9. Sikap baik

1319 Kata
Pagi ini, Alaya tengah bersiap untuk pergi ke café. Pakaiannya terlihat sangat rapi, dan dia menggunakan sepatu flat agar mempermudahkannya dalam bergerak saat membantu karyawannya di café. Rumah nampak sangat sepi, saat Alaya akan pergi menyempatkan diri untuk melihat ke kamar Hayden. Memastikan bahwa pria itu sudah terbangun, tetapi sayang … ternyata Hayden masih memejamkan mata. Akhirnya Alaya meninggalkan pesan di atas meja makan. Dan dia pergi dari sana untuk mengurus cafenya. Selama perjalanan, Alaya terlihat santai dan tenang. Dia tidak lagi memikirkan  suaminya yang masih dalam pengaruh pria bernama Cole Riddle. Pada saatnya, Alaya pasti akan mendapatkan suaminya kembali. Dan dia percaya jika Hayden akan ingat tentang kehidupannya. Alaya mulai bekerja dengan mempersiapkan café untuk dibuka pagi ini. Dia memberikan arahan pada karyawannya terlebih dahulu, lalu mulai melihat apa saja yang kurang dari café itu. Sudah cukup lama Alaya tidak datang ke sana karena harus menggantikan Hayden di bisnis lainnya. Dan semua itu membuat Alaya bingung juga harus ekstra sabar dalam bekerja. Sementara di rumah, Hayden baru saja membuka matanya. Dia melihat ke luar kamar untuk mencari keberadaan Alaya, tetapi yang ditemukan hanya catatan kecil yang mengatakan jika dia ada di café. Hayden melihat sudah ada makanan yang dihidangkan di atas meja, dan kini dia memilih untuk duduk dan menikmati makanan itu terlebih dahulu. Selesai dengan kegiatan di meja makan, Hayden berjalan masuk ke dalam kamar dan membersihkan dirinya. Kini Hayden merasa jauh lebih segar dan bersih. Dia bersiap untuk pergi ke suatu tempat dengan menggunakan kendaraan umum, yaitu bus. Hayden berjalan menuju ke halte seorang diri, dan menuju ke area yang tidak jauh dari café milik Alaya. Sebelum sampai di café, Hayden menyempatkan diri untuk membeli seikat bunga. Dia kembali berjalan setelah mendapatkan bunga itu, dan menuju ke café. Pintu café terbuka, saat ini Alaya sedang berada di balik meja kasir. Dia terkejut melihat ada Hayden di sana dengan membawa bunga untuk dirinya. Alaya menghampiri Hayden dan mempersilakan dia duduk di kursi yang ada di sudut ruangan. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Alaya. “Tidak, aku hanya ingin melihat kau saat bekerja.” “Ah … bahkan Hayden tidak pernah melakukannya. Dia sangat jarang datang kemari meski hanya untuk menyapa aku,” terang Alaya. Hayden atau Cole yang saat ini berada di hadapan Alaya merasa tidak enak. Pria itu berdiri dan berpamitan pada Alaya agar tidak menimbulkan harapan. “Cole, jangan pergi. Setidaknya … biarkan aku membuatkan secangkir kopi dan camilan untukmu,” ujar Alaya. “Baiklah.” Pria itu kembali duduk dan menunggu minuman dan makanan yang sedang disiapkan untuk dirinya. Tidak membutuhkan banyak waktu, Alaya datang dengan membawa nampan yang berisi makanan juga minuman. Dia meletakkannya di atas meja, dan menyuruh Hayden untuk menghabiskan semua itu sendirian. “Aku harap … aku tidak mengganggu pekerjaanmu saat ini,” ujar Hayden merasa tidak enak hati. “Tidak sama sekali, aku senang kau datang.” Mereka melanjutkan kegiatan dengan berbincang seputar pekerjaan di café. Dan Alaya juga sempat menjelaskan bisnis milik Hayden yang sudah lama tidak dikunjungi. “Apa kau mau menemani aku untuk melihatnya?” tanya Hayden. “Apa?” “Kau mengatakan jika pemilik tubuh ini memiliki bisnis yang sudah lama tidak dikunjungi. Apa aku boleh mencobanya? Aku rasa aku memerlukan sebuah kegiatan yang lebih dari sekedar penjaga rumah,” ujar Hayden. “Hahaha, baiklah. Besok … aku akan mengantarkan dirimu ke sana. Hanya saja … mereka akan memanggilmu dengan nama Hayden, bukan Cole.” Alaya menjelaskan. “Hmm, baiklah. Aku akan mencoba untuk membiasakan diri di sana.” “Senang mendengarnya,” ujar Alaya. Setelah beberapa menit berlalu, Hayden berpamitan dan ingin kembali ke rumah. Tetapi dia akan pergi ke beberapa tempat untuk membeli sesuatu. Alaya menawarkan diri untuk mengantarkan Hayden, tetapi pria itu menolaknya dan tidak ingin menerima bantuan wanita itu. Saat ini, Hayden sedang berjalan kaki menjauh dari café milik Alaya. Dia akan pergi ke toko yang ada di sekitar tempat itu. Hayden melihat jika toko itu menjual banyak sekali aksesoris untuk