Hayden terbangun lebih awal daripada Alaya, dia terlihat menatap wajah wanita itu dengan rasa kasihan. Pria itu berencana akan mencoba untuk menjadi suami yang baik dalam beberapa hari kedepan ,sampai dia pergi dari sana.
Hayden kini berada di dalam kamarnya setelah membersihkan diri. Dia segera menuju dapur untuk membuat sesuatu. Menu makan pagi yang mungkin akan disukai Alaya, dan Hayden mendapatkannya dari ponsel lama itu. Di sana tertulis jika ada beberapa makanan yang memang akan disukai istrinya.
Benar saja, Alaya yang sudah mengenakan pakaian rapi. Kini Duduk di kursi meja makan, dan melihat makanan di atas piring saji. Alaya terkejut dengan hidangan itu, karena hanya Hayden suaminya yang mengetahui makanan yang disukainya.
Alaya menatap ke arah pria yang masih berdiri di dapur dan sedang membuat sesuatu di sana. Dia berjalan mendekati Hayden dan melihat apa yang sedang dimasak.
“Cole, apa yang sedang kau buat?” tanya Alaya.
“Hanya sedang membuat pancake saja,” jawab Hayden.
“Itu terlihat lezat, apa kau mendapatkan resepnya dari –“
“Dari ponsel ini, di sini ada banyak sekali resep makanan yang kau suka. Dan aku terbantu dengan ini.”
“Ahh … iya, kau sangat menyukai hal kecil seperti ini. Membuat ulang catatan yang sudah aku berikan.” Alaya mencoba mengingatkan Hayden.
“Begitu rupanya, baiklah … aku akan mencoba untuk memeriksa lagi ponsel ini. Agar aku bisa mengetahui apa saja yang kalian suka.”
“Kau sungguh ingin melakukannya?” tanya Alaya meyakinkan.
“Ya, kenapa tidak? Kau adalah pemilik rumah ini, dan aku hanyalah tamu. Maaf maksudku, diriku saat ini sedang menumpang pada suamimu,” ujar Hayden.
Alaya tersenyum dan menghargai usaha dari Hayden. Meski ingatan tentang masalalu menghilang, dan hanya ada ingatan dari seorang pria lainnya, Alaya terlihat senang dengan sikapnya. Akhirnya, pagi ini Alaya makan masakan Hayden.
Setelah selesai, dia pergi dari sana dan menuju ke café. sedangkan Hayden mencoba untuk pergi ke dept store miliknya yang sudah lama tidak dikunjunginya. Seorang diri datang ke sana, dan Hayden memang ingin melakukannya dengan keinginan sendiri.
Sebelum masuk ke dalam sana, Hayden menyempatkan diri untuk berkeliling terlebih dahulu. Melihat apa saja yang biasa dikerjakan oleh mereka yang bekerja di sana. Bahkan ada beberapa orang yang tidak mengenali dirinya karena masih baru saja masuk untuk bekerja di sana. Sampai di ruang kantor, seorang wanita menyapa Hayden dengan ramah dan memberikan laporan.
“Tuan ini semua laporan dan berkas yang membutuhkan tanda tangan anda, Nyonya Alaya sudah menjelaskan pada saya mengenai beberapa berkas ini, dan kali ini sudah siap untuk diambil tindakan,” jelas asisten Hayden.
“Baiklah, kau bisa meletakkannya di sana, dan aku akan memeriksanya dengan segera.”
“Baik, Tuan.”
Denaya berjalan keluar dari ruang kerja Hayden dan menuju ke ruangannya sendiri. Hayden mulai melihat dan membaca berkas yang sudah ada di atas meja kerjanya. Dia mulai mengamati dan belajar untuk menilai sebuah berkas, bahkan Hayden belajar dengan sangat cepat kali ini.
Laporan yang dibutuhkan hari ini, telah selesai dikerjakan oelh Hayden. Dan semua yang dilakukannya, sangat membantu Denaya. Meski hilang ingatan, tetapi kinerja Hayden tidak berkurang dalam hal bisnisnya. Ada banyak yang perlu diperbaiki oleh Hayden, dan kali ini dia ingin menyelesaikan urusan di sana dengan segera. Sampai Alaya akhirnya menghubungi dirinya.
“Cole, apa kau mengalami kesulitan di sana?” tanya Alaya.
“Tidak, ada banyak yang membantu di sini. Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Hayden.
“Belum, aku akan pulang sedikit malam. Jika kau sudah ada di rumah terlebih dahulu, jangan menunggu untuk makan malam. Karena aku akan makan di luar,” jelas Alaya.
“Baiklah,” jawab Hayden.
“Jika tidak ada kesulitan, aku akan menutup telepon ini, aku harap kau mau menghubungi aku jika mengalami kesulitan,” ujar Alaya.
“Ya, baiklah. Aku akan menghubungi dirimu.”
Akhirnya, sambungan telepon berakhir. Dan Hayden terlihat merebahkan kepalanya di atas meja dengan tangan sebagai tumpuannya. Hatinya mulai terasa nyaman dengan semua perlakuan dari Alaya. Sehingga Hayden lupa harus pergi ke Inggris.
Ceklek
“Tuan, ada tamu yang ingin menemui anda,” ujar Denaya.
Hayden mengeryitkan dahinya dan bertanya siapa orang itu. sayangnya, Denaya tidak mengenali orang yang ingin bertemu dengan dirinya. Hayden mengatakan jika dia masih belum bisa bertemu dengan klien lama maupun yang baru, karena ingatan yang memudar, Hayden tidak ingin salah mengambil langkah.
“Beritahu dia untuk membuat janji di lain waktu. Aku belum bisa bertemu dengan klien, Denaya.”
“Baik, Tuan.”
Beruntung Hayden memiliki asisten atau sekretaris yang bisa diandalkan, sehingga segala urusannya selesai dengan cepat.
Setelah seharian berada di kantor, Hayden akhirnya beranjak dari sana dan kembali ke rumah sendirian. Dia ingat jika Alaya dengan berada di tempat lain untuk makan bersama klien atau temannya, sehingga membuat Hayden harus makan malam sendirian.
Sampai di rumah, Hayden terlihat lelah. Dia masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri. Setelah itu, Hayden merebahkan tubuhnya sebentar di atas ranjang, melepaskan rasa lelah beberapa menit, tetapi justru membuatnya melewatkan makan malam.
Hayden terbangun tepat tengah malam, dan dia sudah melihat Alaya terlelap di dalam kamar. Hayden melangkah menuju ke dapur, berharap ada yang bisa masuk ke dalam mulutnya untuk mengganjal rasa lapar itu.
“Hmm, sepertinya ini enak,” ujar Hayden semabari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Setelah itu, Hayden membawa air minum dan makanan lainnya untuk di makan di dalam kamar. Hayden juga terlihat sedang menatap layar laptop miliknya sebelum ingatan itu menghilang. Dan saat ini, Hayden sedang memeriksa laporan bulanan yang sedikit kacau.
Tidak ingin ada kesalahan, Hayden mencoba untuk tetap terjaga dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam laporan itu. Karena di saat hayden sedang memeriksa, pasti aka nada minus dalam hitungan computer dengan barang stok di gudang.
Hayden juga mencocokan laporannya dengan Denaya, agar tidak ada kesalahan saat memasukkan ke dalam laporan bulanan. Setelah semua selesai di kerjakan, dia mencoba kembali untuk terlelap. Sialnya, Hayden kembali terbangun karena ada suara seperti seseorang berada di dalam dapur. Hayden terlihat mengendap-endap untuk bisa menangkap orang yang berada di dalam rumahnya.
Klek …
Hayden menghidupkan penerangan di sana dan melihat Alaya sedang meraih gelas untuk mengambil air.
“Kau belum tidur rupanya.” Hayden menyapa Alaya.
“Kenapa kau bangun? Apa aku sangat berisik?”
“Tidak, aku hanya sedang mengerjakan laporan utnuk bulanan,” ujar Hayden.
Alaya terlihat senang saat tahu jika Hayden bisa bekerja dengan sungguh-sungguh. Percakapan mereka sangat singkat, karena Alaya sendiri sangat lelah untuk hari ini. dia memilih untuk pergi dari dapur dan kembali masuk ke dalam kamar. Sedangkan Hayden juga masuk ke dalam kamar untuk terlelap.
Hayden hanya berharap tidak ada hal lainnya yang membuat kacau. Karena dia bukan tipe orang yang mau menerima kritikan atau pendapat dengan baik.