“Lho, Den, den Verrel mau kemana? Bukan mau ke café ‘kan?” tanya bibi saat kebetulan berpapasan dengan Verrel di depan gerbang. “Gak kok bi, saya ada urusan dulu yang gak bisa ditunda. Mungkin siang kali yak e café nya, atau sore.” jawab yang ditanya dengan santai. “Eng … anu Den, sebaiknya hari ini Den Verrel jangan ke café dulu.” Verrel sedikit mengerutkan kening. Sebenarnya kalau bukan karena ingin selalu bisa melihat Sharell, khawatir dengan Sharell dan semua perasaan yang sejenis itu, Verrel sama sekali tidak peduli soal café. Lagi pula dia selama ini terbiasa dengan bisnis properti. Soal kuliner dia tidak tahu menahu sama sekali. “Kenapa Bi? Tapi Sharell hari ini sudah datang?” “Sudah den, eng … kalau soal café, itu ada yang ingin Bibi jelaskan,” Si es kutub tampan ini melirik