anak remaja, dan dia ingin membelikan sesuatu untuk Judith. “Silakan Tuan. Apa yang bisa aku bantu?” tanya seorang karyawan di sana. “Aku mencari hadiah untuk anak remaja,” ujar Hayden. “Apa dia anakmu?” “Ya.” “Baiklah, apa dia menyukai sebuah karakter atau lainnya?” “Entahlah, aku tidak terlalu dekat dengannya. Hanya saja … dia menyukai hal-hal yang manir.” “Baiklah, bagaimana dengan ini?” Karyawan itu menunjukkan beberapa hiasan rambut, dan juga aksesoris lainnya yang bisa digunakan. Pilihan Hayden jatuh pada semua yang diberikan oleh karyawan itu. Hayden memborong aksesoris untuk Judith yang akan pulang mala mini. “Terima kasih, Tuan.” Hayden kembali melanjutkan perjalanannya dan kini dia sudah berada di halte bus. Tidak lama setelah itu, Hayden naik ke atas bus dan kembali ke rumah. Hayden meletakkan hadiah untuk Judith di atas meja yang ada di dalam kamarnya. Dan setelah itu, Hayden mulai merapikan seluruh rumah, bahkan juga memasak di dapur untuk Alaya dan Judith. Hayden melakukan semua itu dengan bantuan pelayan yang bekerja di rumah itu. Setelah semua selesai, Hayden beristirahat sejenak lalu membersihkan dirinya lagi di dalam kamar mandi. Rasanya sangat segar dan bersih setelah mandi, Hayden yang sudah mengenakan pakaian, kini menunggu kedatangan kedua wanita yang juga tinggal di dalam rumah itu. Cukup lama Hayden menunggu hingga akhirnya mereka datang bersama. Alaya cukup terkejut dengan kejutan-kejutan kecil yang dilakukan Hayden. Merasa bahagia, tetapi juga takut. “Papa … ini untukku?” tanya Judith sembari menerima hadiah. “Ya, itu untukmu.” “Terima kasih, Papa.” “Sama-sama.” “Cole, terima kasih,” ujar Alaya dengan tersenyum. “Ya, ayo kita makan!” ajak Hayden. Mereka duduk bersama di ruang makan, dan mulai menikmati hidangan yang sudah dimasak oleh Hayden. Perlahan, akhirnya satu persatu menu makanan di sana habis tidak tersisa. Dan Hayden merasa senang karena hidangannya berhasil memanjakan lidah mereka. Setelah selesai dengan kegiatan makan itu, Hayden terlihat menemani Judith di ruang santai. Anak perempuan itu sedang merapikan hadiah yang diberikan Hayden ke dalam sebuah box penyimpanan. Satu persatu dia rapikan hingga terlihat indah di pandang. “Kau menyukai semua ini?” tanya Hayden memastikan. “Ya, aku sangat menyukai semua ini. Apapun yang Papa berikan, aku selalu menyukainya,” ujar Judith dengan tersenyum. Lega mendengar jika anak itu menyukai pemberiannya. Dan sekarang Hayden merasa lelah hingga ingin beristirahat di dalam kamar. Hayden berpamitan pada Judith untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak melihat Alaya saat ini, sehingga tidak perlu berpamitan. Di dalam kamar, Hayden sedang berbaring dengan menatap langit-langit kamar yang terlihat gelap karena tidak ada penerangan. Hayden mulai memikirkan nama tempat yang harus dia kunjungi untuk bisa bertemu seseorang di kerajaan Inggris yang bisa membantunya. “Apa mungkin dia masih ada?” gumam Hayden. Malam semakin larut, tetapi ke dua mata Hayden belum merasa mengantuk. Meski tubuhnya sangat lelah, Hayden tidak bisa terlelap begitu saja. Sampai akhirnya dia mendengar suara gaduh dari arah dapur. PRANG! Hayden terjingkat dan merasa cemas. Dia berdiri dan berjalan menuju ke dapur. Penerangan sangat minim, hingga tiba-tiba saja seseorang memukul kepala Hayden dengan penggorengan. “Akh!” keluh Hayden. Hayden melihat wajah orang yang memukulnya, dan itu tidak lain adalah Alaya. Hayden bisa mencium aroma alcohol dari mulut Alaya, dan kini Hayden mencoba untuk mencari saklar agar penerangan kembali. “Hayden … maafkan aku.” “Alaya, kenapa kau mabuk seperti ini?” tanya Hayden. “Aku hanya sedang merindukan dirimu. Itu saja,” ucap Alaya. Hampir saja Hayden membawanya kembali ke dalam kamar, tubuh Alaya terhuyung dan hampir terjatuh. Hayden menggendongnya untuk kembali ke dalam kamar. Saat ini, Alaya mengenakan pakaian tidur yang biasa digunakan saat bersama suaminya. Hayden merebahkan tubuh wanita itu di atas ranjang, lalu beranjak dari sana. Tetapi, saat langkah Hayden baru saja terangkat … Alaya menarik tangannya hingga terjatuh di atas tubuh wanita itu. “Alaya.” Alaya tidak menghiraukan ucapan Hayden, dan memilih untuk mencium bibir pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN