“KAKAK! BANGUN! UDAH SIANG, NIH!” Teriakan Rora berhasil mengusik tidur cantik seorang Zevia. Dengan perasaan kesal, Zevia menyibak selimutnya kasar dan turun dari ranjang. Rambut yang masih amburadul tak ia pedulikan. Ia hanya harus mencubit mulut sang Adik yang selalu membuat telinganya sakit setiap pagi.
“RORA!” teriak Zevia dengan mata masih setengah terpejam. Saat matanya mulai membuka sempurna secara perlahan, bukan Rora yang ada di depannya melainkan sang Mama.
Grena sudah berkacak pinggang sambil melototi anak pertamanya itu. “Bagus, ya. Udah mau jadi ibu rumah tangga, masih aja bangun siang. Mulai sekarang kamu harus belajar masak. Biar nanti suamimu betah di rumah.”
Dengan sedikit malas, Zevia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan mengangguk pelan. “Iya, Ma. Zev mau mandi dulu.”
“Mandi nanti. Bantuin mama masak dulu. Rora, ‘kan, mau sekolah. Kamu jadi kakak harus tanggung jawab bantuin mama, Zev,” oceh Grena tanpa henti. Ia berjalan turun dari lantai dua menuju dapur dan diikuti oleh Zevia yang masih terlihat berantakan. “Kamu melek dulu. Nanti bukan tempe yang kamu goreng malah tangan kamu yang kena gorengan!”
“Astaga, iya, Mamaku Sayang. Ini Zev mau cuci muka dulu, kok.” Zevia pun langsung menuju wastafel dan mencuci mukanya. Membuat mata yang semula masih setengah kantuk menjadi segar. Meski tak memakai kacamata, ia masih bisa melihat dengan sedikit jelas. “Astaga!” kagetnya.
“Kenapa, sih, Zev? Kaget lihat wajah kamu sendiri?” sahut Grena sambil sibuk mengiris bawang merah tipis-tipis.
Zevia membulatkan matanya sempurna saat melihat bayangan sosok yang ia kenal tengah duduk di meja makan bersama papa dan adiknya. Meski sosok itu tak duduk menghadapnya, akan tetapi dari punggungnya saja Zevia sudah tau.
“Gezra! Lo ngapain ke rumah gue pagi-pagi buta begini?” ucap Zevia dengan nada sedikit tinggi karena kesal sekaligus kaget. Sudah beberapa tahun terakhir, Gezra tak pernah lagi berani menginjakkan kakinya di kediaman Romero. Well, sekarang sosok itu menginjakkan kakinya kembali di kediaman Romero entah terbawa angin apa.
Sosok yang merasa terapnggil pun memutar tubuhnya menatap Zevia dari ujung kaki hingga ujung kepala. Baju tidur yang lecek, wajah ditekuk, tanpa kacamata, dan rambut amburadul. Oh, betapa kucelnya si Zevia di depan calon suami dadakannya itu.
Bukan hanya Gezra yang menahan tawa melihat penampilan Zevia di pagi hari, papa dan Rora juga berusaha menahan tawa agar Zevia tak semakin brutal.
“Kenapa pada nahan senyum gitu? Ada yang lucu?” tanya Zevia kikuk. Tanpa sadar penampilannya seperti apa.
“Makanya, Sayang. Kalau bangun tidur itu jangan kesiangan. Kamu itu anak gadis. Lihat, deh. Kucel kayak kain lap nggak dicuci dua tahun,” sahut Grena yang asyik mengoseng bumbu di wajan. Mengeluarkan aroma sedap menyengat yang membuat hidung gatal dan ingin bersin.
Mendengar ucapan mamanya, Zevia tersadar. Matanya kembali membulat dan melihat dirinya sendiri dari cermin wastafel. “Astagaaaa!” Sontak Zevia langsung berlari menaiki anak tangga dengan terburu dan kembali menuai ocehan dari sang Mama.
“Zeviaaa! Bantuin mama masak!”
“Nanti, Ma!”
▪️▪️▪️
Suara gesekan piring dengan sendok memenuhi ruang makan. Hari itu berbeda. Karena ada tambahan satu manusia tak diundang yang ikut menikmati hidangan di atas meja. Sosok yang duduk di sebelah kanannya itu terus bersikap seolah dirinya tak ada di sana. semua pertanyaan dari Zevia yang terlontar, tak ada satupun yang ditanggapi oleh Gezra.
Hingga akhirnya, suasana hening terpecah ketika Rora bangkit dari duduk setelah menghabiskan makanan di piringnya. “Ma, Pa, Kak, Bang, Rora berangkat dulu, ya. Udah mau telat, nih.”
“Bentar, Ra. Bareng sama papa sekalian. Papa udah mau selesai,” tahan Vicknan. Setelah menghabiskan sisa makanan di piring, Vicknan dan Rora berpamitan untuk pergi ke tempat tujuan meninggalkan Grena, Zevia, dan Gezra yang masih asyik berkutik dengan piring.
Setelah beberapa saat, Grena meninggalkan ruang makan dan membawa beberapa piring kotor untuk dicuci. Tersisa Gezra dan Zevia. “Gez, nggak usah kege-eran, ya. Gue nerima pernikahan ini juga demi bahagaian Tante Fraya. Bukan karena gue –”
Ucapan Zevia terhenti saat Gezra menatapnya datar. “Gue nggak peduli apapun alasan lo.” Setelah mengatakan kalimat yang membuat darah Zevia naik hingga ubun-ubun, Gezra memungut piring kotor milik Zevia dan membawanya ke tempat Grena.
Zevia mengikuti Gezra sambil menahan kekesalan yang luar biasa. Sosok itu memang ahli dalam membuat Zevia naik darah. “Sok rajin banget! Cari muka banget!” gumamnya saat melihat Gezra mengambil alih tugas cuci piring dari Grena.
“Zev, sana kamu siap-siap dulu. Bentar lagi kita berangkat.”
Zevia mengerutkan keningnya heran setelah mendengar perintah Grena. “Berangkat ke mana, Ma? Zev, ‘kan, ada kuliah.”
“Bolos aja dulu. Atau suruh Valen sama Eliz ijinin ke dosen kamu,” jawab Grena santai.
“Wait, sepenting itukah? Emangnya kita mau ngapain dan ke mana, sih, Ma?” tanya Zevia untuk kedua kalinya.
Grena mendesah pelan sambil menatap Zevia malas. “Sayang, kita, ‘kan, mau pesen cincin nikah.”
PYARR!
Jawaban Grena berhasil membuat gelas di tangan Gezra merosot jatuh dan pecah di lantai.
“Loh? Gez? Kenapa?” Grena terkejut melihat gelas yang jatuh dari tangan Gezra. “Kaget? Bukannya kalian udah setuju kalau mau nikah? Jangan bilang kalau kalian tiba-tiba lupa ingatan, ya.”
Dengan gugup, Gezra langsung memungut pecahan gelas yang berserakan di lantai. Meski Grena sudah mencegahnya karena berbahaya, Gezra tetap tak peduli. Pikirannya sudah kalang kabut hanya karena mendengar kata ‘cincin nikah’.
“Duh,” pekik Gezra pelan. Bahkan sangat pelan hingga Grena yang sedang sibuk mengambil sapu tak medengarnya. Sedangkan Zevia mengetahui itu. tanpa basa-basi, Zevia mengambil kotak P3K dan membawanya ke dekat Gezra.
“Rasain! Suruh siapa sok jadi pahlawan. Pakai acara bantu cuci piring pula. Pecah, ‘kan. Rugi banyak, nih, gue! itu gelas mahal tau. Sekarang lo ngabisin plester sama obat merah gue pula. Pokoknya biayanya nggak sedikit. Lo harus ganti rugi,” oceh Zevia sambil membalut luka Gezra akibat terkena pecahan gelas.
Tanpa sadar, keduanya mendapat senyuman jail dari Grena. “Ehem. Yang katanya nggak mau nikah. Eh, malah mesra-mesraan di depan Mama.”
Sontak Zevia menekan luka Gezra dan melirik kesal ke arah sang Mama. “Ih, Mama!”
“Awh! Sakit, woi!” erang Gezra menarik jempolnya.
“Ya, maaf.”
▪️▪️▪️
Mereka telah sampai di toko perhiasan yang menjadi langganan Grena dan Fraya. Baru saja sampai di tempat, mereka sudah disuguhi berbagai pilihan cincin nikah yang elegan dan cantik. Zevia akan sangat antusias memilih cincin nikah yang ia sukai jika ia akan menikah dengan sosok yang diharapkan. Akan tetapi, suhunya berbeda. Dia akan menikah dengan sosok yang sangat tak ia harapkan. Jadi, ia mengubur niatnya untuk memilih sendiri cincin nikah yang akan ia pakai.
“Mau Mama yang pilihin atau kalian sendiri yang memilih?” tawar Grena yang sudah menebak apa jawabannya. “Oke, Mama aja yang pilihin, ya,” sambung Grena tanpa menunggu jawaban pasti dari keduanya.
Zevia dan Gezra duduk di bangku yang sudah disiapkan sambil melihat Grena yang sibuk memilih beberapa cincin yang cocok. Setelah beberapa saat kemudian, Grena mendatangi keduanya dengan membawa sepasang cincin.
“Gimana? Bagus, ‘kan, pilihan Mama?”
Zevia dan Gezra hanya mengangguk malas.
“Oke! Mbak, kami pesan cincin yang ini. tolong diukir nama Zevia love Gezra, ya, Mbak.”
Zevia membulatkan matanya seketika setelah mendengar ucapan sang Mama. “Wait! Ma, kok nama Zev dulu, sih?! Harusnya nama Gezra dulu. Ntar dikira Zev yang suka sama si Tengil ini.”
“Heh, siapa yang lo sebut tengil? Gue juga ogah kali kalau dikira suka sama lo. Nggak usah kepedean,” bantah Gezra tak mau kalah.
“Hello? Emang lo yang tergila-gila sama gue, ‘kan? Ngaku aja, deh. Dasar sok jaim!” balas Zevia memperkeruh suasana.
Dengan sikap tenang dan melipat tangannya ke d**a, Gezra tersenyum miring. “Sadar, Woi. Muka jutek, tengil, kayak lo gimana bisa bikin gue tergila-gila?”
“What?! Wah, bener-bener lo –”
“STOP!” Grena berusaha menghentikan perdebatan yang mulai menjadi-jadi. “Udah selesai berantemnya?”
Zevia dan Gezra melengos ke arah berlawanan. “Belum,” ucap mereka bersamaan. Sontak keduanya langsung kembali melempar tatapan. “Dih, ikut-ikutan,” ucap mereka bersamaan lagi dan membuat mereka kembali membuang muka.
“Udah, jangan malu-maluin Mama. Cuma posisi nama aja bikin kalian perang. Pokoknya nurut sama Mama dan sekarang kita pulang karena besok kita fitting baju.”
Zevia memutar bola matanya malas dan mencibir dalam hati, “Harusnya gue fitting baju sama cowok yang gue sayang. Bukan sama si Tengil bau kambing ini!”
▪️▪️▪️