Di atas kapal itu, lelah berdiri dan angin laut yang mulai terasa kencang menghempas, Sharell menyingkir dari tepian jendela kapal.
‘Ngapain sih tadi aku sampai naik kapal ini segala? Mana udah pamit mau kabur, ‘kan jadi gak bisa pulang. Tapi biarin deh, biar mama sama papa tau kalau aku gak mau dijodohin sama si es batu itu.’ batin Sharell.
Gelisah. Matanya beredar kesana kemari. Wajar ia merasa tidak tenang. Ini benar-benar perjalanan perdananya seorang diri. Gadis kaya yang polos ini sejak bayi kemana-mana selalu dengan pengawalan. Apa-apa dilayani dan ditemani bibi. Selalu naik kendaraan dengan kelas terbaik. Ini pertama kalinya ia menghirup aroma dek kapal kelas ekonomi. Tanpa penyejuk udara. Hanya semilir angin laut yang meniup.
Sharell mulai merasa sedikit pusing. Faktor tidak pernah naik kapal laut. Ditambah lagi tempat duduk dan suasana ruangan yang tidak nyaman. Jantungnya terus berdebar merasa was-was. Ia takut ada orang jahat mengintai. Dan ia saat ini benar-benar sendirian. Sendiri di tengah keramaian lebih tepatnya.
“Mau minum?” Seorang pria mendadak duduk di sebelah Sharell dan menyodorkan segelas minuman.
Sharell langsung kaget dan bergeser menjaga jarak dari pria itu. “Gak, terima kasih.” Tolaknya halus.
Pria itu tersenyum dan mengangguk lalu menurunkan minuman yang ia sodorkan pada Sharell. Sebenarnya Sharell sudah merasakan tenggorokannya kering. Minuman yang ditawarkan pria ini terlihat begitu menggoda. Melihat uap air yang menempel di gelasnya saja langsung terasa sejuk rasanya. Tapi buru-buru Sharell ingat, menerima sesuatu dari orang asing bukanlah ide yang baik. Apa lagi di tempat seperti ini.
“Mau kemana? Kamu sendirian?” Pria itu bertanya lagi. Sebenarnya ia kelihatan tampan dan berwajah baik-baik. Pakaiannya juga rapi. Tapi itu tak cukup membuat Sharell merasa aman.
Sharell hanya mengangguk tanpa senyum. Sengaja tidak mau menjawab.
“Kamu gak usah takut, aku gak bermaksud apa-apa kok. Aku lihat tadi kamu ngoceh ke petugas minta kelas VIP.” lanjutnya.
“Engga kok,” Sharell coba berkelit. Padahal jelas semua orang melihatnya tadi. Tapi ia tidak menyangka kalau pria ini memperhatikannya.
“Kenapa, gak biasa ya naik kapal di kelas Ekonomi?” tanya pria itu lagi.
“Bi-biasa kok, gak, gak ada masalah.” Sharell mulai gugup. Meski selalu ingin terlihat apa adanya dan biasa saja, terbiasa hidup dengan fasilitas yang serba ada tentu membuat Sharell tetap tak bisa menyembunyikan jati dirinya kalau ia bukan dari kelas sembarangan.
“Aku Rio.” Pria itu menyebutkan namanya. “Sebaiknya hati-hati kalau dalam perjalanan seperti ini. Jangan bersikap yang mengundang perhatian. Dan jangan pakai perhiasan yang mencolok. Bisa mengundang orang jahat. Apalagi kamu sendirian. Aku cuma ngingetin aja.”
Sharell langsung melarikan pandangannya pada pergelangan tangannya. Sebuah gelang bertahtakan berlian melingkar di sana. Gelang pemberian mamanya yang sudah ia pakai sejak jaman kuliah. Kalau dilihat sekilas, gelang itu terlihat sederhana. Namun kilau berlian yang bertahta tetap tidak bisa bohong. Sharell buru-buru menarik lengan bajunya menutupi gelang itu.
“Aku permisi,” Rio beranjak berniat pindah tempat duduk.
"Eh, kalau mau duduk ya duduk aja, biar aku yang pindah." entah kenapa Sharell reflek berkata demikian. Sebenarnya dia malas duduk dengan orang yang tak dikenal. Kalau boleh memilih perjalanan yang katanya akan memakan waktu tiga jam ini dia ingin sendirian saja."Permisi," Sharell menyeret koper kecilnya melewati Rio begitu saja.
Tanpa sengaja roda koper Sharell melindas kaki Rio dan membuat pemuda itu meringis kesakitan.
"Aww," jerit Rio reflek. Dia langsung geleng-geleng melihat kelakuan gadis ini.
Sebenarnya sharell sadar kalau saat menarik koper tadi ada sesuatu yang terlindas. Tapi alih-alih minta maaf dia malah buang muka dan buru-buru menjauh.
“Ganggu banget sih, orang banyak kursi kosong pakai mau duduk di situ segala,” gumam Sharell. Segera ia pindah menempati kursi kosong yang lain.
Celingukan kesana-kemari, akhirnya ia yakin kalau kursi yang kali ini diincarnya adalah kursi yang tepat. Semua orang sepertinya sudah mendapat kursi masing-masing dan tidak ada yang berlalu-lalang lagi. Sharell duduk berusaha membuat dirinya tenang meski hidungnya belum terbiasa menghirup aroma ruangan kelas ekonomi dan telinganya sedikit terganggu dengan suara-suara berisik obrolan penumpang lain yang membuatnya lama-lama semakin pening.
‘Ok cuma tiga jam, aku pasti bisa.’ batin Sharell. Sekali lagi meyakinkan hatinya sendiri.
Detik-detik berlalu terasa begitu lamban. Sharell belum pernah terpaksa terjebak dengan situasi seperti ini sebelumnya. Mau menyesal juga percuma. Tidak ada pilihan lain kecuali sabar sampai tujuan.
“Permisi ya Mbak, saya duduk di sini ya, belum ada orang ‘kan?” terdengar suara seorang perempuan.
Sharell menoleh seketika. Batinnya sebenarnya ingin bilang tak boleh. Tapi mana mungkin, mana berani? Yang ada dia bisa menimbulkan keributan lagi seperti tadi.
“Oh, iya silahkan,” jawab Sharell. Ya setidaknya lumayan, ini perempuan bukan laki-laki. Jadi tidak terlalu membuatnya risih.
Wanita itu duduk di sebelah Sharell. Tanpa di duga membawa barang bawaan yang cukup banyak berupa dus. Bukan koper atau ransel, tapi ini dus. Dus yang entah isinya apa.
“Saya taruh sini ya, takut ketendang sama orang lewat kalau taruh di situ,” ia meminta ijin menyimpas dus-dus bawaannya di celah kursi sampai kaki Sharell tidak bisa bergerak.
“Ok,” ucap Sharell terpaksa.
‘Duh, tiga jam begini, kaki bisa kram ini,’ keluh si putri keraton dalam hati.
Meski benabenar dalam posisi yang tidak nyaman, Sharell berusaha mengulur sabar dalam hatinya. kalimat-kalimat menggerutu sekaligus menguatkan diri sendiri terus saja tak putus mengoceh dalam hati.
Tak lam kemudian wanita itu mengeluarkan minyak angin berwarna bening dari botol yang juga berwarna bening.
“Aduh, saya mabok laut mbak, saya gak biasa naik kapal gini, biasanya naik kapal pesiar. Mbak udah biasa ya naik kapal kayak gini?” celoteh wanita itu sambil mengoleskan minyak angina beraroma menyengat ke sekitar tengkuknya.
Sharell enggan menjawab. Hanya nyengir sambil melirik dus yang sudah berhasil membuat kakinya tak punya ruang gerak lagi.
“Aduh, siapa sih ini yang telepon, udah di tengah laut gini masih telpon aja,” celoteh wanita itu lagi.
Sharell mulai merasa risih. Sepertinya si wanita ini mengada-ada. Lagi pula di tengah laut mana ada signal?
“Eh, ternyata alarm lupa dimatikan,” ujarnya lagi. Dan dia terus berceloteh ini dan itu meski orang yang ada di sebelahnya diam seperti patung.
‘Duh, nih orang gak bisa diam lagi. pusing banget aku dengar dia ngoceh terus.’ Keluh Sharell dalam hati mulai capek.
“Mbak, mabka suka lagu ini gak? Nih dengerin ya, dengerin ya,” ia mengeraskan suara musik dari ponselnya.
Sharell langsung geleng-geleng menolak secara halus. “Maaf Mbak, sebaiknya pakai headset aja,” ucap Sharell sopan.
“Oh, mbaknya gak suka? Ya sayang banget, tapi ini aku lagi mau dengerin ini. Dan kebetulan aku gak bawa headset,”
Sharell hanya merespon dengan anggukan dan nyengir lagi.
‘Ini cobaan, ini ujian, sabar Sharell, sabar. Cuma tiga jam ok.’ Dalam hati ia terus komat-kamit