Cari Alasan

1133 Kata
Bunyi panjang klakson kapal terdengar. Kapal sudah tiba di pelabuhan dan menepi dengan sempurna. Pintu-pintu mulai di buka. Orang berbondong-bondong turun. Sharell mengikuti Rio dan mulai bergerak turun bersama yang lain. Kali ini sesuai arahan dari Rio dengan alasan melindungi dari bahaya copet, Rio meminta Sharell berjalan di depan dan ia mengikuti di belakangnya. Mereka akhirnya melewati jembatan panjang penghubung pelabuhan dan kapal besar itu. Kini mereka berjalan di area pelabuhan yang cukup megah. Orang banyak lalu-lalang tapi tidak berdesakan karena tempat itu begitu luas. Sharell melihat kesana-kesini. Ini adalah kali pertamanya ia menyebrang ke kota ini dan menginjakkan kaki di pelabuhan ini. “Kok kayak aneh gitu lihatnya? Baru pertama ya ke sini?” tanya Rio yang sejak tadi tidak henti diam-diam memperhatikan Sharell. “Iya, hehe. Ini baru pertama aku ke sini.” “Kok kamu juga kayak orang bingung gitu kalau jalan sendirian? Emang biasanya sama pacar ya?” Rio kedengaran iseng tapi diam-diam ia sedang mencari tahu. “Ih, gak lah, pacar apaan? Aku biasanya sama bib ….” Sharell buru-buru menutup mulutnya. Ia tidak mau sembarangan bilang kalau ia biasa kemana-mana dikawal oleh bibi. Sharell tidak mau kalau orang yang baru dikenalnya langsung memandangnya sebagai gadis kaya yang manja. “Siapa?” tanya Rio penasaran. “Oh, gak kok, eng … berhubung udah sampai sini, kayaknya sudah saatnya kita berpisah ya. Terima kasih banyak sudah jadi teman aku sepanjang perjalanan tadi. Setelah ini kita gak perlu bareng lagi ‘kan?” Sharell berusaha mencari cara agar Rio menjauh. Ia sambil mengedarkan mata menjelajah mencari posisi loket pemesanan tiket. Rasanya sudah tidak sabar ingin menyebrang kembali ke kota asal. Mencari hotel yang nyaman untuk menginap dan melanjutkan penyelidikan jarak jauh tentang Verrel. “Kamu nyuruh aku pergi duluan nih?” Rio sepertinya keberatan. “Lho iya, katanya ibumu sakit? Memang kamu gak mau cepat sampai rumah?” “Kamu sendiri?” “A-aku … aku nunggu temanku. Sesuai saran kamu tadi. Biar temanku yang jemput di sini.” Sharell mulai cari alasan. “Ok, kalau gitu aku pergi ya,” ucap Rio. “Iya silahkan.” Sahut Sharell. Dalam hati ia berharap pria ini betul-betul pergi. “Kamu gak mau minta nomor ponsel aku?” “Hah?” Pertanyaan Rio membuat Sharell sedikit bergidik. “Ya, kita sudah jadi teman ‘kan? Masa tukeran nomor ponsel gak boleh?” Rio sedikit mulai berani. “Eng … Ponselku lagi mati.” Sharell mulai menjawabnya dengan ketus. “Tapi kamu hafal nomor kamu sendiri ‘kan? Sebut aja, biar aku yang simpan nomor kamu.” “Hah? Eng … jangan deh,” “Kok gitu? Kenapa? Takut pacar kamu marah?” “Bukan, siapa juga yang punya pacar.” Sharell dengan polosnya keceplosan. Sedetik kemudian dia baru sadar kalau kalimatnya salah. “Nah, ga ada alasan dong untuk gak kasih nomor ponsel kamu?” Sharell tidak langsung menjawab. Matanya beredar ke sekeliling. Terpampang di sana papan penunjuk arah. Sharell langsung punya ide. “Aku mau ke toilet dulu, itu toiletnya di sana ‘kan? Bye, terima kasih ya,” buru-buru Sharell berlari meninggalkan Rio. Ia masuk ke dalam toilet. Selain memang ingin buang air, ia juga sekalian menghindar. Setelah selesai Sharell berdiri di depan cermin besar di toilet. Ia merasa sedikit tenang. Rio pasti sudah pergi jauh. Pikirnya. Terlihat seorang wanita mengenakan seragam petugas pelabuhan baru saja keluar dari bilik toilet. Sharell langsung mengambil kesempatan untuk bertanya. “Mbak, maaf, kalau kapal yang ke Ibu Kota, paling cepat jam berapa ya?” Wanita yang sedang merapikan diri di depan cermin itu menoleh pada Sharell lalu tersenyum. “Oh, paling cepat yang mau berangkat ….” Kalimatnya terjeda sesaat. Ia melirik angka pada arloji di tangannya. “Lima belas menit lagi.” “Hah? Lima belas menit lagi?” “Iya,” “Kalau yang berikutnya?” “Yang berikutnya kurang lebih satu jam lagi.” “Oh, ok Mbak, terima kasih ya,” Sharell menghela napas sambil sejenak berpikir. Rasanya belum siap kalau harus melakukan perjalanan tiga jam lagi seperti tadi. Belum lagi kalau nanti di perjalanan ada yang aneh-aneh. Ok, Sharell memutuskan untuk naik kapal yang berikutnya saja. Lagi pula tidak ada salahnya menikmati suasana pelabuhan ini sesaat. Sharell kemudian keluar dari ruang toilet. Langkahnya tenang melenggang. Ia ingin mencari tempat makan untuk mengisi perutnya yang sejak tadi menahan lapar. “Lama banget di toiletnya,” suara seseorang dari arah belakang membuat Sharell terperanjat. “Astagfirullah! Kamu ngapain?” Sharell benar-benar tidak menyangka Rio masih ada di sini dan mengikutinya. “Aku nungguin kamu. Kalau aku udah dapat nomor ponsel kamu, dan kita berteman, baru aku pergi.” Ujarnya tanpa ragu. Ia sudah berani agresif sekarang. Sharell mencoba berpikir tenang dan meyakini kalau Rio hanya ingin berteman. Lagi pula kalau terus dibuntuti seperti ini rasanya terancam juga. “Ok, Setelah aku kasih nomor ponsel aku, kita jalan masing-masing ya,” “Ok, deal.” Sharell akhirnya bisa bernapas lega. walaupun terpaksa ia memberitahukan nomor ponselnya pada Rio. Ia berusaha menganggap ini hal wajar saja. hal normal. Hanya sebuah perkenalan iseng. Toh kalau suatu hari nanti Rio mengganggunya lewat telepon, ia tinggal blokir saja nomornya dan masalah selesai. Penglihatan Sharell mulai menjelajah memilih tempat makan di pelabuhan ini setelah Rio berpamitan pergi. Tidak ingin berlama-lama, Sharell akhirnya masuk ke sebuah tempat. Tempat makan yang cukup luas. Terlihat nyaman dan pengunjungnya tidak terlalu ramai. Sharell duduk selepas memesan makanan. Ia hanya memesan satu paket nasi ayam dan minuman soda dingin. Kali ini ia benar-benar bisa duduk tennag sambil meluruskan kaki. Andai saja perjalanan kali ini lebih terencana dan tidak sekonyol ini. Kota ini sebenarnya kota yang indah untuk dikunjungi. Sudahlah, angan-angan itu tak terlalu penting sekarang. Yang terpenting ia mengisi perut lalu bersiap menaiki kapal selanjutnya untuk kembali ke Ibu Kota. Sharell menyantap makan siangnya dengan santai. Tiga puluh menit berlalu dan makanan itu belum habis. Iya, dia memang lama kalau makan. Dan sekarang dia benar-benar sedang menikmati momen makan siang sendirian pertama sepanjang hidupnya. Sebelumnya, mana pernah ia dibolehkan keluar rumah sendirian. “Ehm, boleh dong aku ikutan makan,” suara seseorang membuat Sharell nyaris tersedak. Sharell buru-buru minum dan menoleh dengan wajah cemas. “Rio? Kok masih di sini?” tanyanya sedikit kesal. “Emang gak boleh?” Rio langsung ambil posisi duduk di hadapan Sharell. “Ya tadi ‘kan kita udah deal. Kamu pergi kalau udah dapat nomor ponsel aku.” “Jadi kamu ngusir nih?” Sharell mendadak merasa tak enak hati. “Ya bukan gitu juga,” ‘Duh, gimana ini? kenapa dia balik lagi? Apa aku jujur aja ya kalau aku mau balik lagi ke Ibu kota? Tapi kalau dia rese malah mau ikut gimana? Gimana ini? Katanya tadi ibunya sakit, bukannya langsung pergi buru-buru?’ batin Sharell. Kedatangan Rio saat ini benar-benar mulai membuatnya resah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN