Entah sudah berapa hari Cole ada di dalam tahanan itu, dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali membersihkan diri. Tubuhnya terasa sangat lengket, aroma tidak sedap mulai tercium di hidungnya. Beberapa kali Cole mencoba untuk memohon, tetapi sayang … tidak ada yang peduli dengan keluhannya.
Sampai akhirnya, hari ini ada yang ingin bertemu dengan Cole. Dia adalah salah satu penasehat di Mansion itu. Pria dengan pakaian yang sangat rapi itu mendekati tahanan, dan dia berbicara dari luar.
“Kau, siapa namamu?” tanya pria itu.
“Dataku menyebutkan bahwa namaku adalah Hayden, tetapi … aku yang saat ini bernama Cole Riddle. Aku keturunan kesekian dari kerajaan inggris di Era Stuart.”
Mendengar penjelasan Cole, pria itu justru tertawa dan tidak percaya dengan ucapan Cole.
“Ayolah, aku tidak sedang bercanda. Kau bisa saja ke luar dari sini jika kau mau. Hanya saja, kau harus jujur padaku. Apa yang kau lakukan saat itu?”
“Tidak ada, aku hanya ingin masuk ke dalam kamar yang dulunya adalah milikku. Aku hanya merindukan keluargaku saja,” jelas Cole.
“Tuan, jangan bermain-main dengan diriku. Aku sudah sangat berbaik hati tidak menghukum berat dirimu.”
“Berikan aku pertanyaan seputar Era yang aku sebutkan. Maka kau akan percaya siapa aku. Pertanyaan yang tidak diketahui oleh siapapun, bahkan tidak aka nada di buku sejarah.”
Pria yang ada di luar itu terdiam, hingga beberapa detik kemudian suaranya kembali terdengar dengan pertanyaan yang memang sangat langka untuk dipertanyakan.
“Siapa nama kekasih Tuan Cole Riddle saat itu?”
“Pertanyaan yang sangat bagus, bahkan tidak ada yang tahu siapa kekasihku kecuali dia sudah mengumumkannya pada orang. Namanya adalah Palmer. Dia adalah wanita yang sangat sabar, sangat suka bermanja jika berada di dekatku. Sayang … dia sudah tiada bukan? Aku mendapatkan kabar itu dari Maggie, dia menceritakan semua padaku. Karena saat itu aku ingin bertemu dengan Palmer.”
“Tuan, aku minta maaf. Sepertinya jawabanmu memberatkan kau untuk bisa ke luar dari tempat ini. Bukan karena kau tidak terbukti, hanya saja … seseorang tengah menunggu dengan ketakutan di luar sana melihat kau kembali.”
Deg …
“Si-siapa? Apa yang akan kalian lakukan padaku! Lepaskan aku!” seru Cole.
Tidak ada yang mendengarkan Cole lagi saat ini. Pria itu kembali duduk dan memukul pintu besi di sana. Perasaannya saat ini sedang dalam kondisi yang sangat tidak baik. Cole terlihat menyesal karena sudah bertingkah bodoh.
Tepat di malam hari …
Cole seperti mendengar ada yang membuka pintu, dan benar saja … pintu itu terbuka sendiri. Membuat Cole bisa ke luar dari sana. Namun, Cole tidak menemukan siapapun di depan ruang tahanan. Cole berjalan perlahan hingga hampir sampai di pintu keluar.
Tiba-tiba saja tangannya di tarik masuk ke sebuah pintu yang terhubung ke satu ruangan gelap. Di sana tidak ada cahaya masuk kecuali dari celan jendela. Cole bisa melihat siapa yang datang dan menyelamatkan dirinya dari orang-orang gila di sana.
“Kau baik-baik saja?” tanya wanita yang membantunya.
“Ya, aku baik.”
“Ikuti aku, kita akan keluar dari sini bersama. Aku harap kau tidak bertingkah bodoh saat berjalan kaki menuju ke pintu keluar,” jelas wanita yang tidak lain adalah Maggie.
“Ya, aku pastikan itu.”
Mereka berjalan menuju ke pintu keluar Mansion. Beruntung tidak ada yang menemukan mereka, itu karena keduanya melalui sebuah pintu rahasia. Maggie sering menggunakan pintu itu untuk keluar dan masuk ke Mansion.
Sampai di luar, Maggie mengantarkan Cole untuk sampai di penginapan. Maggie masih membantu Cole untuk beberapa hal di penginapan itu. Dan setelah Cole selesai dengan kegiatannya di dalam kamar mandi, dia kembali duduk dan berbincang bersama Maggie.
“Terima kasih, aku tidak tahu lagi jika kau tidak menyelamatkan aku.”
“Tidak masalah, keluarga kerajaan di sana memang sudah sangat berbeda, mereka akan menahan siapapun yang mengaku sebagai kerabat dari keluarga Riddle. Aku bahkan menjadi tahanan mereka selama ini.”
“Hei, mereka mengatakan … kau adalah kekasih kepala penjaga di sana.”
“Tidak, dia hanya seorang pria yang mencoba mendapatkan perhatianku. Aku bahkan tidak memiliki rasa dengannya,” jelas Maggie.
Cole terlihat seperti sangat lega. Tetapi tidak ia tampilkan pada Maggie.
“Aku sepertinya tahu … siapa yang sudah membunuhku dulu.”
“Benarkah? Apakah di dalam sana kau mendapatkan jawaban?” tanya Maggie.
“Hanya sedikit yang aku dapatkan, tetapi … seorang pria yang datang, membuat aku yakin … semua itu bukan kecelakaan biasa. Mereka sengaja ingin membunuhku saat itu,” jelas Cole.
Tok
Tok
Tok
“A –“
“Tenanglah … aku hanya memesan makanan, kau pasti sangat lapar.” Maggie beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu masuk.
Benar saja, ada seorang pria mengantarkan makanan. Dan Maggie menyiapkan semua untuk Cole.
“Makanlah!” ujar Maggie.
“Terima kasih.”
Setelah itu, percakapan mereka berlanjut. Hingga makanan yang ada di atas meja habis tidak tersisa. Maggie tersenyum dan merasa jika ada sesuatu di dalam diri Cole yang bisa membuatnya berubah.
“Cole, kau tahu … aku adalah anak tunggal dalam keluargaku. Tidak ada yang tahu jika orang tuaku memiliki darah bangsawan dari kerajaan itu. Kami semua diusir oleh seorang pria yang mengaku sebagai penasihat kerajaan. Dan … Nenek-ku tiada karena dibunuh oleh mereka. Saat itu, Nenek berada dalam pengawasan dokter. Mereka mengira jika Nenek tiada karena memang penyakitnya tidak bisa lagi diobati. Setelah beberapa hari kemudian, saat itu Nenek sudah tiada … aku membersihkan kamarnya, dan menemukan sebuah kertas yang menyatakan … Nenek tiada karena mereka membunuhnya secara perlahan. Mereka memasukkan cairan yang mematikan secara bertahap,” jelas Maggie.
Wanita itu terisak dan membuat Cole meraih tubuhnya dan memeluk Maggie. Cole bisa merasakan kesedihan yang dirasakannya. Hingga akhirnya, di dalam foto yang sudah disimpan oleh Maggie selama ini, ternyata ada foto Cole yang menjadi sebuah kenangan untuk Palmer.
“Aku menyimpan ini, kata Nenek … kau akan kembali untuk dirinya.”
“Bahkan sampai akhir hayatnya … dia tidak melupakan aku,” ujar Cole.
“Jika kau benar orang yang ada di dalam foto itu, temui Nenek-ku. Dia pasti akan sangat bahagia di atas sana, bisa melihat kau ada di dunia ini lagi.”
“Ya, tentu saja. Aku akan ke sana.”
“Malam ini, beristirahatlah.”
“Apa kau akan kembali?”
“Apa aku bisa tidur di sini? Karena … aku tidak memiliki tempat tinggal lagi sekarang. Karena menyelamatkan dirimu, aku harus rela meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat aku berteduh,” ujar Maggie.
“Tentu saja, kemarilah! Kau bisa tidur di sana, aku akan tidur di sini.”
Maggie tersenyum dan tidak menyangka jika Cole adalah pria yang baik. Akhirnya, Maggie tidur di atas ranjang, dan Cole tidur di sofa yang ada di ruang tamu. Mereka terlelap karena lelah hingga keesokan harinya.
Maggie terbangun pagi ini dan tidak melihat keberadaan Cole. Hingga akhirnya Maggie melihat ke arah pintu yang perlahan terbuka. Cole datang dengan membawa senampan makanan dan minuman. Pria itu meletakkannya di atas meja, dan memanggil Maggie untuk makan bersama di sana.
“Hei, kau sudah bangun rupanya. Apa tidurmu sangat nyenyak?” tanya Cole.
“Ya, terima kasih.”
“Untuk apa? Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau wanita yang sangat baik, menurutku.”
Maggie dibuat tersipu, perkataan Cole memang membuatnya tersenyum dan selalu merasa seperti wanita yang beruntung.