Sementara di kediaman keluarga Sharell. Semua mendadak beku. Para bibi tak ada yang berani bicara. Hanya saling lirik sambil sikut-sikutan. Takut disalahkan. Mereka semua memang begitu sibuk tadi. Dan, mana pernah ada yang berpikir kalau akan ada kejadian penghuni rumah kabur seperti ini.
Mama Sharell tak karuan gelisahnya.
"Terus kita harus gimana ini Pa? Mau dicari kemana ini?" tanyanya dengan wajah lesu. Setelah membaca surat itu, selain hampir pingsan mama Sharell langsung menangis tak karuan.
Beberapa jam berlalu setelah putri mereka ketahuan meninggalkan rumah, kediaman keluarga ini langsung kacau. Sempat papa Sharell meminta para sopir untuk mencari ke sekeliling lokasi terdekat rumah, tapi hasilnya nihil. Semua keluarga terdekat yang ada di kota ini di telepon pun hasilnya sama nihil. Sampai-sampai papa Sharell menelpon ke beberapa hotel ternama yang ada di kota, mencari barang kali Sharell menginap di sana. Karena papanya tahu dan yakin betul seorang Sharell tidak akan berani kabur ala backpacker yang mengembara di jalan dari satu kota ke kota lain. Tapi sayang ternyata hasilnya juga nihil.
"Sudah lah Ma, sabar dulu. Yakin saja kalau dia akan baik-baik saja. Kalau tidak ketemu hari ini mungkin besok-besok juga akan ada kabar baik." ucap papa Sharell.
Bukan bermaksud menyepelekan. Meski Tuan Reinhard ini kelihatannya begitu dingin dan galak, tapi kalau urusan putrinya kabur tak jelas kemana, tentu dalam lubuk hati terdalamnya panik.
"Atau kita lapor polisi saja sekarang Pa, biar cepat ketemu itu Sharell,"
"Jangan. Percuma. Laporan itu baru bisa diterima kalau orang yang hilang sudah lebih dari dua puluh empat jam. Ini Sharell kan belum setengah hari pergi. Lagi pula, bisa-bisa nanti media tau dan dengar lalu diberitakan dimana-mana. Bisa kacau semuanya. Tidak usah libatkan polisi. Kita cari sendiri saja."
"Tapi kita mau mulai dari mana ini Pa?" Mama Sharell masih terisak.
Mereka saat ini bicara bukan hanya berdua. Tapi dihadapan para bibi, sopir dan tukang kebun yang sengaja disuruh berkumpul.
Sebenarnya tuan Reinhard ingin marah besar. Kalau bisa ingin mengamuk pada para pekerja di rumah ini. Kenapa bisa-bisanya begitu banyak orang tidak ada satu pun yang melihat saat Sharell keluar dari rumah.
Tapi kemarahan itu ia tahan. Belakangan semenjak semakin mendekati momen perjodohan Sharell dengan putra sahabat sekaligus rekan terbaiknya di dunia bisnis, Tuan Egan memang berubah sedikit bisa lebih mengontrol dan meredam emosinya.
Aura positif keluarga Egan, ditambah lagi bayangan sebentar lagi akan melepas putri kesayangannya ke gerbang pernikahan, menjadi faktor utama yang membuatnya berubah.
"Sebentar, kita akan cari sama-sama." jawab papa Sharell.
Barisan para bibi dan pekerja lain di rumah ini hanya bisa menunduk. Ingin berbisik juga tidak berani. Mungkin nanti saat mereka di dapur atau di halaman belakang rumah. Obrolan tentang Sharell yang kabur pasti akan menjadi trending di rumah ini.
Sebenarnya ada seorang tukang kebun yang kebetulan sedang di halaman belakang saat Sharell terlihat berlari keluar lewat meninggalkan rumah. Dia satu-satunya yang melihat. Tapi ingin memanggil Sharell sewaktu si tuan putri itu terlihat tergesa-gesa, rasanya takut salah. Jadilah ia memilih diam saja. Tidak menyangka kalau akhirnya akan seperti ini. Apalagi tuan dan nyonya kelihatan begitu terpukul begini. Rasanya cerita itu lebih baik dibuang jauh-jauh oleh si tukang kebun ini. Dari pada jadi masalah.
"Ya sudah, kalian kembali bekerja saja. Nanti kalau ada keperluan kami akan panggil." ujar Tuan Reinhard.
Semua langsung membubarkan diri.
"Randi, kamu nanti ikut papa cari kakakmu." ucap tuan Reinhard lagi.
"Iya Pa," Randi hanya bisa mengangguk.
Dalam batinnya kasak kusuk sebal. 'Dasar si kakak, pakai kabur segala lagi. Kayak berani aja dia hidup di luar. Malesin banget deh, jadi aku yang kena susahnya suruh ikutan cari.' Gerutunya dalam hati.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kita sama sama menenangkan diri dulu. Satu jam dari sekarang baru kita bergerak ke seluruh kota mencari Sharell. Pasti dia belum jauh. Pasti dia masih ada di kota ini." ujar Tuan Reinhard lagi.
"Iya Pa, Randi ke kamar dulu ya Pa. Nanti kalau ada apa-apa panggil aja." Randi berlalu setelah papanya mengangguk memberikan ijin.
Papa dan mama Sharell beranjak dari tempatnya. Ke ruangan lain. Ruangan duduk bersantai di dekat kamar mereka. Setidaknya di sana kalau mama Sharell mau menangis sepuasnya tidak akan terlalu mencolok dan terlihat para bibi.
Baru beberapa menit mama dan papa Sharell duduk di ruangan itu. Yang satu isi hatinya penuh kecemasan dan kegelisahan. Yang satu lagi sedang berpikir keras mencari solusi.
Tiba-tiba saja salah seorang bibi terdengar mengetuk pintu.
"Maaf tuan, nyonya, maaf, ada tamu." Suara bibi kedengaran panik.
Tuan Reinhard sedikit kesal. Rasanya tidak ingin bertemu siapapun dalam kondisi seperti ini.
"Bilang saja kami gak ada di rumah bi," ucapnya saat membuka pintu.
Bibi yang di depan pintu langsung menunduk takut.
"Ta-tapi tuan, ini … ini yang datang …."
"Siapapun yang datang, katakan saja begitu."
"Yang datang tuan dan nyonya Egan tuan,"
Papa Sharell langsung terdiam. Isi kepalanya seperti mau meledak.
"Kenapa? Kenapa mereka kembali lagi? Tadi mereka sudah bilang mau ke bandara." Ia bicara sendiri. Panik.
"Siapa yang datang Pa?" Mama Sharell meninggalkan kursinya dan menghampiri.
"Egan dan istrinya." sebut papa Sharell.
"Hah? Terus kita harus bagaimana Pa?" Mama Sharell malah lebih panik bukan main.
"Sudah-sudah, tenang dulu. Sebaiknya kamu tidak usah ikut menemui mereka. Biar aku saja." kata papa Sharell kemudian mondar-mandir sambil memegangi kepala. "Apa mereka sudah masuk? Siapa saja yang menyambut mereka tadi?"
"Maaf tuan, tuan dan nyonya Egan masih ada di depan gerbang. Belum saya persilahkan masuk. Tadi, hanya saya yang menyambut tuan, kebetulan yang lain sepertinya sedang sibuk." jelas bibi dengan raut yang ikut ikutan gugup dan panik.
"Kalau begitu, jangan biarkan mereka masuk dulu. Beri tahu pada yang lain, jangan ada yang keluar dan menemui tuan dan nyonya Egan. Cukup kamu saja. Bilang pada yang lain jangan ada yang boleh bicara tentang Sharell. Nanti kamu saja yang menyuguhkan minum. Jangan sampai yang lain. Mengerti?"
"Ba-baik tuan. Jadi saya harus memberitahu yang lain dulu untuk tidak menemui tuan dan nyonya Egan, baru setelah itu saya buka gerbang?" Bibi memperjelas sekali lagi.
Tuan Reinhard diam beberapa detik sambil memijat pangkal hidungnya.
"Kamu tidak usah buka gerbang. Biar saya saya. Pokoknya kondisikan agar yang lain jangan ada yang ke ruang tamu selagi mereka masih ada di sini. Jelas?"
"Baik tuan, jelas tuan."
Bibi berlalu. Mama Sharell dibiarkan untuk tetap di ruangan itu karena mata sembabnya tidak bisa disembunyikan.