Angela memasuki ruangannya dan semua mata tertuju kepadanya. Angela bergegas menuju kubikelnya dan duduk di sana.
"Angel, ada apa? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Rosie mengintip dari kubikelnya.
"Aku baik-baik saja," jawab Angela.
"Lalu kenapa Direktur memanggilmu?" tanya Rosie terlihat sangat ingin tau.
Angela terdiam sesaat untuk menemukan alasan yang tepat. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.
"Itu, mengenai presentasiku kemari di rapat triwulan. Dia sedikit menanyakannya dan memberiku masukan untuk kedepannya presentasiku harus lebih detail dan jelas supaya dapat di pahami semua orang," jelas Angela berusaha menghilangkan kecurigaan mereka.
"Tuh kan. Aku sudah mengira tidak ada apa-apa. Ck, dasar mulut besar mereka tidak pernah di jaga dan asal menuduh orang saja," seru Rosie sedikit keras hingga terdengar oleh yang lainnya.
"Sudahlah, biarkan saja," ucap Angela.
"Tapi Angel. Kamu tidak benar-benar menyukai Direktur, kan?" tanya Rosie dengan nada pelan.
"Eh? Emm apa maksudnya?" tanya Angela.
"Iya aku tidak ingin sampai harus bersaing dengan teman sendiri karena seorang pria. Jadi aku harus memastikan bahwa kau tidak menyukai Direktur," seru Rosie.
Angela mendadak sedikit sulit untuk menjawabnya. "Emm itu, tidak kok. Kamu tenang saja, Direktur bukan tipeku," seru Angel tersenyum kecil.
"Ah syukurlah. Aku tau kamu tidak menyukainya dan tidak akan menikung teman sendiri," kekeh Rosie sangat bahagia.
"Sudahlah kembali bekerja," jawab Angela membuat Rosie mengangguk dan kembali bekerja.
Angela menarik kemeja yang ia gunakan untuk menutup gelang di pergelangan tangannya. Gelang itu terlihat mahal dan akan membuat orang-orang merasa curiga.
***
"Cristian?" seru Angela saat ia keluar dari kantornya. Ia melihat Cristian berdiri di samping mobilnya.
Kini Angela sudah berdiri di hadapan Cristian.
"Aku menjemputmu pulang. Ayo naik," seru Cristian membukakan pintu penumpang untuk dirinya.
Di saat bersama juga sebuah mobil SUV mewah melewat di depan mereka. Angela mengetahui siapa pemilik mobil itu.
'Apa dia melihatnya?' batin Angela melirik mobil itu sebelum akhirnya menaiki mobil Cristian.
Di dalam mobil SUV itu, Regan melihatnya dari cermin depan. Ia kebetulan menggunakan sopir dan ia duduk di kursi penumpang belakang. Ia dapat melihat dari cermin depan.
"Pria itu lagi," gumamnya hanya mampu menghela nafasnya saja.
"Kita langsung pulang saja, Jose." Regan berucap pada supirnya. Awalnya ia berniat mengantarkan Angela pulang.
***
Keesokan harinya, Angela baru saja sampai di kantornya dan bertemu dengan Rosie. Mereka berjalan bersama memasuki lobby kantor. Seperti biasa, setiap pagi di bagian lift karyawan akan penuh mengantri menuju ruangan masing-masing. Mereka berdua juga ikut mengantri sambil berbincang.
Tak lama terdengar heboh sekali dari para karyawan lain yang berada di sana ikut mengantri. Ternyata Regan datang seorang diri.
Ia mengenakan jas berwarna abu yang begitu menawan. Mata tajamnya dengan bulu mata lentik membuatnya semakin tampan.
Ia berjalan dengan langkah lebar dan begitu elegan. Semua mata tertuju padanya dan mereka membuka jalan untuk Regan. Ada yang diam-diam memotretnya. Regan terus berjalan, tetapi bukan menuju lift para petinggi, melainkan menuju Angela berada.
Melihat Regan berjalan ke arahnya membuat jantung Angela berdebar dan ia merasa takut. Apalagi semua mata tengah tertuju pada sosok Regan.
Regan berhenti tepat di hadapan Angela dan tak di sangka-sangka ia membisikkan sesuatu pada Angela dengan mendekatkan bibirnya ke daun telinga Angela.
"Kamu terlihat menawan hari ini," bisiknya.
Deg
Wajah Angela bersemu merah begitu juga dengan telinganya membuat Regan yang sudah menarik kembali tubuhnya merasa gemas melihatnya. Setelah membisikkan itu, Regan berlalu pergi meninggalkan Angela yang membeku di tempatnya. Sebelum Regan memasuki liftnya, ia kembali menoleh ke arah Angela dan menyeringai membuat Angela tersadar dari lamunannya. Dan saat itu juga ia sadar kalau kini seluruh pasang mata tertuju padanya dengan tatapan menuduh.
"Angel, ada apa semua ini?" tanya Rosie yang terlihat cemburu dan kesal juga padanya.
"Itu-" Angela benar-benar bingung harus menjelaskan apa.
'Devil sialan. Dia sengaja melakukan ini untuk memancing semua orang,' batin Angela.
Syukurlah lift terbuka, Angela bergegas memasuki lift dan berusaha mengabaikan berbagai macam tatapan yang tertuju padanya. Bahkan temannya sendiripun terlihat marah padanya.
Ya Tuhan bagaimana ini....
***
Angela tadi ke kamar mandi dulu sebelum memasuki ruang divisinya. Ia berusaha menenangkan dirinya.
Dan saat ini ia berdiri di hadapan beberapa pasang mata yang menatapnya penuh rasa ingin tau, marah, kesal dan juga iri. Di sana juga sudah ada Rosie yang tadi ia tinggalkan begitu saja tanpa menjelaskan apapun.
"Ah, hari ini kenapa terasa panas sekali yah," seru Angela berusaha mencairkan suasana. Ia bergegas menuju kubikelnya.
"Apa kau tidak berniat menjelaskan sesuatu kepada kami?" seru Rosie menghadang langkah Angela membuat Angela menatap ke arahnya dengan canggung.
"A-apa maksudmu?" seru Angela menjadi begitu canggung.
"Angela, aku melihat juga mendengar apa yang tadi Direktur bisikkan padamu. Sebenarnya ada hubungan apa kau dan Direktur? Kau bilang kau tidak menyukainya, tetapi sekarang kenapa malah seperti ini?" seru Rosie terlihat begitu kesal.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Direktur, Rosie."
"Aih kau selalu berpura-pura polos. Aku pikir kau benar-benar polos, ternyata kau seperti ini, Angela. Apa kau sudah merayu Direktur?" seru Mandy.
"Jangan asal menuduh tanpa bukti, Mandy!" Angela merasa kesal.
"Kamu selalu menjaga jarak dari kami di sini. Bahkan cintaku pun kamu tolak. Ternyata pada Direktur, kamu langsung menyerah begitu saja. Ternyata memang uang dan jabatan adalah segalanya," seru Andra yang juga bagian dari divisi itu.
"Ada apa ini?" seru Adam yang baru saja datang. "Apa kalian tidak memiliki pekerjaan sampai begitu santai mengobrol?"
Seruan Adam menghentikan mereka dan langsung kembali ke meja kerja masing-masing. Angela pun memasuki kubikelnya dengan kesal dan membuka laptopnya.
'Ini semua gara-gara Devil itu. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Kenapa dia berlaku seperti ini? apa dia memang sengaja ingin menjebakku, atau mempermalukanku?' batin Angela merasa sangat kesal.
***
Hari demi hari Angela menjalani pekerjaannya dengan sangat berat. Ia merasa sangat tersiksa dengan isu isu yang tidak enak di dengar di kantor. Dan ternyata memang Angela yang mereka salahkan sebagai w*************a, jalang dan bahkan banyak yang berkomentar kalau dirinya telah menghangatkan ranjang Direktur. Ia di tuduh sebagai wanita yang polos tetapi ternyata aslinya adalah seorang jalang. Bahkan Rosie sendiri yang merupakan temannya menghindarinya karena rasa cemburu. Padahal kalau di pikir lagi, Rosie bukan kekasih dari Regan, kenapa dia harus marah pada Angela.
"Haisshh sungguh penuh drama," keluh Angela menyembunyikan wajahnya di bantal. Sudah dua hari dia tidak masuk kantor karena merasa tertekan dan malas meladeni Rosie yang setiap hari terus menanyakan hubungannya dengan Regan dan itu sangat membuat Angela jengah.
Angela duduk termenung di atas ranjang, kemudian ia berjalan keluar balkon kamarnya dan merasakan hembusan angin ringan di rambut dan wajahnya.
'Mom, sekarang aku harus bagaimana? Apa aku keluar saja dari pekerjaan berharga ini? Lalu kalau aku kembali menjadi seorang pengangguran, keluarga Virendra akan dengan mudahnya menginjakku dan semakin menyudutkanku. Mom, aku sudah melangkah dalam jalan ini, jadi aku harus bagaimana sekarang?' batin Angela.
Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang.
Bel rumahnya berbunyi membuat ia menoleh ke sumber suara. Ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Cris?"
"Angel. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Cristian.
"Masuklah," seru Angela memberi ruang untuk Cristian.
Cristian masuk ke dalam rumahnya dan Angela segera menutup pintunya tanpa menyadari ada mobil lain yang juga berhenti tak jauh dari depan rumahnya.
Sang empu di dalam mobil tersebut adalah Regan. Regan menghela nafasnya seraya memijat pangkal hidungnya. Ia baru saja pulang dari meeting tiga hari ini di luar kota. Saat ia kembali, ia mendapat kabar dari Nickolas mengenai Angela, makanya ia bergegas kemari untuk melihat Angela.
Regan menoleh ke sampingnya dimana sebucket bunga nan indah tersimpan manis.
"Sepertinya dia baik-baik saja," seru Regan berlalu pergi meninggalkan area rumah Angela.
Di dalam rumahnya, Angela menyuguhkan segelas teh hangat kepada Cristian yang duduk di sofa.
"Kamu tau darimana kalau aku tidak bekerja?" tanya Angela.
"Aku mendapat kabar dari salah satu teman yang bekerja di kantormu juga. Sebenarnya kami baru saja bertemu setelah sekian lama. Saat mengetahui dia bekerja di sana, aku langsung bertanya mengenai dirimu dan dia menceritakan sebuah scandal antara kamu dan Direktur. Aku juga dengar kamu tidak masuk kantor beberapa hari ini, makanya aku datang kemari," seru Cristian.
"Terima kasih karena kamu begitu perduli padaku," seru Angela tersenyum kecil.
"Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dengan Direkturmu?" tanya Cristian penuh selidik.
"Kami tidak memiliki hubungan apapun, semua itu hanya kesalahpahaman saja. Mereka terlalu membesar-besarkan masalah," seru Angela.
"Ah begitu yah. Syukurlah kalau tidak memiliki hubungan apapun," seru Cristian tersenyum penuh arti.
Angela tidak bodoh. Dia mengetahui arti senyuman Cristian itu. Akhirnya semua rencananya berjalan mulus. Cristian kini jatuh cinta padanya dan berada dalam genggamannya.
"Jadi bagaimana kamu menghadapi semua tuduhan ini? Aku dengar mereka begitu kejam menuduhmu," ucap Cristian.
"Entahlah. Mungkin aku akan berusaha tidak perduli. Bagaimanapun juga aku membutuhkan pekerjaan ini," ucap Angela.
"Jangan menyiksa diri kamu seperti ini. Bagaimana kalau kamu keluar saja dari W.E Inc dan bekerja di perusahaanku. Kebetulan posisi Sekretaris sedang kosong. Kamu bisa menjadi sekretarisku, bagaimana?" tanya Cristian.
'Perusahaan Cristian tidak sebesar W.E Inc yang masuk kategori 50 besar perusahaan terkemuka di Dunia. Tetapi perusahaan Cristian memegang saham cukup lumayan di Virendra Entertaint. Aku harus bagaimana? Selain dukungan, aku juga butuh uang yang lumayan untuk melancarkan rencana ini,' batin Angela.
"Angel."
Angela tersadar dari lamunannya saat Cristian menyentuh tangan Angela.
"Itu-"
"Aku tau gaji di perusahaanku tidak sebesar di W.E Inc. Tapi kamu akan menjadi pengecualian, apalagi kamu di sana menempati posisi sekretaris yang akan selalu berhubungan denganku. Kamu akan aman dan aku akan selalu melindungimu," seru Cristian.
Terdengar manis...
"Aku akan memikirkannya. Kalau aku sudah yakin dengan keputusanku, aku akan menghubungimu," seru Angela.
"Baiklah kalau begitu."
Mereka kembali terdiam dan focus dengan pikiran masing-masing.
"Baiklah, aku harus kembali ke kantor." Cristian berdiri dari duduknya dan berdiri menjulang di hadapan Angela yang masih duduk.
"Kamu beristirahatlah. Dan ingat, jangan lupa untuk menghubungiku," seru Cristian hendak menyentuh kepala Angel dengan telapak tangannya, tetapi Angel spontan menghindar membuat Cristian membeku dan tangannya menggantung di udara.
"Aku akan beristirahat," seru Angel bergegas berdiri dengan tersenyum kecil.
"Baiklah, aku akan pergi. Beristirahatlah."
Setelah itu Cristian pun pergi meninggalkan Angel seorang diri.
Angel duduk di atas sofa dengan menyandarkan kepalanya ke kepala sofa dengan tatapannya tertuju pada langit-langit ruangan.
"Dia begitu manis sekarang, apa dia lupa dengan apa yang pernah dia lakukan dimasalalu?" gumam Angela.
***
Angela memutuskan masuk kerja setelah mengambil cuti beberapa hari. Kali ini ia tidak mendengar lagi sindiran maupun cemoohan dari orang-orang kantor. Hanya saja tatapan tajam dan mencemooh juga sinis masih ia dapatkan dan Angela berusaha mengabaikannya.
Ini hanya ujian kecil dalam mencapai tujuannya. Ia sudah pernah mendapatkan luka lebih sakit daripada ini.
"Wah lihat siapa ini yang akhirnya masuk kantor," sindir Rosie saat Angela memasuki ruangannya. Ia berjalan menuju kubikelnya dan membuka laptopnya.
"Sebenarnya aku penasaran apa yang sudah kamu serahkan pada Direktur kita, sampai Direktur begitu melindungimu," seru Rosie berdiri di balik kubikelnya.
"Apa maksudmu? Tolong jangan menggangguku, aku sedang tidak ingin berdebat dan pekerjaanku sedang banyak," seru Angela.
"Kemarin Direktur mengadakan pengumuman penting di aula. Sangat jarang sekali ia melakukan pengumuman penting di aula. Dan kamu tau apa isi pengumumannya," seru Rosie membuat Angela mengernyitkan dahinya bingung.
"Dia bilang. Siapa saja yang terdengar bersinggungan denganmu dan menghinamu, membicarakanmu di belakang. Kalau sampai itu terdengar, maka Direktur tak akan segan-segan memecatnya," seru Rosie.
"Apa?"
"Huh, aktingmu boleh juga. Kamu sungguh seorang yang munafik. Kau berkata tidak menyukainya, tetapi ternyata di belakang kau merayunya. Menjijikan!"
Setelah mengatakan itu Rosie berlalu pergi meninggalkan Angela. Angela hanya bisa menghela nafasnya.
"Ternyata semudah ini menghancurkan pertemanan. Aku sungguh membenci sebuah ikatan dan pertemanan. Semua itu palsu!" Angela sangat kesal.
Angela beranjak pergi meninggalkan ruangannya dan pergi menuju ruangan Regan.
Sesampainya di sana, Angela tidak menghiraukan Nickolas yang berusaha menahannya dan ia melupakan sopan santunnya.
"Mr. Danial!" seru Angela saat masuk begitu saja ke dalam ruangan Regan.
Ternyata di sana ada GM Calvin. Baik Regan maupun Calvin, mereka sama-sama melihat ke arah Angela.
"Emmm sepertinya kau membuat masalah pada seorang wanita cantik," goda Calvin.
"Pergilah. Nanti kita lanjutkan membahas ini," seru Regan.
"Baiklah Bos. Aku tidak akan merusak kesenanganmu," goda Calvin beranjak pergi.
"Kau sungguh wanita yang begitu bersemangat," goda Calvin saat melewati Angela membuat Angela merasa malu sendiri.
"Duduklah," seru Regan dengan tenang setelah Calvin menutup pintu ruangannya.
"Aku datang kemari untuk memberikan surat pengunduran diri ini," seru Angela menyimpan amplop di hadapan Regan.
"Kau serius?"
"Iya. Aku serius akan keluar dari kantor ini," seru Angela penuh keyakinan.
Regan beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Angela membuat Angela siaga dengan tegang.
"A-anda mau apa?" tanya Angela berjalan mundur saat Regan terus berjalan mendekatinya.
"Eh?" Pinggang belakang Angela sudah membentur kepala sofa di belakangnya, membuat ia terjebak dan tidak bisa kabur. Regan mengungkung tubuhnya dengan kedua tangannya berpegangan pada kepala sofa di sisi kiri dan kanan Angela.
"Anda mau apa? Jangan macam-macam, atau aku akan berteriak!" ancam Angela.
"Benarkah? Kalau begitu berteriaklah," tantang Regan membuat Angela membisu.
"Kenapa hanya diam?"
"Saya datang kemari hanya untuk menyerahkan surat itu. Tolong jangan mempersulit saya dan biarkan saya pergi," seru Angela membuat Regan menyeringai.
"Angela, apa kamu lupa dengan apa yang kamu tuduhkan padaku saat kita pertama kali bertemu?" seru Regan membuat Angela bungkam. "Selain itu, kamu sudah menandatangani kontrak kerja dengan W.E Inc untuk 3 tahun ke depan dan sekarang kamu baru menghabiskan waktu 1 tahun bekerja di sini dan ingin mengundurkan diri. Tetapi menurut kontrak kerja yang berlaku, saat karyawan memutuskan kontrak kerja di tengah jalan maka dia harus membayar denda finalty," jelas Regan dengan nada pelan.
"Denda finalty?"
"Iya. Kau boleh baca ulang kontraknya," jelas Regan tersenyum bahagia melihat wajah pucat Angela.
"Aku tau penderitaanmu selama ini. Makanya aku memberikan sebuah penawaran padamu," seru Regan membuat Angela menatap wajahnya dalam jarak dekat.
"Aku akan memindahkanmu ke bagian sekretaris pribadiku. Jadi kamu tidak akan merasa tidak nyaman untuk bekerja. Selain itu, gaji kamu juga akan naik, belum tunjangan dan insentive lainnya. Apa kamu akan melepaskannya begitu saja hanya karena beberapa kerikil?" seru Regan. "Kehidupan ini begitu kejam. Kamu harus bisa menjadi lebih kuat dan focus saja pada tujuanmu. Jangan terpengaruh oleh kerikil-kerikil yang tidak berguna."
Angela termenung mendengar penjelasan dari Regan barusan. Melihat Angela termenung, Regan mencuri untuk mencium bibir Angela dan mampu menyadarkan lamunan Angela.
"Apa yang anda lakukan?" seru Angel mendorong d**a Regan hingga menjauh darinya.
"Saya akan memikirkan tawaran dari anda."
Angela bergegas pergi meninggalkan Regan seorang diri membuat Regan tersenyum penuh arti.
***