Lama menunggu dan Clare yang tak kunjung muncul membuat Sharell gelisah dan cemas juga. Takut kalau Clara tidak jadi datang atau mungkin tidak menemukan lokasinya sekarang.
“Aduh, ampun banget deh, udah kayak apaan tau nunggu lama banget begini. Sebel. Ya kalau datang beneran, kalau gak datang gimana ini? Apa aku coba cari taxi aja buat ke pelabuhan lagi mumpung belum jauh banget dari pelabuhan. Tapi ….” Dia galau sendiri mengingat kejadian di jalan tadi. “Kenapa sih aku tadi gak minta es batu antar ke pelabuhan lagi aja? Eh, tapi kalau minta antar dia … gak deh!”
Beberapa kali Sharell mencoba memesan taxi online tapi gagal. Sementara taxi biasa pun tidak ada yang lewat. Sharell mondar-mandir di jalan memikirkan cara kembali ke pelabuhan. Entah kenapa pikiran itu mendadak muncul begitu saja. Padahal membayangkan perjalanan tiga jam lagi di kapal laut saja rasanya badan sudah remuk tak karuan. Tapi gara-gara menunggu Clara yang tak kunjung keliahatan dan harapannya seperti antara ada dan tiada, Sharell mendadak ingin nekat pulang lagi.
Dari kejauhan ie melihat sebuah angkot berwarna biru muda persis seperti yang ia tumpangi tadi. artinya angkot ini bisa mengantarnya kembali ke pelabuhan.
Nekat, Sharell langsung menyebrang jalan dan melambaikan tangan. Mobil itu berhenti. Dari kejauhan sana Verrel yang terus pasang mata mengamati langsung kaget sekaligus bingung. Ia tidak menyangka Sharell mau menaiki kendaraan seperti itu lagi. ia pikir Sharell begitu terpaksa tadi saat naik kendaraan tersebut setelah keluar dari pelabuhan. Ternyata sekarang malah diulang ingin naik angkot lagi.
“Pak, ini tujuan ke pelabuhan ‘kan ya?” tanya Sharell pada sopir angkot saat mobil itu berhenti tepat di depannya.
“Iya,” jawab sopir angkot singkat.
“Eng … saya mau naik tapi tunggu sebentar ya Pak,”
Sopir itu tidak menjawab. Sharell bengong sebentar di tempatnya. Penumpang lain kelihatan memperhatikan Sharell.
‘Kok pada ngeliatin gitu sih? Sopirnya juga jutek banget. diajak ngomong gak jawab lagi.’ batin Sharell.
“Heh, Mbak jadi mau naik gak? Cepetan!” seru salah seorang penumpang. Penumpang ini seperti mewakili suara penumpang lain yang tidak sabar melihat Sharell bengong di depan pintu angkot. Sementara mereka sudah kepanasan di dalam dan tentunya ingin segera sampai di tempat tujuan mereka.
“Oh, eng … i-iya.” Sharell ingin bilang tidak jadi mau naik tapi takut. Takut dimarahi wajah-wajah yang sudah tak kelihatan ramah ini.
Sharell lalu menyebrang jalan. Bermaksud mengambil koper yang amih ia biarkan tergeletak di depan minimarket itu. Jelas saja para penumpang lain yang menunggu di dalam angkot terlihat semakin kesal. Si putri keraton ini terlihat berjalan dengan lembut dan hati-hati menunggu mobil lewat lalu menyebrang jalan. Ia lalu menyeret koper dan berhenti lagi di pinggir jalan karena ada beberapa mobil melintas yang membuatnya tidak bisa langsung menyebrang.
Angkot berwarna biru muda itu mendadak langsung melaju. Terdengar klakson dari mobil lain bersahutan. Kalau dilihat-lihat posisi angkot yang berhenti itu memang mengganggu kendaraan lain yang hendak lewat. Apalagi kalau berhentinya lama begitu.
“Eh, tunggu, tunggu,” Sharell berteriak sambil melambaikan tangan. Tapi angkot it uterus melaju kencang tak menghiraukannya lagi.
Dari dalam mobil, Verrel tertawa lepas. Tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti itu. si bidadari manja yang berlari ditinggal angkutan umum.
“Ngapain sih lagian dia? Apa aku coba samperin aja sekali lagi? Mungkin aja dia berubah pikiran. Mungkin sekarang dia sudah mau klau aku antar pulang.” Verrel bicara sendiri sambil pikir-pikir mempertimbangkan untuk turun.
“Ih, dasar nyebelin. Orang ditinggal sebentar ambil koper kok malah kabur.” Sharell menggerutu kesal dan mau tidak mau kembali duduk di emperan minimarket itu.
Beberapa menit Verrel memantau, akhirnya dia mengalah dan membuang gengsinya. Ia sengaja turun dan memilih berjalan tanpa membawa mobilnya untuk menghampiri Sharell lagi.
Yang dituju sedang duduk dengan wajah lelah dan kesal. Pandangannya kosong. Kasihan. Verrel berharap si gadis ini mau menghilangkan gengsinya sebentar saja dan bersedia diantar. Yang penting tidak terlantar seperti ini.
“Hei,” sapa Verrel.
Sharell langsung menengadah melihat siapa sosok yang emmanggil. Sesaat tadi dia sempat merasa takut. Takut kalau ada orang berniat jahat lagi. Matanya langsung melebar. Kalau boleh jujur, ingin rasanya ia bersorak saking gembiranya melihat dia kembali lagi. Satu jam lebih menunggu Clara yang taka da kepastian rasanya seperti terobati.
“Ngapain disini?” tanya Sharell. Tetap saja gengsinya yang besar itu sulit diruntuhkan.
“Saya?” Verrel malah balik bertanya.
“Ya iya lah siapa lagi? pakai berlagak nanya lagi.”
“Sa-saya cuma mau beli minuman kok,” jawab Verrel. Ternyata dia ini juga sama susah mngelahkan gengsi kalau sudah saling berhadapan.
“Beli minuman kok si sini? bukannya tadi udah pergi ya? Ngapain banget kesini lagi?”
Verrel langsung salah tingkah mendengarnya. Alih-alih menjawab dia memilih langsung masuk ke dalam minimarket. Melewati Sharell begitu saja.
Sharell yang melihat tingkah si pria es batu ini langsung kembali kesal. Yang tadinya sempat senang bukan main melihat kemunculannya sekarang rasanya dia muncul juga tak ada gunanya.
“Dasar, ngapain banget dia ke sini Cuma mau beli minum? Eh, terus kenapa juga dia jalan kaki? Mobilnya?” Sharell menggerutu sambil bertanya-tanya sendiri. “Kalau dia jalan artinya mobilnya ada di dekat sini dong? Apa jangan-jangan dari tadi dia gak pergi, pura-pura doang?! Iiiiiihh!”
Di dalam minimarket itu Verrel berjalan mondar-mandir tak jelas. Sesekali dia mencuri pandang ke arah luar. Ah, entah kenapa susah sekali memulai bicara biasa saja dan baik-baik seperti antara pria dan wanita di film-film. Bicara baik-baik yang berujung romantic. Rasanya kesempatan itu tak pernah datang. Setiap kali ada kesempatan bicara malah kaku, beku berujung seperti Tom dan Jerry.
Merasa tak enak pada kasir minimarket karena sudah beberapa menit mondar-mandir tak jelas, Verel akhinya mengambil dua botol minuman berisi yogurt rasa strawberry. Asal saja dia mengambil. Yang penting bisa dibawa ke kasir.
Sambil terus memutar otak mencari cara agar bisa bicara baik-baik pad Sharell Verrel melangkah keluar dengan perlahan. Si gadis yang di luar itu sudah menunggu dengan gregetan ingin emmarahinya lagi.
“Ini,” Verrel menyodorkan yogurt rasa strawberry yang baru ia beli pada Sharell.
“Apaan nih? Gak usah cari alasan deh, kamu dari tadi belum pergi ‘kan? Kalau kamu udah pergi dari tadi, terus ngapain kamu kesini jalan kaki? Artinya mobil kamu parkir gak jauh dari sini ‘kan? Mau kamu apa sih? Mau ngawasin aku? ngikutin aku?” Sharell langsung nerocos dengan kecepatan maksimal tanpa menghiraukan yogurt dingin yang disodorkan oleh Verrel.
Verrell langsung menutunkan tangannya dan menyimpan yogurt itu dalam genggamannya.
“Saya pikir satu jam lebih kamu terlantar di sini, kamu jadi bisa berpikir jernih dan bicara baik-baik. Ternyata sama aja. Tapi kalau sekarang kamu berubah pikiran, belum terlambat kok. Mau aku antar pulang?”
“Siapa juga yang mau pulang? aku itu di sini mau liburan. Aku lagi nunggu teman aku.”
Verrel hanya bisa menghela napas pasrah. dia langsung pergi lagi meninggalkan Sharell tanpa kata.