Bab 7. Lingga kampret!

1777 Kata
"Itu, apa Sinta?" Genta bertanya dengan tidak sabar. "Katakan dengan jelas!" Diam-diam Sinta mendengkus kesal, sebab Genta ini tidak memiliki kesabaran yang dapat ia manfaatkan untuk mengulur waktu. Ia juga bukannya tidak ingin menikah dengan Genta, sebab mau bagaimanapun anak dalam kandungannya tidak bisa lahir tanpa seorang ayah. Namun, bila ia harus ke luar dari kantor dan menetap di rumah, ia tidak mau apa lagi disuruh mengurusi ibunya Genta yang sakit. Itu yang membuat Sinta berat. Agrrrhh, ini semua gara-gara iri dan cemburu dalam hatinya pada Esty. Karena rasa irinya ini, Sinta tanpa pikir panjang menjebak Genta agar berpisah dengan Esty. Kalau sudah seperti ini, bagaimana nasibnya sekarang? Sinta menghela napas lelah, kemudian menatap balik Genta dengan serius. "Aku mungkin mau menikah dengan Mas Genta, tapi jujur saja untuk ke luar dari perusahaan terlalu berat. Apa Mas Genta akan mengizinkan aku untuk tetap bekerja? Kalau ya, mungkin aku bisa mempertimbangkan ajakan Mas Genta untuk menikah." Bukan tanpa alasan Sinta mengajukan syarat barusan, sebab dengan begitu berarti kalau ia tetap bekerja otomatis tidak akan mengurusi ibunya Genta yang penyakitan itu. Pokoknya apapun caranya, Sinta tidak mau kalau harus mengurusnya. "Tidak mungkin Sinta," Genta menggeleng, menatap Sinta rak percaya dengan apa yang baru saja diajukan perkataan oleh calon istrinya ini. "Perut kamu akan membesar, apa kata karyawan lain? Dengar! Aku mengajakmu menikah untuk sebuah tanggung jawabku karena sudah menghamili kamu, bahkan aku juga otomatis menghancurkan masa depan kamu. Orang-orang akan mencibir, menghina, bahkan memandang kamu rendah bila melahirkan di usia pernikahan kita yang baru sebentar, jadi sebelum semua semakin terlambat ayo kita menikah dan tentu saja lebih baik kamu ke luar dari kantor." "Aku masih ingin berkarir," Sinta menyorot Genta kecewa. "Tidak bisakah Mas Genta mengerti akan hal itu?" "Aku tahu, tapi--," "Masalah kehamilanku, tenang saja. Aku pasti bisa menutupinya dari karyawan lain, bila saatnya nanti aku melahirkan kita cari solusi lain untuk meminta izin dari kantor." Sinta mengusulkan, pokoknya jangan sampai ia berhenti dari kantor. Titik! "Aku tidak akan menerima ajakan menikah dari Mas Genta selama melarangku bekerja, biar saja Mas Genta terpuruk dari rasa bersalah." Genta tidak pernah tahu kalau Sinta bisa sekeras kepala ini, ia memijit pelipisnya karena pusing menghadapi tingkah Sinta yang seperti ini. Bukan hanya Sinta saja sekarang yang menjadi beban pikirannya, melainkan sang ibu juga di rumah yang beberapa kali kedapatan tidak diperlakukan baik oleh perawat-perawat yang ia sewa jasanya. Di tambah Esty yang ia kira masih mencintainya dan akan memutuskan untuk kembali, malah memperlihatkan keengganannya. Genta pusing, kepalanya pening, bahkan rasanya akan pecah menghadapi masalah-masalahnya yang tak kunjung selesai satu pun. "Jadi bagaimana Mas? Apa kamu mau mengizinkan aku untuk tetap bekerja?" Sinta kembali bertanya, sebab Genta malah terdiam dengan pikiran ke mana-mana. Genta merasa ia tidak punya pilihan lain, tanggung jawab haruslah ia lakukan. Mau bagaimanapun bayi yang Sinta kandung adalah anak yang sudah ia rindukan selama ini, walau itu bukan lahir dari rahim perempuan yang ia cintai. "Baiklah kalau dengan Mas membiarkan kamu tetap bekerja akan membuat kamu setuju menikah, maka Mas mengalah. Kamu boleh tetap bekerja, tapi dengan syarat harus tetap menjaga kesehatan dan bayi kita." Pada akhirnya Genta memilih mengalah, masalah nanti setelah menikah ia bisa membujuk Sinta untuk berhenti bekerja secara pelan-pelan. Untuk sekarang dengan menyelamatkan reputasi bayinya saja sudah cukup, Genta tidak ingin anaknya lahir di luar pernikahan dan nanti saat dia besar menjadi olok-olok oleh orang lain. Sinta tersenyum puas, akhirnya ia tidak perlu lagi mengurus ibu Genta yang sakit itu bila nanti menikah dengan laki-laki tampan di depannya. "Baiklah kalau begitu, kapan kita akan menikah?" "Secepatnya tentu saja, soalnya