya. “Mana mungkin gue bakal ngerusak kerja kerasnya. Karena gue juga pernah ngerasain putus asa karena mimpi gue diusik,” gumam Tristan yang ditujukan pada Karina. Tapi dia juga jadi terkenang akan mimpinya yang pernah hampir mati bersamanya. Tristan mengusap wajahnya dengan kasar saat mengingat hari dimana dia sudah merencanakan bunuh diri, tapi justru membatalkannya karena harus menyelamatkan Briyan Sutoyo. Dari sana, pertemuan Tristan dan Briyan kemudian membuat sosok Tristan seperti terlahir kembali. Mana pernah dia akan membayangkan menjadi pewaris tahta sebuah perusahaan besar dan cukup diperhitungkan di dunia. Yang dia ingat ketika sedang ada di posisi bawah karena bangkrut, hanyalah melenyapkan dirinya karena tidak sanggup lagi untuk hidup. Kini dia sudah memiliki mental dan jiwa yang kuat, serta raga yang dapat membantunya menjalani hidup sebagai direktur utama yang keras. “Pengujian AI di kamera buat bantu orang gangguan penglihatan dan kebutaan kemarin gimana?” tanya Tristan pada Irza. Hari Jum’at malam, seharusnya Tristan bisa mengunjungi tim pengembang untuk melihat bagaimana AI yang sudah lama dia inginkan untuk dimunculkan dalam kamera ponsel untuk diuji. Tapi karena dirinya harus membujuk Karina lagi, maka rencana itu batal dan dia belum mendapatkan update akan hal ini dari Anwar. “Masih berat buat kameranya sendiri. Kita buka apliaksi kamera bawaan jadi lama. Masih nggak efektif,” jawab Irza yang masih berada di dalam laboratorium perusahaan Young’s Tech. Tristan tanpa sadar memijat keningnya saat merasakan pening muncul kembali. “Jadi penelitian ini bakal lebih lama lagi?” “Iya, Bang. Jelas masih harus diuji sampe beberapa kali. Nggak akan bisa nyusul rilis bareng ponsel tipe baru nanti,” jawab Irza. “Oke. Gue ngerti.” Tristan menghela napasnya lalu berjalan keluar apartemennya menuju balkon dengan mug di tangan kanannya. Dia ingin menghirup udara segar karena merasa penat setelah mendapati kabar penelitiannya masih belum bisa diungkapkan pada publik. Dirinya bukannya terlalu ngoyo, mengejar keinginannya itu untuk segera dirilis, hanya saja Tristan ingin membuat perilisan ponsel tipe baru dari Youngs Tech akan lebih wah lagi. Jadi ada banyak fitur yang bisa digunakan oleh penggunanya dan juga bermanfaat pastinya. Sebenarnya bisa saja digunakan terpisah dengan aplikasi, tapi Tristan lebih ingin membuat kamera pada ponsel sudah ada fitur tersebut. Karena pengguna ponsel perusahaan mereka tidak perlu lagi menginstal aplaikasi baru yang bagi sebagian orang merepotkan. Namun perjalanan menuju hal itu tentu tidak mudah, sudah dua tahun tristan mengembangkannya, hanya saja belum bisa dilahirkan lebih cepat. Sekali lagi dia bertemu Karina di balkon setelah 10 menit dia berdiri.di tempat ini. Perempuan itu menatap Tristan tidak suka karena rencana membacanya menjadi gagal. Dia sudah berniat pergi dari sana, tapi sudah keduluan oleh Tristan yang kembali masuk tanpa mengatakan satu patahpun padanya. “Ada apa dengannya?” gumam Karina. Dia sedikit terperangah saat Tristan seperti baru saja menyuekinya. . . ///
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN