Bab 9. Uangku sangat banyak

1552 Kata
Karena pada kenyataannya perempuan yang tadi Genta sebutkan adalah mantan istrinya dan datang ke kantor untuk menemui dia, tapi ternyata perempuan itu datang untuk sang bos. Orang-orang kini menatap Genta dengan tawa tertahan, merasa geli dengan rasa percaya diri Genta yang tinggi. Kepalang malu Genta langsung berbalik badan dan pergi tanpa permisi pada Lingga. Dengan hati geram dan panas luar biasar melihat kedekatan Esty bersama Lingga, Genta melangkah cepat masuk ke dalam lift. Ia tidak rela, sungguh. Esty benar-benar berhasil membuatnya terbakar api cemburu, apa lagi ingatannya kembali pada perkataan Sinta yang mengatakan ternyata selama ini Esty adalah perempuan nakal dengan banyak selingkuhan. "Tadinya mau ngasih kejutan," Esty menjawab dengan senyum yang tampak dipaksakan, matanya melotot pada Lingga saat merasakan tangan besar Lingga menarik pinggangnya. Namun, sayangnya ia tidak bisa memukul tangan Lingga ini karena banyak pasangan mata yang memperhatikan, kalau ia nekat bisa-bisa Genta tahu hubunganya dengan Lingga tidak baik-baik saja. "Ayo kita ke ruangamu." "Ayo, sini bekal makannya aku bawa." Tanpa persetujuan dari Esty, Lingga langsung mengambil wadah bekal makanan. Ia tersenyum manis untuk membalas senyum paksa Esty, tahu kalau perempuan dalam dekapannya ini marah karena ia pegang. Cari kesempatan dalam setiap keadaan, toh istri sendiri gak ada salahnya 'kan? "Kenapa gak pernah bilang kalau mas Genta kerja di kantor kamu?" Esty berbisik dengan gigi terkatup. "Berarti Sinta juga kerja di kantor kamu dong." "Kamu gak nanya," Lingga menimpali sambil nyengir. Harusnya Esty tak perlu bertanya tadi, sebab jawaban Lingga pasti semenyebalkan ini. Ingatkan Esty kedepannya untuk tidak bertanya lagi pada laki-laki kurang waras ini! gerutu Esty dalam hatinya dengan gondok. "Uwu, ternyata pak Lingga se sosweet itu sama ... eh, dia istri atau pacarnya ya?" Sang resepsionis perempuan itu bertanya pada temannya dengan wajah penasaran, tapi sama teman justru mengedikkan bahu tanda ia sama tidak tahunya dengan sang resepsionis. "Patah hati berjamaah kita," ucap salah satu karyawan perempuan yang lain, sedih karena incarannya di kantor sudah memiliki tambatan hati. Begitu lift tertutup Esty langsung menampar tangan Lingga yang memeluknya, ia melangkah ke sisi lain salam lift guna menjauh dari Lingga. Mata Esty tampak kesal saat memandang Lingga, "cari kesempatan saja." "Toh halal juga, gak masalah lah." Lingga menjawab sambil nyengir. "Marah-marah mulu, cepet tua nanti." "Kan kamu tuaan setahun dari aku, otomatis kalau aku tua kamu lebih dulu tua. Gimana sih," Esty menimpali dengan galak, bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Esty langsung merubah raut wajahnya kembali normal, tersenyum pada Lingga sambil menggeser tempat agar mendekati laki-laki itu. Esty hanya dapat tersenyum tanpa makna saat Lingga menariknya ke luar dari lift. Begitu sampai di depan ruang kerja Lingga, ia dan Lingga disambut oleh seorang perempuan cantik yang kemungkinan menjadi sekretarisnya Lingga. Sekilas Esty dapat melihat tatapan tak sukanya yang tertutup oleh senyum profesional. "Di mana Boy?" Tanya Lingga pada sekretaris kedua miliknya, sedangkan Boy adalah sekretarisnya yang pertama sekaligus orang kepercayaan eyang Saminta. "Dipanggil eyang Saminta, Pak Lingga." jawab Salita--nama yang tertera di papan nama yang terdapat di depan meja. Nada suara Salita sedikit mengandung kesan manja, mungkin karena sengaja ingin menarik pertahtian Lingga dengan kesan gadis manja. Namun, bukannya tertarik, Lingga malah melengos masuk dengan menarik Esty membuat Salita nendengkus dan kembali duduk di kursinya. "Sekretaris tadi kayaknya suka sama kamu," ucap Esty sambil melepaskan tautan tangannya dari tangan Lingga. Mengatur makanan di atas meja depan sopa, lalu duduk dengan nyaman di sana. "Cantik juga, masa seorang Lingga akan bersikap cuek begitu pada perempuan yang jelas terlihat menyukainya?" "Cemburu?" Lingga menimpali sambil melirik Esty kecil, ada tatapan geli dari sorot matanya. "Perempuan tadi bukan tipeku." "Enggaklah, mana ada aku cemburu." Esty menolak tuduhan Lingga. "Memangnya tipe kamu yang seperti apa?" Lingga menghentikan sejenak pekerjaannya, lalu menopang dagu dengan menatap Esty penuh penilaian. "Perempuan yang bikin menantang, cantik relatif jadi gak masuk dalam hitungan, tapi yang pasti dia bukan wanita lemah yang apa-apa akan menangisi keadaan bila tidak berpihak padanya." Untuk beberapa saat Esty terdiam mendengar penuturan Lingga tentang tipe perempuannya, kalau boleh ge-er Esty merasa ciri-ciri itu terlihat mirip dengannya apa lagi saat Lingga mengatakan tatapan matanya terlihat menilai dirinya. Namun, karena ia tidak mau terlalu percaya diri, Esty mengangguk mengerti sambil mengedikkan dagu pada beberapa makanan di atas meja untuk mengalihkan perhatian. "Makan cepat, aku mau membereskan lagi wadah bekalnya untuk dibawa pulang." Mendengar Esty ingin terburu untuk pulang, Lingga terdiam beberapa saat dengan pandangan menatap makanan yang sudah tertata rapi di atas meja. Perutnya menjadi keroncongan karena melihat makanan yang menggugah selera, tapi ia malah memiliki pemikiran lain. "Belum lapar, nanti saja makannya." "Aku mau pulang Lingga, jadi makan saja walau belum lapar!" Esty sudah balik ke mode galak, mematap Lingga dengan pandangan kesal. "Masa sih belum lapar, bukannya tadi pagi kamu gak sarapan?" "Ya sudah sana pulang," Lingga menimpali cuek. "Masalahnya mamah bakal ngomel kalau wadah bekalnya gak aku bawa balik, jadi kamu cepat makan!" Esty memimpali semakin jutek. Lingga tidak menjawab lagi perkataan Esty, hanya fokus pada pekerjaannya agar cepat selesai. Diam-diam dia tersenyum, sangat samar hingga Esty tidak akan menyadarinya. Lingga memang sengaja menahan Esty, supaya tidak cepat pulang dan menemaninya di sini. Tepat pukul 3 sore semua pekerjaannya selesai, Lingga berdiri dan menghampiri Esty yang manyun sambil duduk di sopa. Dengan wajah tanpa dosa Lingga mengambil piring, makan dengan santai. Satu suapan, dua suapan, hingga suapan-suapan berikutnya yang Lingga tahu Esty masih menatapnya dengan pandangan jutek. ting Saat ada notifikasi pada ponselnya dengan cepat Esty mengeluarkan ponsel, matanya membulat begitu melihat apa yang masuk. Sudah dari lama Esty menginginkan tas yang temannya baru kirim ini, tapi dengan harga selangit ia menyayangkan uangnya yang akan terpakai percuma hanya untuk satu tas ukuran kecil. Minta sama papanya? Jangan kira bakal dikasih. Alex itu orang perhitungan, bahkan sama mamahnya saja kadang-kadang banyak itung. Saat dulu ia menjadi istri Genta, jelas lebih parah. Genta memang memiliki gaji cukup besar, tapi uangnya harus dikelola benar-benar apik sebab dipakai berobat ibunya. Di saat Esty tengah berpikir, dengan jahil Lingga menjilati semua jari-jari tangannya yang baru makan tanpa sendok. Seringai licik tersungging di bibirnya saat ia mencomot nasi beserta lauk, lalu mengasongkan ke depan mulut Esty. "Makan nih, melamun mulu." Ucap Lingga sambil menyodorkan nasi ke depan mulut Esty. Tanpa sangka Esty membuka mulut dan menerima suapan dari Lingga tanpa tahu ia baru saja memakan dari jari yang dijilati. Lingga terkekeh kecil, menggeleng pelan dan melanjutkan makannya. tunggu! Esty melirik Lingga yang masih anteng makan, sesekali akan menyupainya juga. Sekarang ia memiliki seorang suami kaya raya, sebagai perempuan penyuka uang harusnya tidak perlu sungkan untuk memoroti laki-laki yang di masa dulu selalu hobi menjahilinya tapi sayang sekarang malah menjadi suaminya ini. Ya ... itung-itung balas dendam. Saat Lingga akan mengasongkan lagi nasi ke depan mulut Esty, ia langsung menghentikan gerakan tangannya begitu melihat Esty kini menatap ke arahnya dengan pandangan aneh. "Tatapan kamu seperti orang yang akan merencanakan pembunuhan kejam." Esty menurunkan pandangan pada nasi di tangan Lingga, menunduk dan memakannya. Setelah kunyahan tertelan, ia tersenyum manis pada Lingga. "Lingga, kamu tahu tidak kesalahanmu di masa lalu tidak termaafkan?" "Tahu, tapi aku tidak punya niat untuk meminta maaf." jawab Lingga dengan ekspresi ngerinya. Ngeri saja melihat Esty yang sehari-hari galak minta ampun, tiba-tiba saja tersenyum manis seperti itu. Ia sudah sangat yakin, ada sesuatu yang direncanakan perempuan di sampingnya ini. kampret! Esty mengutuk Lingga dalam hati saat mendengar jawaban dari dia yang tidak sesuai ekspetasinya, tapi walau begitu Esty masih mempertahankan senyumnya demi memuluskan rencana. Karena membuat Lingga merasa bersalah hingga mau membelikannya tas, sepertinya ia harus mengganti setrategi. "Kamu hebat loh di usia segini sudah jadi bos, uang kamu pasti banyak ya?" Kedua sudut bibir Lingga berkedut, kini ia tahu apa yang menjadi rencana Esty. Saat dulu di SMA juga, Esty merupakan orang yang gemar menabung untuk membeli apa yang ia inginkan dan masalah makan maka Esty akan memporoti teman-temannya. "Sebenarnya aku bingung mau diapakan uangku yang banyak itu, kamu punya solusi?" Lingga balik bertanya, berpura-pura bingung untuk menarik perhatian Esty lebih banyak lagi. "Banget," Esty mengangguk kuat. "Gimana kalau kamu berikan padaku, aku bisa mengelolanya dengan baik. Lagi pula bukankah kamu harus memberiku nafkah?" "Ya, tentu saja." Lingga mengangguk setuju. "Nafkah lahir dan batin 'kan? Jadi aku akan memberimu kartu kreditku, juga memberimu nafkah batin. Kalau begitu, kapan kita akan malam pertama?" Loh, kok jadi malam pertama? batin Esty bingung. Tidak, ini bukan rencananya. "Tidak, lupakan saja!" Lingga tersenyum puas melihat raut Esty yang tampak cemberut, melihat arloji di tangannya dan memutuskan untuk berdiri. Ia masuk ke dalam kamar pribadinya yang di dalam terdapat kamar mandi. Sore hari, sepertinya akan sangat segar untuk mandi sebelum pulang ke rumah. "Apa harusnya aku berkata langsung tadi?" pikir Esty bingung. Melihat tadi Lingga masuk ke dalam kamar, Esty mutusin untuk mengikutinya. Sampai di kamar ia tidak menemukan ada Lingga di mana-mana, tapi begitu mendengar ada bunyi gemericik air ia langsung tahu kalau laki-laki utu ada di kamar mandi. Tanpa berpikir banyak Esty langsung membuka pintu kamar mandi, tanpa sebelumnya tahu Lingga lagi ngapain di dalam kamar mandi. Begitu pintu terbuka, mata Esty langsung melebar terkejut. Sedangkan Lingga yang ada di dalam kamar mandi dengan tidak adanya sehelai kain pun yang menutupi tubuh hanya menoleh santai, tidak terkejut atau menatap marah pada pelaku yang sudah seenaknya membuka pintu tanpa permisi itu. "Kamu duluan yang teriak atau aku?" Tanya Lingga dengan wajah polosnya. AAAAAKH blammm "Ha Ha Ha," Lingga terbahak keras. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN