Episode 9

1529 Kata
Angela sedikit termenung saat ia tengah membuat teh hangat untuk tamu yang tak di undang. Ia menghirup udara dan menghembuskan perlahan. Menghadapi orang ini perlu tenaga penuh. Angela membawa teh yang sudah ia buat dan membawanya menuju Caroline yang tengah duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya angkuh. Dagunya terlihat terangkat ke atas dan matanya menatap rendah kepada Angela. "Aku tidak memiliki yang special, hanya ada teh saja," seru Angela dengan nada datar seraya menyimpan minumannya di atas meja di hadapan Caroline. "Sebenarnya tak perlu repot-repot membuatnya, toh aku tidak akan meminumnya. Aku tidak terbiasa meminum minuman sembarangan apalagi dari kalangan bawah seperti ini," seru Caroline dengan nada merendahkan membuat Angela memalingkan wajahnya kesal. "Jadi ada urusan apa datang kemari?" tanya Angel. "Baiklah, aku tidak akan berbasa basi lagi. Daddy memiliki dua permintaan padamu," seru Caroline. "Pertama kamu harus pergi meninggalkan Negara ini dan jangan pernah lagi muncul di hadapan kami. Jangan sampai kita bertemu lagi." Angela mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ucapan Caroline barusan. "Dan kedua, jauhi Cristian." Seru Caroline dengan nada tajamnya. Ia kemudian merogoh sesuatu dari dalam tasnya. "Ini ada uang yang Daddy berikan. Ini cukup untuk mengurus perpindahanmu dan untuk kehidupanmu selama satu tahun. Walau bagiku ini hanya cukup untuk sekali makan saja, itupun tanpa bisa mentraktir teman," seru Caroline dengan nada mengejek. "Ingat yah, jauhi Cristian. Aku tidak perduli ada hubungan apa di antara kalian, yang jelas aku ingin kamu meninggalkan dan menjauhi Cristian." Angela tersenyum sinis mendengar semua penuturan Caroline. Ia mengambil segepok uang di dalam amplop coklat yang di berikan oleh Caroline. Terlihat senyuman merendah dari Caroline melihat Angel mengambil uang itu. Plak Caroline kaget saat Angel melemparkan uang itu ke pangkuan Caroline dengan keras. "Kalau sudah selesai berbicara, maka silahkan keluar dari rumah ini. Aku lelah dan sedang malas meladeni tamu seperti kamu," seru Angela berdiri dari duduknya. "Kau! Beraninya kau?" pekik Caroline berdiri dari duduknya dengan kesal. "Dengar Nona besar yang terhormat. Aku tidak ada urusan denganmu juga keluargamu. Jadi jangan harap bisa mengatur kehidupanku. Sekarang keluar dari rumahku!" seru Angel penuh penekanan. "Ck, kau sombong sekali." "Bukan urusanmu! Dan satu lagi, aku dan Cristian memang dekat dan tidak ada yang bisa memisahkan kami. Apa kamu paham?" seru Angel. "Cristian milikku!" "Cristian bukan barang. Dan dia sekarang dekat denganku!" seru Angel membuat Caroline melayangkan tangannya hendak menampar pipi Angel tetapi Angel menahan pergelangan tangan Caroline. "Jaga sikapmu, Nona Caroline Virendra. Kalau kamu berbuat macam-macam, aku tidak akan segan-segan melapor ke pihak yang berwajib karena kau membuat ulah di rumahku," seru Angel. "Sialan!" seru Caroline seraya menghempaskan tangan Angel hingga terlepas. Caroline mengambil amplop berisi uang tadi bersama dengan tasnya. Ia berjalan menuju pintu keluar dengan sangat kesal. "Satu lagi Nona Caroline. Tolong sampaikan pada Mr. Virendra, aku akan segera merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!" seru Angel penuh penekanan. Caroline berbalik ke arahnya dengan senyuman sinis. "Jangan bermimpi Angela." Setelah itu, Caroline meninggalkan rumah Angel. Angela menjatuhkan tubuhnya kembali duduk di atas sofa dengan menghela nafasnya. "Mereka sama sekali tidak berubah. Hah, apa benar pria seperti itu Ayahku?" gumamnya menatap nanar ke depan. ***  Angela baru saja keluar dari kantornya sekitar pukul 8 malam. Ia menatap langit gelap yang tengah hujan. "Nona Angela," seruan itu membuatnya menoleh. "Iya, kenapa Pak?" tanya Angela saat seorang security menghampirinya. "Ini payung," serunya menyerahkan payung kepadanya. "Emm tapi-?" "Itu saya di beritahu oleh sekretaris Direktur untuk menyerahkan payung ini pada anda," jelasnya dan kemudian berpamitan pergi. Angela membeku di tempatnya seraya menatap payung dalam genggamannya. Bip bip Angela merogoh handphone dalam saku blazer yang ia gunakan. Handsome Devil Aku tau kamu pasti tidak membawa payung. Gunakan payung itu dan jangan sampai kehujanan. Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada. Angela semakin terharu membaca pesan dari Regan. Sudah 3 hari Regan melakukan perjalanan bisnis ke luar Negri dan entah kapan akan kembalinya. Tetapi setiap hari ia selalu memberikan perhatian yang tidak di sangka-sangka. "Apa aku pantas mendapatkan semua ini?" gumam Angela. Ia akhirnya menggunakan payung itu untuk sampai di halte bus dan pulang ke rumah. Selama tiga hari ini pun, tidak ada lagi gangguan dari Caroline. Dan untuk Cristian, ia semakin gencar menghubunginya dan mengajaknya untuk keluar bersama walau Angela menolaknya. Entah kenapa sekarang ini hatinya kacau dan ia menjadi bimbang akan rencana yang sudah ia siapkan selama ini. *** Di sisi lain Regan tengah duduk santai di atas sofa di dalam kamar hotelnya. Segelas anggur dalam genggamannya dan tatapan elangnya menatap lurus ke depan dimana cuaca di sana tidaklah hujan dan begitu indah dengan pemandangan bintang di langit dan kerlap kerlip lampu. Regan mengetahui kondisi di tempat Angela hujan karena ia menghubungi salah satu sekretarisnya. "Wanita itu sungguh membuatmu gila," gumamnya saat ia menatap layar handphonenya yang sama sekali tidak ada jawaban dari Angela. "Apa dia masih sedang menguji kesabaranku?" gumamnya. Regan menghubungi seseorang melalui handphone nya. "Hallo Nickolas..." "...." "Aku ingin kamu mempercepat pekerjaan kita di sini." "...." "Tidak ada alasan. Buat klien kita segera menandatangani kontrak dan jangan mencoba bermain-main denganku. Kalau masih terus mengulur waktu, maka akan ku Tarik kembali perjanjian kerjasama ini." "...." Regan memutuskan sambungan telponnya dan melempar handphone ke sampingnya. Ia menyesap anggur dalam genggamannya dengan tatapan masih lurus ke depan. *** Tak terasa satu minggu pun berlalu. Angela masih di sibukkan dengan pekerjaannya. Ini adalah hari senin dimana pekerjaan sedang banyak-banyaknya. "Angela," panggil Adam berdiri tak jauh dari kubikelnya membuat karyawan lain pun ikut mendengar. "Iya Pak?" tanya Angela berdiri dari duduknya. "Saya tidak tau kesalahan apa yang telah kamu perbuat. Tetapi Direktur memanggilmu ke ruangannya," seru Adam membuat semua mata para karyawan lainnya membelalak lebar. "Emm tapi ada apa yah Pak?" seru Angela merasa tak nyaman dengan tatapan menuduh dari yang lainnya. "Saya tidak tau Angela. Cepatlah pergi dan jangan membuat Direktur menunggu," seru Adam. "Angel, kamu serius gak membuat ulah, kan?" tanya Rosie. Angela hanya mengedikkan bahunya dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Sepeninggalan Angela, semua karyawan langsung bergosip dan berprasangka mengenai Angela. Karena pasalnya tak pernah ada karyawan biasa yang di panggil oleh Direktur langsung ke dalam ruangannya, kecuali ia melakukan kesalahan yang fatal. "Apa Angela itu berusaha merayu Direktur yah?" "Bisa jadi. Atau dia mengirimkan semacam surat atau bunga untuk merayu Direktur?" "Bisa