“Ya itu ‘kan sudah di luar area pelabuhan. Jadi sebaiknya kalau kamu mau kesana sekedar jalan-jalan, kamu di jemput sama teman yang sudah tahu daerah sana. Atau, pakai jasa tour guide yang terpercaya biar mereka yang jemput. Supaya kamu gak sampai ditarik-tarik sama para sopir yang menawarkan jasa travel gelap itu.” Rio kedengaran meyakinkan.
“Ini kamu lagi ngarang cerita ‘kan ya?” Sharell berusaha kelihatan tidak percaya. Padahal dalam hati ia mendadak sedikit terpancing panik dengan omongan Rio. Padahal ia tidak perlu takut. Toh niatnya dia ‘kan tidak akan keluar dari pelabuhan. Turun dari kapal langsung cari tiket lagi untuk kembali.
“Ya terserah sih kalau kamu gak percaya. Saya cuma mengingatkan aja.”
“Eng … gampang lah, nanti aku pesan taxi yang jelas terpercaya aja. Biar taxi yang jemput aku.”
“Sayangnya taxi dari luar apalagi taxi online, gak ada yang berani jemput penumpang sampai ke depan pelabuhan Nona,” lagi-lagi Rio seperti sengaja memancing rasa takut Sharell.
Sharell hanya diam memilih tak meladeni lagi. Tiga jam perjalanan terasa seperti tiga tahun lamanya.
Tiga jam akhirnya berlalu. Perut Sharell sudah mulai keroncongan. Itu masih bisa di tahan. Yang paling penting sekarang memikirkan bagaimana cara agar tidak bersamaan keluar dari kapal ini dengan Rio. Dia pasti masih akan tanya-tanya ke kemana tujuan Sharell sebenarnya.
"Ayo kita siap-siap turun." ajak Rio.
'Duh, belum juga ketemu ide biar dia tak minta bareng. Udah keduluan dia ngajak turun lagi, gimana ya?' batin Sharrel sambil mulai celingukan gelisah.
"Eng, kamu duluan aja deh," jawabnya. Berharap Rio jangan banyak tanya dan cepat pergi.
“Yakin nih mau turun sendirian?”
“Iya, eng … aku mau ke toilet dulu. jadi turunnya nanti belakangan aja.” Sharell coba cari alasan.
“Oh, mau turun belakangan? Nunggu kapal ini sepi? Hati-hati lho,” Rio mulai bernada menakut-nakuti.
“Kenapa?”
“Ya sekedar mengingatkan aja sih, ini ‘kan kapal ya, kapal ini tuh kadang isi penumpang. Kadang kosong. Kalau siang jalan, mungkin malam kosong. Kebayang gak, kapal ini dalam keadaan kosong malam-malam? Kalau penasaran, cobain aja nunggu sepi orang turun semua baru deh kamu ke toiletnya. Biar kau tahu aja.” Wajahnya sekarang kelihatan tengil sekaligus jahil.
Sharell mencerna sebentar apa yang didengarnya barusan. Memang masuk akal juga, kapal bisa saja ada waktu istirahatnya dan dibiarkan kosong. Gak mungkin juga ‘kan dalam dua puluh empat jam berlayar terus. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kapal ini kan punya tim para awak kapal. Jadi walaupun sedang tidak berlayar, mana mungkin sih dibiarkan kosong begitu saja.
“Aku rasa gak mungkin kapal ini dibiarkan kosong begitu aja. Ini ‘kan kapal untuk pelayaran komersil, dan jelas ada para awak kapal yang bekerja. Jadi kalau lagi istirahat juga, pasti masih ada awak kapal yang bersihin atau ya keliling mengontrol kapal ini lah, bukan yang kosong banget. jadi gak ada alasan untuk aku membayangkan kalau toiletnya bakal sepi dan serem.” cerocos Sharell coba memberi penjelasan yang logis.
“Hmm, ya mungkin kamu benar juga sih, tapi kapal ini ‘kan luas banget, sedangkan awak kapal jumlahnya gak sebanding dengan luas kapal ini. jadi meskipun ada mereka, tetap aja lho kalau penumpang semua sudah pada turun, kapal ini bakal sepi banget. hening, suara pintu bergeser kedengaran, suara detik jam kedengaran, suara ….”
“Udah cukup.” Sharell menghentikan kalimat Rio. Sudah mulai terpancing kesal. “Kamu niat banget sih nakut-nakutin orang?”
“Bukan nakut-nakuitin, tapi aku cuma mau kasih tau. Jadi kamu gak nyesel nantinya kalau aku tinggal turun duluan. Aku kan sudah sering bolak-balok naik kapal kalau pulang kampung. Jadi berbagai cerita soal perjalanan di kapal aku sudah gak kehitung. Kamu mau dengar soal ….”
“Bajak laut bermata satu? Atau gurita raksasa?” Sharell menebak asal. Kalau bisa ingin dia sumbat mulut lelaki itu dengan kain lap dapur dan lakban agar tidak mengoceh menakut-nakuti terus.
“Bukan, tapi soal kapal yang pernah tenggelam dan semua penumpangnya terkunci di dalam. Kamu pernah kebayang gak kalau semua orang yang ada di kapal ini orang betulan?”
Sharell mulai sedikit dirasuki rasa takut. Kalimat Rio barusan memang singkat. Tapi wajah usilnya yang mendadak serius itu menambah kesan menakutkan.
“Jangan mengada-ada deh, yang gak-gak aja. Ya jelas semua orang betulan lah. emang ada orang-orangan sawah?” Sharell berusaha menepis rasa takutnya dan menganggap apa yag dia dengar barusan sebagai lelucon.
“Aku serius lho, jadi pernah ada cerita kapal tenggelam itu kejadiannya sekitar tahun ….”
“Eh, cukup! Cukup-cukup! Jangan cerita gituan dong, orang lagi naik kapal malah diceritain kapal tenggelam segala.
Memang sigadis keraton ini selain manja dan polos dia juga mudah dipengaruhi. Naluri penakutnya yang memang bawaan sejak kecil gampang terpancing dengan hanya secuil cerita dibumbui horror. Apa yang dia dengar langsung melekat di otak. Dan menciptakan imajinasi tersendiri.
Mendadak Sharell mengedarkan pandangannya. Lalu terlintas andai kata omongan Rio itu benar, andai kata memang diantara begitu banyaknya penumpang ada sosok yang bukan orang betulan.
“Kalau gitu aku gak jadi ke toilet deh,” ucap Sharell tiba-tiba.
Rio terkekeh. Ia sekarang yakin kalau gadis ini benar-benar polos.
“Mau turun bareng gak nih? Sebentar lagi kapalnya sampai.”
“Eng … kamu duluan aja deh,”
“Masih pengen turun belakangan dan nunggu kapalnya sepi?” Rio memasang wajah jahil lagi.
“Gak. Bukan gitu, ya maksudnya ….”
“Aku ingatkan juga nih, hati-hati kalau pas turun dari kapal dan berdesakan.”
“Kenapa lagi sih?” Sharell mulai kesal.
“Suka ada copet.” Rio kali ini setengah berbisik.
“Ih, apaan kali, mana mungkin?”
“Coba aja kalau gak percaya,”
Sharell lagi-lagi termakan omongan Rio. Ia perhatikan sekeliling dan mendadak merasa tidak aman. Ia kencangkan tas selempang yang ia kenakan lalu memeganginya erat-erat.
“Aku ikut turun bareng kamu deh, kalau di pelabuhan udah aman ‘kan?” tanyanya polos.
“Ya semoga. Tapi tetap berhati-hati.” jawaban Rio seperti sengaja dibuat agar Sharell terus terbawa semua omongannya.
Sharell benar-benar menyesal dengan perjalanan ini. Mulai lelah. Ingin rasanya kembali ke kasur empuk di kamarnya. Tapi tidak mungkin.