Alaya bergegas menuju ke rumah sakit, dia tidak sabar untuk mendengarkan kabar dari dokter mengenai Hayden. Sampai di lobby, Alaya berlari secepat mungkin dan masuk ke dalam ruang dokter. Dia duduk tepat di seberang dokter itu, dan siap untuk menerima kabar yang sudah ditunggu selama satu minggu ini.
“Jadi … kabar apa yang ingin anda berikan padaku?” tanya Alaya.
“Ada kabar baik dan kurang baik.”
“Kabar baik, aku ingin mendengar itu dulu.”
“Kabar baiknya … ada cara untuk berinteraksi dengan Tuan Hayden. Dia mendengarkan apapun yang kita katakan, dan menjawab dengan pergerakan jemarinya.”
“Benarkah? Jadi … aku bisa mengajaknya berbicara?”
“Ya, hanya saja … hal itu sedikit terbatas, mungkin karena pemulihannya yang sangat lambat,” jelas dokter.
“Baiklah, aku ingin bertemu dengan suamiku.”
“Nyonya … kau belum mendengarkan kabar buruknya.”
“Kenapa? Apa kabar itu sangat penting?”
“Ya, tentu saja.”
“Lalu … apa yang membuatnya sangat penting?”
“Tuan Hayden hilang ingatan, dia tidak akan merespon apa yang kau katakan, karena tidak mengenali siapa dirimu, Nyonya.”
Deg …
Alaya terlihat lemas, tatapan matanya menjadi cemas dan tidak percaya dengan perkataan dokter. Alaya berlari keluar dan menghampiri suaminya. Alaya mencoba apa yang dikatakan dokter untuk menyuruh Hayden meresponnya dengan gerakan jari.
“Sayang … ini aku Alaya, istrimu. Apa kau mengingat aku? Jika kau mengingat siapa aku gerakan jarimu dua kali, dan jika tidak kau bisa menggerakkannya satu kali,” ujar Alaya.
Beberapa detik berlalu, hingga akhirnya Hayden menggerakkan satu jari telunjuknya dengan satu kali gerakan. Alaya masih berharap jika hal itu tidak benar, dia masih menunggu Hayden menggerakkannya lagi, tetapi sayang … Hayden kembali terdiam.
Alaya meneteskan airmatanya. Dia tidak menyangka jika Hayden akan melupakan dirinya. Alaya hanya berharap ini semua ilusi, karena Hayden belum melihatnya secara langsung, sehingga Alaya berpikir jika pria itu pasti sangat ragu saat ini.
“Hayden, aku akan menunggu hingga kau bisa membuka ke dua mata itu, dan aku harap kau bisa mengingat siapa aku saat sudah membuka mata,” ujar Alaya.
Wanita itu berjalan keluar dari kamar pasien, dan pergi dari sana untuk kembali ke rumah. Alaya tidak ingin terlalu lama di sana, dan menerima pahitnya saat Hayden tidak mengenali dirinya.
Judith melihat wajah sedih sang ibu, dia mendekat dan bertanya pada Alaya mengenai kesedihan itu. Alaya tidak ingin membaginya dengan Judith, dia hanya berkata jika tidak ada masalah serius dengan wajah itu.
“Sayang, sebaiknya kau beristirahat,” ujar Alaya mengalihkan perbincangan.
Judith berjalan menuju ke dalam kamarnya, dia masih menatap Alaya yang mengusap air mata. Hingga Alaya tersenyum menatap Judith, dan membuat anak itu menutup pintu kamar.
***
Pagi ini, Alaya dikejutkan dengan telepon dari dokter yang mengatakan jika Hayden telah sadar. Alaya dan Judith pergi ke rumah sakit dengan segera. Mereka tidak sabar dengan kabar ini, sehingga melupakan jika kemarin ada penolakan dari Hayden.
Alaya menghentikan mobilnya di area parkir rumah sakit, lalu berlari bersama anaknya ke dalam rumah sakit, hingga akhirnya mereka sampai di kamar Hayden. Di sana, terlihat Hayden sedang menjalani pemeriksaan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi keluhan yang dialami pria itu.
Alaya berjalan mendekat dengan perlahan, dia tersenyum saat pandangan matanya bertemu dengan Hayden. Begitu juga Judith yang tidak sabar untuk bisa menyapa ayahnya.
Sayang … saat perawat mulai bergeser, Alaya hendak menyentuh tangan Hayden tetapi ditepis dengan cepat. Alaya cukup terkejut saat suaminya melakukan hal itu.Wajah Hayden terlihat begitu kaku dan seperti tidak mengenali Alaya.
Alaya menelan ludahnya dengan kasar, dia sangat takut jika suaminya akan melupakan dia untuk selamanya. Begitu juga Judith yang memiliki tanda tanya besar dengan sikap sang ayah. Judith memberanikan diri untuk bertanya mengenai Hayden yang bersikap dingin pada mereka.
“Papa, kenapa menolak Mama?” tanya Judith.
“Siapa kalian?” tanya Hayden.
“Sayang, aku Alaya, istrimu … dan ini Judith, anakmu.” Penjelasan Alaya membuat Hayden mengerutkan keningnya.
Judith yang tidak tahu jika sang ayah mengalami hilang ingatan hanya bisa terdiam dan duduk sesuai arahan Alaya. Alaya masih mencoba untuk meyakinkan Hayden mengenai keluarganya.
“Kau! Berhenti untuk memberitahu aku mengenai siapa kalian! Aku sungguh tidak mengenal siapa kalian ini!” ujar Hayden.
“Tapi –“
“Cukup, Nyonya. Namaku adalah Cole Riddle. Aku adalah Pangeran Inggris yang mengalami kecelakaan saat perjalanan untuk kembali ke kerajaan,” jelas Hayden.
Alaya mengeryitkan dahinya, dia menatap pada dokter yang ada di sampingnya. Tidak percaya … Alaya memilih untuk pergi dari sana dan mencoba meminta penjelasan dari dokter mengenai keadaan Hayden saat ini.
“Dokter … bisakah kau menjelaskan keadaan Hayden?” tanya Alaya ingin tahu.
“Nyonya, aku akan memanggil temanku. Dia mungkin bisa membantu kita dalam hal ini,” jelas dokter.
“Baiklah, cepat panggil dia. Aku tidak ingin Hayden seperti ini terus menerus! Dia memiliki kehidupannya!”
“Aku tahu, Nyonya. Bersabarlah.”
Setelah itu, Alaya kembali ke dalam kamar. Dia melihat Judith duduk di samping Hayden dengan menjelaskan mengenai kegiatan sekolahnya beberapa hari sebelumnya. Beruntung, Hayden mau mendnegarkan apa yang dijelaskan oleh anak itu dan tidak membuatnya sedih dengan hilangnya ingatan sang ayah.
Alaya duduk di sofa yang ada di sudut kamar. Dia masih mengamati Judith dan Hayden dari sana. Hingga anak itu kembali menghampiri dirinya dan mengatakan jika tengah lapar.
“Mama, aku ingin makan.”
“Baiklah, kita pergi ke kantin rumah sakit.”
“Kau! Siapapun kau dalam kehidupanku, aku hanya ingin kau tahu jika aku tidak bermaksud untuk menolakmu, hanya saja … aku benar-benar tidak bisa mengingat siapa kau ini,” ujar Hayden.
Alaya tersenyum dan memaklumi keadaan suaminya saat ini. Dia bisa berjalan keluar dengan sedikit lega karena Hayden masih bersikap baik padanya dan Judith.
Hayden terlihat menatap ke sekitar kamar itu. Dia merasa aneh dengan teknologi yang digunakan saat ini. Tidak lama setelah itu, ada seorang wanita masuk ke dalam kamar itu dan mengenakan jas putih seperti dokter. Wanita itu tersenyum dan menyapa Hayden.
“Selamat siang, Tuan. Apa aku bisa melakukan pemeriksaan dengan dirimu?”
“Siapa kau?” tanya Hayden.
“Aku seorang dokter di sini. Aku dengar kau kehilangan ingatan, dank au mengatakan jika namamu bukanlah nama yang ada di papan ini, benar begitu?”
“Ya, rumah sakit ini terlihat aneh, kenapa namaku berubah menjadi Hayden? Sementara nama asliku adalah Cole Riddle.”
“Baiklah, Tuan Cole. Apa kau bisa mengingat sesuatu saat ini, tentang dirimu sendiri tentunya.”
“Aku seorang Pangeran Inggris ke tiga, dan aku sedang dalam perjalanan kembali dari Belanda menuju ke Inggris,” jelas Hayden.
“Di sini aku melihat, namamu memang ada di dalam daftar kerajaan Inggris. Hanya saja … kau sudah lama tiada, Tuan Cole.”
“Tidak mungkin.”
“Jadi … dalam catatan sejarah. Kau mengalami kecelakaan saat perjalanan kembali dari Belanda menuju ke Inggris. Dan di tengah perjalanan, mobil yang kau gunakan terbalik dan masuk ke dalam jurang. Jenazah mu tidak ditemukan saat itu sehingga membuat pemakaman dilakukan tanpa adanya jasad.”
“TIDAK MUNGKIN!” teriak Hayden.
“Tuan, tenanglah aku akan menjelaskan kembali padamu mengenai kerajaan Inggris saat ini. Untuk garis keturunanmu memang sudah lama tidak menjabat di sana, dan digantikan dengan keluarga dari kerabat dekatmu.”
“Ti-tidak.”
“Apa kau masih ingin mendengarkan aku?”
“Ya … lanjutkan!”