Bab 11. Panggilan dari mantan suami

1732 Kata
"Loh, Lingga kenapa?" Santi bertanya heran saat melihat Esty memboyong Lingga turun dari mobil, sedangkan dirinya yang semula tengah menyiram tanaman langsung menghentikan kegiatan dan menghampiri putri dan menantunya itu. "Tidak apa-apa Mah, hanya jatuh." Lingga menimpali diiringi senyum menenangkan. "Aku masuk dulu ya, Mah." Esty melewati Santi, membawa Lingga masuk bersamanya. Sampai di dalam rumah, Esty segera mendudukkan Lingga di atas sopa. "Tunggu di sini, aku ambil kotak P3K dulu." Sekepergiannya Esty, ekspresi meringis yang sepanjang jalan ia perlihatkan langsung normal kembali. Lingga melirik kanan kirinya, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memuluskan rencana tanpa kepergok tengah menipu Esty. Melihat ada kaki meja, tanpa segan ia langsung membenturkan pergelangan kakinya sendiri cukup lumayan keras hingga memastikan akan timbul warna ungu kebiruan nantinya. Lingga mengaduh sakit, tampak menahan rasa sakit itu dengan mencoba menarik kakinya. Tadi saat terjatuh didorong Boy, Lingga memang tidak terluka sama sekali. Ia hanya memanfaatkan situasi dan kondisi agar bisa menarik Esty pergi dari Cafe, sekaligus mencari simpati Esty untuk lebih banyak menaruh perhatian padanya. "Kenapa kamu lakuin itu?" Mendengar suara itu, Lingga langsung menoleh terkejut. Ia berkedip lambat saat kelakuannya terpergok Alex, mertuanya yang saat ini tengah berdiri di ambang pintu dapur. Dengan senyum tampak dipaksakan Lingga menatap Alex. "Itu ... tidak sengaja." Alex menaikan salah satu alisnya, jelas ia tidak mempercayai ucapan menantunya ini. Alex tidak buta atau bodoh, ia tahu Lingga sengaja membenturkan pergelangan kakinya sendiri ke kaki meja tadi. Namun, begitu ia akan datang menghampiri Lingga, langkahnya langsung terhenti begitu mendapati Esty datang dengan obat P3K di tangannya. Kini Alex sedikit mengerti, kenapa Lingga sampai melukai kakinya sendiri. "Mana yang terkilir?" Esty berjongkok di depan Lingga, menarik kaki suaminya agar diturunkan. Begitu membuka kaos kaki, ia menghembuskan nafas perlahan saat melihat ada luka memar di pergelangan kaki Lingga. Ternyata Lingga tidak berbohong, pikir Esty merasa bersalah karena tadi ia sempat menuduh Lingga yang berdusta hanya untuk menarik simpatinya. Karena ini sepertinya harus dikompres, Esty memutuskan untuk berdiri dan mengambil es batu dari kulkas. Sekepergiannya Esty, Alex terkekeh pelan. Ia nyengir melihat kelakukan menantunya yang rela menyakiti diri demi menarik perhatian putrinya. Sungguh bukannya Alex marah karena Lingga membohongi Esty, tapi ia malah geli sendiri karena ingat jaman masa mudanya dulu yang berkelakuan hampir sama dengan Lingga demi menarik perhatian Santi. Tidak lama Esty datang kembali, ia duduk di sopa tepat samping Lingga tanpa merasa risih sama sekali. Biasanya Esty bila tahu Lingga mendekatinya, ia akan memasang benteng pertahanan demi mengusirnya. Namun, kali ini, bahkan ingat benteng pertahanannya pun enggak. Esty terlalu merasa bersalah karena sudah menuduh Lingga tadi berbohong. "Sini kakinya luruskan," titah Esty sambil menarik kaku Lingga agar naik ke atas pahanya, setelah itu dengan telaten dan penuh hati-hati Esty menempelkan es batu yang sebelumnya sudah ia bungkus menggunakan handuk kecil ke pergelangan kaki Lingga yang cukup membiru. "Pelan-pelan, itu sangat sakit." Lingga meringis ngilu, benar-benar ngilu sungguhan. Ia tidak menyesal karena sudah membenturkan kakinya sendiri ke kaki meja tadi, sebab sekarang Esty benar-benar terlihat mengkhawatirkan kondisinya. "Iya, ini juga pelan." Esty menimpali sambil sesekali melirik wajah Lingga yang tengah meringis. Sepelan mungkin ia menekan memar di kaki Lingga, takut membuatnya semakin kesakitan. Diam-diam Lingga melirik Alex yang tengah mengacungkan jempol ke arahnya. Setelah ia membalas acungan jempol Alex, ayah merttuanya itu kembali masuk ke dapur. Lingga lega saat ayah mertuanya itu tidak mengadukan kelakuakn konyolnya pada Esty, tapi justru malah mendukungnya. Memang ayah mertua pengertian. "Bukannya kamu mempunyai seorang adik laki-laki, dari awal kita menikah dia tidak pernah kelihatan?" Tanya Lingga setelah Esty selesai mengompres memar di kakinya, tapi ia masih betah menyimpan kaki di atas paha Esty. "Dia kuliah di luar kota, tinggal bareng paman. Ngapain kamu nanya-nanya dia?" Seperti biasa Esty selalu berucap dengan nada sinis saat berbicara dengan Lingga. Walau bibirnya berucap, tapi tangannya tetap sibuk membereskan peralatan P3K di atas meja yang baru ia pakai untuk mengobati memar di kaki Luky. Andai Esty tahu kalau memar di kaki Lingga itu adalah disengaja oleh si empunya, niscaya Bukannya menolong dengan mengobati Wsty pasti memilih membenturkan kembali pergelangan kaki Lingga ke kaki meja. "Masa gak boleh tanya adik ipar sendiri?" Lingga menimpali dengan nada malas. Mendengar kata adik ipar dari mulut Lingga, entah kenapa membuat belakang leher Esty meremang seketika. Sejujurnya ia belum percaya kalau saat ini yang menjadi suaminya adalah Lingga musuhnya saat SMA, padahal belum lama ini masih bersama seorang Gentala Abadi yang baik dan ramah. Ya, ya, ya, jangan lupakan juga satu hal, kalau Genta itu adalah makhluk palinh tidak tahu diri di dunia. Dari pada meladeni Lingga di sini, Esty rasa tidak lama lagi ia akan kehilangan kewarasan karena geli mendengar semua penuturan Lingga. Bayangkan saja seorang badboy kini bermetamorfosis menjadi seorang suami yang perhatian pada keluarga sang istri. Iyuh, benar-benar menggelikan. Saat Esty hendak berdiri, satu tangannya malah ditahan oleh Lingga hingga membuat tubuhnya oleh dan berakhir jatuh di atas paha Lingga. Ia merasa kedua tangan Lingga menelusup pada pinggannya, memeluk dengan erat di sana. "Heh, lepaskan tangan kamu! Kamu mau aku usir dari kamar malam ini?" cup Bukannya melepaskan pelukannya pada perut Esty, Lingga malah mencium pipi Esty. Ia tersenyum guyon saat mendapati wajah Esty memerah, matanya menampilkan riak main-main saat berucap. "Usir saja, tidak apa-apa." Esty mengusap bekas bibir Lingga yang menempel di pipinya, memberontak ingin lepas dari pelukan Lingga. Ia takut mamah atau papanya memergoki situasi canggung bersama Lingga. "Aku bisa benar-benar marah, Lingga." "Oh, kamu marah?" Lingga menampilkan wajah pura-pura kaget. "Kalau gitu kamu balikin aja ciuman aku." Tanpa sempat Esty mencermati apa kata Lingga, dagunya sudah ditarik Lingga dan dalam sekali kedip kini bibirnya sudah balik mencium pipi Lingga. Esty bahkan sampai terbengong-bengong, tidak tahu harus berkata apa saking cepatnya pergerakan Lingga. "Kita impas," ucap Lingga sambil nyengir kuda. Esty berkedip lambat saat Lingga menurunkan tubuhnya, sebelum sempat ia menyemprot dengan amarah laki-laki seribu akal itu sudah berlari menaiki anak tangga dengan kaki pincangnya. "Laki-laki itu benar-benar berbahaya bagi kesehatan jantung dan hati," Esty bergumam sambil mengusap bibir dan pipinya secara bergantian, ia membuang wajah karena malu pasti sekarang rona merah menghiasi wajahnya. Baru saja Esty hendak berdiri, ponselnya berdering dan ia melihat siapa yang menghubunginya. Begitu tahu itu ternyata Genta, Esty langsung merotasikan mata dan memilih menolak panggilan. Esty bangun berdiri, menaiki tangga karena badannya gerah membutuhkan mandi. Namun, rupanya mantan suami Esty itu merupakan orang yang pantang menyerah, panggilan masuk lagi ke ponsel Esty. Karena geram, Esty mengangkat panggilan saat ia berdiri di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka. "Ada apa lagi, Mas Genta?" Esty langsung bertanya begitu ia menempelkan ponsel pada alat pendengaranya. Nada suaranya lebih judes dari pada saat berbicara dengan Lingga, pertanda Esty benar-benar tidak suka Genta masih menghubunginya. Terdengar hembusan nafas berat dari Genta, mungkin dia tidak menyangka Esty akan menjawab telpon dengan suara tak suka. "Ibu terus-menerus menanyakan kamu, tidak mau kah kamu menengoknya?" "Tidak," jawab Esty tanpa jeda dari ucapan Genta. "Esty, mau bagaimanapun ibu pernah menjadi mertuamu, tidak tersisa kah sedikit saja rasa sayang dalam hatimu untuk beliau? Semua perawat yang aku sewa tidak ada yang bertahan, hanya kamu yang sabar merawatnya selama ini." Suara Genta melemah di akhir ucapannya, tampak serba salah karena jelas ia sadar Esty bukan siapa-siapanya lagi sekarang yang bisa ia mintai pertolongan untuk mengurus ibunya. Esty tertawa tak percaya begitu mendengar penuturan Genta yang tidak tahu malu, ia sampai tidak habis pikir menanyakan ke mana akal sehat Genta saat ini. Jelas Genta yang sudah membuat Esty pergi dari kehidupannya, tapi mendengar penuturan Genta barusan seolah Esty pergi dari rumah itu karena kesalahan Esty sendiri. "Mungkin bila kamu tidak mengkhianati kepercayaan aku, saat ini aku masih akan sabar mengurus ibumu yang sakit itu. Juga jangan lupakan, andai dulu ibumu bisa menaruh sedikit saja menghormatiku mungkin akan tersisa rasa sayang dalam hatiku untuk beliau. Namun, tidak ada yang aku dapatkan satu pun dari kalian berdua, Mas Genta mengkhianati kepercayaanku dan ibu tidak pernah menganggapku menantunya dan malah menganggapku pembantu di rumah itu yang harus mengurus segala sesuatu tanpa ada kesalahan." "Maaf untuk semua itu, Mas dan ibu sangat menyesalinya." Genta menimpali lemah. Esty tidak akan tersentuh oleh suara Genta yang tampak benar-benar menyesali apa yang sudah terjadi, ia muak pada laki-laki itu. "Menyesal sekarang tidak ada artinya, toh kita sudah pisah. Jadi mulai sekarang jangan menghubungiku lagi! Kita urus kehidupan masing-masing." "Mana bisa seperti itu, Mas masih sangat mencintai kamu Esty. Bahkan Mas menulikan telinga saat mengetahui Fakta selama ini tentang kamu yang suka bermain api dengan laki-laki lain selama kita menikah. Tidak bisakah kamu kembali pada Mas, setidaknya di sini Mas tidak salah sendirian." Suara Genta tampak keberatan, jelas ia tidak mau mengindahkan perkataan Esty yang menyuruhnya hidup masing-masing. Bagi Genta, Esty pun punya kesalahan. Jadi sudah sewajarnya memaafkan kesalahannya yang sudah menghamili Sinta saat masih menikah dengannya. adil bukan? Tentu saja adil menurut Genta karena masih saja terhasut oleh ucapan Sinta yang ingin menjatuhkan Esty, Genta masih mengira kalau Esty dan Lingga selama ini ada main di belakangnya selama pernikahannya. Esty mengernyitkan dahi saat mendengar penuturan Genta yang ikut menyalahkannya, perasaan Esty tidak pernah berbuat kesalahan fatal selama pernikahannya dengan Genta. "Apa maksud Mas Genta yang berkata aku juga ikut bersalah?" "Mas sudah tahu semuanya dari Sinta, Esty. Selama pernikahan kita, kamu juga selingkuh dengan laki-laki yang sekarang mengaku menjadi suami kamu. Kurang baik apa coba Mas yang dengan gampangnya memaafkan kamu, tapi giliran Mas memiliki kesalahan yang bahkan itu tidak disengaja kamu marah dan memilih meninggalkan Mas. Harusnya kamu berterima kasih pada Mas karena masih mengajak balikan, bukan tetap menolak seperti sekarang." suara napas Genta saat berucap terdengar memburu, jelas saja sebab ia tengah emisi akibat penolakan Esty yang terus-menerus. "Aku tidak pernah selingkuh selama kita menikah, jadi jangan melibatkan aku dalam kesalahan yang kamu perbuat Mas! Apapun yang Sinta katakan padamu, aku katakan Mas benar-benar bodoh karena mempercayainya. Suatu saat Mas Genta akan tahu, orang seperti apa Sinta itu." klik Esty langsung memutuskan panggilan begitu selesai bicara, ia sangat muak dengan apa yang Genta tuduhkan padanya. "Apa-apaan maksudnya itu? Aku gak pernah selingkuh, apa lagi kalau orangnya harus Lingga." Begitu Esty membuka pintu, ia hampir saja jantungan karena mendapati Lingga yang berdiri di ambang pintu dengan melipat tangan di depan d**a. Pandangan Lingga menyipit, seolah ia baru saja memergoki istri yang sedang selingkuh. Lingga berdecak sebal sambil menggeleng pelan. "Wah-wah, siapa yang baru saja menerima panggilan dari mantan suami? Cemburu loh aku Ice tea." "Memangnya kamu mencintaiku, kok pakai acara cemburu segala?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN