“Eng … i-ini … ini hanya lagi … lagi,” Desi bingung cari alasan. “Lagi cek tas milik karyawan baru pak, untuk jaga-jaga aja. Dan sekalian tes kalau anak baru itu jujur atau tidak.” Dina langsung berusaha menyela memberi alasan. Verrel perhatikan apa yang ada di tangan mereka. Tas Sharell rupanya sudah di acak-acak oleh dua orang ini. “Berikan sama saya,” pintanya. “Hah? Eng … i-iya pak,” Desi dan Dina menyerahkan tas itu pada Verrel dengan tangan gemetar. Verrel terdiam menahan emosi. Wajahnya merah. Andai ini karyawan di kantornya, sudah jangan tanya. Sudah pasti dapat surat peringatan atau mungkin sekalian dapat pesangon alias dipecat hari itu juga. “Kalian sebaiknya belajar soal etika. Bukan begini caranya memperlakukan orang lain.” Verrel bicara dengan nada datar namun tatapannya

