Alana, Arkan dan Keisha tampak terkejut melihat Langit mengeluarkan kartu yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang itu. “Kartu itu …” kata Arkan menggantung. “Itu pasti palsu, kan? Dokter baru kayak kamu nggak mungkin punya kartu seperti itu.” Langit menoleh sambil tersenyum remeh. “Kenapa nggak mungkin? Kalau kartu ini palsu, harusnya tidak bisa digunakan, kan?” Lalu, Langit beralih pada pegawai toko yang tampak memperhatikan perdebatan di hadapannya. “Mbak, silakan!” “Baik, Pak.” Pegawai itu menggesekkan kartu tersebut ke alat khusus, lalu menyuruh Langit memasukkan nomor sandinya. Dan dengan begitu mudahnya, pembayaran berhasil dilakukan. “Bagaimana mungkin?” bingung Arkan, sambil menatap kartu berwarna hitam yang baru saja kembali ke tangan Langit. Langit tampak tidak pedul

