Pria Asing

1030 Kata
Menit demi menit berlalu, Sharell persis seperti patung gapura komplek. Duduk dengan posisi yang tidak berubah sama sekali. Alunan musik yang sebenarnya bukan seleranya dan sama sekali tidak ia sukai terpaksa ia terima. Mau bagaimana lagi. Mendadak bahunya terasa berat. Ia yang sejak tadi memandang lusrus ke depan dengan menahan kesal sambil menghitung setiap detik yang berlalu mendadak menoleh ke sebelah kanan. ‘Ih, apa-apaan ini kurang ajar banget!’ gerutu Sharell. Lagi-lagi hanya berani dalam hati. Kepala wanita itu bersandar di bahu Sharell. Matanya sudah terpejam dengan mulut yang sedikit menganga. Lalu terdengar dengkuran kecil. Sharell tidak tahan lagi. “Permisi Mbak!” Seketika saja ia berdiri. Wanita asing yang sok akrab dan seenaknya tertidur di bahu Sharell itu sontak begitu kaget. Kepalanya sedikit terbentur ke kursi saat Sharell mendadak bangun tadi. “Oh, maaf lho Mbak, ngantuk saya.” ucapnya sambil garuk-garuk kepala. Sharell langsung angkat koper. “Permisi,” “Lho, mau kemana? Kursi lain sudah penuh semua.” Sharell langsung melariakn pandangan ke sekeliling setelah mendengarnya. ke kanan-kiri belakang. Sepertinya perkataan wanita ini benar. Ah, rasanya lebih baik duduk di lantai pinggiran jendela kapal daripada tiga jam harus jadi patung sekaligus batal bagi wanita asing yang sok akrab ini. “Gak apa-apa Mbak, biar saya cari tempat lain saja.” Sharell memberikan isyarat agar wanita itu memindahkan dus bawaannya agar dia bisa berjalan keluar. “Serius lho Mbak ini mau cari tempat duduk lain?” wanita itu masih bertanya. “Permisi, tolong saya mau lewat.” Sharell sudah malas berbasa-basi. “Ya sudah, saya malah jadi enak bisa tiduran.” Balas si wanita itu. terdengar begitu menyebalkan di telinga Sharell. Dan sialnya dia langsung mengambil posisi tidur tanpa meminggirkan barang bawannya. Mau tidak mau Sharell menggeser tumpukan dus itu sendiri. Tak mau menoleh lagi, Sharell langsung berlalu. ‘Dasar nyebelin! Kok ada orang seenaknya kayak gitu,’ keluhnya lagi. lagi-lagi hanya dalam hati. Entah kenapa Sharrel kembali kepikiran dengan tempat duduk pertama yang ia tinggalkan tadi. Sepertinya lelaki yang duduk dan sempat menawarkan minuman tadi, sedikit terlihat lebih sopan dibandingkan mbak-mbak pembawa banyak dus menyebalkan yang seenaknya itu. Sambil berjalan Sharell tengok kanan-kiri. Sepertinya benar, kursi hampir semuanya terisi penuh. Ah, rasanya makin ingin menjerit dalam hati. Atau kalau bisa lompat saja ke laut lalu berenang pulang. Tapi gak mungkin. Yang ada bisa-bisa pulang tinggal nama. Hi, serem. "Mau cari tempat duduk?" Seseorang menyapa Sharell. Reflek gadis ini menoleh. Pria tadi. Yang mengaku bernama Rio dan sok akrab menawarkan minuman dingin ke Sharell. Entah sok akrab atau sok baik atau memang basa-basi. "Eng … enggak kok, aku cuma lagi jalan-jalan aja lihat-lihat." jawab Sharell angkuh. Kali ini bukan terlihat angkuh, justru terlihat begitu polos dan lugu Dimata orang. Lagi pula mana ada orang sengaja jalan-jalan iseng di dalam kapal dengan menyeret kopernya kesana-kemari. "Yakin? Tuh, kursi kamu tadi masih kosong. Kalau mau teruskan jalan-jalan ya silahkan. Tapi kopernya gak usah diajak jalan-jalan juga kali. Emang gak capek apa? Kamu bisa taruh koper kamu di bawah kursi sana." "Hah? Taruh di kursi yang tadi?" Sharell mengulang pertanyaan . Mendadak ia merasa pria ini sepertinya memang baik. "Iya, kalau kamu mau," Rio berjalan lebih dulu. Antara gengsi tapi butuh. Daripada tidak dapat tempat duduk, atau duduk bersama dengan orang yang seperti tadi lagi, Sharell akhirnya kembali ke kursi itu. Teringat saat roda kopernya melindas kaki pria ini tadi. Ah, jadi malu. Tapi Sharell mencoba tak ambil pusing. Apalagi ia yakin orang-orang yang ditemuinya saat belum tentu juga bakal bertemu lagi di waktu yang lain. "Permisi," Sharell ingin meletakkan kopernya. Rio menoleh lalu tersenyum. "Nama kamu siapa?" "Hah?" Sharell sebenarnya mendengar dengan jelas. Tapi dia malas harus berkenalan segala dengan orang asing. "Iya nama kamu," Berpikir dalam beberapa detik, sepertinya ini hal yang wajar saja. Lagi pula di pelabuhan nanti juga akan berpisah. “Aku Sharell.” Sharell akhirnya memperkenalkan namanya. Rio tersenyum dan mengangguk. Kalau di lihat-lihat sepertinya tidak ada reaksi yang aneh-aneh dari pria ini. Artinya, lumayan juga dia bisa jadi teman dalam perjalanan. “Kamu mau ke mana?” tanya Rio setelah beberapa saat. “Ke … ke pulau seberang,” jawab Sharell polos. Dengan mudah Rio menangkap kalau gadis ini seperti orang yang tak punya tujuan. “Iya, tapi di pulau seberang itu banyak kota. Kamu mau ke kota mana?” “Eng … gak jauh kok dari pelabuhan.” Jawab Sharell asal. Rio hanya menggeleng dan tersenyum. Sebenarnya Sharell berniat langsung naik kapal lagi setelah kapal ini berlabuh nanti. Iya, naik kapal ke arah sebaliknya. Alias kembali ke kota asal. Walau tidak mungkin langsung kembali ke rumah, ia ingin menginap di hotel dalam kota saja sambil melakukan penyelidikan tentang Verrel. Di pulau seberang yang serba asing dan baru pertama ia kunjungi itu terlalu beresiko. “Kalau aku, mau pulang ke rumah orang tuaku. Ibuku sakit. Jadi aku harus pulang. Aku sudah bertahun-tahun merantau.” Rio menjelaskan tanpa dipinta. “Oh gitu,” “Kamu sendiri mau kemana? Mungkin aja tujuan kita dekat.” Rio mencoba bertanya lagi. Beberapa detik Sharell belum menjawab. Memutar otak sebisa mungkin untuk mencari jawaban yang masuk akal. Bagaimana mau menjawab, tahu nama-nama tempat di pulau seberang saja tidak. “Kan tadi aku udah bilang, gak jauh dari pelabuhan.” Jawabnya agak ketus. Ya memang, dia sedikit percaya dengan pria ini. Tapi kalau terlalu banyak ditanya Sharell malas juga menjawabnya. “Dekat pelabuhan ‘kan banyak tempat. Kamu ke sana mau jalan-jalan aja?” ternyata Rio belum berhenti bertanya juga. “I-iya, liburan. Jalan-jalan.” Sharell mendadak mendapat alasan dari kalimat Rio tadi. “Oh, ya sudah kalau begitu. Rumahku juga gak jauh dari pelabuhan. Kamu berapa lama liburan di sana nanti?” Sharell hanya melirik dengan tatapan tajam. Rio langsung bungkam tidak berani bertanya lagi “Sorry, gak bermaksud apa-apa. Cuma, kalau nanti turun di pelabuhan hati-hati. Syukur-syukur kamu di sana dijemput teman. Itu lebih baik. Soalnya banyak travel gelap yang suka maksa untuk kita naik. Mereka suka main tarik-tarik gitu aja.” kata Rio. Sharell melirik tajam lagi. Tapi kini lirikannya sedikit mengandung tanda tanya. “Yang benar? Emang gak ada petugas pelabuhan yang bertindak kalau ada yang kayak gitu?” tanya Sharell penasaran. Rupanya ia sedikit merasa takut juga
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN