Esty turun dari ranjang dengan kesal, ia mengambil bantal dan memeluknya. Tak sampai di sana, Esty juga merebut selimut yang ikut teritindih badan Lingga dengan kasar. Setelah puas dengan apa yang ia punya, Esty menggelar selimut di lantai dan ia timpa dengan bantal yang dilempar di atasnya.
Lingga bangun duduk dengan senyum menyebalkan saat melihat Esty yang berbaring di atas lantai dengan beralaskan selimut, ia menepuk ranjang di sisinya. "Padahal di sini kosong, kamu bisa tidur di sampingku."
"Dalam mimpi!" Esty menjawab sambil mendelik sinis.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, tapi jangan menyesal bila nanti malam kamu kedinginan." Lingga berkata sambil berdiri, dengan santai membuka satu persatu kencing kemejanya. Lingga menoleh ke arah Esty, terkekeh pelan saat mendapati perempuan itu sudah menutup wajah menggunakan bantal.
Selesai dengan ritual bersih-bersih Lingga naik ke atas ranjang, ia tidur dengan posisi menghadap ke arah Esty. Perlahan tangan Lingga terulur membuka bantal yang menutupi wajah Esty, ia tersenyum tipis begitu mendapati perempuan galak itu sudah tertidur dengan pulas.
"Dasar perempuan galak!" Cibir Lingga sambil bangun berdiri, kemudian menunduk untuk berniat mengangkat dan memindahkan Esty ke atas ranjang. Namun, Lingga mengurungkan niatnya, ia menegakkan punggung kembali sambil berpikir sebentar.
Perlahan seringai jahat muncul di bibir Lingga, laki-laki tampan itu berjalan mengelilingi ranjang dan mengambil remot AC yang ada di atas meja rias. Lingga mengatur suhu ruangan hingga sedingin mungkin, tertawa jahat tanpa suara begitu ia sudah mulai merasakan udara di sekitarnya semakin sejuk.
Sebagai sentuhan terakhir Lingga mengedarkan pandangan, mencari tempat yang kiranya cocok untuk menyembunyikan remot AC. Begitu menemukan atas lemari yang terlihat tinggi dan tidak mungkin tergapai oleh Esty, Lingga menyimpan remot AC di sana.
Dengan santai Lingga naik kembali ke atas ranjang, berbaring dengan nyaman di sana. Ia mengambil guling, lalu memeluknya erat. Lingga mulai memejamkan mata, membiarkan suhu dingin menerpa tubuhnya.
Malam semakin larut, Esty tidak bisa tidur nyenyak karena rasa dingin yang serasa menusuk tulang. Tak tahan lagi, ia bangun duduk dan mengusap kedua lengannya. Ia mendongak melihat angka yang tertera di AC, seketika ia meradang kesal karena ternyata yang menyebabkan ruangan begitu dingin AC itu.
"Ini pasti kerjaan Lingga, kampret memang!" Esty menggerutu sambil berdiri, mencari remot AC di mana-mana. Namun, walau ia sudah menelusuri seluruh isi kamarnya, remot AC tak kunjung ia dapatkan.
"Di mana remot AC itu?" Esty bertolak pinggang.
Esty menoleh ke arah Lingga yang masih tidur nyenyak walau ruangan sangat dingin, jelas saja sebab laki-laki itu selain tidur di atas ranjang juga pastinya sudah terbiasa berada di suhu udara yang bahkan lebih dingin dari ini.
"Lingga, bangun!" Esty berkata sambil menoel pinggang Lingga, berharap dengan begitu Lingga akan bangun dan ia bisa menanyakan di mana remot AC. Esty sangat yakin kalau yang mengatur suhu ruangan adalah Lingga, yang ia tidak mengerti kenapa remot AC itu kini malah menghilang.
Sekali lagi Esty mengedarkan pandangannya berharap mendapat keajaiban menemukan renot AC, tapi itu tidak berhasil karena remot itu tak kunjung ia lihat. Berdecak kesal, Esty memutuskan mencoba membangunkan Lingga bahkan kali ini dengan cara menggoyangkan tubuhnya.
"LINGGA, BANGUN!" Esty berteriak di depan telinga Lingga.
Tetap tidak bangun.
Esty kini curiga, jangan-jangan Lingga bukannya tidur tapi laki-laki ini malah pingsan. Berpikir sebentar, Esty menggeleng pelan. Tadi sebelum tidur laki-laki ini baik-baik saja, jadi mana mungkin pingsan. Tidurnya saja yang ngebo, pasti begitu.
Begitu Esty akan mencoba sekali lagi, ia langsung mengurungkan niatnya. Ia baru ingat kalau ini tengah malam, bila berteriak lagi takutnya nanti papa dan mamahnya akan datang menegur. Pada akhirnya Esty memilih mengalah apa lagi matanya mengantuk berat, ia mengambil bantal dan selimut dari lantai.
Belum juga Esty naik ke atas ranjang, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Apa kata Lingga besok kalau melihatnya tiba-tiba tidur di sampingnya? Pasti laki-laki itu akan mentertawakan sampai puas, tapi mau gimana lagi tidur di lantai terlalu dingin dengan suhu serendah ini.
Setelah berdebat dengan hatinya sendiri Esty mulai naik ke atas ranjang, ia menatap Lingga yang masih memejamkan mata seolah tidak terganggu sama sekali dengan pandangan tak berdaya. Esty mulai membaringkan tubuh setelah sebelumnya sudah menyimpan bantal di sisi ranjang, menyelimuti diri dengan selimut agar tubuhnya terasa hangat.
Terdengar dengkuran halus dari napas Esty, menunjukkan kalau perempuan itu sudah tidur dengan nyenyak. Perlahan mata yang dari tadi terpejam mulai terbuka, kedua sudut bibir Lingga berkedut menahan tawa. Apa katanya tadi, rencananya pasti berhasil seratus persen.
Melihat Esty yang tidur jauh sekali dari dirinya, Lingga bangun dan menggeser tubuhnya hingga berbaring tepat di samping Esty. Ia mengambil guling yang ikut terbawa olehnya, memindahkan ke sisi yang lain. Inginnya Lingga memeluk Esty agar rasa dingin dalam tubuhnya berkurang, tapi ia terlalu takut Esty bangun hingga si singa betina itu kembali marah. Akhirnya Lingga hanya masuk ke dalam selimut, ikut menyusul Esty ke alam mimpi.
Adzan subuh berkumandang, Esty mengerjapkan mata sambil menguap. Perlahan kesadaran Esty mulai terkumpul, ia mengerjap aneh begitu merasakan sesuatu yang empuk dan hangat memeluk tubuhnya. Begitu menoleh ke samping, mata yang awalnya mengerjap aneh berubah menjadi melotot terkejut.
"ARGHHH," spontan Esty berteriak kaget.
bruk
"Aw," Esty mengaduh kesakitan saat tubuhnya terjatuh dan menghantam lantai, menggeliat sakit dengan ringisan. Begitu membuka mata, Esty langsung tertegun begitu mendapati wajah tampan Lingga berada tepat satu senti dari atas wajahnya.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat dalam posisi Esty berada di bawah tubuh Lingga. Tidak, Lingga tidak terjatuh menimpa tubuh Esty. Karena refleksnya bagus Lingga sempat menjadikan kedua siku tanganya sebagai tumpuan agar tidak jatuh pada tubuh Esty. Tatapan keduanya seolah terkunci, Esty bahkan tidak dapat merasakan suhu tubuh di sekitarnya dingin lagi lantaran sibuk mengendalikan jantungnya sendiri yang berdebar keras.
Lingga ini sangat tampan, tatapan matanya menghanyutkan. Esty tentu masih perempuan normal yang akan terhanyut bila berada dalam jarak sedekat ini dengan laki-laki tampan, bahkan menurutnya bila jantung dia berdebar seperti sekarang itu adalah hal biasa. Siapapun perempuan bila ada pada posisi dirinya sekarang, pastinya merasakan apa yang ia rasakan.
Jadi bukan jatuh cinta 'kan?
