Acara makan malam bersama di divisi keuangan pun di laksanakan. Sepulang bekerja, Angela bersama rekan kerja dan managernya sudah langsung menuju ke restaurant mewah yang sudah di sewa untuk acara makan malam mereka.
Angela memilih duduk bersama Rosie, Erdi dan rekan kerja pria lainnya. Sambil menunggu kedatangan direktur, mereka semua sibuk berbincang seraya bercanda-canda seraya menikmati minuman yang sudah tersedia.
Selang 30 menit Regan bersama Nickolas sampai di sana. Tatapan tajam Regan langsung tertuju pada Angela yang tengah berbincang-bincang dengan salah seorang pria dan mereka terlihat begitu akrab. Bahkan Angela tidak menyadari kedatangannya itu.
Wanitanya... miliknya... berani sekali ada pria mendekatinya... batin Regan.
"Selamat malam semuanya," seru Regan sedikit keras hingga membuat semua orang melihat ke arahnya begitu juga dengan Angela.
"Terima kasih karena kalian semua sudah hadir di acara makan malam ini. silahkan semuanya menempati tempat duduk yang sudah tersedia," seru Nickolas membuka suara.
"Untuk tempat duduknya, para wanita satu meja dengan wanita lagi dan pria dengan pria," seru Regan menimpali Nickolas dengan sedikit menekankan setiap katanya membuat semuanya merasa bingung. Tetapi mereka pun berpindah tempat duduk dan meja sesuai perintah Regan.
Regan mengambil duduk di meja para pria dan menyerahkan pembukaan kepada Nickolas kembali. Angela menoleh ke arah Regan dan saat itu juga tatapan mereka bertemu. Ketahuan mencuri pandang pada Regan, Angela bergegas memalingkan wajahnya kembali.
Nickolas menjelaskan acara makan mala mini merupakan apresiasi bagi divisi keuangan yang selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan mencapai target yang di harapkan. Semuanya bertepuk tangan saat mendengar penjelasan dari Nickolas.
"Kalau begitu kita bersulang untuk divisi keuangan," seru Nickolas dan semua orang mengangkat gelas mereka ke udara.
"Cheers!"
Setelah acara itu, mereka pun menikmati makan malam bersama penuh dengan canda tawa.
"Ummm enak sekali," gumam Angela saat menyuapkan potongan daging ke dalam mulutnya. "Duh, rasanya ingin tambah."
"Dasar penggila daging," seru Rosie membuat Angela terkekeh.
Drrrt drrt
Angela mengambil handphone yang berada di atas meja. Ia pun mengambilnya dan membuka pesan yang masuk.
Handsome Devil
Pulangnya tunggu aku di toko bunga yang ada di sebelah kanan restaurant ini. Terhalang dua ruko. Ingat jangan coba-coba melarikan diri atau pulang duluan.
"Dasar tukang paksa!" gerutu Angela.
"Siapa?" tanya Rosie.
"Emmm itu. Bukan siapa-siapa," seru Angela tersenyum kecil.
Rosie memicingkan matanya ke arah Angela.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?" serunya penuh kecurigaan.
"Apasih? Gak ada kok," jawab Angela.
"Benarkah? Kamu punya pacar yah?"
"Oho oho oho..." Mendengar seruan Rosie yang cukup keras itu membuat Angela terbatuk-batuk karena tersedak makanannya sendiri. Semua orang melihat ke arah mereka.
"Siapa yang memiliki pacar?" tanya Erdi.
"Siapa lagi kalau bukan Dewi di divisi kita. Angela, dia baru dapat pesan dari kekasihnya," seru Rosie membuat yang lain tertawa.
"Apa sih kamu!" seru Angela menjadi salah tingkah.
"Wah serius?"
"Tega sekali kamu Angela. Banyak yang patah hati nih."
"Aku penasaran sama kekasihnya Angela seperti apa."
Mereka saling sahut menyahut membuat wajah Angela memerah dan berusaha menjelaskan kalau semua itu tidak benar. Tetapi tidak ada yang menanggapinya karena Rosie dan yang lainnya terus menggodanya.
Regan tersenyum kecil melihat ke arah Angela yang sudah memerah. Sungguh menggemaskan, pikirnya.
***
Regan yang menyetir sendiri menghentikan mobil di depan toko bunga yang tadi ia janjikan. Dan memang Angela sudah berdiri di sana. Melihat mobil Regan, tanpa pikir panjang pun Angela langsung masuk ke dalam mobil itu.
"Sudah lama menunggu?" tanya Regan.
"Lumayan," jawab Angela memasang sabuk pengamannya.
"Kalau anda memang sibuk, tidak perlu mengantar saya pulang. Saya bisa pulang sendirian," seru Angela.
"Maaf tadi aku berbincang dulu dengan Adam," seru Regan.
"Kenapa harus minta maaf? Anda tidak perlu meminta maaf pada saya. Saya rasa anda tidak perlu mengantar saya pulang. Lagipula saya bisa pulang sendiri," seru Angela.
"Aku tau kamu kesal karena menunggu saya yang cukup lama. Makanya aku meminta maaf," jawab Regan membuat Angela menghela nafasnya.
Memang susah berbicara dengan Devil pemaksa yang keras kepala seperti batu.
"Bagaimana makanannya? Aku lihat kamu tadi terlihat lahap menikmati makanannya," seru Regan membuat Angela menoleh ke arahnya dengan tatapan melongo.
'Apa orang ini memperhatikanku makan?' batin Angela.
"Lumayan enak," jawab Angela.
Dan setelah itu taka da lagi perbincangan apapun di antara mereka.
***
Weekend adalah hari paling membahagiakan bagi Angela. Ia bisa bersantai, bermalas-malasan dan menikmati ayam goreng dengan sangat puas. Angela adalah seorang penyuka Ayam goreng dan makanan yang berbau daging. Ia sangat jarang sekali makan sayuran maupun salad. Hatinya akan menjadi berbunga-bunga dan bahagia saat ia bisa menikmati daging yang begitu lezat, hingga membekas di lidah dan hatinya. Dan akhir-akhir ini dia mendapatkannya, tidak sia-sia bergaul dengan seorang Direktur. pikirnya.
Saat ini Angela tengah duduk di atas sofa sambil menonton tv, ia hanya memakai t-shirt dan celana pendek seatas lutut. Rambutnya ia gulung ke atas dan poninya ia pakaikan jepitan. Ia tengah memangku dua cup besar ayam goreng dari restaurant siap saji. Di sana juga ada kentang goreng dan minuman kaleng dingin.
"Bahagia sekali liburku kali ini tidak di ganggu sama si Devil itu," kekeh Angela sangat bahagia.
'Besok aku ada meeting di luar kota. Aku akan menghubungi malam harinya.'
Angela mengingat kata-kata Regan kemarin. Tetapi Angela sungguh masa bodo. Ia merasa terbebas dari cengkraman sang Devil.
Angela tengah menonton sebuah acara gossip dari para selebritis. Ia menyilangkan kedua kakinya di atas sofa dan sesekali menyuapkan ayam bagian pahanya ke dalam mulutnya. Mirip dengan Upin Ipin.
Oho oho oho
Angela terbatuk-batuk saat melihat berita dalam televisi yang tengah mewawancarai seorang wanita yang baru saja terjun ke dunia entertaint sebagai model dan bintang film.
Tatapan tajam Angela tampak memancarkan sinar kebencian menatap sosok wanita itu. Kedua tangannya mengepal kuat sampai paha ayam dalam genggamannya hancur.
"Dasar pencuri!" serunya penuh kebencian. "Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan segalanya. Aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan kebahagiaan!"
Dendam, amarah dan kebencian terlihat jelas di mata hazelnya.
***
"Cristian!" panggil Angela berlari menuju Cristian yang tengah berdiri di samping mobilnya.
"Ah Angel." Cristian tersenyum merekah dan menyambut Angela yang kini berdiri di hadapannya.
"Apa kamu menunggu lama? Maafkan aku," seru Angela tersenyum.
Cristian terhipnotis oleh penampilan Angela yang sangat cantik di hadapannya. "Ah tidak kok," kekehnya.
"Kamu cantik sekali, Angel." Mendengar pujian Cristian membuat Angela tersenyum.
"Jadi ayo kita berangkat sekarang," seru Cristian yang di angguki Angela.
Cristian membukakan pintu penumpang mobil untuk Angela, kemudian Angela pun memasuki mobil. Cristian kemudian menutup pintu mobil dan berjalan cepat menaiki mobilnya. Setelahnya Cristian pun menginjak gas mobilnya dan meninggalkan area rumah Angela. Tak ada yang menyadari bahwa tak jauh dari sana sebuah mobil sport terlihat terdiam. Dan sang empu tampak duduk di kursi pengemudi dengan tatapan tajam bak elang yang tengah mengawasi mangsanya.
"Dia berniat bermain-main," gumamnya penuh penekanan dengan kedua tangannya yang mencengkram kuat setir mobil.
----
Saat ini Angela bersama Cristian tengah duduk di sebuah café yang penuh dengan pengunjung. Karena ini merupakan akhir pekan, banyak sekali orang yang keluar bersama pasangan mereka.
"Apa ini kencan pertama kita?" seru Cristian.
"Bisa di bilang seperti itu," kekeh Angela.
Mereka berdua pun larut dalam obrolan yang sangat menyenangkan seraya menikmati makanan pesanan mereka.
***
Angela menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia tampak cantik dengan dress berwarna mocca seatas lutut dan memiliki ekor yang cukup panjang dan bergelombang. Bagian atasnya tanpa lengan. Rambutnya ia curly dengan beberapa hiasan rambut. Ia terlihat sangat cantik dengan make up sederhananya.
Kemarin saat ia keluar bersama Cristian. Cristian memintanya untuk menemaninya datang ke acara perayaan keluarga Virendra.
Tatapan Angela menjadi sangat tajam dan menakutkan.
"Setelah sekian lama. Akhirnya sekarang saatnya kembali bertemu," gumam Angela.
Angela menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak. Ia memejamkan matanya dan kembali membuka matanya.
"Tidak boleh lemah, tidak boleh menangis," gumamnya.
Seharian tadi Angela mencari gaun mahal ini hanya untuk malam ini. Ia sudah mempersiapkan segalanya.
Angela menoleh ke meja sudut yang berada tak jauh darinya. Ia berjalan ke sana dan mengambil pigura yang terpajang di sana. Ia menatap pigura dimana seorang wanita cantik yang tengah memeluk dirinya.
"Akhirnya tiba saatnya, Mom. Lindungi aku selalu, dan beri aku kekuatan untuk menghadapi mereka. Orang-orang yang sudah menghancurkan kita berdua. Keluarga Virendra."
----
Angela sampai di tempat perayaan Caroline Lily Virendra yang sudah menjadi model dan bintang film. Acara itu cukup mewah dan banyak sekali tamu undangan dari kalangan artis, sutradara bahkan produser. Virendra adalah pemilik perusahaan atau management artis yang cukup besar dan sudah mengeluarkan artis-artis papan atas dan berbakat.
Angela menatap area perayaannya yang ramai. Acara itu di gelar di sebuah hotel mewah. Ia masih menatap dari dalam mobil karena kondisi sedang macet dan mengantri untuk mencapai hall depan.
Akhirnya mobil Cristian berhenti di sana. Mereka berdua menuruni mobil, dan Cristian menyerahkan kunci mobilnya pada petugas di sana. Cristian langsung menarik tangan Angela dan membawanya untuk bergelayut di lengannya.
Jantung Angela berdebar kencang, kedua kakinya terasa begitu berat untuk melangkah. Rasanya ia ingin kabur saja dan menjauh dari sini. Tetapi kalau terus menghindar, kapan dia bisa membalaskan dendam Ibunya juga dirinya.
"Ada apa? Kenapa tanganmu terasa dingin?" tanya Cristian saat menggenggam tangan Angela.
"Tidak apa-apa," jawab Angela tersenyum simpul.
Mereka berdua berjalan memasuki area dimana perayaan itu berlangsung. Di sana terlihat nama Carolline Virendra terpangpang. Melihat itu membuat Angela semakin mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
Mereka semakin masuk ke dalam dan Cristian terlihat menyapa beberapa orang yang merupakan koleganya. Saat tengah berbincang dengan koleganya, terdengar suara gaduh dan beberapa orang ada yang menyerukkan nama yang membuat Angela membeku.
"Mr. Danial."
Mendengar nama itu, Angela dengan spontan menoleh ke arah belakangnya dan terlihat Regan baru saja datang dengan setelan tuxedo hitam yang sangat menawan dan begitu tampan.
Dan saat itu juga matanya langsung bertemu dengan tatapan tajam Regan yang terlihat dingin dan datar. Mendapat tatapan seperti itu, entah kenapa Angela merasa bersalah juga takut. Bagai kekasih yang kepergok berselingkuh.
Tak bertahan lama, Regan sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain dan terlihat berbincang dengan beberapa orang. Angela menghela nafasnya, ia sedikit kecewa karena Regan mengacuhkannya. Tetapi memang apa yang ia inginkan dan harapkan dari Regan. Kenyataannya, ia hanya karyawan Regan saja. Tidak lebih dari itu.
"Ada apa?" tanya Cristian menyadarkan Angela dari lamunannya.
"Eh tidak," seru Angela tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya dari Regan yang sudah sibuk dengan yang lain.
"Ayo kita temui Caroline untuk mengucapkan selamat," ajak Cristian yang di angguki Angela.
Angela berjalan bersama Cristian menuju tuan rumahnya yang juga tengah sibuk menyambut tamu-tamunya.
"Caroline," seru Cristian menyentuh pundak wanita cantik dan tinggi di depannya yang tengah memunggungi mereka berdua.
Merasakan sentuhan di pundaknya, membuat Caroline menoleh dan tatapan matanya langsung berbinar.
"Cristian!" serunya sangat bahagia.
Tetapi dalam sedetik raut wajah bahagianya menghilang seketika saat melihat sosok Angela. Matanya melebar saat melihat sosok Angela.
"Kau!"
***