Malaikat Penolong

1129 Kata
Sebuah city car berwarna merah terlihat mendekat dan parkir di halaman mini market. Sharell hapal betul. itu adalah mobil Clara yang setia mengantarnya sejak jaman awal kuliah dulu. Wajah Sharell langsung penuh harap. Clara terlihat turun dari mobil. Ia perhatikan Sharell dari jarak beberapa meter sebelum menghampiri sahabat lamanya itu. “Claraaaaaaaa!” Sharell langsung berlari mengampiri memeluk seerat mungkin. Rasanya seperti bertemu malaikat ditengah dunia kegelapan. “Alhamdulillah, akhirnya ketemuuuuuu,” ia sekarang hampir menangis seperti anak kecil yang baru bertemu ibunya kembali setelah hilang di Mall. “Eh, ini kamu sendirian banget? bibi sama sopir mana?” tanya Clara heran. “Panjang ceritanya! Jangan cerita di sini. aku trauma sama tempat ini!” “Trauma gimana?” “Pokoknya jangan banyak tanya, plis aku mau ke rumah kamu sekarang.” “Ya-ya udah, ayo masuk. Sini kopernya,” Clara membuka bagasi dan menyimpan koper Sharell di sana. Mereka berdua masuk ke dalam mobil Clara. Sharell sekarang benar-benar merasa hidupnya sudah selamat. Mobil merah itu mulai melaju. Verrel melihat semuanya dengan jelas tadi. Meski ia tidak kenal siapa perempuan yang menjemput Sharell tadi. Tapi kelihatannya Sharell sekarang sudah aman. Rasa lelah mengawasi Sharell dari kejauhan selama satu setengah jam akhirnya terbayar. Sampai-sampai satu setengah jam ini dia juga ikut mematikan ponsel. Karena kalau tidak, ponselnya itu tidak akan berhenti berdering. Semenjak lulus kuliah ia memang sudah dipercaya meneruskan bisnis property milik ayahnya. Verrel adalah pemuda yangs setiap saat sibuk dengan urusan bisnisnya. Tidak peduli berapa banyak wanita yang pernah mencoba mendekatinya, ia belum pernah tergoda. Hatinya yang seperti es kutub sudah terlanjur tertaut pada si gadis manja bernama Sharell. Meskipun gadis itu sama sekali tidak tahu perasaan Verrel selama ini. Clara sudah melaju cukup jauh. Verrel yang merasa belum tenang melepas Sharell memutuskan untuk terus mengikutinya. Ia ingin memastikan kemana Sharell pergi. “Ayo cerita, jangan bikin penasaran nih, besok aku udah mulai kerja dan sibuk. Jadi mumpung libur dan ada waktu, cepetan cerita.” ujar Clara. “Panjang ceritanya Ra,” “Dari tadi kalau di tanya jawabnya gitu terus. Sepanjang apa sih? Apa lebih panjang dari sejarah Belanda menjajah Indonesia?” “Ya gak gitu, tapi ini benar-benar panjaaaang dan ribet buat diceritain.” “Singkat aja!” serunya. Bibir Sharell langsung manyun. Tapi sekarang atau nanti dia memang harus cerita. “Dengerin ya ….” Sharell menceritakan semua kejadian dengan detail. Termasuk tentang sosok Verrel yang sekarang membuatnya kesal setengah mati. “Hahahahahaha,” Clara tertawa nyaring setelah mendengar Sharell menceritakan semuanya. “Kok ketawa sih? Nyebelin!” Sharell ngambek. “Ya, kamu itu lucu banget tau,” “Lucu apanya?” “Ya lucu, udah gak pernah pacaran sama sekali, mendadak dijodohin sama siapa tadi? Manusia kutub, hahahahaha ….” “Bukan manusia kutub, emangnya Yeti apa? Bukan, tapi orangnya dingin kayak es kutub.” “Sama aja lah, manusia kutub. Hahahahaha,” Clara malah terus-terusan menertawai. “Tau lah, aku ngambek nih!” wajah Sharell semakin manyun. “Eh, tunggu Shar,” Clara membetulkan posisi spion tengah. “Kok kayaknya mobil belakang ngikutin kita ya?” Perjalanan mereka sudah hampir sampai ketika Clara baru menyadari ada seseorang yang membuntutinya. "Hah? Ngikutin kita?” Sharell mendadak panik. “Iya, kayaknya sih,” Clara sekali lagi menajamkan pandangannya. Benar, dari spion tengah terlihat mobil itu masih terus mengekor di belakang mereka. “Ra, bukan orang jahat ‘kan? Aku takut nih,” Sharell malah berusaha bersembunyi di bahu Clara. “Ih, jangan gini, aku lagi nyetir.” “Ya udah ngebut aja!” “Gak usah ngebut, itu apartemen aku di sebelah situ. Tinggal dikit lagi.” tunjuk Clara. Sharell yang takut namun penasaran akhirnya memberanikan diri menoleh. Ia perhatikan baik-baik mobil yang berjarak beberapa meter di belakang mereka itu. “Eh, stop Ra, stop!” serunya. “Kok malah minta berhenti? Tadi katanya lu takut?” “Gak, gak, berhenti sekarang.” “Ok deh,” Clara menepi. Setelah mobil berhenti sempurna, Sharell langsung turun dan berjalan menuju mobil di belakang. “Lah, ini anak, katanya takut? Sekarang kok malah nyamperin?” Clara bingung melihat kelakuan sahabatnya. Sementara Verrel yang berada di dalam mobil berwarna hitam itu mulai panik melihat Sharell berjalan mendekat menuju mobilnya. “Aduh, dia kok kesini sih? Ketahuan nih saya ngikutin dia,” gumamnya. Tanpa ragu Sharell menggedor kaca mobil Verrel keras-keras. “Buka, aku tahu kok, ini kamu ‘kan?” Terpaksa Verrel menurunkan kaca jendela itu. Ekspresi wajahnya dingin dan berlagak jutek. Takut gengsi ketahuan membuntuti Sharell. “Bisa gak ngomongnya baik-baik? Mau kamu apa sih? Pakai gedor-gedor kaca mobil saya segala?” Sharell langsung menggeram kesal mendengar pertanyaan pria itu. “Hello, harusnya aku yang nanya, kenapa kamu bisa ada di sini? Udah ketahuan ngikutin masih pura-pura lagi!” “Ngikutin kamu? Saya ngikutin kamu?” Wajah Verrel tampak serius. Begitu meyakinkan untuk mempertahankan gengsinya. “Iya jelas, kalau gak ngapain kamu bisa ada di sini? Pas banget lagi, aku berhenti kamu ikut berhenti. Ngapain?” cecar Sharell. “Kalau mau ngomong itu dipikir dulu. Ini tempat umum, siapa aja boleh ada disini. Kamu gak lihat sekeliling tempat ini hotel? Itu sebelah sana, itu sebelah sana,” Verrel menunjuk ke sekeliling yang kebetulan memang ada beberapa gedung pencakar langit yang merupakan hotel-hotel megah di kota ini. “Artinya apa? Semua orang bisa datang ke sini.” Sharell sedikit melongo. Kesal. Dia yakin sekali kalau Verrel sengaja mengikutinya. “Ya, tapi kenapa bisa pas di belakang mobil teman aku?” “Ya itu sih kebetulan aja kali, gak usah GR deh!” “Iiih, dasar nyebelin!” Sharell akhirnya memilih berlalu. Verrel terlalu pandai mempertahankan keangkuhannya. Dia tidak mungkin mau mengaku. “Huuuffh, akhirnya pergi juga dia,” Verrel membuang napas dengan lega saat melihat langkah Sharell menjauh. Tapi tiba-tiba gadis itu balik lagi. “Awas ya kalau ngikutin lagi!” seru Sharell. Kali ini Verrel memilih diam. Gadis itu kemudian benar-benar berlalu dan kembali masuk ke dalam mobil merah milik Clara. “Dasar es batu kutub! Pakai gak ngaku segala lagi, jelas-jelas dari pelabuhan tadi dia ngikutin terus. Maunya apa sih dia? Awas aja kalau sampai ngadu sama mama papa.” Mulut Sharell komat-kamit membuat Clara tambah bingung. “Kenapa lagi sih? Emang siapa yang ada di mobil itu?” “Itu si es batu,” “Hah? Es batu? Es batu siapa?” “Yang tadi aku ceritain,” “Oh, yang mau dijodohin sama kamu? Eh, kayak apa sih orangnya?” Clara malah penasaran. “Serius dia ngikutin kita? Kok bisa? Kok dia tau kamu disini? Tadi belum lengkap lho ceritanya,” “Ah ribet pokoknya! Ayo cepetan ke apartemen kamu dulu. Aku udah capek nih, pengen istirahat.” “Iya deh tuan putri,” Mereka kembali melaju dan masuk ke apartemen Clara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN