Sementara Itu

1001 Kata
Sementara di pulau seberang sana dua insan ini justru baru memulai petualangan barunya. Si gadis manja yang sedang dicari-cari dan si tuan muda pria es kutub Verrel berhenti di tempat. Dari posisinya saat ini sudah cukup jelas untuk mengamati kemana Sharell pergi. “Dasar cewek aneh. Kalau saya gak ngikutin dia sampai sini, dia bisa aja kena bahaya di jalan ‘kan? Tapi masih aja marah-marah.” Gumamnya. Verrel sempat bingung harus kemana setelah ini. Kebetulan sekali di sekeliling tempat ini ada beberapa hotel yang bisa dipilih untuk tempat menginap. Akhirnya ia memutuskan memesan tempat di salah satu hotel terbaik yang terdekat dari lokasinya sekarang. “Sebel, sebel, sebel, sebel!” Sharell terus mengoceh. Ia baru saja meletakkan koper miliknya di salah satu sudut ruangan apartemen Clara. “Udah deh jangan ngomel terus, nih minum dulu.” Clara mengambilkan segelas minuman dingin untuknya. “Mau makan?” Sharell menggeleng. “Gak, belum lapar lagi.” “Ya udah, jangan ngomel terus. Nanti energy kamu makin habis. Ngomel itu bikin cepat keriput tau,” “Ih, enak aja, mana ada umur dua puluh tiga tahun keriput?” “Ya ada lah, kalau ngomel terus.” “Abisnya kesel,” “Kesel sama si manusia kutub?” “Ih, bukan manusia kutub. Cowok es batu kutub.” “Ya sama aja,” “Beda.” “Bedanya dimana? Eh tapi serius aku penasaran. Emang dia kayak apa sih orangnya? Kok sampai kamu kayak gini banget?” “Ya pokoknya kayak es.” “Kayak beruang kutub?” ledek Clara. “Gak,” Sharell menggeleng sambil manyun “Pinguin kutub?” “Ih, enak aja!” Sharell makin manyun. “Rusa kutub?” Clara terus meledek. “Iiih, bukan, bukan! Yang kutub itu sikapnya Ra, bukan wujudnya.” “Hahahaha, ya lagian mana ada, aku bercanda kali. Terus orangnya gimana? Umur berapa? Tua?” “Ya gak lah, mana mungkin mama papa aku jodohin aku sama orang tua. Dia seumuran aku. ‘Kan tadi udah aku bilang dia dulu satu sekolah waktu SMA.” “Oh iya lupa, hehe, maklum Shar tadi di jalan aku gak begitu fokus. Terus yang bikin kamu kesal itu apa? Dia ‘kan gak ngapa-ngapain?” “Gak ngapa-ngapain gimana? Dia ngikutin kita lho tadi. Tapi gak mau ngaku.” “Kok kamu kesel sih? Bukannya awalnya kamu yang sengaja ngikutin dia ya?” “Ya tapi ‘kan ….” “Sharell, yang salah itu kamu kali. Udah kabur dari rumah, ngikutin dia diam-diam,” “Ya tapi sekarang kenapa malah dia yang ngikutin balik? Nanti kalau dia lapor sama orang tua aku gimana? Ngeselin ‘kan?” “Ya ‘kan belum tentu.” “Pokoknya sebel! Dia tadi tiba-tiba nongol di pelabuhan, ngikutin aku dan nolongin aku waktu ada jambret di jalan sampai gelangku hilang. Terus sampai sini masih ngikutin. Kan kesel,” Sharell meneguk habis minuman yang disuguhkan Clara. “Eh, tunggu-tunggu … ini aneh deh,” kata Clara. “Ya emang aneh ‘kan?” “Yang aneh itu justru kamu.” “Lho kok aku?” “Harusnya kamu terima kasih lho sama dia. Coba pikir, kalau dia gak ngikutin kamu dari pelabuhan, siapa yang yang nolongin kamu waktu ada jambret di jalan? Bahaya tau, aku sih punya feeling kalau dia itu niatnya baik. Dia kayaknya khawatir deh sama kamu. Sampai bela-belain ngikutin sampai sini. terus waktu kamu tanya dia bilang apa?” Sharell diam sesaat. Kalau dipikir-pikir benar juga perkataan Clara. “Woi, ditanya diam aja?” Clara melambaikan tangan di depan wajah Sharell. “Eng … dia Cuma bilang lagi mau nginep di hotel sekitar sini. Gak masuk akal banget ‘kan alasannya?” “Ah, dasar gak mau ngalah. Sama aja, kamu juga penuh gengsi. Kamu juga ngikutin dia tapi gak ngaku.” “Ya tapi aku ngikutin dia itu ada misi khusus.” Sharell terus membela diri. “Eh, tapi ini gak main-main lho. Kamu ini sekarang statusnya kabur dari rumah. Kalau nanti orang tua kamu lapor polisi, terus aku dituduh nyembunyiin kamu gimana? Serem ah, aku gak mau.” Sharell langsung panik. Ia bergeser sedikit duduk lebih dekat dengan Clara. “Ra, jangan ngomong gitu dong. Gak bakalan kejadian kayak gitu kok, lagian aku itu sebenarnya niatnya langsung kembali ke ibu kota hari ini juga. Tapi tadi di pelabuhan ada ada aja. Tapi karena udah terlanjur lihat Verrel lagi menginap di sekitar sini, kayaknya rencana aku berubah deh. Aku mau tinggal di sini beberapa waktu boleh ya, kalau soal orang tua aku, jangan khawatir deh, aku jamin kamu gak bakal disalahin.” Clara mendesah pasrah. Sejak dulu si sahabatnya yang manja ini memang susah ditolak. “Tapi harus terima ya tinggal di apartemen aku gak ada bibi. Gak ada sopir. Jadi kalau mau apa-apa kerjakan semua sendiri.” ujarnya mengingatkan. “Ok deh, tenang aja,” Sharell akhirnya bisa beristirahat dengan hati tenang di apartemen Clara. Kebetulan unit apartemen ini memiliki dua kamar tidur. Satu kamar kosong yang lain biasanya hanya ditempati saat orang tua Clara datang berkunjung. Sementara Verrel yang sudah menemukan hotel pilihannya, segera menghubungi orang tuanya. Dia memang anak baik yang tidak pernah ingin membuat orang tua khawatir. "Ma, Pa, Verrel gak pulang ke rumah dulu ya, kebetulan tadi sebetulnya ada janji meeting sama klien di pelabuhan. Sama Pak Pram. Sebetulnya sih, meeting di pelabuhan itu karena pak Pram sekalian mau ke menyebrang ke kota ini. Tapi jadinya malah Verrel duluan yang menyebrang ke kota ini. Verrel ada beberapa urusan. Nanti Verrel pulang kalau urusan di sini sudah selesai ya,” ucap Verrel melalui panggilan video. Sebenarnya ia ingin langsung mengatakan kalau yang menjadi urusannya di kota ini tidak lain adalah si gadis manja kesayangan itu. tapi rasanya jangan dulu “Lho, kok mendadak?” Papa Verrel heran. “Papa sama mama juga masih akan tinggal di Brunei beberapa minggu kedepan. Masih banyak urusan di sini. Tapi kamu kenapa mendadak begini? Kamu apa-apa ‘kan selalu terencana. Kenapa bisa mendadak ke pulau seberang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN