“Aku perhatikan kamu makan sendirian dan udah setengah jam gak kelar-kelar, emang teman kamu belum datang?” tanya Rio.
“Kok kamu tahu aku dari tadi di sini? Kamu diam-diam ngikutin aku ya?”
Rio hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. “Tadinya gak niat mau ngikutin, tapi mendadak kasihan aja lihat kamu sendirian.” ujarnya cari alasan.
“Ih, aku gak apa-apa kok, temanku juga sebentar lagi datang.” Sharell terus berusaha meyakinkan agar pria ini segera menyingkir.
“Tapi sampai sekarang belum kelihatan,”
“Lagi OTW.” Ucap Sharell meyakinkan. Padahal tidak ada siapapun yang ia tunggu.
“Ya udah, aku tungguin deh sampai teman kamu datang.”
Sharell benar-benar pusaing dengan kelakuan pria yang baru dikenalnya ini. iya, kelihatannya baik. Tapi lama-lama bikin risih juga.
Sementara kapal yang ditumpangi Verrel hampir tiba. Kapal itu berangkat hanya selisih satu jam setelah keberangkatan kapal yang ditumpangi Sharell. Pria itu sedikit panik. Berharap cukup waktu mengejar Sharell. Atau paling tidak, kalau sudah ada di kota yang sama, ia bisa berusaha mencari keberadaan gadis itu.
Rio benar-benar membuat Sharell kehabisan akal cari alasan. Akhirnya mereka berdua menghabiskan waktu mengobrol banyak hal di tempat makan itu. Sharell mulai menyadari kalau ia sudah tidak mungkin naik kapal berikutnya untuk kembali ke ibu kota. Sudah ketinggalan. Sejak tadi ia mendengarkan Rio bercerita banyak hal tentang pekerjaan, tentang kuliahnya dulu dan masih banyak lagi. Ia hanya mengangguk-angguk saja tanpa berani bercerita sebaliknya. Lama kelamaan, Rio memang kelihatan baik. Ya walaupun sedikit berlebihan.
“Oh, jadi kamu dulu kuliah sambil kerja gitu? Hebat dong, terus sekarang kerjanya masih?” tanya Sharell menanggapi cerita Rio.
“Masih. Masih di departemen export import perusahaan textile.” Sahutnya percaya diri. “Gantian dong cerita, kamu dari tadi iya-iya aja. Cerita dong kamu dulu kuliah dimana? Rumah kamu dimana?”
“Eng … kuliah biasa aja kok, rumah aku ya di Ibu kota.” Sharell enggan menyebutkan tentang siapa dirinya. Mamanya memang selalu mengajari untuk tidak terlalu terbuka pada orang lain yang baru di kenal. Karena kadang orang akan langsung berbeda sikap ketika tahu status sosial berbeda.
“Mana ada kuliah biasa aja? Ya sebutin lah, jurusan apa? Di kampus mana?”
Sharell hanya tersenyum. Hanya dengan menyebutkan nama kampusnya orang akan langsung paham kalau dia bukan kalangan sembarangan.
“Gak penting lah bahas aku, bahas yang lain aja,” ia coba alihkan pembicaraan.
“Hmm, cewek suka gitu ya kalau baru kenal takut ya nyebutin identitas terlalu lengkap?” pertanyaan Rio memancing.
Sementara kapal Verrel sudah menepi. Sepanjang jalan tadi ia sibuk mengatur ulang semua jadwal meeting yang sudah terlanjur dibuat dengan para klien bisnisnya. Sekarang ia bersiap turun dari kapal. Verrel putar otak. Ia ragu kalau Sharell masih ada di dalam pelabuhan. Mengingat perjalanan mereka selisih satu jam. Tapi kalau mau langsung keluar pelabuhan mengikuti rute yang disediakan untuk mobil, Verrel juga bingung harus mencari gadis itu kemana.
Entah kenapa nalurinya menuntun untuk menyusuri pelabuhan lebih dulu sebelum memutuskan mencari ke tempat lain. Berharap ia masih bisa menemukan Sharell di tempat ini.
Verrel akhirnya memarkir mobilnya. Ia lalu masuk ke pelabuhan mengikuti rute yang disediakan untuk penumpang. Sorot mata elangnya menjelajah ke setiap sudut. Belum ada tanda-tanda keberadaan Sharell. Hingga pada sebuah tempat, ia akhirnya menangkap keberadaan gadis itu.
“Sama siapa dia?” guman Verrel bertanya sendiri. Langkahnya segera ia percepat.
Sharell yang masih terpaksa meladeni obrolan Rio begitu terkejut ketika melihat Verrel tiba-tiba muncul di dekatnya. “Ve-Verrel? Kok ada disini?” tanyanya reflek. Antara senang dan terkejut. Ia pikir akan sia-sia naik kapal menyebrang karena jelas ia lihat tadi Verrel tidak naik kapal. Tapi sekarang pria ini ada di sini.
‘Duh, iya sih, tadi naik kapal sengaja ngikutin dia. Tapi kenapa harus ketemu begini? Terus, kok dia nyamperin aku sih?’ Sharell mulai komat-kamit dalam hati.
“Eng … saya cuma memastikan aja kalau saya gak salah lihat.” ucap Verrel penuh gengsi. Dia tidak mau mengakui kalau susah payah sengaja mengejar Sharell karena khawatir.
“Maksudnya? Gak salah lihat gimana? Kok bisa pas kamu ada disini? Emang kamu mau ngapain?” Sharell berlagak angkuh.
“Ya … saya tadi lihat kamu ikutin mobil saya terus tiba-tiba naik kapal.” Verrel mulai kebingungan mau bicara apa.
“Hah? Ngikutin mobil kamu? GR! Aku jelas ke sini buat liburan. Kamu tuh yang ngikutin aku. Katanya kamu mau pulang ‘kan habis dari rumahku tadi? Terus ngapain sampai ke sini?” Sharell terus berlagak angkuh dan mengambil kesempatan berbalik menyudutkan Verrel. Padahal dalam hati ia sedang gugup dan takut ketahuan.
“Liburan? Liburan apa? Sama siapa kamu liburan?” tanya Verrel mulai terpancing.
“Sama … sama Rio,” seru Sharell tak mau kalah. Sudah terlanjur. Dia menangkap reaksi Verrel yang kelihatan percaya begitu saja.
Rio bengong mendengar percakapan dua orang ini. Verrel seketika diam. Ada sedikit rasa kecewa. Sharell yang dikenalnya selama ini begitu tertutup, patuh pada orang tuanya dan kemana-mana selalu didampingi bibi dan sopir sekarang berani berlibur dengan teman laki-laki tanpa pengawalan.
“Ayo Rio, kita pergi sekarang. Gak jelas nih orang, gak usah ngurusin dia.” Sharell beranjak menyeret kopernya diikuti Rio yang mengekor.
Verrel berusaha mengendalikan hatinya. Ia tidak percaya begitu saja. Gelagat Sharell kelihatan aneh tadi. Diam-diam ia memutuskan cepat kembali ke mobil dan menunggu mereka di pintu keluar.
“Tadi pacar kamu?” tanya Rio bingung sambil terus mengikuti langkah Sharell yang terburu-buru.
“Bukan!” jawab Sharell ketus.
“Ya jangan galak-galak dong, terus dia siapa? Kok kamu kayak menghindar?”
“Udah deh jangan banyak tanya, nanti aku ceritain.”
“Terus kamu gak jadi nunggu teman kamu?”
“Nanti aja, sekarang kita cepat pergi dari tempat ini.”
“Kamu mau kemana? Kalau teman kamu nanti nyariin kamu di sini gimana?” Rio terus bertanya dengan heran.
“Gak bakal.”
“Atau jangan-jangan teman kamu memang gak ada?” Rio mulai curiga.
Sharell langsung menghentikan langkahnya. “Pokoknya jangan banyak tanya dulu. tolong anterin aku ke tempat aman yang terdekat buat menginap.” Terpaksa Sharell mengatakannya.
“Oh, ok. aku antar ke resort terdekat ya,”
“Ya udah cepetan bawel,” Sharell melangkah sambil emmperhatikan papan penunjuk jalan mencari pintu keluar.
Di belakangnya Rio mengekor lalu mempercepat langkah agar bisa berjalan di samping Sharell.
“Kok aku yang dikatain bawel, tadi aja kamu gak mau bareng sama aku, sekarang bilang suruh cepat?” Protes Rio
“Ih, gak usah banyak ngomong deh, kalau gak, aku bayar kamu jadi tour guide aja. Tapi cukup antar aku sampai ke penginapan terdekat. Tapi kamu jangan banyak tanya terus.”
“Hah? Jadi tour guide?”