Lingga yang pertama sadar langsung menarik salah satu sudut bubirnya, neniup kedua mata Esty hingga mengerjap lucu. "Baru tidur seranjang saja sudah berteriak, aku yakin se isi rumah pasti mendengar teriakan kamu. Bagaimana kalau aku memperkosa kamu? Mungkin satu RT akan berbondong-bondong datang ke sini."
Mendengar kata perkosa yang ke luar dari mulut Lingga, Esty menelan ludah. Ia langsung membrtontak dan menyingkirkan tubuh Lingga dari atas tubuhnya sendiri. "Menyingkir kamu laki-laki gila!"
Lingga hanya tertawa saat tubuhnya didorong ke samping, tanpa perlawanan ia membiarkan Esty menjatuhkannya ke samping hingga berbaring di lantai. Ia lalu berbaring menyamping, menatap Esty yang sudah bangun dengan cepat.
"Kamu gak gerah tidur pakai hijab begitu?" Tanya Lingga karena tidak pernah melihat Esty dari awal menikah sampai sekarang tak pernah melepas hijabnya, jadi jangankan malam pertama melihat rambutnya saja tidak pernah.
"Boro-boro gerah, yang ada aku menggigil kedinginan akibat ulah jahil seseorang." Esty yang tengah melipat selimut melirik sinis Lingga yang sudah bangun, tapi laki-laki itu memilih bersila di atas lantai dingin dengan santainya. Jelas Esty tahu kerjaan siapa yang membuat AC dalam ruangan sedingin ini, kalau bukan Lingga memangnya siapa lagi?
Jangankan malam pertama, melihat sehelai rambut Esty saja Lingga belum pernah. Memang benar pernikahannya dan Esty karena dijodohkan, tapi seharusnya untuk masalah hubungan suami istri itu bukan hambatan. Ya, Lingga tahu ia harus menerima nasib, sebab bila ia ingin malam pertama mungkin harus memperkosa istri galaknya itu.
"Ice tea, minuman kesukaanku. Mau lihat dong rambut kamu." Lingga berkata sambil tetap duduk si lantai, memperhatikan Esty yang membereskan tempat tidur. "Masa suami sendiri gak pernah lihat?"
"Ngapain? Ice tea hanya minuman, jadi mana ada minuman memiliki rambut." jawab Esty.
Lingga berdecak pelan, kemudian membenarkan ucapannya. "Baiklah, Esty yang cantik, kapan aku boleh lihat rambutmu?"
"Tidak ada jaminan kalau kamu melihat rambutku, kamu tidak akan mekedeknya seperti dulu. Bukankah kamu pernah menuduhku botak karena selalu memakai hijab? Jadi anggap saja begitu." Esty berucap sinis, selesai dengan membereskan ranjang ia masuk ke kamar mandi.
Lingga menggigit pipi bagian dalamnya, bibirnya tertawa miris. Ya, sejahat itu dirinya dulu pada Esty, jadi saat sekarang Esty sangat jelas memperlihatkan rasa tak sukanya ia tidak terkejut sama sekali.
Turun dari anak tangga Esty menemukan sang papa tengah menyeruput kopi hitam di pagi hari, ia melirik kanan kirinya untuk mencari keberadaan sang mamah. "Mamah mana?"
"Kamu gak mencium sesuatu?" Alex balik bertanya, matanya melirik Esty menggunakan ujung matanya.
Esty mempertajam penciumannya, lalu melirik sang papa yang kini menyeringai lebar. "Mama masak?"
"Yups, sana bantuin!"
Esty langsung pergi ke dapur guna menghampiri sang mamah masak, jelang beberapa saat Alex datang untuk sarapan. Esty melirik ke arah punggung sang papa, mencari keberadaan seseorang yang tengilnya setengah mati.
"Lingga sudah berangkat ke kantor, katanya ada meeting pagi. Nanti siang kamu antar makanan untuk dia." Alex yang seolah tahu Esty tengah mencari Lingga langsung menjelaskan.
"Ngapain pake acara nganter makanan segala, dia sudah besar. Seharusnya bisa cari makan sendiri." Esty menimpali enggan.
"Jangan begitu, mau bagaimanapun Lingga itu suami kamu. Hormati, manjakan, cukupi kebutuhannya." Bila kanjeng ratu sudah bersabda, baik Esty maupun Alex langsung kicep. Santi tidak pernah meninggikan suara, tapi setiap tutur katanya yang lemah lembut itu tak mampu dibantah oleh siapapun.
"Betul tuh. Sekarang saja sok tidak suka sama Lingga, tadi subuh saja sampai menjerit-jerit. Habis berapa ronde kalian?" Alex nyengir sambil menaik turunkan alis menggoda Esty, tapi cengirannya langsung berubah menjadi ringisan saat mendapat serangan cubit maut dari sang istri.
"Uhuk," Esty tersedak ludahnya sendiri begitu mendengar perkataan bernada jahil sang papa. "Baiklah, nanti siang aku akan ke kantor Lingga. Papa punya alamatnya 'kan?" Esty menoleh ke arah sang papa, sekuat tenaga menahan kedutan pada dua sudut bibirnya saat melihat wajah papanya tampak kesal akibat tadi di cubit mamahnya.
"Ada, nanti Papa beri." jawab Alex.
Siang hari seperti apa kata mamahnya tadi Esty sudah ada di depan lobi perusahaan Lingga. Di tangan Esty ada bekal makanan, walau enggan ia tetap melangkah masuk menghampiri meja resepsionis.
"Mbak, aku mau menanyakan ruangan--,"
"Esty, ngapain kamu di sini?"
Esty tidak jadi bertanya begitu mendengar suara familliar di belakangnya, begitu menoleh benar saja itu adalah mantan suaminya. Ia sedikit memiringkan kepalanya begitu melihat wajah sumringah Genta, tidak mengerti dengan apa yang membuat laki-laki itu tampak senang.
Genta tersenyum sambil mengangguk menyetujui pemikirannya sendiri, ia melirik bekal makanan di tangan Esty. "Mas tahu kamu ke sini karena ingin meminta maaf. Akhirnya sekarang kamu sadar juga akan rasa cintamu pada Mas, kamu menyesal bukan karena sudah meminta berpisah? Sekarang jauh-jauh datang ke sini pasti untuk mengajak kembali, pakai acara bawa bekal makanan segala."
Semua orang yang kebetulan ada di sana langsung saling pandang dengan tatapan terkejut. Mereka baru tahu, ternyata ini istri Genta yang dikabarkan sudah bercerai itu.
"Ini Esty, mantan istriku." Genta seolah dapat membaca raut orang-orang, langsung memperkenalkan Esty tanpa diminta. "Dia datang ke sini karena ingin menemuiku, jadi terima kasih karena tadi sudah menyambutnya dengan baik."
"Sayang, kenapa tidak menelpon kalau mau datang?" Lingga yang baru ke luar dari dalam lift langsung menghampiri Esty, mendekap sang istri dan tak lupa membubuhkan satu ciuman pada keningnya. "Kalau tahu kamu akan datang mengantar bekal makan, aku pasti turun dari tadi menjemputmu."
"Sa-sayang?" pekikan beberapa orang yang terkejut akan pendengaranya, sebab bos yang menjadi incaran hampir semua karyawan perempuan ternyata memanggil perempuan lain dengan sebutan sayang.
Diam-diam Esty menyeringai puas saat melihat wajah Genta yang mendadak beku. Wajah sombong bercampur sumringah Genta kini hilang, terganti dengan wajah orang bak tidak bisa berpikir apa-apa bagai orang bodoh.
Bibir Genta terbuka kemudian tertutup lagi. Genta tidak tahu harus berkata apa begitu melihat Lingga yang mendekap Esty di depannya, ia kira Esty datang ke sini untuk dirinya. Kenapa ia sampai lupa akan hal itu, bahwa di kantor ini juga ada Lingga yang sebelumnya menunjukkan kemesraan dengan Esty.
Jadi mereka berdua benar-benar punya hubungan, hati Genta menjerit sakit.
***