Nazmi duduk, memperhatikan adiknya menyelesaikan masalah di kafenya. Farrel meminta mereka berdua ke ruangan agar tidak membuat pengunjung mendengar kegaduhan itu.
Di dalam ruangan, Farrel tentu memarahi kepala pelayan yang sudah menegur bawahannya di muka orang-orang.
"Kau kira, kau siapa berani marah di tempatku?!" bentak Farrel.
"Maaf, Pak. Dia keterlaluan! Riwayat kesalahannya sudah sangat banyak!" jawab wanita itu kemudian menjelaskan satu persatu pada Farrel.
Sejenak pria itu terdiam, ternyata Malika sering keluar dari pekerjaan tanpa izin. Kali ini memang Malika salah, tetapi Farrel meminta wanita itu untuk tidak menegurnya di tempat umum. Harus bawa ke tempat sepi dan tanya baik-baik.
"Apa alasanmu melakukan itu, Thara?" tanya Farrel.
"Saya mendapat kabar kalau oma saya sakit keras. Hanya saya dan opa keluarga satu-satunya. Saat kejadian itu, saya sudah berusaha mencari Ibu Nuri, tetapi dia tidak ada," jawab Malika pelan bercampur sedih.
"Alasan! Mana mungkin saya pergi, kau saja yang tidak niat mencariku." Nuri membela diri.
Malika menggeleng lalu diam. Farrel tahu bahwa yang dikatakan Malika benar adanya. Akhirnya Farrel memberi peringatan pada mereka berdua dan menyuruh Nuri pergi sementara Malika tinggal.
Farrel berdiri dari kursi kerjanya, berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Malika memperhatikan tatapan anehnya. Farrel melihat dari atas sampai bawah. Malika jadi risi dan melihat tubuhnya juga.
"Kau menghabiskan berapa kali sentuhan dengan Abangku?" tanya Farrel.
Malika spontan terkejut. "Huh?!"
Farrel tersenyum, "Pura-pura lugu, mana mungkin Bang Nazmi tidak tergoda padamu."
Malika menggerakkan sedikit bibirnya, menunduk dan merasa kalau pertanyaan itu tidak pantas didengarnya. "Maaf, aku mau keluar." Malika mencoba menepikan Farrel yang ada di dekat pintu.
"Thara! Kau bahagia bersamanya?"
"Farrel, jangan seperti itu."
Pria itu menyingkirkan rambutnya yang menutupi telinga, Malika dihalangi keluar. "Kenapa kau tidak jawab?"
"Farrel, aku dan Bang Nazmi tidak seperti yang kau kira. Kami tidak melakukan apa-apa."
"Haha, tidak mungkin."
"Farrel, berhenti mendesakku."
"Kau yakin tidak disentuh Abangku?"
Malika menatap matanya sebentar kemudian mengalihkannya. "Mmh."
"Apa perjanjian itu membuatmu tersiksa?"
Malika terkejut mendengarnya. "Kau sudah tahu isi perjanjian itu?"
Farrel menggeleng. "Mana mungkin aku tahu, tapi melihatmu tidak disentuhnya, itu berarti dia berikan persyaratan dalam pernikahan ini."
Malika sudah berjanji untuk menutup rapat perjanjian itu, hingga wanita itu hanya tersenyum saja padanya. "Aku tidak mau mengumbar apa pun yang terjadi dalam rumah tanggaku."
Malika memaksa keluar dan membuat Farrel tertawa tidak menduga kalau wanita itu jadi berubah dan membuatnya menyesal telah memberikan Malika pada Abangnya yang sudah membuat perjanjian tersembunyi. Farrel memukul dinding dan sedikit mengerang.
"Mana mungkin Bang Nazmi mau mengatakan niatnya padaku. Awas kalau sampai Thara menderita, aku akan berurusan dengannya."Nazmi melihat Nuri lebih dulu turun ketimbang istrinya. Dia melihat jam tangannya, sudah 5 menit Malika belum juga terlihat. Nazmi mengulum bibirnya, kemudian dijemput seorang pelayan yang menawarkan menu. Nazmi hanya memesan satu kopi tanpa gula.
Tidak lama kemudian, Malika turun tergesa-gesa dan tidak sengaja ada seorang pembeli menyenggol keras bahunya sampai membuat tubuhnya mundur dan mengenai nampan yang dibawa rekan kerjanya. Nazmi melihat jelas kesalahan itu ada pada pembeli.
"Aah!" jeritnya karena tersiram air panas dari cangkir yang dibawa temannya.
"Malika! Maaf!" sahut temannya itu.
"Tidak masalah, Hen!" kata Malika.
Namun, pria itu malah menegur Malika karena dianggap tidak melihat jalan sampai mengenai dia. Memutar balikkan fakta. Nazmi mengernyit emosi, ingin beranjak dari sana untuk menjelaskan dan membela Malika, tapi wanita malah meminta maaf pada pria itu.
Nazmi kembali duduk dan mengepalkan tangannya. Pria itu membentaknya sambil pergi meninggalkan kafe. Nazmi mengikuti arah langkah pria itu sampai tidak lagi kelihatan di pelupuk matanya.
"Malika, sini aku obati luka tanganmu," tawar teman kerjanya.
"Tidak perlu, Hen. Aku baik-baik saja." Malika pergi, berpura-pura aman, padahal beberapa meter kemudian Nazmi melihatnya memegang bahu, lalu tangan yang terkena air panas tadi.
Beberapa saat kemudian, Farrel turun menemui abangnya. Mereka duduk dan berbicara serius tentang wanita yang sedang memperhatikan dua pria itu dari balik meja.
"Aku tidak menyangka kalau kau tidak memberitahu Thara kalau semuanya tidak akan berjalan seperti rumah tangga normal," bisik Nazmi.
"Aku memang tidak tahu isi perjanjian kalian, kau hanya punya janji padaku untuk memberikan semua hartamu padaku dan aku berikan milikku padamu," balas Farrel.
"Baiklah, semua sudah terjadi. Apa pun yang akan dirasakan Thara sudah menjadi konsekuensinya."
"Bang, dia perempuan baik, jangan sakiti dia."
Nazmi tersenyum. "Aku tidak berniat menyakitinya selama dia tidak menaruh hati padaku."
"Boleh aku tahu isi perjanjian kalian?" tanya Farrel.
"Tidak, itu rahasiaku dan istriku." Nazmi meminta Farrel memecatnya, tidak mau dilihatnya wanita itu kerja penuh dengan drama seperti ini.
Farrel tentu menolaknya, tapi Nazmi sangat kejam serta memaksa untuk mengeluarkan Malika dari sana. Farrel tercengang, dalam waktu semalam, Abangnya bisa dengan cepat memberi perhatian pada Malika.
Farrel menghubungi Malika dan memintanya ke mobil sekarang juga. Wanita itu langsung mencari Farrel dan minta izin pergi. Tidak bisa mencegahnya, Farrel memberikan persetujuan kemudian Malika pun pergi.
Begitu wanita itu keluar, segera Nazmi mengklakson mobilnya agar Malika segera menghampirinya. Malika masuk dan segera duduk dan memasang sabuk pengamannya.
Nazmi melihat tangannya memerah, segera mengambil pouch dalam laci kemudian diberikan pada Malika. "Cari sesuatu yang bisa membuat tanganmu mendingan," kata pria yang tetap bersikap cuek itu walau sedang memberi perhatian.
"Iya, Bang." Malika terkejut sekali dengan perhatian itu kemudian mengambilnya. "Abang melihat kejadian tadi?" tanyanya.
"Harusnya kau jelaskan kalau itu bukan salahmu," jawab Nazmi.
Malika tersenyum. "Tetap saja kami harus minta maaf sebagai pekerja kafe."
"Tapi kau harusnya tidak menerima tuduhan itu."
"Sudahlah, asalkan dia bisa melupakannya dan kembali lagi ke kafe, itu jauh lebih baik."
Nazmi tertawa aneh pada prinsipnya itu. "Apa Farrel mengajari kalian untuk selalu mengalah?" tanyanya.
"Memang sudah resiko sebagai pelayan kafe, Bang. Kita tidak boleh menyalahkan pembeli, harus sabar, dan aku memang tidak suka terpancing dengan hal yang bisa membuatku dipecat dari pekerjaan. Aku butuh pekerjaan demi hidupku."
Nazmi mengerutkan bibir, baru saja dia meminta Farrel melepasnya dari pekerjaan itu. "Kalau aku minta kau berhenti? apa kau menurut?"
Malika menoleh serius, wajahnya juga tidak ada mengandung unsur senyuman atau tawa kecil. Malika bingung, permintaan Nazmi bagaikan menempatkan dirinya dalam sebuah jalan bercabang. Menuruti suami adalah kewajiban dan tidak menurutinya adalah salah bentuk pertahanan diri agar bisa memiliki uang.
"Bang Nazmi minta aku berhenti? kenapa?" tanya Malika lirih.