5. Gerakan

1156 Kata
Satu minggu berlalu … Hayden masih belum memperlihatkan tanda-tanda untuk bangun dari tidur lelapnya. Alaya masih setia menunggu di sampingnya, dengan harapan yang besar. Tidak ada kata menyerah untuk kesembuhan Hayden, meski harus menunggu lama. Judith hari ini mendapatkan libur sekolah, dan dia bisa menemani ayahnya di rumah sakit. Sudah beberapa kali Alaya melarang Judith untuk datang karena alasan belajar. Alaya tidak ingin anaknya sampai tertinggal pelajaran hanya karena menemani dirinya di rumah sakit. Sedangkan mertua Alaya juga beberapa hari sekali datang untuk memastikan kondisi anaknya. Judith sedang membaca di samping Hayden, dia ingin menceritakan kisah yang sudah dipelajari di sekolah beberapa waktu lalu. Tidak hanya sebuah buku, Judith juga membawa karyanya yang dia buat saat mata pelajaran kesenian. “Papa … ini aku sendiri yang membuatnya. Lihatlah!” ujar Judith. Alaya melihat semua itu dari sudut kamar dengan sesekali mengusap air matanya yang terus mengalir. Alaya juga disibukkan dengan urusan bisnis Hayden yang tidak bisa ditinggalkan. Terkadang ada seseorang yang datang dan meminta tanda tangan untuk sebuah laporan. Beruntung Alaya tahu mengenai bisnis itu, sehingga dia bisa memeriksanya terlebih dahulu. “Sayang, waktunya makan siang. Kemarilah!” panggil Alaya. Judith turun dari atas kursi yang ada di samping brankar. Dia berjalan mendekati Alaya dan mulai memakan makanan yang sudah disiapkan. Selama di sana, Judith terlihat sangat tenang, dan nampak tidak bersedih sama sekali. “Mama, ada pertemuan orang tua satu minggu lagi, apa Papa bisa hadir di sana?” tanya Judith. “Sayang, kau tahu sendiri bagaimana kondisi Papa saat ini, Mama yang akan datang ke sekolah.” “Mama, apa aku akan menetap di asrama di tingkat selanjutnya?” tanya Judith. “Ya, kau harus tinggal di asrama, karena Mama ingin kau belajar untuk mandiri.” “Baiklah, Mama.” Alaya mengusap kepala anaknya perlahan, dan mencium keningnya. Dia sangat menyayangi anak itu, karena Alaya tidak bisa mendapatkan keturunan lagi. Setelah melahirkan Judith, Alaya mengalami kecelakaan sehingga mengharuskannya kehilangan rahim. Selama berada di rumah sakit, Alaya dan Judith terus mengajak bicara Hayden. Karena dokter berkata, bahwa Hayden sesungguhnya bisa mendengarkan perkataan mereka. Hanya saja, kesadarannya yang masih belum bisa diraih. “Berikan Papa semangat lagi untuk bangun. Kau pasti bisa membuatnya untuk membuka mata, Sayang,” ujar Alaya. Judith hanya tersenyum dan kembali ke samping Hayden. Anak itu mulai menceritakan pengalamannya selama satu minggu ini tanpa dirinya. Judith adalah anak yang kuat, dan tidak begitu suka dengan banyak kegiatan. Biasanya, jika berada di sekolah … Judith hanya akan melakukan kegiatan belajar dan hal lain yang hanya dilakukan di sekolah. dia sangat jarang berkumpul atau berbincang dengan temannya. Bukan karena Judith tidak memiliki teman, melainkan dia tidak begitu suka bergodip atau membicarakan tentang banyaknya selebriti bahkan idola dunia lainnya. “Papa, kau tahu … aku masuk ke dalam tim basket, tetapi aku menolaknya … aku tidak tahu siapa saja pemain basket terkenal. Karena itu teman-teman menyoraki aku. Jika Papa tahu, cepatlah buka mata dan beritahu aku mengenai basket. Aku suka dengan cara mereka memainkan bola.” Alaya tersenyum kembali mendengar cerita anaknya. Sesekali, mata Judith melirik pada Alaya dan merasa tidak ingin lagi berbicara. Tetapi, Alaya memberikan semangat agar anaknya bisa dekat dengan sang ayah. Setelah seharian menunggu, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Keduanya harus mengurus rumah mereka juga. Dan Alaya membayar perawat untuk menjaga juga merawat Hayden. Bahkan Alaya mempercayakan pada perawat dan dokter di sana, jika Hayden membuka mata, mereka akan menghubungi Alaya dengan segera. Alaya dan Judith kembali ke rumah mereka bersama. Dan selama perjalanan, Judith terlelap karena lelah setelah seharian membantu menjaga sang ayah. Sampai di rumah, Alaya menyiapkan beberapa keperluan Judith untuk sekolah keesokan harinya. Tidak hanya itu, Alaya juga menyiapkan semua berkasnya yang digunakan untuk bekerja. Sudah lama dia tidak mengurus sendiri bisnis yang dimilikinya. Dalam kondisi seperti ini, Alaya membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk bisa membayar rumah sakit. Hayden sudah menghabiskan puluhan miliyar untuk operasi dan perawatan selama berada di dalam rumah sakit. “Sayang … kita makan malam bersama, lalu bersiap untuk tidur. Mama sangat lelah, dan pasti kau juga.” “Iya, Mama.” Judith menurut pada Alaya, dan kini mereka ada di ruang makan untuk menikmati makan malam yang sudah dihidangkan oleh pelayan di rumah itu. Selesai dengan kegiatan makan malam, keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing. *** Keesokan harinya, Judith berangkat ke sekolah dengan seorang supir pribadi. Sedangkan Alaya, berangkat dengan mobil sendiri menuju ke tempat kerjanya. Sebelum sampai di kantor, Alaya menyempatkan diri untuk menemui Hayden di rumah sakit. Melihat perkembangan kondisi suaminya adalah hal yang bisa membuat Alaya sedikit tenang. Alaya selalu mengajak bicara Hayden untuk beberapa menit, setelahnya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kantor. Perasaan Alaya jauh lebih baik setelah bertemu dengan Hayden, dia terus berharap agar pria itu segera kembali padanya. Karena masih banyak impian yang belum dia capai bersama Hayden. Sementara di rumah sakit, dokter sedang memeriksa keadaan Hayden. Dan sesekali jemari pria itu mulai bergerak, hanya saja masih belum ada tanda untuk membuka ke dua matanya. Dokter terus menyuruh perawat di sana untuk memantau keadaan Hayden selama seharian ini. “Dok, sepertinya pasien setengah sadar. Apa tidak ingin mencoba bertanya padanya? Siapa tahu, akan ada jawaban meski hanya dengan gerakan tangan atau tubuh lainnya.” Seorang perawat mencoba mengatakan hal yang mungkin saja terjadi. Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya dokter itu mencoba cara yang disarankan oleh perawatnya. Dia akhirnya bertanya pada Hayden mengenai beberapa hal. “Tuan, jika kau mendengarkan aku, gerakkan satu jarimu,” ujar dokter. Cukup lama mereka menunggu, hingga akhirnya satu jari telunjuk Hayden bergerak. “Ini berhasil,” ujar dokter itu. Akhirnya, dokter itu kembali bertanya pada Hayden. “Tuan, jika kau bisa membuka mata gerakan satu jarimu lagi. Jika tidak, aku akan berhitung hingga sepuluh dan jika tidak ada pergerakan, aku akan menganggap kau tidak bisa melakukannya,” ujar dokter. Dokter mulai menghitung hingga sepuluh, tetapi sayang tidak ada pergerakan dari Hayden. Kembali untuk tidak putus asa, dokter bertanya lagi. “Apa namamu Tuan Hayden?” tanya dokter itu. Tidak ada jawaban, dokter kembali memberikan pilihan pada Hayden untuk menggerakkan satu kali jika iya, dan dua kali jika tidak. Kali ini, jawaban Hayden sungguh mengejutkan dokter itu. “Kemungkinan dia mengalami hilang ingatan, kita hanya bisa menunggu hingga dia sadar kembali,” ujar dokter itu. “Baik, Dokter.” “Aku akan menghubungi Nyonya Alaya untuk memberitahu kabar ini.” Dokter itu pergi dari kamar Hayden dan kembali ke ruangannya. Dia meraih ponsel dan menghubungi Alaya yang masih berada di dalam kantornya. “Nyonya, apa kau ada waktu untuk datang ke rumah sakit sore ini? Ada kabar mengenai suami-mu.” “Baiklah, aku akan datang ke sana pukul tiga.” “Baik,” jawab Dokter. Dokter itu memeriksa kembali hasil rontgen milik Hayden. Di sana memang sudah tidak ada lagi gumpalan darah, tetapi masih ada luka yang diakibatkan kecelakaan itu. Beberapa kali dokter itu merasa jika pasiennya memang sangat special kali ini, dan dia tidak akan menyerah untuk kesembuhan Hayden.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN