Angela melepaskan semua hiasan di rambutnya. Ia duduk di sofa rumahnya. Tatapannya nyalang, dan ia mengingat kejadian beberapa jam lalu. Akhirnya keluarga Virendra mengetahui keberadaannya. Ia sedikit puas dan senang melihat Caroline yang kecewa saat melihat Cristian bersamanya. Akhirnya ia bisa membuat mereka diam, walau tatapan mereka semua begitu tajam dan berusaha menyudutkannya. Tetapi Angela berusaha kuat dan bersikap angkuh di depan mereka semua. Angela tidak akan pernah sedikitpun lemah lagi di hadapan mereka semua.
Ini langkah awal yang bagus. Setidaknya Angela berhasil membuat Caroline kesal dan merasa kecewa.
Klik
Angela menengadahkan kepalanya saat mendengar suara pintu di buka dengan password yang tepat. Matanya membelalak kaget saat melihat siapa yang datang.
"A-anda?" seru Angela sangat kaget melihat sosok Regan di sana.
Regan berjalan mendekatinya, masih memakai tuxedonya.
"A-apa yang anda lakukan di sini? Dan bagaimana anda tau password rumah saya?" seru Angela.
Regan tak menjawabnya dan terus berjalan mendekati Angela. Ia membungkukkan badannya tepat di hadapan Angela membuat Angela memundurkan badannya hingga punggungnya membentur sandaran sofa.
Regan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Angela dan ia melihat telinga Angela memerah.
"Ada apa Angela? Kenapa telingamu memerah?" bisik Regan.
"A-apa maksud anda!" Angela memberanikan diri menatap mata elang Regan di depannya yang begitu dekat jaraknya.
Regan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Angela hingga hidung mereka bersentuhan. Dan saat itu bukannya mendorong d**a Regan untuk menjauh, Angela malah memejamkan matanya.
Regan menempelkan bibirnya di bibir Angela. Ia memangutnya penuh perasaan. Ia semakin mengeksplor bagian dalam mulut Angela, bahkan tak segan-segan menggigit bibir bawah Angela dengan gemasnya membuat Angela melengguh.
Regan melepaskan ciumannya, membuat Angela membuka matanya dan tatapan mereka bertemu satu sama lainnya.
"Jangan berpikir untuk dekat dengan pria lain," bisik Regan penuh penekanan membuat Angela mengernyitkan dahinya bingung.
Regan menegakkan tubuhnya kembali dan ia mengusap kepala Angela cukup lama.
"A-apa yang anda lakukan," seru Angela ingin marah tetapi malah tidak bisa.
"Dan jangan biarkan pria lain menyentuh kepalamu seperti ini," seru Regan karena tadi Cristian mengusap kepala Angela. "Dan jangan biarkan dia menyentuh tanganmu!"
Angela masih linglung karena ciuman Regan yang memabukkan, ia menjadi sulit mencerna semua perkataan dari Regan.
"Baiklah, sekarang istirahatlah. Sampai bertemu besok di kantor," seru Regan kembali mengusap kepala Angela dan beranjak pergi meninggalkan Angela yang mematung di tempatnya.
Klik
Terdengar pintu tertutup dan terkunci otomatis.
"Tadi itu apa?" gumamnya.
***
Angela bangun dari tidurnya. Cukup malam ia tidur, karena memikirkan apa yang terjadi semalam. Ia duduk dengan bersandar ke kepala ranjang dan kembali memikirkan kejadian semalam.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumamnya menyentuh bibirnya.
"Ya Tuhan... apa itu semua mimpi?"
Angela bergegas menuju kamar mandinya. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan memejamkan matanya.
Sentuhannya, kecupannya, sungguh masih terasa nyata baginya. Angela membuka matanya saat ia merasakan kembali bibir kenyal nan hangat milik Regan.
"Aku benar-benar bisa gila," gerutunya menyudahi aktivitas mandinya.
***
"Selamat pagi..."
Angela menyapa para rekan kerjanya dengan senyuman lebar di bibirnya.
"Wah, ada apa dengan hari senin ini? biasanya saat hari senin datang, wajahmu akan di tekuk karena tidak puas tidur," seru Rosie membuat Angela terkekeh.
"Hari ini pengecualian," seru Angela.
"Sepertinya terjadi sesuatu padanya," seru Erdi.
"Hmmm... sepertinya begitu," seru Rosie.
"Ck, kalian ini. Sudahlah, kembali bekerja," seru Angela memasuki kubikelnya dan membuka laptopnya.
"Angela..."
Angela berdiri dari duduknya saat mendengar namanya di sebut.
"Ada apa Bos?" tanya Angela pada Adam.
"Ke ruangan saya," seru Adam seraya masuk ke dalam ruangannya.
"Hmm... ada apa pagi-pagi sudah memanggil," gumam Angela dan tetap beranjak menuju ruangan Adam.
"Ada apa Pak?" tanya Angela saat sudah berada di ruangan Adam.
"Siang nanti ada meeting triwulan. Bisakah kamu menyiapkan semua laporan keuangan 3 bulan terakhir?" seru Adam.
"Baik Pak, akan saya siapkan semuanya," seru Angela.
"Dan nanti kamu yang temani saya meeting dengan Direktur yah," seru Adam.
"Lho kok saya, Pak? Bukankah biasanya Mandy," seru Angela.
"Kali ini saya ingin kamu yang menemani saya. Saya berencana mengajak kalian nanti bergantian, supaya kalian tau apa saja yang di bahas dalam meeting tiga bulan ini," seru Adam.
"Emm baiklah Pak."
"Saya tunggu laporannya sebelum makan siang yah," seru Adam.
"Baik. Kalau begitu saya permisi."
Angela beranjak keluar dari ruangan Adam dengan sedikit gelisah.
'Duh sial! Kenapa harus aku yang ikut meeting sih. Aku belum siap bertemu dengan Direktur Devil itu. Mau di taruh dimana wajahku nanti. Apalagi setelah kejadian kemarin,' batin Angela.
"Kenapa?" tanya Rosie saat Angela memasuki kubikelnya.
"Aku di suruh menyiapkan laporan untuk bahan meeting triwulan nanti siang," seru Angela.
"Oh begitu."
Angela duduk di kursi kebesarannya dan handphonne nya berdering. Ia menatap layar handphone nya dan terdapat notifikasi pesan baru. Angela membuka pesan itu.
Handsome Devil
Selamat pagi...
Bagaimana tidurmu, apa nyenyak? Kamu sudah di kantor?
Angela tersenyum membaca pesan itu. Dia seorang Devil tetapi kenapa memiliki kepribadian yang begitu hangat. Benar-benar mampu membuat hati para wanita meleleh. Pikir Angela.
Me
Tidur saya begitu nyenyak...
Di sisi lain Regan tersenyum membaca pesan singkat dari Angela. Tidak ada yang berubah, gadis itu masih bersikap jutek padanya.
"Perjalananmu masih panjang, Regan," gumam Regan. Ia sadar ternyata meluluhkan dan mendapatkan hati seorang Angel itu tidaklah mudah.
Pintu ruangan Regan terbuka dan menampilkan sepasang sepatu pria mewah. Regan menatap siapa sosok itu yang kini berdiri dengan setelan jas coklatnya yang berkilau dan rambutnya yang di sisir begitu maskulin.
"Sudah lama tidak bertemu," seru seseorang itu.
"Akhirnya kau datang juga," seru Regan membuat sosok itu tersenyum penuh makna.
***
Setelah makan siang, Angela dan Adam berangkat menuju ruang meeting yang berada di dekat ruang CEO dan Direktur Utama. Karena ini merupakan meeting internal tiga bulanan, semua manager dari divisi hadir dan akan mempresentasikan laporan mengenai kinerja di divisi masing-masing selama 3 bulan terakhir.
Meeting ini akan cukup lama dan melelahkan, dan Angela akan berada dalam satu ruangan dengan Devil itu yang mampu membuat jantungnya tidak karuan. Apalagi setelah kejadian sebelumnya yang membuatnya tidak bisa tidur.
"Ada apa? Kamu baik-baik saja?" tanya Adam saat mereka berada di dalam lift.
"Saya baik-baik saja. Hanya saja ini pertama kalinya saya mengikuti meeting besar seperti ini, dan nanti membantu Bapak mempresentasikannya di depan semuanya, itu membuat saya gugup," seru Angela.
"Kamu tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja," seru Adam.
Angela hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua memasuki ruang meeting yang sudah penuh orang. Ruangan itu begitu luas dengan meja berjajar seperti ruangan rapat paripurna DPR. Setiap divisi menempati meja yang sudah di sediakan. Banyak sekali orang dan sebagian banyak yang tidak di kenal oleh Angela. Ia tidak menyangka akan sebanyak ini. Apalagi nanti setiap divisi akan mempresentasikannya di depan sana.
"Saya semakin gugup saja melihat orang sebanyak ini." seru Angela.
Adam terkekeh yang duduk di sampingnya. "Beginilah meeting triwulan, tetapi setelah di mulai tidak begitu menegangkan. Ini malah seperti pelajaran di kampus saja, santai," seru Adam seraya mengucapkan terima kasih pada office girl yang menyimpan minuman beserta camilan kecil di atas mejanya.
"Semoga yang di ucapkan Bapak itu benar," seru Angela.
Tak lama pintu ruangan terbuka dan menampakkan sosok Regan dan sekretarisnya Nickolas dan satu orang pria yang baru di lihat oleh Angela.
Melihat kedatangan Regan, semua orang yang ada di ruang meeting itu berdiri dari duduknya. Mereka kembali duduk setelah Regan duduk di meja kebesarannya bersama dengan kedua orang tadi.
Deg
Seketika jantung Angela berdebar sangat kencang saat mata elang itu menatap ke arahnya. Padahal posisi mejanya cukup jauh dari Regan, tetapi tetap saja mata awasnya yang tajam bak burung elang itu mampu menemukannya.
Angela berusaha mengalihkan pandangannya dan berusaha mengabaikan tatapan Devil yang mampu membuatnya merinding seketika.
"Tenanglah Angela, lagipula nanti saya akan menemani kamu di depan sana untuk presentasi," seru Adam membuat Angela tersenyum canggung.
'Aku tau. Tetapi bukan itu yang membuatku gugup,' batin Angela.
Nickolas yang merupakan asisten dari Regan mulai membuka meeting dan menjelaskan beberapa poin procedure meeting triwulan ini. Kemudian Nickolas menyerahkan semuanya kepada Regan.
"Selamat siang!" seru Regan dan semuanya menjawab dengan serempak.
"Sebelum kita melakukan pengundian untuk urutan presentasi setiap divisi. Saya akan memperkenalkan seseorang pada kalian semuanya.
Pria yang berada di samping Regan pun berdiri membuat semua mata tertuju padanya.
"Calvino Maleeq Gian Wiratama, yang akan memegang posisi GM/General Manager di perusahaan ini," seru Regan membuat semua orang berbisik-bisik.
"Sepertinya itu Mr. Calvin yang merupakan sepupu dari Mr. Danial," seru Adam membuat Angela menoleh ke arahnya.
Calvin memperkenalkan dirinya dan dia baru saja menyelesaikan study nya di salah satu Universitas ternama di ASIA.
Setelah perkenalan dari Calvin, Nickolas mulai mengundi urutan divisi mana yang akan memulai presentasinya. Setelah mendapatkan nomor urut, para divisi mulai presentasi dan sisanya mempersiapkan diri.
Angela menatap Regan yang terlihat begitu serius dan focus memperhatikan setiap penjelasan dari presentasi divisi lain. Ia seakan tidak melewatkan satu katapun dari presentasi yang di sampaikan. Entah kenapa Angela merasa wajah Regan yang tengah serius itu semakin tampan. Diam-diam ia tersenyum dan merasa begitu terpesona dengan ketampanan Regan.
"Kakak sepupu biar ku beritahu sesuatu. Ada seorang wanita cantik yang tersenyum memperhatikanmu sejak tadi," bisik Calvin.
"Benarkah?" seru Regan masih terfokus memperhatikan yang melakukan presentasi.
"Serius, dia sangat cantik," bisik Calvin.
"Serius pada meeting saja," seru Regan yang mengetahui kalau Angela memperhatikannya sejak tadi.
"Oh God!" seru Calvin kaget melihat telinga Regan memerah. "Apa ada yang salah dengan mataku ini, kau?"
"Berisik! Berhenti berbicara atau ku tendang kau keluar ruangan," seru Regan dengan nada tajamnya.
"Aih aih, aku paham siapa wanita ini," kekeh Calvin melirik ke arah Angela yang kini memalingkan pandangannya ke arah lain. "Tidak salah pilih, gadis ini begitu cantik. Ah, selera Kakak sepupu memang tidak bisa di ragukan lagi."
"Kau kesini untuk bekerja atau main-main? Mau aku kirim kembali ke Indonesia?"
"Astaga galak banget sih. Padahal aku kangen banget lho sama Kakak sepupu," goda Calvin. Regan memberikan tatapan tajamnya pada Calvin. "Baiklah baiklah."
Calvin pun mulai focus pada meeting.
***
Angela merebahkan kepalanya di atas meja kerjanya. 5 jam meeting tadi sungguh menyiksanya.
"Meeting macam apa tadi, seperti di sidang. Kenapa Devil itu terus bertanya dan seakan ingin memojokkanku," keluh Angela mengingat bagaimana tadi Regan tak hentinya memberikan pertanyaan pada dirinya dan Adam saat presentasi.
"Aku tidak mau lagi ikut meeting triwulan itu. Sangat menakutkan," gerutunya.
"Angela, apa kamu tidak pulang?" tanya Adam yang terlihat sudah membawa tasnya bersiap pulang. Angela mengangkat kepalanya melihat ke arah Adam.
"Bapak pulang duluan saja," ucap Angela.
"Baiklah. Kalau begitu saya duluan."
Di ruangan itu telah kosong karena karyawan lain sudah pulang. Angela pun bersiap untuk pulang sampai handphone nya berdering. Angela mengambil handphonenya.
Handsome Devil
Kucing kecil, untuk malam ini aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku masih ada meeting bersama GM baru dan asistenku. Tetapi Jose, sopirku sudah menunggumu di bawah. Dia yang akan mengantarmu pulang. Ingat jangan pulang naik bus atau taksi.
"Padahal kalau sibuk tidak perlu repot-repot mengantarku seperti ini. Sebenarnya dia menganggapku apa," gumamnya. "Apa seperti ini dia memperlakukan karyawannya?"
Angela beranjak pergi meninggalkan ruangan.
Saat sampai di depan kantor, terlihat mobil SUV mewah yang ia ketahui milik Regan. Seorang sopir membukakan pintu penumpang di bagian belakang. Angela bergegas menaiki mobilnya.
Selama perjalanan Angela menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil dan memejamkan matanya menghilangkan rasa lelah.
"Iya Bos..."
"....."
"Nona Angela sudah bersama saya."
"......"
"Baik Bos."
Angela membuka matanya saat mendengar sopir bernama Jose itu menerima telpon. Mungkin itu dari Regan karena ia tidak membalas pesan Regan.
Angela tidak tau kenapa Regan memperlakukannya seperti ini. Ia hanya karyawannya saja, tetapi apa pantas di perlakukan se-istimewa ini, di tambah kemarin malam dia menciumnya, dan itu merupakan ciuman pertama bagi Angela.
Angela memang bukan wanita lugu, tetapi sejak dulu ia belum pernah berpacaran. Ia memiliki satu tujuan dalam hidupnya, dan selama ini ia hidup hanya berjuang untuk mencapai tujuannya itu, ia sama sekali tidak memikirkan seorang laki-laki sampai Regan datang dalam kehidupannya.
"Nona, sudah sampai," ucap Jose membuka pintu.
Angela menoleh dan menuruni mobil dengan menenteng tasnya.
"Terima kasih Jose."
Jose menganggukkan kepalanya dan kembali memasuki mobilnya. Angela berjalan menuju rumahnya. Ia hendak menekan password, tetapi terhenti karena suara seseorang.
"Ternyata benar kau tinggal disini."
Angela membalikkan badannya saat mendengar suara itu dan tatapannya sedikit melebar.
"Caroline..."
***