Angela termenung di dalam kamarnya. Ia memikirkan ucapan Regan tadi.
"Apa aku terima saja tawaran dari Cristian? Atau aku terima tawaran dari Direktur Devil itu?" gumamnya.
Angela benar-benar memikirkan segala sebab akibat yang akan ia dapatkan dalam mengambil keputusan ini.
Cukup lama Angela termenung, akhirnya ia menemukan keputusan yang tepat.
"Aku rasa ini yang terbaik. Aku tidak akan memperdulikan apa kata orang. Aku harus tetap fokus pada tujuan utamaku. Aku benar-benar harus memiliki dukungan yang kuat dari seseorang saat Virendra berusaha menghancurkanku lagi," gumamnya dengan penuh kepastian.
***
Angela memasang wajah datar dan dingin saat memasuki kantor. Banyak sekali tatapan sinis kepada dirinya, walau cemoohan itu sudah tidak terdengar lagi karena kata-kata Regan sebelumnya hingga membuat mereka semua bungkam.
Ia sudah tidak memperdulikan lagi mereka semua, termasuk Rosie. Angela merasa Rosie bukanlah sahabat yang baik untuk dirinya.
Angela memasuki ruangannya dan langsung masuk ke dalam kubikelnya tanpa memperdulikan orang-orang di sana yang menatap dirinya.
"Pagi Angela, Apa kau ingin kopi?" tanya Erdy mendekati kubikel Angela.
"Ah tidak Erdy, terima kasih," seru Angela mengabaikannya.
"Ck, setelah kau kenal Direktur, kau jadi sombong dan angkuh, Angela. Ini masih awal Angela, kau masih berguna di ranjangnya. Tapi suatu saat kau akan di buang juga olehnya saat dia menemukan wanita lain yang lebih cantik darimu," seru Erdy dengan nada sinis juga merendah.
Angela berdiri dari duduknya. "Wow Erdy, aku tidak menyangka kau begitu mengenal Direktur," seru Angela.
"Orang kaya rata-rata seperti itu. Makanya jangan sombong dan angkuh dulu. Bisa saja mulai bulan depan kau akan segera di lempar olehnya ke jalanan," seru Erdy masih dengan kesal dan berlalu pergi meninggalkan Angela.
"Ada orang seperti itu," gerutu Angela merasa kesal. Ia kembali duduk dan membereskan barang-barangnya. Syukurlah hari ini adalah hari terakhir dia berada di ruangan juga divisi ini.
---
Saat ini Angela berada di depan ruangan bersama Adam dimana seluruh karyawan di divisi keuangan menatap ke arah mereka berdua.
"Hari ini kita perlu berpamitan sekaligus memberikan selamat kepada Angela," seru Adam.
"Apa dia akan keluar dari perusahaan ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku tau kau akhirnya akan di depak juga oleh Direktur, " Seru yang lain.
"Lebih tepatnya dia akan meninggalkan divisi keuangan ini dan sekarang dia akan bekerja menjadi Sekretaris pribadi Direktur."
Deg
Semua mata orang-orang di sana melotot sempurna kecuali Angel yang menampilkan ekspresi datarnya.
"Apa itu serius?" seru Rosie.
"Itu benar. Direktur sendiri yang menghubungi saya. Angela, saya ucapkan selamat untukmu, kamu kini telah naik jabatan," seru Adam.
"Terima kasih Pak Manager. Selama ini anda dengan sabar membimbing saya," seru Angela.
"Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi saya," seru Adam.
"Baik Pak. Terima kasih."
Angela pun pergi meninggalkan ruangan itu tanpa banyak kata. Ia sudah muak dengan para orang munafik itu, mengaku sebagai teman, sahabat tetapi akhirnya menusuknya dan menghinanya lebih dalam.
---
Angela telah sampai di lantai dimana ruangan Regan berada.
"Kamu Angela," sapa seseorang membuat Angela menoleh.
"Oh iya."
"Kenalkan saya Jessy, saya salah satu sekretaris Direktur," seru Jessy.
Angela menatap wajah wanita di depannya yang terlihat begitu cantik dengan badan tingginya bak seorang model.
"Hai Jessy," seru Angela.
"Direktur sedang meeting dengan pak GM. Untuk sementara ayo aku akan antarkan kamu ke ruanganmu. Nanti Direktur akan menemuimu," seru Jessy yang di angguki Angela.
'Oh jadi ini wanita yang di gosipkan dekat dengan Direktur. Tetapi di lihat-lihat dia biasa saja, tak ada yang special dari dirinya. Mungkin dia yang menggoda Direktur,' batin Jessy melirik ke arah Angela.
"Ini meja kerja kamu. Yang di samping kamu adalah meja kerjaku dan yang di depan kita adalah meja pak Nickolas. Ruangan yang ada di sebrang sana adalah ruangan pak GM," jelas Jessy seraya menunjukkannya.
Angela mengangguk paham.
"Aku belum tau pekerjaanmu bagaimana. Untuk sementara aku akan mengenalkan beberapa pekerjaan dasar Sekretaris."
Angela duduk di kursi kebesarannya dan Jessy menyalakan laptopnya.
"Direktur cukup sibuk dan begitu banyak pekerjaan untuk seorang Sekretarisnya. Kita akan membagi tiga pekerjaan, dan biasanya pak Nikcolas yang akan mengurus segalanya dan yang selalu menemani Direktur," seru Jessy.
"Aku paham."
Jessy pun menjelaskan semua pekerjaannya pada Angela.
***
Setelah dua jam berlalu, Regan pun datang dan meminta Angela untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Anda memanggil saya, Sir." Angela kini berdiri di depan meja kerja Regan dimana Regan duduk bersidekap menghadap ke arah Angela.
"Aku tidak menyangka kamu menerima tawaran dariku," seru Regan.
"Saya tidak memiliki pilihan," jawab Angela.
"Begitu yah," seru Regan. "Kalau begitu untuk pekerjaanmu selanjutnya adalah kamu harus menjadi asisten pribadiku. Kamu harus menyiapkan segala macam laporan untuk aku meeting dan bertemu klien. Kamu juga harus selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Untuk schedule ku, kamu bisa menanyakannya ke Nikcolas dan tanyakan apa yang aku butuhkan," seru Regan.
"Emm baiklah," jawab Angela beranjak hendak keluar ruangan.
"Ah Angel," panggil Regan menghentikan langkah Angela.
"Ya Sir?"
"Tolong buatkan kopi untukku, low sugar," seru Regan.
"Baik."
Angela beranjak keluar dari ruangan Regan.
"Bagaimana?" tanya Jessy saat Angela keluar dari ruangan Regan.
"Emm saya di minta membuatkan kopi. Dan untuk pekerjaannya saya harus menanyakan ke pak Nickolas," seru Angela tidak mengatakan dengan jelas. Ia tidak ingin menambah musuh tentunya di tempat kerjanya yang baru.
"Begitu yah. Baiklah," seru Jessy hanya bisa melirik Angela yang berjalan menuju pantry yang ada di lantai itu.
'Selama ini Pak Direktur tidak pernah memintaku membuatkan kopi. Dia selalu memesan kopi dari kedai kopi langganannya. Kenapa sekarang dia meminta pegawai baru itu untuk membuatnya,' batin Jessy.
***
Calvin bersiul berjalan menuju ruangan Regan, tetapi langkahnya terhenti di ruangan Sekretaris yang berada di dekat lorong pendek menuju ruangan Regan.
"Wah wah siapa ini," seru Calvin berjalan menuju meja Angela.
"Selamat siang Pak GM," seru Angela beranjak dari duduknya dan memberi hormat dengan membungkukkan badannya sedikit.
"Dia sekretaris baru Direktur," jelas Jessy.
"Nambah lagi Sekretaris? Duh padahal aku hanya memiliki satu Sekretaris saja, benar-benar tidak adil," keluh Calvin.
"Anda mau menemui Direktur?" tanya Jessy.
"Iya, aku akan langsung masuk saja," jawab Calvin. "Tapi Nona sekretaris yang baru, wajahmu nampaknya tidak asing. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Calvin.
"Eh?" Angela terdiam seraya mengingat-ngingat kembali. Setaunya, ia belum pernah bertemu dengan Calvin sebelumnya kecuali saat meeting triwulan.
"Ah iya aku ingat. Kamu adalah si gadis stalking," seru Calvin.
"Apa?" seru Angela.
"Ah tidak," kekeh Calvin penuh makna. "Kalau begitu selamat bergabung yah, Nona?"
"Angela."
"Nona Angela. Aku tinggal yah," seru Calvin dan berjalan masuk menuju ruangan Regan.
"Apa sih maksudnya dengan Nona Stalking," gumam Angela tak paham.
Calvin masuk ke dalam ruangan dan terlihat Regan tampak sibuk di meja kerjanya dengan beberapa berkas di tangannya.
"Huh ternyata memang ada sesuatu dengan gadis stalking itu," seru Calvin membuat Regan mengalihkan pandangannya ke arah Calvin.
"Apa maksudmu?" tanya Regan merasa bingung.
"Jangan pura-pura tidak paham. Siapa itu sekretaris barumu," seru Calvin mengambil duduk di atas sofa.
"Memang kenapa dengan sekretaris baruku? Jangan mengganggunya," seru Regan tenang tetapi terdengar penuh ancaman.
Calvin terkekeh mendengar seruan Regan itu. Benar-benar pria yang posesif.
"Dia kekasihmu?" tanya Calvin penuh keingintahuan.
"Ternyata penyakit kepomu belum juga sembuh," seru Regan kembali focus dengan pekerjaannya.
"Ayolah Kakak sepupu jangan ada rahasia di antara kita," seru Calvin.
"Kerjakan saja pekerjaanmu. Periksa semua berkas ini dan nanti siang ada meeting dengan salah satu klien kita," seru Regan seraya menyimpan tumpukan berkas di atas meja.
"Jahat sekali. Dari kemarin kau terus menyiksaku untuk bekerja rodi. Benar-benar sepupu yang tidak punya hati."
"Bukan urusanku," seru Regan dengan tenang membuat Calvin mencibir.
"Kalau begitu aku ajak sekretaris barumu untuk bertemu klien yah."
"Tidak!"
"Ck ayolah. Sekretarisku sibuk dengan pekerjaannya, aku butuh asisten yang menemaniku."
"Kau cari asisten sendiri. Dia asistenku dan tidak boleh di ganggu ataupun di pinjam."
"Ck, dasar pelit."
"Tidak perduli."
Calvin hanya bisa mencibir sebal dengan Regan. Ia pun beranjak pergi dengan membawa berkas di atas meja Regan dan beranjak pergi keluar.
***