Keluarga baru
Brak..
Pintu kamar hotel tertutup rapat. Clara dan Edward, saling b******u dengan penuh gairah di depan pintu yang tertutup.
Edward menggendong tubuh Clara ala koala menuju tempat tidur, ia memberikan kecupan lembut pada Clara dari telinga, leher pundak hilang tulang selangka. Dan kecupan lembut itu berhasil membuat sekujur tubuh Clara yang sudah lama tidak pernah di setuh oleh pria meremang.
Hingga Edward kini kembali menatap Clara, hasratnya sudah naik hingga ke ubun-ubun saat merasakan tubuh Clara yang bergetar kecil.
Ia lalu meraih dagu Clara dan mendaratkan sebuah kecupan, yang dalam hitungan detik kecupan itu berubah kembali menjadi hisapan kuat nan nikmat. Hingga sepasangan kekasih itu b******u dengan penuh gairah.
Namun saat Edward menarik resleting dress Clara, wanita berusia empat puluh tahun,namun masih terlihat cantik itu menahan lengan kekar Edward. Hingga Edward menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa? Kau tidak ingin melanjutkan ini?" Tanya Edward.
Clara menggeleng pelan,"Aku hanya malu, aku tidak pernah melakukan hal ini semenjak suamiku meninggal. Aku juga tidak pernah merawat tubuhku karena sibuk bekerja."
Mendengar pengakuan jujur dari wanita yang tengah berada di bawahnya, ego maskulin Edward justru tersentuh. Baginya, setiap jengkal tubuh Clara malam ini adalah keindahan yang nyata bukan karena kesempurnaan tanpa cela, melainkan karena ketulusan dan perjuangan hidup yang terpancar dari sosoknya.
"Kau sangat cantik, Clara. Jangan pernah meragukan itu," bisik Edward rendah, suaranya serak oleh hasrat yang tertahan.
Ia mengecup punggung tangan Clara yang menahan lengannya, memberikan rasa aman yang seketika meruntuhkan sisa-sisa keraguan di hati wanita itu. Perlahan namun pasti, Clara melepaskan cengkeramannya, membiarkan Edward melanjutkan apa yang sempat tertunda.
Ketika resleting gaun itu akhirnya terbuka sepenuhnya, tidak ada lagi kecanggungan. Edward memperlakukan Clara layaknya sebuah berlian berharga, menyentuhnya dengan kombinasi antara kelembutan seorang pria yang menghargai wanitanya, dan intensitas seorang lelaki yang sedang mendamba.
Setiap sentuhan kulit mereka yang bertemu memicu sengatan elektrik yang memabukkan. Clara memejamkan mata, melingkarkan lengannya di leher kokoh Edward, menyerahkan seluruh sisa hidupnya pada pria yang kini menjadi pelindungnya. Desah napas yang tertahan dan detak jantung yang berpacu seirama menjadi melodi yang memenuhi kamar itu.
Di bawah temaram lampu tidur, mereka berdua tenggelam dalam lautan gairah yang jujur. Bagi Clara, malam ini adalah awal dari babak baru di mana ia kembali merasa diinginkan sebagai seorang wanita. Sementara bagi Edward, Clara adalah pelabuhan terakhir yang akan ia jaga dengan seluruh kekuasaan dan cintanya.
Malam di Manhattan itu terasa begitu panjang, saksi bisu dari penyatuan dua hati yang bersiap menghadapi badai takdir di masa depan.
******
Di sisi lain tepatnya di Toronto Kanada. Seorang pria tampan berusia 23tahun dengan tinggi 187cm, dan tubuh atletis juga sedang bercucuran keringat. Bukan karena malam yang panas seperti ayahnya, melainkan ia yang sedang berada di atas treadmill.
"Tuan muda" Seru Leonardo Wilson, atau akrab di panggil Leo sang asisten pribadi. Ian Vance.
" Apa kau sudah menemukan informasi tentang siapa perempuan yang sedang berkencan dengan ayahku?" Tanya Ian tanpa menoleh.
"Ya Tuan, wanita itu bernama Clara Brown, ia berusia 40tahun dan punya seorang putri bernama Calla Bailey berusia 17tahun. Suaminya meninggal 7 tahun yang lalu saat bekerja. Dan Clara bekerja di sebuah cafe di Brooklyn!" Jelas Leo menyodorkan tablet kepada Ian.
Laki-laki dengan setelah jas rapih itu, satu jam yang lalu diberi perintah oleh Ian, untuk mencaritahu tentang perempuan yang dikencani bahkan sudah di lamar oleh ayahnya, Edward Vance.
Ian meraih handuk kecil yang tersampir di pundaknya, menyeka keringat yang bercucuran di pelipis dan leher kokohnya. Napasnya masih menderu teratur setelah sesi latihan yang intens.
Tanpa berkata-kata, ia mengambil alih tablet pintar dari tangan Leo, membiarkan jemarinya yang panjang menggeser layar untuk membaca deretan informasi yang baru saja dikumpulkan sang asisten.
Matanya memicing sekilas saat membaca profil Clara Brown. Sederhana, pekerja keras, dan jauh dari latar belakang wanita-wanita kelas atas yang biasa mendekati ayahnya di Amerika.
Namun, fokus Ian mendadak teralihkan sepenuhnya saat jemarinya mengetuk folder foto yang melampirkan data keluarga Clara.
Layar tablet itu kini menampilkan foto sebuah dokumen resmi dan beberapa foto candid seorang gadis remaja. Ian terpaku selama beberapa detik. Di sana, terpampang wajah Calla Bailey yang berusia 17 tahun. Gadis itu memiliki rambut pirang alami yang membingkai wajah ovalnya yang lembut, serta sepasang mata berwarna hazel yang jernih, tampak begitu polos sekaligus memikat dalam waktu yang bersamaan.
Keindahan yang murni, tanpa sentuhan kemewahan buatan Manhattan. Sosok yang terasa begitu kontras dengan dunia bisnis konstruksi Ian yang kaku, dingin, dan penuh kepalsuan.
Leo yang berdiri di sampingnya sempat menahan napas, memperhatikan ekspresi sang tuan muda yang biasanya sedingin es dan sulit ditebak.
Perlahan, sudut bibir Ian terangkat tipis, membentuk sebuah kurva senyuman yang penuh arti sebuah ekspresi yang jarang sekali diperlihatkannya.
Matanya yang tajam mengunci lekat-lekat sepasang mata hazel milik Calla di layar digital tersebut. Ada ketertarikan instan yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya.
"Menarik," ucap Ian lirih, suaranya bariton rendah, bergema samar di dalam ruang olahraga privatnya yang sunyi.
Ia mengembalikan tablet itu kepada Leo dengan gerakan santai, namun tatapannya kini berubah menjadi jauh lebih fokus dan intens.
"Atur jadwal kepulanganku ke New York sesegera mungkin, Leo," perintah Ian dingin sembari berbalik, melangkah menuju kamar mandi privatnya. "Aku ingin menyambut 'keluarga baru' ini secara langsung."
*****
Suasana kamar berukuran minimalis itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara ketukan pelan pena Calla di atas meja belajar. Jarum jam dinding usang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Calla menghentikan aktivitas belajarnya, lalu memutar kursi kayu miliknya menghadap ke arah ranjang single. Di sana, Clara duduk dengan kedua tangan yang saling meremas gelisah, tatapannya kosong menatap lantai kamar.
"Mom?" panggil Calla lembut, memecah keheningan. "Ada apa? Sejak masuk kamar dua jam lalu, Mommy hanya diam saja. Ada masalah di tempat kerja?"
Clara tersentak kecil, lalu mengangkat wajahnya dan menatap putri semata wayangnya dengan senyum yang dipaksakan. "Tidak, Sayang. Tempat kerja Mommy baik-baik saja. Hanya... ada sesuatu yang ingin Mommy bicarakan padamu. Ini tentang... Edward."
Calla menghela napas pelan, ia melangkah mendekat lalu ikut duduk di tepi ranjang, tepat di samping ibunya. "Edward Vance? Pria yang dua bulan terakhir ini sering menjemput Mommy?"
Clara mengangguk. Napasnya terdengar berat sebelum akhirnya ia mulai bercerita. "Edward... dia bukan pria biasa, Calla. Dia adalah seorang pengusaha konstruksi yang sangat sukses di negara ini. Kehidupannya jauh berbeda dengan kita. Tapi, selama dua bulan ini, dia memperlakukan Mommy dengan sangat baik dan terhormat. Dia tidak peduli dengan latar belakang Mommy yang hanya pekerja kafe."
Clara menjeda kalimatnya, meraba saku blusnya dengan tangan gemetar. "Dan... dua hari yang lalu, Edward melamar Mommy untuk menjadi istrinya."
Clara membuka telapak tangannya, menunjukkan sebuah kotak beludru kecil yang di dalamnya berkilau sebuah cincin berlian yang tampak begitu mewah dan mahal.
Calla tertegun. Matanya membulat menatap cincin itu, lalu beralih menatap wajah ibunya. Detik itu juga, ada sejumput perasaan tidak rela yang menyergap d**a Calla. Tujuh tahun sudah mereka hidup berdua sejak kepergian sang ayah, Joshua Bailey seorang sopir taksi yang tewas mengenaskan dalam kecelakaan beruntun. Selama itu pula, posisi sosok ayah di hati Calla tidak pernah tergantikan. Berbagi ibunya dengan pria asing lain terasa begitu menakutkan baginya.
Melihat perubahan ekspresi putrinya, mata Clara mulai berkaca-kaca. Ia segera menggenggam jemari Calla.
"Maafkan Mommy, Calla... Mommy tahu ini mendadak," ucap Clara lirih, setitik air mata lolos ke pipinya. "Mommy belum menjawab lamarannya karena Mommy butuh restumu. Tapi Calla... setelah tujuh tahun kepergian mendiang ayahmu, setelah bertahun-tahun Mommy merasa mati rasa dan hanya fokus bekerja... untuk pertama kalinya, Mommy merasa jantung Mommy kembali berdetak. Mommy... Mommy jatuh cinta lagi pada Edward."
Mendengar pengakuan tulus yang sarat akan kerapuhan itu, ego di dalam diri Calla seketika runtuh. Ia menatap wajah ibunya yang mulai dihiasi kerutan halus karena lelah bekerja demi menghidupinya selama ini.
Calla tahu, ibunya berhak untuk bahagia. Ibunya berhak mendapatkan sandaran yang kokoh setelah badai panjang yang mereka lewati.
Perlahan, senyum manis terangkat di bibir ranum Calla. Ia membalas genggaman tangan ibunya, mengusapnya dengan lembut.
"Mom, kenapa harus minta maaf?" kata Calla dengan nada suara yang menenangkan. "Jika pria bernama Edward itu bisa membuat Mommy tersenyum seperti ini, dan jika Mommy benar-benar mencintainya... maka aku tidak punya alasan untuk melarang."
Calla memeluk bahu ibunya erat. "Aku akan selalu mendukung keputusan Mommy, selama itu bisa membuat Mommy bahagia. Terima saja lamarannya, Mom."
Clara menangis haru, membalas pelukan putrinya dengan rasa syukur yang membuncah.
Begitu Calla kembali ke meja belajarnya, Clara melangkah keluar kamar dengan jantung yang masih berdebar hangat. Di ruang tamu kecil mereka, ia meraih ponselnya dan menekan nomor Edward. Tidak butuh waktu lama bagi pria di seberang sana untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Clara? Kau belum tidur?" Suara bariton Edward terdengar dalam dan penuh perhatian di seberang telepon.
Clara tersenyum, menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Belum, Edward. Aku... baru saja selesai berbicara dengan Calla."
Ada jeda sesaat di seberang sana, seolah Edward sedang menahan napasnya menantikan kalimat selanjutnya. "Lalu? Bagaimana tanggapan putri cantikmu?"
"Dia merestui kita," ucap Clara dengan nada lega yang amat jelas. "Calla bilang, selama aku bahagia, dia akan selalu mendukungku. Jadi... jawaban untuk lamaranmu dua hari lalu adalah... ya, Edward. Aku bersedia menikah denganmu."
Terdengar kekehan rendah yang sangat renyah dari ujung telepon, memancarkan rasa lega dan kebahagiaan yang membuncah dari seorang Edward Vance. "Itu adalah jawaban terbaik yang aku dengar sepanjang hidupku, Clara. Terima kasih. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu maupun Calla."
Edward berdeham sekilas, langsung menyusun rencana kelanjutan hubungan mereka dengan cekatan. "Kalau begitu, kita harus merayakannya. Aku sudah menjadwalkan makan malam keluarga di akhir pekan ini. Kita akan bertemu di The River Cafe, New York. Aku ingin kau dan Calla datang sebagai calon keluargaku."
"Itu... terdengar sangat mewah, Edward. Apa tidak berlebihan?" tanya Clara agak ragu, mengetahui reputasi restoran tersebut yang sangat eksklusif dengan pemandangan langsung ke jembatan Brooklyn.
"Tidak ada yang berlebihan untuk calon istriku," potong Edward tegas namun lembut. "Besok pagi, asistenku akan mengirimkan paket ke rumahmu. Aku sudah memesankan dua dress khusus. Satu gaun malam berwarna hitam elegan untuk calon pengantinku, dan satu gaun berwarna putih gading yang manis untuk Calla, calon putri tiriku. Aku ingin kalian tampil sempurna."
Clara tersipu, mendengar bahwa laki-laki yang akan menjadi suaminya itu sudah membuat rencana yang sangat matang bahkan sebelum ia menjawab lamarannya, kini mata Clara kembali berkaca-kaca karena perlakuan Edward yang begitu memanjakannya. "Kau terlalu baik, Edward. Terima kasih banyak. Aku akan memastikan kami siap di akhir pekan nanti."
"Oke.. Kalau begitu, sampai jumpa di akhir pekan, My Love. Sampaikan salamku pada Calla," ucap Edward sebelum akhirnya memutus sambungan telepon dengan nada penuh kemenangan.
Clara menurunkan ponselnya, menatap ke luar jendela apartemennya yang kecil. Ia merasa seolah sedang berjalan menuju sebuah dongeng indah. Tanpa tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.