anak kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Genta menjelaskan, menatap Sinta dengan pandangan meminta pengertian. "Jangan menolak lagi oke." "Iya," jawab Sinta sedikit cemberut. Genta melirik perut Sinta yang tidak terlihat membuncit, oadahal setaun dia kalau tidak salah itungan harusnya sekarang berusia 6 bulan. Genta berpikir sebentar, sebelum kemudian menatap Sinta dengan pandangan penuh keinginantahuan. "Berapa bulan sekarang kehamilan kamu?" Sinta berpikir sebentar, menggoyangkan mulut untuk menghitung berapa bulan kehamilannya sekarang. Setelah selesai, ia menatap Genta kembali. "Mungkin 5 atau 6 bulan sekarang, kenapa?" Genta mengangguk, menyetujui itungan Sinta barusan. Sebab ia pun juga menghitung segitu, tapi kenapa perut Sinta masih terlihat tak kunjung membuncit. "Tapi perut kamu .... kenapa tidak seperti kebanyakan orang yang hamil 6 bulan sudah mulai membuncit?" Sinta menggigit bibir bagian bawahnya, gelisah saat Genta menanyakan tentang perutnya yang terlihat masih kecil. Tentu saja kecil, sebab ia memakai korset di pinggangnya. "Kamu gak mengikat perutmu, 'kan?" Genta menyongsong pertanyaan, matanya memicing curiga. Ia ingin membuka sendiri baju untuk membuktikan kalau Sinta tidak memakai korset, tapi ia tahu tidak mungkin melakukannya. "Em ... enggaklah Mas, mana mungkin." Sinta beralibi, otaknya bekerja cepat untuk memikirkan alasan apa yang pantas ia berikan agar Genta percaya akan kata-katanya. "I-ini kan kehamilan pertama Mas, jadi sudah biasa kalau terlihat kecil." "Oh begitu," Genta mengangguk paham. "Ya sudah kalau begitu Mas pergi dulu, ada banyak pekerja yang haris segera diselesaikan. Masalah pernikahan kita, akan Mas urus secepatnya." "Iya," Sinta mengangguk mengerti. Selepas kepergian Genta, Sinta langsung menghembuskan nafas lega. Ia meraba perutnya yang terdapat pengikat kencang di sana, berdecak sebal sebelum kemudian ke luar dari tangga darurat dan masuk ke dalam lift. Sedangkan di tempat lain Esty yang baru turun dari mobil taksi online disambut bingung oleh sang papa. Esty tidak mempedulikan wajah sang papa, berjalan santai melewati sang papa yang tengah duduk di terus rumah dan memilih masuk ke dalam rumah. "Loh, kok kamu pulang?" Tanya Alex. Esty menoleh ke arah belakang, ternyata papanya ini mengikutinya masuk ke dalam rumah. Esty memilih duduk di sopa, lalu menatap balik sang papa. "Memangnya apa yang Papa harapkan? Aku pulang di antar Lingga gitu?" "Tentu saja," Alex langsung mengangguk mengiyakan. "Lingga itu nyebelin, nurinin aku di tengah jalan." Aku Esty dengan bibir cemberut, kalau diperhatikan dengan seksama Alex akan menemukan seringai licik pada salah satu sudut bibir Esty. "Itu yang Papa bilang menantu paling baik?" Alex sedikit memiringkan kepala, mengusap dagu sambil menilai ungkapan Esty barusan. Ia mengenal Lingga adalah laki-laki yang seperti apa, jelas ia tidak akan mempercayai ucapan Esty barusan. "Pasti ada yang salah dalam penyampaian kamu barusan." "Apa maksud Papa?" Esty bertanya dengan nada tersinggung, bahkan papanya ini sudah tidak lagi mempercayai semua ucapannya semenjak ada Lingga. Lingga benar-benar biang kerok, laki-laki itu tidak bisa dibiarkan. "Papa sangat mengenal bagaimana Lingga, dia tidak akan menurunkan kamu sembarangan kalau tidak ada penyebab yang jelas. Apa menurutmu kamu bisa membidohi Papa? Palingan kamu sendiri yang maksa mau turun." Alex menatap Esty dengan satu alis terangkat, tatapan penuh guyon diperlihatkannya. Esty berdecak kesal, menatap sang papa tak percaya. "Papa nuduh aku berbohong?" "Apa barusan kamu mendengar kata bohong terucap dari mulut Papa?" Alex membalik bertanya, terkekeh puas saat melihat bibir Esty merengut karena kesal. Ia tertawa lucu begitu melihat Esty berdiri, menghentakkan kaki sambil berlari menaiki anak tangga. "Yang anaknya itu aku apa Lingga? Kenapa papa malah lebih mempercayainya?" rutuk Esty. "Anak itu masih saja seperti gadis kecil," gumam Alex sambil menggeleng pelan, lanjut mengambil koran dan membacanya. Malam hari Esty bersiap naik ke atas tempat tidur saat pintu terbuka, ia menoleh terkejut dan begitu tahu siapa yang masuk matanya langsung melotot galak. "Heh, kenapa kamu pulang?" Lingga menaikan salah satu alisnya, membuka jas dengan santai dan menyimpan di keranjang cucian. Begitu ia hendak naik ke atas ranjang bareng dengan Esty, lalu tiba-tiba saja ... bugh Satu bantal melayang tepat mengenai wajahnya. Lingga berkedip lambat, barulah bantal dari wajahnya jatuh ke lantai. Setelah kesadarannya kembali, ia menatap Esty dengan pandangan tak percaya. "Kamu gak takut dosa melempar suami sendiri dengan bantal?" "Dosa kamu juga banyak sama aku," jawab Esty dengan judes. "Jawab pertanyaan aku tadi, ngapain kamu pake acara pulang segala? Bukankah rumahku ini jelek dan bau, kenapa kamu tidak pulang ke rumahmu yang besar dan wangi itu?" Esty sangat ingat saat dulu ia masih SMA, Lingga selalu mengatakan rumahnya tidak lebih bagus dari milik laki-laki di depannya ini. Rumahnya bau lah, jelek lah, bahkan Lingga pernah mengatakan rumah Esty lebih mirip kandang ayam. Sakit hati, tentu saja. Padahal waktu dulu rumah Esty tidak jelek, malah terbilang bagus. Hanya saja memang benar kalau rumah laki-laki di depannya ini jauh lebih bagus dari miliknya. "Cieee yang nostalgia," Lingga tersenyum geli. "Kangen ya sama masa itu?" "Idih, siapa juga yang kangen?" Esty langsung pura-pura ingin muntah. "Aku gak kangen, hanya mengingatkan sama kelakuan kamu yang dulu amat sangat menyebalkan. Kenapa sih sekarang aku malah berakhir menikah denganmu? musibah banget." "Lah, lalu aku harus pulang ke mana kalau tidak ke rumah ini? Istriku ada di sini, masa aku pulang ke rumahku?" Lingga bertanya dengan nada guyon, mengerling genit dengan tawa menyebalkan. Dari dulu sampai sekarang ia begitu suka menggoda Esty, entah kenapa menjadi hiburan tersendiri bagi dirinya. "Yang musibah itu aku nikah sama kamu, tapi kamu mendapatkan aku yang tampan dan penuh pesona ini baru anugerah." Lingga adalah kakak kelas satu tingkat di atasnya saat SMA dulu, Esty mengenal Lingga adalah laki-laki dengan kepribadian menyebalkan. Selain selalu memanggilnya dengan sebutan ice tea, Lingga juga suka mengerjainnya habis-habisan. Pokoknya Esty membenci Lingga, titik! Menikah dengan Lingga adalah musibah. Kini Esty baru menyesali pernah bertaruh dengan sang papa dan sialnya ia kalah sehingga mau tidak ia harus menempati janji dengan menikah sama laki-laki pilihan sang papa. Andai Esty tahu siapa laki-laki itu dari awal, sudah ia tolak habis-habisan taruhan dari sang papa. "Kalau gitu kamu ke luar, jangan tidur di kamar aku. Kamarku sempit, gak seperti kamar kamu yang luas dan megah. Sana ke luar!" Ezty melotot galak, bertolak pinggang dengan berdiri di atas ranjang. Lingga mengedikkan bahu tak peduli. "Tidak masalah, tapi tentu saja kamu harus menerima konsekuensi atas apa yang kamu perbuat padaku." "Kamu mau ngadu ke papa kalau aku nyuruh tidur di luar?" Esty tertawa sinis, salah satu tangannya mengacungkan jari telunjuk sambil menggoyangkannya ke kiri dan kanan secara bergantian. "Aku sama sekali gak takut, bahkan bila kamu memaksa sekalipun sama papa untuk masuk ke dalam kamarku itu tetap tidak akan bisa." Lingga menyeringai licik, tatapannya bagaikan seorang antagonis dalam film fantasi dengan kata lain tatapan Lingga saat ini penuh tipu muslihat membuat Esty merasakan pirasat tidak baik. "Ya, tidak masalah kalau aku harus tidur di luar, tapi sebagai gantinya lihat saja aku tidak akan pernah membantu kamu lagi di depan mantan suami dan sahabatmu itu. Jadi sekarang kamu pilih, membiarkanku tidur di kamar atau tetap ingin mengusirku dari sini?" Lingga kampret! Dari dulu laki-laki ini selalu berhasil membuatnya tak berkutik. Melihat wajah Esty yang seperti orang tengah menahan pup karena kalah berdebat dengannya, Lingga langsung tertawa ngakak. Ia lompat ke atas kasur, kemudian berguling dengan nyaman di sana. "Akh, hangatnya ranjang pengantin memang beda," Lingga tersenyum penuh kemenangan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN