Tuan Reinhard berjalan menuju gerbang. Konyol. Baru kali ini sepanjang hidupnya harus menerima tamu yang tak lain sahabatnya sendiri dengn penuh drama dan sandiwara. Ini benar-benar bukan prinsipnya. Tapi gara-gara ulah si putri manja itu, dan rasanya terlalu dini untuk mengatakan yang saebenarnya semuanya pada mereka. Yang ada mereka bisa berpikir yang tidak-tidak dan perjodohan impian itu bisa buyar gagal total.
“Hai, mari silahkan masuk.” Ia bukakan gerbang tinggi itu.
Tuan Egan turun beserta istrinya. Tapi mobil dibiarkan parkir di depan rumah.
“Kami sudah hampir sampai bandara, tapi ini mendadak mamanya Verrel ingat ada barang yang tertinggal di rumah ini katanya.” ujar papa Verrel menjelelaskan.
“Oh iya, coba kita cari sama-sama di dalam.” sahut Tuan Reinhard. Jantungnya berdebar saat mempersilahkan mereka berdua masuk.
“Maaf ya papanya Sharell, kami jadi merepotkan ini balik lagi ke sini. kebetulan tadi baru ingat kalau tas tangan saya tertinggal di sini. Tadi kami buru-buru sampai tidak menyadarinya.” kata mama Verrel.
“Oh, iya. Tentu tidak masalah. Tapi bagaimana dengan pesawat kalian?” tanya papa Sharell basa-basi. Sambil berharap barang yang dicari itu langsung ditemukan dan mereka tidak perlu berlama-lama di sini.
“Saat di perjalanan tadi, kami mendapat kabar kalau ada kendala yang akhirnya mengakibatkan jadwal penerbangan kami berubah. Kami mendapat tawaran untuk ikut penerbangan yang nanti sore. Yah, memang kebetulan ada barang yang tertinggal begini, jadi kami memutuskan menerima saja perubahan jadwal itu. Tadinya sih, kalau tidak gara-gara dompet tertinggal, kami mau langsung pesan tiket lagi cari yang paling cepat.” jawab mama Verrel sekaligus menjelaskan.
Tua Reinhard langsung panas dingin mendengarnya. Kalau penerbangannya nanti sore, bisa jadi mereka ingin berlama-lama di sini dulu sambil menunggu jadwal berangkat.
“Tapi kita gak bisa lama-lama di sini Rein, kalau dompet mamanya Verrel sudah ketemu, kami mau langsung kembali berangkat ke bandara.” kata tuan Egan.
Terasa angin segar bagi papa Sharell. Tapi rasanya tidak pantas juga kalau tidak berbasa-basi.
“Kenapa terburu-buru?” tanyanya.
“Ya, biasa, ada klien yang ingin bertemu dan bicara-bicara sebentar di bandara nanti sebelum keberangkatan. Kebetulan dia juga akan terbang hari ini. jadi kalau ada kesempatan bertemu di bandara, nanti ingin ngobrol-ngobrol sebentar.” jelas tuan Egan.
“Oh, baiklah kalau begitu, silahkan duduk dulu. Nanti sambil di cari barangnya yang tertinggal.”
Tuan dan Nyonya Egan duduk di sofa ruang tamu. Tak sampai satu menit duduk, benda yang di cari langsung terlihat di pojokan sofa. Mama Verrel begitu terlihat senang tas tangan kesayangannya sudah ditemukan.
“Ini dia tas Mama, Pa.” ujarnya.
“Alhamdulillah kalau langsung ketemu. Jadi kita tidak merepotkan tuan rumah.” sahut papa Verrel bergurau. “Kalau begitu, kami mau langsung pamit ya,”
“Lho, tunggu sebentar, bibi sedang membuatkan minum.” kata papa Sharell. Dalam hatinya berharap bibi yang membawakan minum segera muncul dan setelah minum mereka langsung pergi tanpa memperpanjang basa-basi.
“Silahkan Tuan, Nyonya,” Bibi menghadap membawa nampan berisi air minum dan menyuguhkannya di meja.
“Terima kasih Bi,” ucap papa dan mama Verrel bersamaan.
Mereka lalu meminumnya beberapa teguk. Setelahnya tersenyum dan berbasa-basi lagi.
“Sharell dan Randi kemana? Kenapa sepi sekali?” tanya mama Verrel tiba-tiba.
Tuan Reinhard langsung gugup. Tidak biasa dia harus mengarang cerita. Tapi demi reputasi, nama baik dan kelanggengan persahabatan. Rasanya kali ini sah-sah saja sedikit berbohong.
“Ada, biasa lah anak-anak. Sibuk dengan dunianya sendiri.” jawabnya.
“Lalu mamanya Sharell kemana? Kalau boleh, saya ingin bertemu dan mengobrol lagi sebentar.”
Yang kali ini rasanya lebih membuat papa Sharell pusing dan bingung harus cari alasan apa. Kalau mau memanggilkan untuk menemui mereka rasanya juga tidak mungkin. mata yang sembab itu tidak mungkin kempis seketika ‘kan?
“Dia tadi sedang mengobrol dengan kerabatnya di telepon.” jawab papa Sharell akhirnya berhasil menemukan alasan.
“Sudah lah Ma, Papa ‘kan ada janji di bandara. Kalau mau mengobrol dengan mamanya Sharell nanti telepon saja. kita berangkat sekarang ke bandara.” kata Papa Verrel.
Hati tuan Reinhard benar-benar lega mendengarnya. Mereka berdua langsung pamit. Tuan Reinhard menemani mereka sampai ke gerbang. Di dapur dan di ruangan-ruangan lain para bibi langsung kasak-kusuk bergosip. Mereka juga tak tahan ingin tertawa melihat tuan yang begitu kaku dan dingin sekaligus berwibawa yang mereka kenal selama ini jadi terlihat kikuk dan serba salah. Rasanya ini benar-benar momen pertama tuan Reinhard terlihat begitu.
“Tuan ternyata bisa gugup juga.” kata salah seorang bibi.
“Iya, mungkin begitu juga wajah tuan kalau sedang dimarahi mertua.” Sahut bibi yang lain sambil cekikikan. Iya, sejak tadi memang beberapa bibi khusu mengintip ekspresi gugup tuan mereka yang sangat langka.
“Rein, sepertinya setelah ini kita harus membiarkan putra dan putri kita saling bertemu sendiri. Sepertinya mereka kaku dan malu kalau dikawal oleh kita seperti tadi.” Papa Verrel kembali membahas tentang anak-anak mereka sebelum naik ke mobil.
“Oh iya, tentu.” Papa Sharell masih menjawab dengan kaku.
“Santai saja lah Rein, gak usah tegang begitu. Hari pernikahannya ‘kan masih lumayan lama. Verrel gak akan cepat-cepat bawa pergi Sharell dari rumah kok,” gurau papa Verrel sambil menepuk bahu sahabatnya.
Papa Sharell hanya tersenyum. Hanya kata ‘iya’ yang keluar dari mulut papa Sharell. Selepas mobil keluarga Egan melaju, tekanan darah papa Sharell rasanya langsung naik. Ia melangkah kembali melewati halaman rumahnya yang luas dengan langkah geram. Tentunya hatinya menjadi kesal gara-gara kepergian Sharell. Rasanya gregetan dan ingin segera si gadis itu ditemukan.
Para bibi otomatis bubar saat melihat tuan mereka kembali menuju masuk ke dalam rumah.
“Randi, Randi,” Papa Sharell langsung naik ke lantai atas. Memanggil Randi dengan suara keras.
Para bibi langsung ketakutan dan bersembunyi seperti para kurcaci. Sementara yang dipanggil sedang asik mendengarkan lagu dengan volume keras. Headphone terpasang dengan suara musik menghentak menguasai gendang telinga.
“Randi,” Tuan Rein membuka pintu kamar anak lelakinya yang kebetulan lupa di kunci.
“Eh, iya Pa.” Randi langsung melepas benda yang menyumbat telinganya. “Sorry Pa, gak dengar.”
“Udah kamu jangan main-main terus. Sekarang juga kamu berangkat ke semua stasiun di kota. Cari Sharell di sana.”
“Hah? Stasiun Pa? Stasiun di kota ini ada ….” Randi diam sesaat mengingat dan menghitung. “Ada delapan Pa, masa Randi harus keliling ke semua stasiun itu Pa?”
Papanya tidak menyahut. Wajahnya masih jelas menorehkan aura marah.
“Iya deh Pa, Randi kelilingin semua stasiun buat cari kakak. Mau Randi cariin sekalian ke terminal bus?”
“Gak usah, kemungkinan kakakmu itu gak akan berani naik bus sendirian. Cari ke stasiun saja.” Tegas saja papanya bicara.
Randi hanya membalasnya dengan anggukan tanpa berani banyak berkata lagi.