“Kita sudah sampai?” tanya Anta saat pesawat terbang kian rendah dan sebuah bangunan megah dengan pesawat-pesawat yang parkir di lapangan luas menyapa pandangannya. “Sudah,” jawab Anne seraya mengusap sayang kepala Anta. “I want ice cream. Kita beli ya, Onti?” “Oke. Nanti kalau ada yang jual kita beli.” “Anta haus?” Ben menyela tanya. Bocah kecil itu menggeleng. “I just want it soalnya Miss cantik ngga kasih Nta.” Tiga setengah jam di udara dan hanya satu pertanyaan itu yang bolak-balik ia bisikkan di telinga Anne. “Nta ngga dikasih es krim, Onti?” Anne mengambil jawaban termudah, “kan pesawatnya beda sama pesawat Anta waktu ke London.” Ia pikir, pemuda cilik itu akan langsung paham. Ternyata, tak semudah itu logika berjalan. “Pesawatnya tidak sama?” tanya Anta lagi. “Iya, tidak sa

