"Kan saya udah bilang, si sini itu gak aman. Sekarang sebut aja mau minta diantar kemana? Atau mau pulang sekalian?” tanya Verrel sekali lagi.
“Kok kamu bisa bilang gitu? Lagian juga, kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Jangan-jangan orang-orang itu suruhan kamu?” tuduh Sharell sembarangan.
Wajah Verrel langsung merah padam menahan marah. “Jangan nuduh sembarangan. Saya ada di sini karena saya ngikutin kamu. Saya khawatir lihat kamu diantar laki-laki yang baru kamu kenal di pelabuhan tadi. Lagian ngapain saya melakukan hal murahan kayak gitu? Nyuruh orang buat celakain kamu? Kamu pikir saya kurang kerjaan?”
Sharell terkejut. ia tidak menyangka Verrel begitu peduli sampai rela mengikutinya. Dan ternyata benar omongan Verrel, Rio mendadak meninggalkannya di jalan tadi. Ia kini membisu dan tanpa sadar sesaat memandang wajah Verrel dengan tatapan dalam.
“Kenapa? Terkesima? Ya saya emang gini kok, tampan dan baik sejak lahir.” Celetuk Verrel tiba-tiba.
Sharell langsung membuang tatapannya. “Jangan GR ya es batu! Udah cukup, aku mau turun di sini. dan jangan ikutin aku lagi. Aku bukan anak manja! Aku bisa jaga diri sendiri.”
Verrel kembali menahan kesal dengan tingkah Sharell.
“Ok. silahkan turun.”
“Hah?” Sharell kaget.
“Kok kaget? Tadi bilang mau turun. Silahkan,” wajah dingin Verrel sekarang terlihat angkuh.
“Ok!” Sharell turun.
Kaget bukan main saat ia baru selangkah turun Verrel mobil Verrel langsung mundur perlahan. Sharell langsung balik badan dan meggedor mobil Verrel sekenanya.
“Heh, mau kemana? Buka, buka!” teriaknya.
Di dalam mobi Verrel geleng-geleng kepala. Ia berhenti sebentar lalu membuka kaca jendela.
“Tadi katanya mau turun di sini aja, kok manggil lagi? Gimana? udah berubah pikiran?” tanya Verrel.
Sharell langsung pasang tampak super jutek. “Heh, siapa yang berubah pikiran? Aku minta kamu berhenti karena koper aku masih ada di mobil kamu.”
Senyum ledekan yang hampir terukir di bibi Verrel jadi batal. Wajahnya langsung berlagak ketus dan tidak kalah jutek dengan gadis yang jadi lawan bicaranya.
“Silahkan ambil,” ucap Verrel tanpa turun atau membantu.
Sharell langsung menuju bagian belakang mobil Verrel. Sekali lagi ia menggedor-gdor bagian pintu bagasi.
“Dasar cewek bar-bar, dari tadi main gedor-gedor aja.” Tidak tega, akhirnya Verrel turun juga untuk membantu.
Ia membuakakn pintu bagasi mobilnya lalu menurunkan koper itu. Sharell menerimanya. Dan lagi-lagi tanpa mengucapkan terima kasih.
“Gak ada yang ketinggalan lagi ‘kan?”
“Gak ada,” jawab Sharell dengan angkuh. Dalam hati diam-diam ia berdebar. Mendadak takut kalau sendirian lagi di tempat yang masih sangat asing ini.
“Ok, bye.” Verrel kembali masuk ke mobilnya. Tanpa banyak basa-basi lagi mobilnya cepat ambil posisi mundur dan melaju meninggalkan tempat itu.
Sharell duduk di depan minimarket itu dengan perasaan kacau. Kesal.
“Kok dia beneran pergi sih? Dia beneran pergi gitu aja? Dasar es kutub! Terus gimana ini cara balik ke pelabuhan?” ia bicara sendiri dengan wajah manyun dan kaki yang mulai menghentak-hentak di lantai seperti anak TK yang sedang ngambek.
Sharell menoleh ke kanan dan ke kiri. Masih ada perasaan takut. Ingin menuju hotel yang terdekat mendadak takut gara-gara kejadian di jalan tadi.
“Sumpah kesel! Kenapa sih bisa sampai sini?! pengen pulang, tapi gimana?” dia terus mengoceh sendiri sambil duduk di kursi tunggu yang di sediakan depan mini market.
Dari kejauhan Verrel diam-diam masih mengawasinya. Ia tak sampai hati mau meninggalkan Sharell begitu saja di kota yang asing ini.
“Dasar cewek aneh, jelas-jelas dia sampai ke sini gara-gara ngikutin saya. Tapi gak mau ngaku. Mana sok galak lagi. saya harus cari tahu mau ngapain dia ngikutin saya sampai ke sini. Bikin repot aja, gak niat kesini jadi kesini gara-gara lihat dia naik kapal.” Sambil mengintai, Verrel bergumam sendiri. Ia benar-benar khawatir pada Sharell. Dengan serentetan kejadian tadi. Mulai dari pria asing bernama Rio sampai orang-orang yang berniat jahat di jalan. Tidak terbayang kalau Sharell benar-benar sendirian. Verrel memilih diam di tempat. Terus mengawasi gadis itu sampai terlihat aman.
“Oh iya, Clara!” seru Sharell tiba-tiba. “Iya, Clara ‘kan kerja di kota ini. aku harus cepat telepon dia!”
Dengan cepat Sharell mengaktifkan kembali ponselnya. Ia sepertinya lupa kalau sedang menghindari telepon dari orang-orang rumah. Saat ponsel aktif, puluhan pesan masuk dari ibu dan adiknya. Sharell langsung melotot panik. Ia tidak boleh terlalu lama membiarkan ponsel ini aktif. Bisa-bisa orang rumah akan kembali menelepon.
Cepat-cepat ia menghubungi nomor Clara. Beruntungnya nomor tersebut aktif. Beberapa kali dihubungi akhirnya mendapat jawaban.
“Hallo,” suara Clara dari ujung telepon.
“Hallo Clara,” Sharell penuh harap.
“Iya, ini Sharell ya?”
“Iya Ra, ya ampuuuuun tolongin aku Ra, tolongiiiiiiiiin,”
“Hah? Kenapa? Udah lama gak telpon tiba-tiba tolong-tolong gini? Ada apaan?” Clara sedikit bingung. Gadis itu adalah sahabat Sharell semasa kuliah. Mereka sudah lama tidak bertemu semenjak lulus. Clara mendapat panggilan kerja di kota ini. Terakhir mereka berkomunikasi sudah beberapa bulan yang lalu. itu pun hanya lewat komentar sosial media.
“Pokoknya kamu harus tolongin aku,” rengek Sharell.
“Iya tolong apa Shar?”
“Aku ada di kota kamu sekarang. Dan aku gak tahu harus kemana?”
“Hah?”
“Jangan hah, hah deh, tolongin cepat. Jemput di minimarket A. Kira-kira tiga kilometer dari pelabuhan.”
“Aduh Sharell, dari dulu gak berubah. Lagian minimarket A itu ada banyak sepanjang jalan.”
“Ya nanti aku Share lokasi. Tapi kamu cepat ke sini, pliiisss,”
“Haduh, iya-iya. Untung ini hari libur. Tapi pelabuhan jauh. Mungkin satu atau dua jam lagi aku baru sampai.”
“Hah? Iya deh, tapi dicepetin dikit ya,”
“Iya. Tunggu aja. Jangan kemana-mana.”
Satu setengah jam berlalu. Sharell tidak berani beranjak kemana-mana. Ia diam di tempat menghabiskan sejumlah cemilan yang mendadak ia beli dari minimarket itu selain yang dibelikan Verrel tadi.
“Duh, masih lama gak ini? Clara bisa nemuin tempat ini gak sih?” Sharell terus menatap ke arah jalan. Selepas mengirimkan alamat lokasi ia saat ini ia langsung mematikan ponselnya lagi. Belum siap kalau sampai ada telepon dari orang rumah. "Clara beneran gak sih bakal jemput? Apa dia ketiduran terus lupa ya? Dulu kan suka gitu, janji mau ngerjain tugas terus lupa. Jangan bilang sekarang juga masih gitu. Harapan aku sekarang cuma dia, aduh, semoga aja cepetan datang. Udah pengen nangis nih, perasaan lama banget, lebih lama dari perjalanan di kapal tadi." Mulut Sharell komat kamit sambil mengunyah makanan ringan. Tanpa ia sadari, makanan itu adalah yang dibelikan oleh Verrel tadi.