Daniel membuka ransel hitam yang dibawanya ke kantor, mengambil sebotol minuman kopi instan. Kebiasaan Daniel membawa setidaknya dua minuman dari rumah, padahal di kantor semua sudah di sediakan. Sambil bersender di tepian meja, tiba tiba Daniel teringat dengan Savana. Sahabatnya itu kemarin pamit berlibur ke Bali, padahal kondisi sedang tidak stabil seperti ini. Entah hanya alibi atau memang benar dia pergi berlibur Daniel juga tidak tahu. Sejak terjadi beberapa masalah, Savana perlahan seperti menjauhi Daniel. Ternyata memang benar, tidak ada persahabatan antara laki laki dan perempuan yang tidak melibatkan perasaan itu fakta bukan mitos belaka. Sering terjadi, terjerat friendzone sampai mati. Pikiran Daniel bercabang kemana mana, satu sisi memikirkan sang nona dan satu sisi memiki

