Angkutan Kota

1087 Kata
“Iya, kamu sendiri ‘kan yang bilang tadi. kalau mau aman pakai jasa tour guide terpercaya. Karena aku belum tahu jalan di kota ini.” Sharell sebenarnya sengaja cari alasan. “oh ok kalau begitu, tapi kali ini aku mau ajak kamu naik angkutan umum saja ya, nanti biaya jasa tour guide aku bisa kita bicarakan lagi.” kata Rio sambil mesam-mesem. “Terserah deh, mau naik apa kek, pokoknya kita pergi dulu dari pelabuhan ini.” Mereka tiba di pintu keluar. Sharell sengaja berjalan lebih dekat dengan Rio tapi tak mau sampai menggandeng tangannya. ia larikan pandangan ke sekeliling. Sepertinya cerita Rio tentang travel alias taxi gelap itu memang benar adanya. Mungkin ini juga yang jadi alasan Rio lebih memilih mengajak Sharell naik angkutan umum alias angkot dan yang bukan taxi. “Kita ke sebelah sana,” Rio menunjukkan jalan. Lumayan juga, Sharell harus menyeret koper dan berjalan cukup jauh untuk sampai di tempat yang sepertinya menjadi halte untuk para penumpang kapal yang baru keluar dari pelabuhan daningin menunggu angkutan umum berikutnya. “Tunggu dong, capek banget,” Sharell ketinggalan Rio beberapa langkah. Ya, seumur-umur dia memang belum pernah begini. berjalan jaun menyeret koper. Apalagi yang dituju ternyata halte untuk menunggu angkutan umum. Dalam hati Sharell sudah terbayang kalau kelelahannya belum akan berujung. ‘Pokoknya aku harus cari hotel yang bagus, aku mau istirahat dulu. kalau bisa spa sekalian. Baru nanti kalau udah gak capek, aku ke pelabuhan lagi untuk naik kapal pulang.’ batin Sharell. “Cepetan, nanti angkotnya keburu datang,” teriak Rio dari jarak beberapa langkah. Sharell terengah-engah lalu bersandar di halte itu. diam-diam dari seberang jalan sana, Verrel memperhatikan gerak-gerik dua orang ini. sejak di pintu keluar tadi dia sudah menunggu. Dan saat tahu arah langkah mereka ke halte ini. Verrel langsung cepat ambil posisi. “Rio, ini ‘kan udah aman. Udah jauh dari pangkalan taxi gelap tadi. Emang gak bisa apa kalu kita pesan taxi aja? Aku … aku belum pernah ….” Sharell langsung menahan kalimatnya sendiri. Kalau sampai dia bilang belum pernah naik angkot yang ada Rio bisa semakin bertanya macam-macam. “Belum pernah apa? itu dia angkotnya datang,” Ia menunjuk ke sebuah mobil minibus berwarna biru muda yang mendekat. Sharell mendaak gugup. Aneh juga, mau naik angkot saja gugup dan berdebar seperti mau dijemput pacar. Sebenarnya ini lebih karena pengalaman pertama. Sharell takut nantinya bingung atau tidak tahu bagaimana cara membayarnya dan berapa ongkos yang harus dibayar. “Ayo,” ajak Rio. Pria itu mempersilahkan Sharell naik duluan. Saat mobil mini bus dengan pintu menghadap samping itu berhenti tepat di depan Sharell, Sharell malah semakin kebingungan. Canggung untuk naik. Apalagi di dalamnya terlihat sudah ada beberapa penumpang lain. “Gimana?” tanya Sharell lirih. “Gimana apanya? Ayo cepat naik,” kata Rio sekali lagi. Dari seberang sana di dalam mobil Verrel terus memperhatikan. Rasanya ingin turun dan meminta Sharell naik ke mobilnya saja. dari jauh saja terlihat jelas gerak-gerik Sharell yang kikuk dan tidak nyaman saat hendak naik angkutan umum itu. tapi rasanya mengingat sikap Sharell saat di dalam pelabuhan tadi, terlalu tidak mungkin. yang ada Sharell bakal menolak atau marah karena Verrel ketahuan mengikutinya lagi. “I-iya deh,” Sharell akhirnya melangklah masuk setelah menaikkan kopernya lebih dulu. matanya menjelajah mencari tempat kosong. Maksudnya tempat duduk yang paling tidak, tidak terlalu berdesakan dengan yang lain. Tapi tidak ada. Mau tidak mau dia duduk bersama penumpang lain dengan posisi bahu yang saling bersenggolan. Rio pun ikut naik dan duduk tepat di sebelah Sharell. Kalau boleh digambarkan menurut Sharell ini kendaraan paling super tidak nyaman dan dia ingin segera turun dan sampai. Risih rasanya berdesakan di kendaraan dengan orang yang tidak dikenal. “Gimana? seru ‘kan naik angkot?” tanya Rio dengan nada meledek setelah kendaraan itu melaju. Sharell hanya menunduk tidak mau menjawab. Malas. Dan kesal bercampur menjadi satu. “Ini gak lama ‘kan perjalanannya?” tanyanya tanpa menoleh. Lagi-lagi mendengar pertanyaan yang polos begini Rio entah punya niat apa. “Ya paling dua jam.” Jawabnya iseng. “Hah? Dua jam?!” Reflek Sharell setengah berteriak. Dia yang sejak tadi menunduk langsung menoleh dengan penuh tanya ke arah Rio. “Jangan teriak-teriak dong Mbak, kayak di hutan aja,” penumpang yang duduk di sebelah sharell langsung protes. Sharell langsung salah tingkah dan tidak berani menatap ke orang itu. tatapannya tajam pada Rio. Terlihat jelas wajah tengil dan usil di sana. Dalam hati Sharell yakin kalau yang ia dengar barusan adalah akal-akalannya saja. “Aku ‘kan minta diantar ke hotel terdekat.” Bisiknya dengan geram. “Masa hotel terdekat jaraknay dua jam?” “Hehe, gak kok, tenang aja.” sahut Rio meledek. Sedikit bisa bernapas lega karena omongan barusan ternyata benar hanya omongan iseng. Tepat di belakang angkot tersebut, Verrel terus membuntuti. Tentunya dengan menjaga jarak. Dia penasaran ingin kemana Sharell pergi dengan kendaraan itu. perasaannya juga bercampur rasa khawatir karena sebagai lelaki, ia mempunyai firasat ada gelagat yang kurang baik pada pria yang bersama Sharell saat ini. Di dalm angkot mendadak terdengar bunyi dering ponsel yang nyaring. Sharell juga ikut kaget dan sempat menggerutu lagi di dalam hatinya. ‘Siapa sih pakai dering ponsel sekeras itu? Memangnya kalau gak keras banget begitu gak kedengaran?’ batinnya. Ternyata Rio yang terlihat nyengir lalu mengeluarkan ponsel dari saku. “Hehe, maaf-maaf,” ucapnya ditujukan ke semua orang karena memang seisi angkot itu terlihat terganggu dengan bunyi ponselnya. Rio menjawab panggilan ponsel tersebut dengan gelagat aneh, berbisik lalu celingukan tak jelas. Beberapa kali ia garuk-garuk kepala seperti orang kebingungan. “Stop-stop Pak, kiri Pak,” teriaknya saat ponsel sudah kembali dimasukkan ke saku. Sharell bingung. Ia ikut celingukan dan berpikir kalau mereka sudah sampai. “Turun di sini?” tanyanya. “Iya, aku mau turun di sini.” jawab rio. Sharell ikut turun begitu saja. ia merogoh saku tapi bingung harus membayar berapa pada angkot itu. “ini ongkosnya berapa?” tanyanya pada Rio. “Udah gak usah, aku aja.” Rio menyerahkan uang pada sopr angkot. Angkot itu langsung pergi. Sementara mobil Verrel sudah mengambil posisi berhenti dengan jarak yang lumayan agar tetap aman dan tidak ketahuan. “Rio, hotelnya sebelah mana? Jangan bilang kita harus jalan lagi? kaki aku udah pegel banget nih. Emang angkotnya gak berhenti di depan hotelnya banget? kok belum kelihatan apa-apa di sini?” cerocos Sharell bertanya. Rio tidak langsung menjawab. Malah celingukan seperti mencari sesuatu. “Rio, cari apa sih? Jangan bilang kita harus naik angkot lagi? Gak ‘kan?” Sharell mulai merasa ada yang aneh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN