Tanpa Hayden sadari, sudah satu bulan berlalu dari rencananya untuk pergi ke Inggris. Dia merasa ada yang menahannya selama keinginan itu muncul. Tidak hanya masalah pekerjaan, Alaya seakan ingin menahan dirinya untuk tidak pergi dari sana. dan Alaya ingin Hayden hanya miliknya seorang. Karena itu, Hayden tak kunjung pergi ke Inggris untuk mencari keluarganya dari kerajaan pada zamannya dulu.
Hari ini, Hayden harus melakukan pertemuan dengan seorang CEO dari perusahaan property yang ingin bekerja sama dengan dirinya. Pria itu adalah mantan kekasih Alaya, hanya saja … Hayden lupa siapa dia untuk saat ini. Sehingga tidak ada masalah jika dirinya bekerja sama dengan pria dari masa lalu Alaya. Itu karena Hayden tidak memiliki perasaan apapun pada istrinya sendiri.
Hayden sudah berpakaian rapi, dia siap untuk pergi pagi ini. Namun, pandangan matanya tertuju pada Alaya yang juga berdandan rapi dengan mengenakan pakaian yang sangat jarang dikenakan jika sedang menuju café. Tentu hal itu membuat Hayden bertanya kemana dia akan pergi.
“Apa kau sedang ada janji dengan seseorang?” tanya Hayden memastikan.
“Ya, teman-temanku ingin bertemu hari ini. Dan aku akan ke sana.”
“Hmm, baiklah. Bersenang-senanglah … hari ini aku akan bertemu dengan seorang CEO dari perusahaan property, dia ingin bekerja sama dengan perusahaan milik suamimu,” jelas Hayden.
“Sangat menarik, kau bisa bekerja sama dengan perusahaan besar saat ini.”
“Ya, itu berkat dirimu yang mengajarkan padaku mengenai bisnis yang dijalankan oleh Hayden.”
“Cole, terima kasih. Kau sudah bertahan di sini selama ini. Dan aku tidak bisa melakukan apapun untukmu.”
“Tentu saja kau bisa, kau tahu … tiket pesawatku sudah dicetak, dan aku akan berangkat minggu depan. Setelah aku menyelesaikan pekerjaan di sini, aku akan berangkat menuju Inggris.”
Mendengar penjelasan Hayden, Alaya merasa sangat sedih untuk saat ini, Rasa kecewa itu muncul lagi, dan bahkan Alaya hanya bisa berserah diri. Dia akan menuruti segala keinginan pria itu meski untuk pergi ke Inggris dan membuktikan mengenai kerajaan di sana yang sudah berubah sejak puluhan tahun silam.
“Bagus … itu sangat luar biasa, kau akhirnya bisa pergi bukan?” ujar Alaya.
“Maaf, aku tidak memberitahukan hal ini lebih awal. Odison … dia membantuku. Dia menceritakan jika sangat dekat dengan Hayden, karena itu aku menyuruh dia mengurus semua ini.”
“Odison … ya, dia memang pria yang baik dan sangat dipercaya oleh Hayden. Aku harap kau menemukan jawaban setelah sampai di sana.”
“Terima kasih.”
“Baiklah, aku harus segera pergi. Teman-temanku sudah menunggu.”
“Ya, hati-hati di jalan.”
Alaya hanya mengangguk. Sedangkan Hayden sendiri masih menyiapkan beberapa berkas lagi. Setelah semua selesai, Hayden segera pergi menuju ke sebuah restoran mewah yang menjadi tempat dia bertemu dengan pria kaya itu.
Selama di perjalanan, Hayden menghubungi Denaya untuk langsung menuju ke restoran dengan membawa berkas yang diperlukan. Hayden juga sudah menyiapkan banyak sekali keuntungan untuk perusahaan itu jika menandatangani kontrak dihari yang sama.
Perjalanan Hayden memakan waktu satu jam, itu karena restorannya ada di tengah kota. Dan saat dia sampai di sana, Hayden bertemu dengan Denaya di depan pintu masuk restoran.
“Tuan, sepertinya aku melihat Nyonya Alaya di dalam. Apa dia juga bertemu dengan klien di sini?” tanya Denaya.
“Tidak, dia sedang bertemu dengan teman-temannya.”
“Begitu rupanya, kenapa Nyonya tidak berangkat bersama anda?”
“Itu karena aku tidak tahu jika dia ada di sini. Kita masuk dan menyapa istriku sebentar, apa Tuan Logan sudah ada di dalam?”
“Sudah, dia datang tepat di saat saya datang.”
“Baiklah, kita masuk sekarang.”
Mereka akan pergi ke ruang VIP di restoran itu. Dan saat sampai di lantai dua, Hayden membuka pintu dan melihat Alaya tertawa bersama pria di sana.
Hayden terlihat sangat biasa melihat Alaya. Dia bahkan tidak berkomentar sama sekali dengan pemandangan di hadapannya.
“Tuan Hayden, akhirnya kau datang juga. Duduklah!” ujar pria bernama Logan.
“Hayden?” Alaya memanggil.
Hayden tersenyum dan menarik kursi untuk duduk. Hari ini, dia tidak ingin mengacaukan kerjasama yang sudah di tunggu selama satu bulan ini.
“Kau mengenal Tuan Hayden?” tanya Logan pada Alaya.
“Kami pernah bertemu beberapa kali,” sahut Hayden.
“Ah … pantas saja. Maaf aku mengundang kekasihku, apa kau tidak keberatan?” tanya Logan.
“Tentu saja tidak, selama itu tidak mengganggu bisnis kita.”
“Hahaha, ya … kau benar sekali.”
“Baiklah, ini adalah berkas yang kau inginkan. Dan ini adalah kontrak kerjasama yang sudah aku kirimkan ke email beberapa hari lalu.” Hayden menjelaskan mengenai kontrak kerjasama.
Alaya terdiam semenjak melihat keberadaan Hayden di sana, dan tidak ingin berkata apapun. Alaya hanya sibuk dengan ponsel di tangannya, seperti mengirim pesan. Sayang, ponsel Hayden ada di dalam mobil, sehingga tidak akan terbaca di sana.
Logan telah selesai membaca kontrak dan berkas lainnya, dia langsung menandatangani kerjasama yang sudah lama mereka inginkan.
“Sekretarisku akan mengirimkan hardcopy ke kantormu hari ini,” jelas Hayden.
“Senang mendengarnya. Apa kau mau makan bersama kami?” tawar Logan.
“Tidak, terima kasih. Kebetulan aku ada janji makan malam dengan istriku hari ini.”
“Oh, sangat manis. Aku yakin dia adalah wanita yang sangat beruntung.”
“Ya, kau benar. Dia sangat beruntung karena mendapatkan pria yang sangat sabar seperti aku.”
“Hahaha, kau terlalu memuji diri sendiri, Tuan. Tetapi aku menyukainya. Seorang wanita memang harus mendapatkan pria yang tepat agar hidup mereka bisa damai dan bahagia.”
“Ya, sayangnya … kehidupanku tidak sebaik itu.”
“Ah … sayang sekali, aku harap kalian bisa memperbaiki semua itu.”
“Terima kasih. Baiklah, aku harus segera pergi dari sini, aku tidak ingin mengganggu acara kalian.”
“Ya, sampai jumpa, Tuan Hayden.”
Hayden berdiri dan berjalan ke luar dari ruangan itu. Dia berjalan hingga sampai di area parkiran mobil. Di sana, Denaya bertanya mengenai kondisi Hayden.
“Tuan, apa kau baik-baik saja?”
“Ya, aku baik. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku.”
“Sama-sama, Tuan.”
“Denaya, hari ini … urus semuanya, aku akan pergi cukup lama. Dan serahkan semua pekerjaan pada Odison. Aku akan kembali, tetapi entah kapan.”
“Baik, Tuan.”
“Satu lagi, jangan biarkan wanita itu mengambil alih bisnis ini.”
“Baik, Tuan.”
“Aku harus segera pergi. Terima kasih, Denaya.”
Hayden merasa ada yang sakit di bagian dadanya. Dia memang tidak mencintai Alaya seperti Hayden pada masa dulu, tetapi tubuhm, dan hatinya adalah milik Hayden, suami Alaya. Dan saat ini, Cole merasakan apa yang sedang dirasakan Hayden.
Hayden mengemudikan mobilnya sampai di rumah. Hayden tidak tahu jika hari ini Judith pulang ke rumah. Dia bertemu dengan anak Hayden, dan menjelaskan mengenai kepergiannya ke Inggris. Hayden kembali mengantarkan Judith ke rumah orang tuanya untuk di asuh di sana.
“Sayang, jangan nakal. Kita akan bertemu lagi, tetapi entah kapan. Aku harap kau baik-baik saja selama aku pergi.”
“Papa.”
“Tenanglah, ibumu akan segera kembali untuk menjemputmu.”
Hayden mengemas barang-barangnya setelah mengantarkan Judith. Dia membawa sedikit barang, tetapi ada banyak uang yang berada di dalam tabungannya. Dan uang itu akan cukup untuk digunakan selama berada di Inggris.
Baru saja Hayden akan menarik tas koper itu, Alaya datang dan berdiri mematung di depan pintu. Hayden tidak peduli, dia menyuruh Alaya pergi dari sana. Namun, wanita itu tidak mau menyingkirkan tubuhnya. Airmata Alaya keluar dengan deras, dia merendahkan tubuhnya dan duduk di lantai dengan menyentuh kaki Hayden.
“Jangan pergi,” ucap Alaya ditengah isak tangisnya.
“Menyingkir dari sana!”
“Hayden … aku mohon.”
“Aku bukan Hayden, aku Cole Riddle.”
“Aku mohon! Jangan pergi! Aku minta maaf atas kesalahan ini.”
“Jika minta maaf saja tidak berguna, untuk apa kau kembali kemari? Bukankah pria itu jauh lebih kaya dan mencintai dirimu?”
“Tidak! Aku mohon! Dengarkan aku dulu!”
“Tidak ada yang perlu aku dengarkan lagi, cukup apa yang sudah mata ini lihat di restoran itu.”
Hayden menyingkirkan tubuh Alaya, dan dia kembali melangkah untuk masuk ke dalam mobil. Hayden pergi dari sana dan menuju ke bandara.