Bab 10. Insiden tertabrak, berakhir modus

1530 Kata
"Makanya kalau masuk kamar mandi, ketuk dulu pintu." Lingga yang baru saja selesai merapikan penampilannya di depan cermin menoleh, melirik Esty yang tengah duduk di atas ranjang dengan senyum geli. Esty manyun, menatap punggung Lingga penuh dendam. Matanya ternoda karena melihat burung perkutut milik Lingga, walau tidak dosa tapi tetap saja bayangahnya menari-nari. "Yang salah itu kamu. Mandi di kantor, tidak kunci pintu pula." Lingga berdecak kesal saat mendengar Esty malah menyalahkannya, jelas yang salah itu Esty karena masuk tanpa permisi. Dasar perempuan! "Sebenarnya tidak masalah sih selama kamu tanggung jawab. Ingat, kamu sudah menodai kepolosanku." "Ngaco," delik Esty murka. "Aku bahkan tidak percaya kalau kamu belum pernah merasakan apa itu making love. Sok polos, siapa orang yang coba kamu bodohi?" "Sungguh, apa begitu penilaian kamu terhadapku?" Lingga tercengang mendengar penuturan Esty barusan, tidak menyangka ternyata ia di mata Esty benar-benar buruk. "Bahkan aku tidak pernah menyentuh perempuan, bagaimana bisa kamu menyangka aku sudah making love dengan perempuan lain?" "Kan siapa yang tahu?" Esty enggan disalahkan, melirik Lingga sedikit rasa bersalah. Bukannya apa, tapi dulu saat SMA Lingga ini banyak sekali perempuan yang menyukai. Bahkan banyak perempuan yang mengaku sudah menjadi mantannya, sedangkan saat itu gelar yang Lingga punya adalah playboy. Bagaimana bisa Esty mempercayai kalau sedikitnya Lingga tidak pernah menyentuh para perempuan itu? Lingga hanya tersenyum ironis, kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin. Melihat wajah tampannya yang bahkan tidak pernah dirilik Esty, Lingga merasa wajahnya ini sia-sia saja. Lingga sedikit menoleh saat mendengar bunyi pintu terbuka, Esty ke luar mungkin ingin membereskan wadah bekal yang memang masih berantakan di atas meja. ting Mendengar bunyi notifikasi dari ponsel yang ada di atas ranjang, Lingga membalik badan dan memunduk mengambilnya. Kebetulan ponsel Esty tidak dipasang pengunci, jadi ia bisa melihat isinya secara langsung. Begitu layar terbuka, sebuah tas dengan model buruk menurutnya langsung terpampang. Lingga membaca sederet chat Esty dan temannya, ia bisa menyimpulkan kalau Esty sudah menginginkan tas di poto ini dari lama. Entah apa yang membuat perempuan itu memahan diri untuk tidak membeli, padahal dia memiliki suami super kaya seperti dirinya. Saat tadi Esty terlihat manis walau sekejap, jangan-jangan tadi dia ingin meminta dirinya untuk membelikan tas ini? Pikir Lingga dengan seringai licik. Tatapan Lingga penuh tipu muslihat, menyimpan ponsel pada tempat semula dan bersikap biasa saja saat Esty datang. "Aku mau pulang, kamu makannya juga sudah selesai." Ucap Esty sambil mengambil ponsel dari atas ranjang, lalu menyimpannya ke dalam tas. Di tangan Esty yang satunya lagi terdapat wadah bekal, sedangkan satunya lagi tampak sibuk memeriksa barangnya takut ada yang tertinggal. "Ya sudah ayo bareng, pekerjaan aku di kantor juga beres." Lingga menimpali santai, tidak tahu saja akibat ucapannya barusan membuat gerakan tangan Esty langsung terhenti. Begitu ia akan ke luar dari kamar, ia terhenti dan langsung menoleh ke arah Esty setelah mendengar jawab dari perempuan yang berstatus istrinya ini. "Aku pulang sendiri, ada urusan dengan seseorang." Esty menimpali keberatan. "Laki-laki apa perempuan?" Lingga tampak memicingkan mata, menatap Esty tidak suka. Esty mematap Lingga sinis, "gak usah kepo, minggir!" Esty langsung melewati Lingga, melenggang pergi tanpa menoleh lagi. "Kepo?" Lingga tertawa tak percaya, menatap Punggung Esty kesal. "Memangnya dia pikir dirinya siapa? Seenaknya tidak menjawab pertanyaanku dengan benar. Tidak bisa, aku harus tahu sama siapa si icetea itu ketemuan sore-sore begini." Lingga sedikit memiringkan kepalanya begitu melihat Esty turun dari taksi online, lalu masuk ke sebuah Cafe. Saat ia hendak turun, Boy yang duduk di depannya langsung menahan. "Sabar Pak Lingga, biarkan dulu bu Esty untuk saat ini." Boy mengingatkan agar cucu dari bos besar di kantornya ini menahan diri, tidak gegabah menyusul masuk dan ia pastikan akan terjadi pertengkaran berakhir memalukan di dalam cafe. "Siapa kamu berhak melarangku?" Lingga langsung nyolot, tapi tak urung ia kembali diam di dalam mobil dengan pandangan tak lepas ke dalam Cafe. Beruntungnya Esty duduk di samping kaca, jadi aktivitas Esty di dalam Cafe terlihat jelas oleh Lingga. Boy tidak menimpali lagi ucapannya Lingga, hanya menghembuskan nafas perlahan sebagai ganti kesabarannya. Sebelumnya eyang Saminta juga sudah mengingatkan dirinya agar tidak perlu menimpali ucapan Lingga saat sedang marah, sebab karakter Lingga bila sudah marah maka akan semakin nyolot ketika dibalas ucapannya. Lingga menampar kaca mobil saat melihat kedatangan seorang laki-laki yang duduk di depan Esty, matanya melotot dengan bibir terlipat hingga segaris. Urat-urat di sekitar lehernya tampak menonjol, Lingga benar-benar marah bahkan wajahnya saja sudah memerah. "Pak Lingga, kalau Anda benar-benar cemburu hampiri saja bu Esty." Kini Boy mengusulkan, sedikit ngeri karena takut menjadi sasaran kemarahan Lingga. "Siapa yang cemburu?" Lingga mengelak sambil membuang wajah, menoleh ke mana saja asal tidak memperhatikan Esty yang tengah berbicara serius dengan seorang laki-laki. Namun, untuk dikatakan cemburu, Lingga menolak jelas asumsi itu. "Bu Esty tampak tersenyum begitu lebarnya." Jelas Boy mengatakan begitu untuk memancing di air yang keruh, sudah tahu suasana hati Lingga tengah kacau, tapi dengan sengaja Boy mengatakan hal barusan yang pastinya membuat Lingga semakin tersulut emosi. Tak tahan lagi Lingga turun dari mobil, ia menyebrang jalan raya tanpa lihat kiri kanannya. Di belakang Boy yang melihat Lingga berjalan sembarangan langsung melotot terkejut, apa lagi kini ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang. "Apa saat ini yang aku asuh itu anak dengan usia 3 tahun?" Boy bergumam dengan nada marah, tanpa pikir panjang langsung berlari mengejar Lingga. Tepat sebelum mobil yang tengah melaju dan hendak mengerem mendadak itu mengenai tubuh Lingga, Boy sudah lebih dulu menubruk tubuh Lingga hingga berguling bersama tubuhnya di aspal jalan. tinnnnn ckitttttt "Woy, kalau nyebrang lihat-lihat dong! Apa kalian pikir ini jalan nenek moyangnya kalian?" Sang pengemudi mobil menurunkan kaca, berkata marah pada Lingga dab Boy yang masih terbaring di aspal jalan. "LINGGA," Esty yang melihat Lingga hampir tertabrak mobil andai tidak ada Boy yang keburu menunbuknya menjerit dari dalam cafe, karena jeritannya barusan kini orang-orang ikut menoleh penasaran. Melihat Lingga dan Boy yang tidak bergerak pada posisi berbaring di atas aspal jalan, jantung Esty berdebar dan langsung berdiri untuk berlari ke luar dari Cafe. Esty berjongkok di depan Lingga, tidak lama orang-orang pun ikut datang mengerumuni. Takut dua rang yang tadi ia hampir tabrak terjadi apa-apa, walau bukan kesalahannya ia tetap menghidupkan mesin mobil dan melaju cepat. "Bagaimana keadaannya? Perasaan tadi tidak sampai tertabrak." Ucap orang-orang yang berkerumun, melihat keadaan Lingga dan Boy. "Wah, mereka bergerak." "Uh, Boy, kamu berat. Menyingkir dari atas tubuhku!" Lingga berkata sambil meringis sakit, mendorong tubuh Lingga hingga terjungkal ke sisi sampingnya. Begitu sadar banyak orang yang datang, Lingga berdecak sebal. Boy yang pulih dari keterkejutannya bangun duduk, menepuki semua bajunya yang kotor karena debu. Ia tersenyum sambil mengangguk ramah pada orang-orang, memperlihatkan kalau dirinya baik-baik saja. "Kami tidak apa-apa, kalian bisa meneruskan aktivitas seperti semula." "Ngapain kamu ada di sini?" Esty yang sudah yakin kalau Lingga tidak apa-apa bertanya dengan mata memicing curiga, ia bersedekap d**a. "Kamu ngikutin aku?" "Aduh, kakiku." Lingga pura-pura meraung sakit untuk mengalihkan perhatian Esty, mantapnya dengan pandangan memohon. "Kakiku sakit, mungkin terkilir atau terbentur tadi. Sakit banget, icetea." "Bohong!" Esty menimpali judes. Lingga berdecak kesal dalam hati karena Esty malah mengatakan dirinya bohong, ia semakin marah saat laki-laki yang tadi bersama Esty di dalam Cafe tampak muncul dengan wajah penasarannya. "Kamu memang selalu menganggap semua perkataan aku adalah dusta, jadi tidak masalah sekarang juga menganggapnya begitu. Boy," Lingga melirik Boy yang duduk diam. "Bantu aku bangun!" Esty sedikit membuka bibirnya, sebelum kemudian menutupnya lagi saat melihat Lingga terlihat benar-benar meringis kesakitan. Mendadak perasaannya tidak nyaman, takut ucapannya barusan melukai hati Lingga. Padahal dulu Lingga saja sangat sering meledeknya, tapi kenapa sekarang ia tidak bisa menjadi orang jahat bagi Lingga? Lemah sekali. "Sini aku bantu," Esty langsung menarik tangan Lingga yang satunya lagi, tapi begitu melihat Boy malah melepaskan pegangannya pada Lingga membuat Esty menatapnya heran. "Pak Boy, kenapa Anda malah melepaskannya? Aku kewalahan kalau memapah Lingga sendirian." "Maaf Bu Esty, tapi ada panggilan sangat penting yang masuk." Boy beralasan sambil memperlihatkan ponsel, padahal sebenarnya ia hanya menuruti isyarat Lingga yang tadi tangannya minta dilepas saat ia pegang. Boy hanya dapat menghembuskan nafas perlahan saat melihat seringai samar di bibir Lingga. "Ya sudah," Esty menimpali tak berdaya. "Aku akan membantu--," "Jangan membantunya!" Boy langsung menahan tubuh laki-laki yang tadi bertemu di dalam cafe bersama Esty dengan suara pelan agar tidak membantu Esty. Begitu melihat wajah heran sang laki-laki, Boy tersenyum tanpa makna. Boy membiarkan Esty berjalan lebih jauh, setelah itu ia menatap ke arah laki-laki di sampingnya. "Kenapa?" Tanya laki-laki itu dengan kernyitan heran, jelas tidak mengerti kenapa ia sampai tidak boleh membantu Esty yang tampak kesusahan membawa Lingga. "Diam di sini jangan membantu, atau kalau kamu nekat aku bisa memastikan nanti di masa depan kamu akan hidup menjadi seorang gelandangan." Ucap Boy tidak main-main, membuat laki-laki itu bergidig ngeri karena merasa aura yang di keluarkan Boy sangat negatif. Usai mengatakan itu Boy langsung menghentikan kendaraan umum, ia harus kembali ke kantor untuk memgurus sisa pekerjaan Lingga yang belum selesai. Dengan senyum tipis, Boy mengangguk ramah pada orang-orang yang duduk di dalam bus. Sedangkan laki-laki yang ditinggal baik oleh Esty maupun Boy hanya menatap kepergian mereka secara bergantian. Ia mengusap lehernya yang terasa meremang, begitu menoleh ke arah Lingga ia langsung menemukan dua mata menyorotnya penuh dendam. "Salahku di sini apa?" Laki-laki malang itu bergumam tidak mengerti. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN