Randi langsung bergegas sebelum papanya semakin marah. Meski bingung dan dalam hati malas, tapi kalau ancamannya uang jajan hangus lebih baik dia rela keliling stasiun. Kalau perlu tidak hanya ke stasiun besar antar kota. Stasiun kecil penghubung transportasi dalam kota pun rela Randi telusuri demi misi dari papanya.
“Bagaimana Pa? Apa mereka sudah pulang?” tanya mama Sharell yang menghampiri suaminya di depan kamar Randi.
“Sudah. Sharell ini benar-benar buat masalah. Dia ini mau apa pakai acara kabur segala. Untung saja keluarga Verrel tidak curiga.” jawab papa Sharell.
“Lalu kita harus mulai dari mana mencari anak itu? apa sebaiknya kalau dia pulang nanti kita batalkan saja perjodohan ini? Kita bicara dulu ke Sharell, barangkali dia punya calon sendiri.”
“Membatalkan perjodohan? Apa-apaan? Tidak bisa.” Tegas papa Sharell. Sejak dulu kalau sudah punya keputusan tuan Reinhard memang pantang diganggu gugat.
“Sepertinya kita yang terlalu terburu-buru dan tidak bicara dulu ke Sharell Pa, jadi dia tidak terima.”
“Halah, tidak terima bagaimana? Apa dia masih bisa bilang tidak terima? Sejak dia lagir juga selalu kita beri yang terbaik. Harusnya dia sadar, kalau kita memilihkan jodoh sudah pasti tidak sembarangan. Bukannya dipikir dulu, biarkan waktu berjalan da saling kenal dulu, malah kabur begitu saja. sejak kapan lagipula anak itu berani pergi sendiri.” Tuan Rein malah mengomel lebih panjang lebar.
Mama Sharell hanya bisa tertunduk. Sedih kesal bercampur menjadi satu.
“Pa, Ma, aku berangkat dulu ya.” Randi keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. Gayanya sok meyakinkan kalau misinya kali ini tidak mungkin gagal. “Sudah, Mama sama Papa tenang aja. Aku pasti bisa nemuin kak Sharell.”
“Memang kamu ini mau cari kemana?” tanya mamanya.
“Ke stasiun disuruh papa.”
“Ya sudah cepat.” Mamanya menyuruh cepat pergi. Meski dalam hati tidak yakin kalau bocah ini akan berhasil. Setidaknya lumayan ada pergerakan usaha untuk mencari.
“Iya, Ma, Pa, pamit ya.” Randi cepat berlari pegi keluar mengambil mobilnya di garasi.
“Pa, kalau sampai Sharell kenapa-kenapa kita harus bagaimana? Dia anak perempuan satu-satunya.” Mamanya mulai bicara dengan nada mellow lagi.
“Ah, sudah lah Ma, biar saja Randi coba cari dia dulu. kalau tidak ketemu, ya pasrahkan saja pada Allah. Doakan saja anak itu tidak kena masalah di luar sana. Lagi pula biar dia belajar dewasa. Biar dia tahu hidup di luar itu tidak mudah.” Mendadak tuan Rein bicara demikian. Selain pusing memikirkan reaksi keluarga Egan, pusing juga dengan rengekan mamanya Sharell yang tiada henti. Belum lagi pusing dengan urusan kantor yang menumpuk.
Tak lama setelah perbincangan itu ponsel tuan Reinhard berdering. Seperti biasa, dia langsung sibuk. Selepas menerima telepon langsung meninggalkan rumah.
Randi yang belum jauh dari rumah, masih melaju pelan sambil berpikir. Bingung. Tempat mana yang harus ia datangi lebih dulu.
“Lah,dasar ngeselin si kakak. Mana Hp pakai gak aktif segala lagi. paling juga kaburnya gak jauh. Mana berani dia jauh-jauh. Dulu aja dari rumah ke sekolah nyasar kalu gak ditemani bibi sama sopir. Terus sekarang aku harus ke mana dulu nih?” Ia mengoceh sendiri di dalam mobil.
Sementara para bibi di rumah semakin heboh kasak-kusuk membicarakan kasus si nona manja yang kabur ini. apalagi saat tuan mereka sudah pergi. Mereka hapal betul, Nyonya mereka biasanya kalau tidak di halaman belakang ya di kamarnya. Jadi otomatis rumpian mereka di dapur aman. Tidak akan sampai terdengar oleh telinga nyonya.
“Ah yang benar kamu? Kamu serius? Ini kalau kedengaran nyonya bisa gawat.” Ujar salah seorang bibi.
Tukang kebun yang tidak sengaja melihat sewaktu Sharell pergi lewat gerbang belakang baru saja selesai bercerita.
“Serius Bi, tapi saya gak tahu itu Nona pergi kemana.” Kata si tukang kebun yang baru dua tahun ini bekerja di keluarga Sharell.
“Lha, kenapa kamu gak panggil sewaktu lihat Non Sharell pergi?” tanya bibi yang lain.
“Ya, saya gak berani Bi. Saya pikir pergi biasa. saya takut lancang tanya-tanya.” Jawab si tukang kebun.
“Ya kalau pergi biasa kan gak ungkin lewat pintu belakang. Seharusnya kamu panggil dan tanya.”
“Waduh, saya gak berani Bi. Saya pikir Non Sharell lagi buru-buru aja. Karena di depan ada tamu jadi sengaja lewat pintu belakang.” Kata si tukang kebun lagi.
“Ah kamu ini, cari pembelaan aja. Ini kalau kedengaran nyonya nanti nyonya marah lho,” Bibi yang lain ikut malah menakut-nakuti. Mereka yang sedang bergosip di dapur sambil menikmati cemilan ini kurang lebih berjumlah delapan orang. Dua sopir, satu tukang kebun dan lima bibi.
“Sudah lah, gak usah nyalahin dia, memang Non Sharell nya pingin kabur aja kali. Lagian juga, kalau misal dia tadi memanggil Non Sharell, tapi Non Sharellnya gak mau dilarang gimana? seharusnya begitu ditemukan surat di kamar non Sharell tadi, cepat-cepat tuan dan nyonya itu bergerak cari. Mungkin aja ‘kan taxi itu belum jauh. Lha, ini sudah berapa jam pergi baru dicari. Ya sudah entah sampai dimana.” Bibi yang lain membela.
Tanpa di duga, mama Sharell yang kebetulan sedang ingin mencari sesuatu di dapur sejak tadi sudah berdiri di dekat pintu tanpa ada yang menyadari. Dia mendengar semua percakapan itu.
“Jadi kalian ada yang melihat saat Sharell pergi tadi?” tanyanya. Sontak semua mulut yang sedang asik bergosip itu langsung bungkam. “Tidak usah takut, aya tidak akan marah. Coba katakana yang jelas, apa ada yang mendengar atau tahu Sharell pergi kemana?”
“Maaf Nyonya, saya hanya lihat Non Sharell keluar lewat gerbang belakang. Selebihnya saya tidak tahu perginya kemana Nyonya.” jelas si tukang kebun dengan gemetar.
“Apa dia membawa sesuatu? Atau pergi tanpa membawa apa-apa?” tanya mama Sharell lagi.
“Maaf Nyonya, Non Sharell membawa koper kecil.” Jelas si tukang kebun lagi.
Mama Sharell selanjutnya hanya membisu. Pikirannya mengawang-awang. Kalau jelas membawa kper, artinya kaburnya Sharell ini sudah direncanakan sejak hari sebelumnya.
‘Kemana anak itu pergi? Dan kenapa dia tidak bicara baik-baik saja malah langsung pergi?’ batin mama Sharell. Dia langsung kembali ke kamarnya dengan lesu.
Para bibi di dapur langsung saling lirik dan saling sikut dan berbisik.
“Kamu sih, gara-garanya,”
“Kamu tuh yang ngomongin duluan,”
“Sudah lah, kita doakan saja Non Sharell baik-baik saja. saya yakin dimanapun berada, Non Sharell bakal selalu selamat. Karena dia orang baik. Doakan saja biar cepat kembali, kalau Non Sharell gak mau dijodohkan dengan tuan muda yang tadi, saya juga mau kok,” cerocos salah seorang bibi. Yang awalnya serisu langsung ditutup dengan sorak ledekan dari yang lain.
“Huuuuuuuuu,”
Obrolan di dapur akhirnya berakhir dan mereka kembali bekerja.