Denting jam terus berputar. Bertengger di angka sebelas malam. Namun, matanya masih tetap terjaga sambil sesekali mengompres seorang lelaki yang bersuhu hampir 39 derajat celcius itu. "Kok panasnya makin tinggi, sih. Apa gue telfon papa Ganiel aja, ya?" gumamnya. Demam yang menyerangnya kini mulai menyingkir dan dirinya berganti menjadi pengasuh orang demam. Suhu tubuh Gezra yang tiba-tiba meninggi membuatnya kalang kabut. Apalagi seingatnya, Gezra belum memakan apapun sejak menjemputnya dari kampus. "Gez? Lo udah makan belum?" tanyanya. Meski sosok itu memejamkan mata. Akan tetapi, ia yakin jika Gezra tak nyenyak dalam tidurnya. "Makan dulu, ya. Bangun, gih," gumamnya. Seketika ia teringat jika hari sudah larut. "Jam segini yang masih ada apaan coba? Ya kali gue harus masak? Paling