jadi ia merayu untuk menghangatkan ranjang Direktur." "Tutup mulut kalian semua!" bentak Rosie. "Ini semua belum jelas. Dan tuduhan kalian itu benar-benar bikin geram dan salah paham. Angela itu teman kita, kalian sudah tau karakternya bagaimana. Seenaknya saja menuduh orang!" Rosie terlihat kesal karena ucapan orang-orang itu. --- Angela sampai di depan ruangan Direktur dan seorang wanita cantik nan anggun menyapanya. "Angela?" tanyanya membuat Angela menganggukkan kepalanya. "Silahkan masuk. Direktur sudah menunggu anda." Wanita yang di ketahui bernama Jessy itu membukakan pintu ruangan Direktur membuat Angela masuk ke dalam. Angela berjalan memasuki ruangan luas itu dan terlihat Regan tengah duduk di atas kursi kebesarannya dan sibuk dengan dokumen di depannya. Angela diam-diam memperhatikan wajah tampan Regan. Satu minggu tak bertemu, Regan terlihat semakin tampan. "Sudah puas menatapku?" seru Regan menyadarkan lamunan Angela dan ia kini beradu tatapan dengan mata tajam Regan. "Ada apa anda memanggil saya? Apalagi melalui Pak Adam," seru Angela. "Duduklah," seru Regan mempersilahkan Angela untuk duduk dengan sebelah tangannya. Angela pun berjalan semakin dekat dan duduk di hadapan Regan yang hanya terhalang meja kerja Regan. Regan beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju Angela dan duduk di atas meja tepat di hadapan Angela membuat Angela menengadahkan kepalanya untuk menatap mata Regan. "Itu hukuman untukmu karena kamu sudah mengabaikanku selama satu minggu ini," seru Regan dengan santai. "What?" Regan tersenyum kecil menatap wajah cantik nan imut dari Angela. 'Aku merindukanmu, Angel.' Batin Regan. "Anda mempermainkan saya?" seru Angela. "Tidak juga. Aku hanya ingin bertemu denganmu," jawab Regan dengan santai. "Hah?" Angela semakin dongkol dan tak percaya dengan ucapan Regan itu. Padahal tadi tatapan dari rekan kerjanya seperti menyudutkannya penuh kecurigaan dan ingin menerkam dirinya. Dan Regan menjawab hal itu dengan begitu santai. "Kalau tidak ada yang ingin di katakan lagi, saya permisi," seru Angela beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi tetapi Regan menahan pergelangan tangannya membuat Angela menoleh ke arahnya dan ia sempat kaget saat Regan memasangkan sesuatu di pergelangan tangannya. "Kemarin saat perjalanan bisnis, aku melihat ini dan aku rasa ini cocok untukmu. Dan ternyata memang begitu cocok," seru Regan menatap gelang berlian bermotif sederhana dan tampak indah dan elegan di tangan Angela. "Tapi-" "Aku tidak menerima penolakan," jawab Regan kini menatap Angela di hadapannya. "Jangan sampai di lepas." Regan melepaskan genggamannya di tangan Angela membuat Angela terdiam sesaat. "Kalau begitu saya permisi." Angela berjalan menuju pintu besar itu. Sebelum menyentuh knop pintu, ia kembali menoleh ke arah Regan yang masih duduk di sudut meja dengan maskulinnya. "Emm terima kasih." Setelahnya Angela berjalan keluar ruangan dan menutup pintu ruangan itu. Ia menyandarkan tubuhnya di daun pintu setelah menutup pintu dengan menghembuskan nafasnya. "Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jessy menyadarkan Angela. "Eh? Aku baik-baik saja." Angela bergegas meninggalkan tempat itu membuat Jessy menatapnya dengan sinis. Angela memasuki lift dan menekan tombol menuju ruangannya. Ia bersandar ke dinding lift seraya memegang pergelangan tangannya. Ia menatap gelang yang berkilau indah di sana. Jantungnya terasa berdebar sangat cepat. 'A-apa yang aku pikirkan? Bagaimana mungkin dia menyukaiku?' batin Angela. ***  TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN