Tubuhnya terhempas memantul di ranjang queen size dengan seprai bermotif batik. Ia menutup matanya dan mencoba untuk mengusir semua kesal yang masih bersarang. Bermula dari wasiat dadakan yang tak bisa ia tolak, cincin nikah dengan ukiran namanya dan sosok yang sangat ia tak sukai, kemudian fitting baju pernikahan untuk sebuah pernikahan yang tak diinginkan.
“Oh My God! Sumpah! Gue kesel banget hari ini. Pengen cepet-cepet bangun dari mimpi buruk ini. Bayangin aja, tadi cuma debat masalah ukiran nama dan dia ngeselinnya minta disleding! Gimana kalau udah jadi pasutri? Jangan-jangan gue dijadiin babu ntar!” ocehnya sembari terus menutup mata. Ia mencoba untuk menenangkan pikirannya yang sedang berserakan kemana-mana dengan berusaha menidurkan diri.
“CIEEE! Yang bentar lagi mau nikah!”
Zevia terbangun seketika dan melempar bantal ke arah seseorang. “RORA! KELUAR DARI KAMAR GUE!”
Bukannya menuruti apa perintah Zevia, Rora jutsru tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah frustasi kakaknya. “Kak, bisa nggak, sih, muka lo biasa aja?”
“Bodo amat.”
Rora meredakan tawanya. Ia paham, kakaknya benar-benar tengah dilema saat ini. Jika ia berada di posisi sang Kakak, mungkin ia juga akan memasang wajah yang sama. Hanya saja, ia tak berada di posisi itu dan membuatnya sedikit lega.
“Kak, gue mungkin masih kecil di mata lo. Tapi gue ini udah gede. Ya, meskipun gue lebih muda dari lo yang udah tua, gue tetep bisa bersikap dewasa. Nah, lo yang lebih tua dari gue juga harus bisa bersikap dewasa, Kak. Menerima kenyataan dengan lapang d**a. Gue yakin, Bang Gezra seribu kali lipat lebih baik dari Bang Ansel. Meskipun Bang Ansel selalu bawain gue martabak manis favorit gue, tapi gue tetep ngedukung lo sama Bang Gezra, kok.”
Zevia menutup telinganya dengan bantal dan tak ingin melempar respon apapun untuk Rora. Jelas hal itu menuai protes dari sang Adik. “Dasar, Kakak nggak tau diri!”
▪️▪️▪️
“Pagi, Zev!”
“Pagi, Cla!”
Sapa kedua makhluk yang ia anggap sahabat sambil merangkul kedua bahunya dari sisi kanan dan kiri. Mereka memasang senyuman jahil dan tentunya sudah bisa terbaca oleh Zevia.
“Ngapain senyum-senyum kayak gitu? Jijik tau liatnya,” ucap Zevia sambil terus berjalan gontai. “Berat, Val, Liz. Lepasin tangan kalian dari bahu gue.”
Valen dan Eliz –kedua makhluk bernama sahabat itu tak mempedulikan perintah si Ketua Geng Gadis Angkuh. Mereka terus menjahili Zevia hingga gadis berkacamata itu mendengus kesal.
“Kemarin lo ke mana? Jangan-jangan lo nikah, ya?” Pertanyaan Eliz sontak membuat langkah Zevia terhenti. “Why? Tebakan gue bener?”
Zevia menggeleng cepat. Ia melepas rangkulan kedua sahabatnya itu dan langsung mengambil langkah cepat menuju kelas. Sesampai di kelas, ia disambut oleh kedua sahabatnya yang lain –Emma dan Vranda. Mereka sudah mempersiapkan tiga tempat duduk untuk Zevia, Valen, dan Eliz.
“Tumben telat, Zev?” sapa Emma dengan melontarkan pertanyaan. “Kemarin lo ijin kenapa? Mendadak banget.” Pertanyaan kedua membuat Zevia langsung menyenderkan kepalanya ke meja.
“Please, Girls. Untuk hari ini jangan gangguin gue.”
Mendengar permintaan sekaligus perintah dari seorang Ketua Geng Gadis Angkuh, keempat sahabatnya itu saling melempar tatapan satu sama lain dan saling mengedikkan bahu mereka tanda tak tahu apa yang sedang terjadi.
▪️▪️▪️
Hingga mata kuliah terakhir, Emma, Vranda, Eliz, dan Valen sibuk menutupi Zevia yang terlelap selama kelas berlangsung. Mereka akhirnya membangunkan Zevia dan mempersiapkan seribu petanyaan. Zevia tak pernah selelah dan sefrustasi seperti yang mereka lihat saat ini. Mereka yakin, Zevia tengah menghadapi masalah yang cukup berat.
Gadis berambut kecoklatan itu memperbaiki posisi kacamata dan duduknya. Ia meregangkan otot-otot yang mulai kaku karena tertidur di kursi kuliah yang sempit rongga. Kemudian matanya menangkap keempat sahabatnya tengah melempar tatapan penuh curiga.
“Lo kenapa? Kayaknya ada masalah berat banget?” tanya Vranda to the point. Pertanyaan si Gadis mata biru langit itu diangguki oleh ketiga sahabatnya yang lain.
Zevia menggeleng lesu. “Nothing. I’m fine.”
“Jujur, Zev,” desak Valen yang memang merasa bahwa Zevia tengah menyembunyikan sesuatu. “Cerita aja ke kita kali aja kita bisa bantu.”
“Iya, Cla. Katanya kita sahabat. Masa lo masih nggak percaya sama kita? Cerita, dong!” sambar Eliz penuh semangat.
Sedangkan Zevia hanya memijat keningnya pelan. “Nggak ada apa-apa, Girls. Gue cuma lagi nggak enak badan aja. Makanya kurang tidur. And well, gue pulang duluan. Mau istirahat.”
“Yah, nggak nongki dulu sama kita, nih? Nggak seru, deh,” sesal Vranda mengerucutkan bibirnya lucu.
“Kalian nongki berempat dulu, ya. Gue bener-bener pengen tidur sampai besok. Bye, Girls.” Tanpa menunggu jawaban dari keempat sahabatnya. Zevia langsung menyambar tasnya dan keluar dari kelas.
Melihat Zevia menghilang dari balik pintu, Eliz langsung membisikkan instingnya, “Gue yakin, Claretta menyembunyikan sesuatu dari kita.”
▪️▪️▪️
Sebuah butik yang menyuguhkan banyak pilihan gaun pengantin itu membuat Zevia tak mampu berkata apapun lagi. Bagaimanapun ia terkesima dengan semua gaun pengantin yang indah. Akan tetapi, kekagumannya mendadak sirna saat kembali teringat dengan siapa ia akan menikah. Ia pun memilih duduk di sofa yang sudah ada Gezra di sana. Gezra di sudut kanan, sedangkan Zevia duduk di sudut kiri. Seolah mereka adalah kutub magnet yang berbeda. Tak bisa disatukan dan selalu ada halangan.
Grena yang menemani keduanya terlihat sibuk memilih gaun yang disuguhkan. Wanita paruh baya itu terlihat sangat antusias memilihkan gaun pengantin untuk anaknya. Selang beberapa menit, Grena mengambil dua gaun yang berbeda. Ia memperlihatkannya para Gezra dan Zevia.
“Gimana? Bagus, ‘kan?” tanya Grena sambil menyodorkan dua gaun ke arah Gezra dan Zevia. “Yuk, Zev! Coba salah satu dulu.”
Tanpa membantah, Zevia langsung masuk ke ruang ganti dan mengambil salah satu gaun pilihan Grena. Sepuluh menit berlalu, Zevia keluar dari ruang ganti dengan mengenakan sebuah ball gown beraksen tulle dan sentuhan lace transparan di bagian d**a. Gaun pengantin glamour yang membuat Zevia tampak lebih cantik dari biasa. Apalagi dengan rambut indahnya yang tergerai hingga ke punggung.
“How beautiful you are, Girl! Mama sampai kaget lihat anak mama bisa cantik banget kayak gini,” sanjung Grena. “Gimana, Gez? Zevia cantik, ‘kan?”
Gezra melihat Zevia dari ujung kaki hingga ujung kepala. Terlintas ingatan saat ia melihat Zevia dengan baju tidur kumel dan rambut berantakan di benaknya. Ia membandingkan Zevia dengan gaun mewah berdiri tepat di depannya. “Gaunnya cantik kok, Tan.” Tak bisa ia pungkiri, perbedaan Zevia si Kumel dengan Zevia si Glamour tak beda jauh. Tetap saja membuatnya terpesona secara diam-diam.
“Gaunnya apa guenya yang cantik?” tanya Zevia menggoda. “Bilang aja kalau gue cantik mempesona. Jangan jatuh cinta ya! Gue nggak sudi dikejar-kejar orang kayak lo.”
Gezra berdecih. Ia membuang muka dan tak menghiraukan apapun kalimat yang terlontar dari mulut Zevia. “Nggak usah kepedean.”
“Ssst, mulai lagi, deh. Zev, sana ganti baju sama gaun kedua. Nanti biar Gezra yang nentuin calon pengantinnya pakai gaun yang mana.”
Tak ada bantahan lagi dari Zevia. Gadis itu kembali memasuki kamar ganti dan beberapa menit kemudian kembali keluar dengan gaun yang berbeda. Kali ini Zevia mengenakan gaun mini selutut dengan potongan off shoulder atau plunge neck ditambah lace yang manis semanis Zevia. ada tambahan ruffles dari bahan tulle di bagian bawah gaun.
“Perferct! Mama pilih yang ini. Kamu gimana, Gez?” Grena melirik ke arah Gezra diam tak bergeming melihat Zevia berdiri di depan matanya.
Zevia tersenyum jahil melihat Gezra melamun melihatnya. “Woi, Kutu Kupret! Nggak usah ngiler liatin gue!” ucapnya sembari melempar tas tepat di kepala Gerza.
PLUK
“Ouch! s**t!” umpat Gezra yang berniat membalas lemparan tas dari Zevia namun tertahan saat menyadari bahwa ada sang Calon Ibu Mertua tengah memperhatikan mereka. Ia meletakkan kembali tas Zevia di bawah kakinya dan melempar lirikan tajam ke gadis yang sudah menertawainya.
“Makanya jangan bengong! Liatin gue sampai segitunya. Gue mempesona banget, ya? Oh! Ya jelas dong!” ucap Zevia dengan penuh percaya diri. “Ma, Zev ambil yang ini aja, deh. Nggak ribet. Terus abis buat acara nikahan, gaunnya bisa Zev pakai kondangan.”
“That’s true. Mama setuju!”
“Woi, hape lo bunyi terus, nih!” sambar Gezra sambil menendang kecil tas milik Zevia.
“Heh! Gue punya nama kali. Enak aja manggil wa-woi-wa-woi! Dan tas gue jangan ditendang juga kali! Dendam banget, sih.”
“Tadi aja manggil gue wa-woi-wa-woi, sekalinya dipanggil ‘woi’ balik malah marah-marah. Dasar, Betina!” batin Gezra kesal melihat kelakuan calon pengantin dadakannya itu.
Zevia langsung menyambar tasnya dan mengambil ponsel yang masih berdering. “Rora nelfon, nih, Ma.” Ia pun mengangkat telfon dari sang Adik dan me-loudspeaker panggilan agar sang Mama bisa mendengar kelakuan adiknya itu.
“Halo, Ra? Ada apa?”
“Kakkk!” jawab seseorang di balik panggilan –Rora.
“Apaan, sih, Ra? Bukannya salam dulu atau gimana dulu gitu, main teriak aja. Sakit, nih, telinga gue!” oceh Zevia kesal.
“Bang Ansel ke rumah! Dia nyariin lo. Katanya kalian ada janji. Gue harus bilang gimana, nih?” Suara Rora tampak resah. “Kak, gue harus bilang apa?”
“Bilang aja kalau kakakmu lagi fitting baju pengantin, Ra,” cetus mamanya asal. Membuat Zevia langsung menjauhkan ponselnya dari sang Mama.
“Eehh! Jangan, Ra. Bilang aja kalau gue lagi shopping sama Mama. Ntar dia gue chat lagi, kok. Suruh balik aja. Jangan lo omongin yang aneh-aneh. Ntar pulang gue bawain martabak spesial pakai telor buaya buat lo.”
Rora terdengar mendengus kesal di arah sana. “Rese lo, Kak. Serius, dong! Udah ah, gue suruh balik aja Bang Ansel-nya. Lo jelasin sendiri ke dia. Bye!”
TUT
Belum sampai Zevia menjawabnya, Rora sudah mematikan panggilan.”Eh, adik nggak punya sopan emang.”
“Kenapa kamu nggak jujur aja sama si Ayam Kampus itu, sih, Zev?” celetuk mamanya dengan sedikit kesal. “Apa susahnya bilang kalau kamu mau nikah sama orang lain? Toh, si Ayam Kampus sama Gezra itu lebih perfect Gezra.”
“Ih, mama, nih. Kali aja ntar Zev nikah sama si Kutu Kupret abis itu diceraiin. Terus, Zev nikah, deh, sama si Ayam Kampus.”
Grena menggelengkan kepalanya pelan. “Mama heran, punya anak kok cita-citanya jadi janda. Udah sana ganti baju, biar mama bayar gaunnya.”
Sedangkan Gezra, hanya terdiam membisu. Sedikit terkejut dengan apa yang ia dengar baru saja. Tentang perceraian. Ya, ada benarnya. Hanya saja, hal itu tak sempat terlintar karena ia terlalu terpesona oleh gaun pengantinnya. Atau mungkin, terpesona dengan calon pengantinnya. Ya, ia tak bisa menjelaskan apa yang baru saja ia rasakan.
▪️▪️▪️