Bab 13

1030 Kata
"Kenapa Abang mau keluar dari keluarga Abang sendiri?" tanyanya. Nazmi menenangkan diri setelah selesai dibuat geli oleh Malika dan sekarang jadi kaku lagi. "Mmh, kalau keberatan cerita, aku tidak paksa. Lagipula aku kadang suka iseng, bertanya hal yang tidak seharusnya." Malika malah segan sendiri kemudian beranjak berdiri. Nazmi menarik tangannya, Malika tertarik dan menghentikan langkah. Pergelangan tangannya masih pegang erat. "Aku belum bisa mengatakannya sekarang, tapi kumohon, sebagai istri meski aku tidak bisa mencintaimu, kau punya tugas melindungi harga dirimu di depan keluarga." Malika kembali duduk. "Bang, bila aku bisa melindungi harga diri Abang, bagaimana jika besok mereka bertanya tentangku?" "Apa yang kau takutkan?" "Banyak! Untuk aku yang tidak sebanding dengan pria seperti Abang. Aku bukan seorang pekerja kantoran, hanya pelayan kafe di tempat Farrel. Aku tidak punya orang tua, hanya punya kakek dan nenek. Aku juga banyak hutang." Nazmi mengerutkan kening. "Kau hutang dengan siapa saja?" "Dengan abang dan sahabatku." Nazmi tersenyum. "Berapa?" "Dengan Abang 200 juta, sahabatku 50 juta. Aku harus bekerja keras membayarnya," jawab Malika menunduk. "Bukankah denganku hanya perlu menjalani kontrak itu?" Malika mengangguk, "Iya, tapi kalau seandainya aku tidak sesuai dengan keinginan Abang, berarti ada peluang aku membayar sesuatu yang tidak mampu kuselesaikan." Nazmi tersenyum. "Kau pasti bisa. Hanya perlu jadi istriku yang melayani tanpa mengharap cinta. Aku akan tetap mencintai Raima sampai kapanpun. Bila nanti waktunya tiba, kau akan kulepas tanpa harus membayar apa pun lagi." Malika menatap mata Nazmi, bibirnya terlipat ke atas. "Bila nanti saatnya tiba, apa Abang bisa pergi tanpa jejak?" Nazmi mengangguk. "Ya, tidak akan ada yang tahu pernikahan ini kecuali pada orang yang kau beritahu dan orang yang kuberitahu seperti orang tuaku, Farrel dan Raima." Malam semakin larut, mereka kembali ke kamar masing-masing setelah puas bercerita. Keesokan paginya, jadwal masuk kerja Malika jam 8. Dia bangun lebih awal untuk memasak. Sarapan yang diinginkan Nazmi tidak sempat ditanyanya semalam. "Hmm, semoga Abang suka sama bubur ayamnya." Malika meninggalkan catatan di meja makan, berisi petunjuk kalau liburnya ada di penanak nasi dan juga s**u hangatnya dalam termos air kecil yang ada di atas meja. Mangkuk, sendok dan peralatan lain sudah disusun rapi sebelum dia pergi. Malika segera membawa bekalnya yang akan dimakan dalam bus. Meski jaraknya lumayan, Malika harus tetap sarapan sesempat mungkin sesuatu permintaan omanya. Malika sudah bawa baju ganti untuk menemui mertuanya nanti, gugup sekali rasanya. Meski hanya sementara, kini dia benar-benar hidup dengan pria asing dan baru dikenalnya itu. Satu jam kemudian. Nazmi bangun setelah mendengar suara bel rumahnya. "Mmh, Thara! Lihat siapa itu?!" jerit pria itu. Namun, bel terus saja berbunyi. Nazmi pun harus bangun dan keluar dari kamar. Saat melewati ruang makan, matanya tertuju ke meja dan surat kecil berwarna merah yang menempel di gelas. [Abang, aku pergi kerja. Sarapan bubur ayamnya di penanak nasi kecil, su.su di termos hitam. Semoga suka] Nazmi tersenyum, sedikit mengabaikan suara bel yang berbunyi berulang kali kemudian dia pun membukanya. Raima datang dengan senyuman lebar, memeluk kekasihnya dengan erat. "Kau bau! Pasti belum mandi." "Siapa suruh peluk-peluk?" "Haha, aku kangen, jadi aku peluk. Mandi sana!" "Aku tidak bau!" "Bau, mmh, Aku tak suka, mandi dulu!" "Ck, iya bawel!" Raima tertawa kecil, mendorong kekasihnya menuju kamar mandi. Matanya menatap meja makan, tidak pernah ada yang menyusun benda serapih itu di atasnya. Setelah Nazmi masuk ke kamar mandi, Raima pun menuju ke meja makan berisi gelas peralatan makan dan sepucuk surat yang masih menempel di gelas. Raima spontan melihat penanak nasi yang ada di dapur selepas membaca pesan dalam kertas itu. Raima membuka penutupnya dan menemukan bubur yang harumnya menggoda selera. Raima mengambil sendok lalu mencicipi bubur itu. "Sial! Dia sangat pintar memasak, kalau begini Nazmi bisa jatuh hati padanya." Wanita itu cari ide untuk menyingkirkan semuanya. Raima punya niat buruk dengan membuang semuanya ke dalam plastik lalu memasukkannya ke tong berwarna silver. Raima menghantukkan kedua telapak tangan, membersihkan sisa bubur yang menempel di jarinya. Selanjutnya wanita itu berinisiatif membuatkan omelete untuk Nazmi. Beberapa menit kemudian, pria yang sudah selesai membersihkan diri itu mencium aroma masakan di rumahnya. Nazmi berjalan ke dapur. "Kau sedang apa?" "Masak sarapan untukmu, Sayang!" jawab Raima. "Tidak perlu, Thara sudah masak pagi-pagi tadi." "Haha, tidak enak! Aku buang semua," sahutnya sombong dengan tawa mengejek. Nazmi mengerutkan bibirnya, padahal saat dia membaca isi suratnya tadi ada bubur ayam, salivanya langsung berkumpul dan ditelannya lagi demi membuka pintu untuk Raima. Mau tidak mau, Nazmi harus memakan masakan Raima yang sejak dulu tidak pernah punya rasa yang sedap. Namun, Nazmi selalu memujinya dan Raima makin besar kepala menduga kalau dia sudah mahir. Beruntung s**u hangatnya masih ada, Nazmi menuang isinya ke gelas, tetapi Raima mengambilnya dengan cepat kemudian mencicipinya. "Ooeeek! Duh, minuman basi begini kenapa diberikan padamu? Apa wanita itu berniat menyakitimu?" gerutunya lalu pergi membawa gelas dan termos berisi sisa minuman yang dituang Nazmi. Pria itu menghela napas, batinnya menduga Raima cemburu atas perilaku Thara di rumah ini. Nazmi tidak bisa mengatakan apa pun, siapa benar, siapa salah? Dia masih tidak bisa menerima jawabannya. Menjelang siang hari, sekitar pukul setengah sebelas. Kafe sangat ramai, tak hentinya Malika bekerja ke sana ke mari untuk melayani pengunjung. Wanita itu tetap menunjukkan wajah cerianya. "Satu kentang goreng dan satu kopi latte, ditunggu sebentar ya, Mba!" ucapnya kemudian mengantar kertas pesanan itu ke meja orderan. Kepala pelayan kafe baru saja datang, saat melihat Malika yang sedang membersihkan meja, wanita itu langsung menarik baju Malika dan menegur wanita itu di depan para pengunjung dan teman-temannya. "Kau! Berani-beraninya tidak bekerja semalam! Kau tahu berapa potongan sekali tidak masuk kerja?!" bentaknya sampai membuat Malika menunduk terkejut. "Tahu, Bu!" "Aku akan denda 3x lipatnya agar kau jera! Sudah bukan sekali dua kali kau bolos tanpa izin. Kadang kau juga pamit di tengah-tengah pekerjaan. Kau kira ini kafe nenek moyangmu apa?!" bentaknya lagi. Kejadian itu tidak sengaja disaksikan Nazmi yang baru saja masuk dan berniat menemui adiknya sebelum mengajak Malika pergi. Nazmi menghubungi Farrel yang ada di ruangan. "Ada apa, Bang?" sapa Farrel. "Kau di kafe?" "Ya, aku dalam ruangan." "Turunlah, ada masalah. Thara dibentak seorang wanita karena semalam tidak masuk kerja." "Aah, pasti kerjaan si tua buruk-rupa itu!" Farrel langsung mematikan ponselnya kemudian turun ke lantai satu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN