Tiga hari setelah sadar …
Alaya tidak memiliki pilihan lain selain membawa Hayden kembali ke dalam rumah mereka. Masih dalam kondisi masa pemulihan pasca kecelakaan. Ingatan Hayden juga tidak kunjung kembali dan justru semakin membuat Hayden terobsesi untuk mencari keturunannya yang ada di Inggris.
Di dalam rumah mereka, Hayden tidur di dalam kamar tamu. Dia tidak ingin berada di dalam kamar yang sama dengan Alaya meski sudah diberitahu jika mereka telah menikah beberapa tahun silam. Hayden bersikukuh mengatakan jika dirinya ini adalah pangeran ke tiga dari kerajaan Inggris.
Selama berada di rumah mereka, Hayden bersikap sangat sopan dan layaknya seorang pangeran. Terlihat angkuh dan dingin jika sedang dipandang dari kejauhan. Di dalam rumah itu, hanya Judith yang membuat dirinya merasa tenang dan sangat nyaman untuk diajak berbicara.
Alaya tidak mempermasalahkan hal itu, dia hanya ingin Hayden tidak terlalu keras saat bersama Judith. Karena gadis itu adalah anak satu-satunya dari pernikahan mereka.
Alaya juga menjelaskan pada Hayden mengenai pekerjaannya di departemen store. Sudah ada banyak sekali pekerjaan yang menunggunya, hanya saja Alaya harus menjelaskan secara satu persatu pada Hayden yang pasti belum mengetahui bisnis seperti itu di zaman modern ini.
“Hay – Cole, ini adalah laporan yang harus diperiksa olehmu. Ini adalah salah satu pekerjaan yang biasa kau lakukan sebelum hilang ingatan.”
“Nyonya, aku tidak akan melakukan apapun di dalam rumah ini selain memulihkan diri. Setelah aku pulih, aku akan membayar semua jasamu, dan aku akan kembali ke kerajaan Inggris,” jelas Hayden.
“Sadarlah! Inggris sudah sangat berubah, tidak ada lagi dari kerajaan itu untuk dirimu. Mereka pasti akan membuat kau terusir dan pergi dari sana.”
Hayden tidak mendengarkan perkataan Alaya, dia berdiri dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar, Hayden hanya mencari informasi mengenai Inggris dan garis keturunan darinya. Hayden berhasil bertemu dengan artikel yang menyatakan bahwa untuk keturunannya kini sudah menjadi seorang pelayan kerajaan. Dan tidak ada yang menjabat sebagai Pangeran maupun lainnya.
Hayden terlihat sangat kesal dengan pemberitaan yang dia anggap berbohong itu. Sangat tidak mungkin jika keturunannya kini menjadi pelayan kerajaan Inggris. Hayden ingin sekali segera sehat agar bisa kembali ke inggris untuk bisa mengajak salah satu keturunannya hidup enak di Moskow.
Tok
Tok
Tok
“Cole, maafkan aku,” ujar Alaya dari balik pintu.
Ceklek
“Nyonya, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Hayden.
“Meminta maaf.”
“Aku yang seharusnya melakukan itu, kau tahu … aku sangat menyesal mengenai suamimu yang … sepertinya hilang itu.”
“Suamiku tidak hilang, dia ada di sini.”
“Baiklah, jangan menyesal jika kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan dariku.”
“Tidak.”
Alaya kembali pergi dari sana dan meninggalkan Hayden. Setelah itu, Alaya harus pergi ke kantor dan menggantikan Hayden di sana. ada banyak sekali urusan yang harus Alaya selesaikan. Tidak seharusnya dia menjadi cengeng dan larut dalam kesedihan itu.
***
Hayden terlihat berlatih dengan melakukan jalan sore di sekitar taman yang tidak jauh dari rumahnya. Dia sedang bersama Judith saat ini, berkeliling dan melihat pemandangan di taman itu. Ada banyak sekali orang yang berkunjung di sana, mereka bermain dan bersenda gurau bersama.
Hayden yang merasa lelah dengan perjalanan itu, kini duduk di sebuah kursi taman dengan Judith. Mereka menghabiskan satu botol air, lalu kembali membuka botol lainnya.
“Hah … hah … masih sangat sakit. Tetapi aku harus segera sembuh,” gumam Hayden.
“Papa … ada penjual ice creame, apa aku boleh membelinya?” tanya Judith.
“Tentu saja, kau bisa membeli itu.”
Judith berlari menuju ke penjual, dan Hayden berjalan sedikit menyeret kakinya untuk sampai di sana. Mereka memesan rasa yang sama, dan menikmatinya dengan duduk di tempat semula.
“Hmm, ini sangat enak!” ujar Judith.
“Kau benar.”
Dari kejauhan, Alaya mengamati keduanya dengan tersenyum senang. Dia kembali masuk ke dalam rumah setelah puas melihat kedua orang yang dia sayang bersama.
Hayden masuk ke dalam rumah bersama Judith, dia langsung masuk ke dalam kamar untuk segera mandi. Satu persatu dia buka kain penutup tubuhnya. Dan tanpa sengaja Alaya masuk ke dalam sana untuk mengambil pakaian kotor.
“Astaga! Maaf, aku tidak sengaja,” ujar Alaya sembari berjalan mundur dan menutup mata.
Hayden tersenyum dan masuk ke dalam kamar mandi, dia membersihkan dirinya dengan sabun cair, dan air yang mengalir terus itu membasahi tubuh kekar Hayden.
Lima belas menit berlalu …
Hayden keluar dari kamar mandi dan kembali mengenakan pakaiannya. Dia berjalan keluar dan melihat sudah ada banyak makanan di atas meja saji. Semua makan dengan piring masing-masing, lalu mulai menghabiskan seidkit demi sedikit hidangan di sana.
“Apa ini kau memasaknya sendiri?” tanya Hayden.
“Ya, ini semua masakanku.”
“Makanan ini sangat lezat, terima kasih karena mengizinkan aku memakannya.”
“Tidak masalah, kau harus banyak makan agar bisa cepat pulih.”
“ya, kau benar. Aku tidak sabar untuk bisa kembali ke Inggris.”
“Cole, jika kau tidak keberatan … kau bisa kembali ke rumah ini setelah dari Inggris.”
“Tidak, aku tidak akan kembali.”
Deg …
Rasa sakit itu sangat menusuk hati Alaya. Perkataan tidak akan kembali lagi membuat airmatanya secara otomatis menetes dan membasahi pipinya. Sedangkan Hayden sendiri tidak begitu peduli dengan Alaya.
Setelah kegiatan makan malam itu berakhir, Hayden kembali ke dalam kamar.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
“Alaya, apa kau bisa membantu aku?” tanya Hayden yang tiba-tiba saja mengetuk pintu kamar Alaya.
“Apa yang bisa aku bantu?”
“Aku ingin memesan kendaraan untuk bisa pergi ke Inggris.”
“Cole, tubuhmu masih belum pulih seutuhnya. Dan kau tidak diperbolehkan untuk pergi jauh dengan pesawat selama tiga bulan,” jelas Alaya.
“Hmm, kenapa sangat tidak adil? Baiklah.”
Hayden kembali ke dalam kamar dan merasa kecewa dengan driinya sendiri. Dia tidak bisa kembali ke Inggris dengan cepat dan justru harus tinggal lebih lama lagi bersama Alaya.
Keesokan paginya, mereka kembali berkumpul di ruang makan. Dan kali ini Alaya sangat diam tidak banyak berbicara. Wanita itu bahkan tidak menyapanya dipagi yang cerah ini. Hanya Judith yang tersenyum dan menyuruh Hayden untuk duduk di sampingnya.
“Kau akan pergi ke sekolah?” tanya Hayden.
“Ya.”
“Kau mau aku mengantarkanmu?”
“Ya.”
“Tetapi … aku tidak tahu jalan menuju sekolah. Apa kau bisa menuntunku?”
“Ya.”
Hayden tersenyum dan mulai menghabiskan makanan di atas meja. Setelah selesai, dia mengantarkan Judith untuk pergi ke sekolah. Dan mereka menggunakan mobil yang biasa digunakan Alaya. Sebelum pergi, Hayden sudah meminta izin pada Alaya untuk mengantarkan Judith, dan izin pun diberikan.
“Apa masih jauh?”
“Tidak, dari depan itu ke kanan.”
Sampai di depan sekolah, Judith turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Hayden. Mereka berpisah di sana, Hayden berusaha untuk kembali mengingat jalan kembali ke rumah milik Alaya.
Karena tidak tahu jalan pulang, Hayden berhenti dan ingin menghubungi Alaya. Tetapi, belum sempat dia menekan nomor wanita itu, Alaya terlihat mengetuk kaca mobilnya.
Hayden membuka jendela dan membiarkan Alaya masuk ke dalam mobil. Alaya melihat mobilnya berputar-putar disekitar taman, karena itu Alaya menghampirinya dan menuntun Hayden kembali ke rumah.
“Kau sungguh lupa dengan jalan pulang?” tanya Alaya.
“Ya. Aku tidak ingat.”
“Baiklah, kau tidak bisa pergi sendiri jika ingin.”
“Ya, kau harus mengantarkan aku pergi.”
“Ya.”
Mereka cukup akrab saat ini, dan kecanggungan yang biasa terjadi diantara mereka, mulai runtuh. Alaya mencoba menerima kenyataan jika suaminya tidak akan kembali dalam waktu dekat, dia hanya ingin Hayden terus ada di dalam rumah itu bersamanya dengan Judith.
Sampai di rumah, mereka masuk bersama. Dan tanpa sadar Alaya tidak memperhatikan jalanan yang licin hingga hampir saja dia terjatuh jika Hayden tidak segera menangkap tubuhnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Hayden.
“Ya.”
“Perhatikan langkah kakimu.”