“Sharell, sorry banget ya, saya gak bisa nemenin kamu lagi nih. Saya harus pergi sekarang. Itu sebelah sana ada resort dan hotel, kamu bisa kesana. Ok, bye!” Rio berlari begitu saja menjauh dari hadapan Sharell. Entah dari mana datangnya, mendadak ia masuk ke sebuah mobil yang seperti sudah sengaja menjemputnya.
Sharell terpaku. Kaget, bingung, panik dan tahu harus bagaimana. Tidak terbayang Rio akan meninggalkannya di Jalan seperti ini. Ingin marah dan kesal juga percuma. Sudah terlanjur sampai di sini. Lagi pula mendadak gelagat Rio terlihat aneh selepas menerima panggilan telepon tadi. Sharell juga jadi takut. Apalagi melihat ia mendadak dijemput mobil yang tidak jelas dari mana dan mau kemana.
Sekarang Sharell sendirian di pinggir jalan. Ia celingukan. Ini jalan utama antar provinsi. Yang melintas bus-bus besar dan truk-truk pengangkut barang. Seorang gadis cantik membawa koper berdiri di pinggir jalan sendirian seperti ini tentu mengundang perhatian. Sekarang Sharell benar-benar takut. Ia menajamkan pandangan. Melihat hotel dan resort yang ada lumayan jauh di seberang jalan sana. Sepertinya tempat itu menjadi tempat paling aman saat ini. Kalau hati sudah tenang dan merasa situasi sudah aman dia bisa pergi lagi ke pelabuhan untuk kembali ke kota asal.
“Ok, aku ke hotel itu aja deh, sekalian istirahat dulu.” ucap Sharell sambil lanjut melangkah mencari tempat yang aman untuk menyebrang.
Diam-diam dari jarak yang lumayan tidak terlihat oleh Sharell, Verrel memperhatikannya. Sejak bertemu di pelabuhan dan melihat Sharell bersama Rio hati Verrel sudah tak tenang. Gelagat mencurigakan dari Sharell dan Rio di pelabuhan tadi membuatnya tidak percaya kalau Rio benar-benar teman Sharell. Apalagi mendengar pengakuan gadis itu kalau ia datang jauh-jauh ke sini untuk berlibur. Padahal jelas-jelas ia sudah sadar kalau Sharell bisa sampai ke pelabuhan gara-gara membuntutinya. Lagipula ia yakin sekali Sharell bukan gadis yang sembarangan saja diijinkan pergi liburan dengan teman pria tanpa pengawalan.
Sharell sedang bersiap untuk menyebrang. Tiba-tiba saja melintas dua orang pria bermotor yang mendadak berhenti tepat di dekat Sharell. Dari kejauhan Verrel langsung menangkap ada sesuatu yang tidak beres.
Sharell yang panik langsung mempercepat langkahnya dan berlagak tidak menghiraukan kemunculan mereka.
“Hei cantik, jangan buru-buru jalannya. Mau kemana sendirian aja? Mending ikut sama kita.”
Sekarang Sharell benar-benar ketakutan. Seumur-umur belum pernah ia mengalami kejadian seperti ini. ia berusaha cepat menyebrang sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Hei! Jangan kabur, sini serahin tas kamu!” Salah satu dari mereka mencoba merebut tas yang dipakai Sharell. Tapi sebisa mungkin gadis itu mempertahankannya. Pria itu lalu menarik tangan Sharell. Terlihat ada gelang berkilauan di sana.
Sharell yang terlalu terkejut dan panik malah tidak bisa bersuara. Jangankan berteriak, mulut rasanya terkunci. Verrel langsung tancap gas. Dua pria itu panik melihat ada mobil yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Mereka langsung kabur setelah berhasil merampas gelang dari tangan Sharell.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Verrel panik saat turun dari mobil.
Sharell masih membisu. Wajahnya pucat dan gemetar.
“Ayo aku antar.” Verrel mempersilahkan Sharell masuk ke mobilnya. Tanpa banyak berpikir lagi Sharell ikut masuk.
Verrel mengangkat koper kecil yang dibawa Sharell dan menyimpannya dalam bagasi. Ia kemudian bersiap duduk dibalik kemudi. Sejujurnya ia sekarang berdebar tak karuan. Ini kali pertamanya bisa satu mobil dengan Sharell hanya berdua. Ia perhatikan wajah Sharell masih beku. Gadis itu pasti begitu ketakutan dengan kejadian tadi. Ingin menyuruh Sharell memakai seatbeltnya rasanya takut salah berucap. Akhirnya ia biarkan saja dan langsung melaju.
Beberapa ratus meter berlalu, Verrel mampir berhenti di sebuah minimarket.
“Kamu tunggu di sini ya, tunggu.” Ia turun dan dengan cepat masuk ke mini market itu. tak lama keluar setelah membeli air mineral botol dan beberapa makanan ringan. “Ini, diminum dulu,” Verrel menyodorkan nya pada Sharell.
Sharell menoleh. Tatapannya jatuh pada sepasang mata elang Verrel. Hatinya mendadak merasa teduh.
“Keras tau bukanya, kalau mau nolongin orang jangan setengah-setengah dong! Dasar cowok es batu!” mulut gadis ini malah nerocos asal saja setelah kesulitan membuka tutup botol air mineral yang dibelikan oleh Verrel.
Verrel geleng-geleng. Ia meraih botol air mineral itu. Membukakannya untuk Sharell dan menyerahkan kembali pada gadis itu.
“Dasar cewek manja. Gak sopan lagi, minta tolong baik-baik dong,” gerutu Verrel saat Sharell sedang meneguk air pemberiannya.
“Uhuk!” Sharell seketika tersedak. “Apa kamu bilang? Cewek manja? Gak ngaca ya, dasar cowok es batu!”
“Tuh ‘kan ngatain orang seenaknya aja,” balas Verrel.
“Kamu juga seenaknya aja ngata-ngatain manja!” Sharell tidak mau kalah.
“Ya jelas lah, kalau bukan manja apa namanya? Pakai pura-pura mau liburan lagi ke sini, jelas-jelas kamu ngikutin saya ‘kan?”
“Ngikutin? Heh, dasar GR!”
Entah kenapa mereka bertengkar. Mereka saling diam setelahnya.
‘Duh, kenapa sih yang nolongin harus dia? Terus kenapa juga sih aku harus sampai ke pulau ini? Sebel, sebel, sebel, sebel! Ngeselin!’ batin Sharell.
“Mau aku antar pulang atau kemana?” tanya Verrel setelah beberapa menit.
Sharell bingung mau jawab apa. Beberapa detik ia diam karena tidak punya jawaban.
“Kalau ditanya itu jawab, jangan diam aja.”
“Iiiih!” Sharell malah menggeram kesal. Ucapan Verrel yang barusan memang benar-benar menggambarkan kaku dan dinginnya pria ini. “Ternyata kamu itu selain es batu juga super jutek! Pantesan dari jaman sekolah kamu gak punya teman.” seru Sharell.
“Wah, nih cewek kelewatan ya. Udah ditolongin ga bilang terima kasih, ngatain seenaknya, sekarang sembarangan aja menilai orang.” balas Verrel dengan wajah dingin.
“Ya emang kayak gitu ‘kan?! Kamu emang gak punya teman. Dan sekarang aku baru tahu alasannya kenapa kamu gak pernah punya teman.”
Verrel kali ini diam. Ia menarik napas dalam untuk meredam agar tidak terpancing emosi dengan tingkah Sharell.
“Gak usah sok nolongin. Aku bisa sendiri. Aku mau turun di sini aja!” Sharell seakan lupa dengan apa yang baru saja menimpanya. Ia mulai sok berani padahal dalam hati masih ketakutan.
“Jangan aneh-aneh, nanti kalau ada yang jahatin kamu lagi gimana?” ucap Verrel dengan datar dan dingin.
“Buktinya aku baik-baik aja. Nih, semua masih utuh!” Sharell memperlihatkan tas yang ia pakai. Perlahan ia baru sadar kalau ada sesuatu yang hilang. “Eh, ge-gelang aku ….” Wajahnya mulai panik. Ia ingat-ingat lagi kejadian tadi. “Ya Allah, gelang aku, pasti diambil sama orang-orang tadi.” Suaranya mendadak lemas. Itu adalah gelang kesayangan pemberian mamanya yang sudah bertahun-tahun melekat.