🦋Antek antek

1168 Kata
"Terimakasih sudah berkenan datang di acara yang tidak terlalu penting ini nona Xia." Rajendra si pemilik acara akhirnya menampakkan diri dan menyqpa Alexia dengan penuh kehormatan palsu. Alexia mengangguk, dia menyesap segelas anggur yang ada di tangannya, tersenyum lebar tanpa perasaan. "Hah, memang benar acara ini sungguh tidak penting bagiku, entahlah aku hanya ingin hadir dan membuat dukungan kecil untukmu tuan Rajendra." beberapa orang di sekeliling mereka menatap Alexia kaget, gadis itu memang tidak pernah menyaring ucapannya terlebih dahulu, namun itu semua khusus untuk para rekan liciknya saja. Rajendra tertawa hambar, dia sudah menduga akan mendapat kata kata pedas dari pewaris utama Gilbert itu. "Kau tau, mengapa aku hadir meskipun acara ini tidak penting, membosankan dan tidak memiliki jamuan yang enak?." Rajendra mendengarkan Alexia seksama, memohon maaf atas kekurangan yang ada di dalam acaranya. "Karena aku harus memberi selamat pada calon musuhku." Alexia tertawa, memandang seksama wajah tua Rajendra. "Kami bukan musuh, aku pernah berjanji akan membantu dan menyokongmu apapun yang terjadi nona." kilah Rajendra menyangkal kata kata Alexia, Xia mendengarkan sembari mengangguk angguk seolah olah percaya. "Aah begitu, ternyata aku salah menilaimu? Aku tidak akan katakan maaf, karena aku tidak merasa bersalah sudah berkata seperti itu. Tapi sayang sekali aku tidak butuh bantuanmu." Alexia mendekati Rajendra dan berbisik pelan di telinga pria paruh baya itu. "Bagaimana mungkin anjing kecil milik William menawariku sebuah bantuan sementara lehernya masih terikat rantai? Bukankah ini sebuah lelucon tuan Rajendra?." Alexia menjauh, raut wajah Rajendra berubah memerah menahan amarah. Alexia tertawa, menepuk pundak Rajendra pelan. "Aku hanya bercanda, kau anjing tua bukan anjing kecil lagi." tawa Alexia semakin menggelegar. Daniel dan Windi memperhatikan gerak gerik nona mereka dari jauh, gadis itu tidak memiliki ketakutan sama sekali, bahkan ketika musuhnya sudah jelas ingin menghancurkan dirinya namun dia masih bisa sesantai ini. "Lari tuan Rajendra, sebelum anakmu juga akan menua dengan keadaan leher terikat." pesan Alexia kemudian meninggalkan Rajendra. Pria baruh baya itu melonggarkan dasinya, merasa panas mendengar hinaan Alexia barusan, enggan mengaku namun memang begitu kenyataannya. Bagi Alexia "anjing tetap anjing, tidak akan berubah menjadi singa" mereka berlagak akan membantu, namun ingin menerkam dan menguasai segalanya. Xia menghampiri Daniel dan Windi, wajahnya sangat datar bak dinding polos, langkah kaki jenjangnya menyita banyak perhatian terutama para pengusaha muda yang memang sudah sejak lama mengincar Alexia sebagai calon nyonya besar mereka. "Bukankah kita harus memberi hadiah untuk direktur baru?." ucap Alexia memamerkan senyuman lebar, Windi mengangguk angguk sambil tersenyum paksa, mengerti nonanya akan mengirim hadiah spesial untuk anak Rajendra. ~~~ Alexia mendesah pelan, akhir akhir ini pekerjaannya sangat membosankan, dia terlihat baru saja membaca sebuah buku tebal, pertemuannya tadi malam dengan Rajendra membuat bibirnya melengkung kecil bak bulan sabit. Sambil berfikir hadiah apa yang akan dia berikan pada putra tunggal Rajendra, entah siapa namanya Alexia juga tidak perduli sama sekali, hanya saja ini tentang rekan tidak berharganya membuat Alexia harus meluangkan waktu sedikit untuk memikirkan tentang mereka. "Ahh, tidak berguna." gumam Alexia pelan, dia menoleh dan terkaget setelah melihat Daniel berdiri di depan meja kerjanya. Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai Xia tidak menyadari kedatangan Daniel, Alexia ingin sekali melempar wajah tampan menyebalkan milik Daniel itu saking kesalnya. "Tidak bisakah kau mengucapkan permisi!." kesalnya dengan nada tinggi. Daniel mengembangkan senyumannya. "Bahkan aku sudah memanggil nona lebih dari 30 kali, bukankah itu lebih dari cukup untuk menyadarkan nona?." jawab Daniel tenang. Ingin sekali Alexia mengumpat, tapi itu bukan kepribadiannya, sejak Daniel bekerja dengannya hari hari Alexia menjadi lebih berwarna, lebih tepatnya berantakan tidak karuan. "Aku sedang tidak fokus saja." "Tapi tampaknya nona sangat fokus." jawab Daniel cepat. "Aku hanya mengantuk." "Tapi sepertinya nona baru saja bangun tidur." "JANGAN SOK TAU!!." teriak Alexia kesal, dia menatap Daniel sinis, bodyguardnya itu agak menyebalkan sekarang. Daniel menahan tawanya, dia memutari meja Alexia berjalan ke belakang kursi nonanya, mendekat dan berbisik pelan di telinga Xia. "Apa nona butuh pijatan." Alexia terdiam, tubuhnya agak merinding. "Tidak sama sekali." jawabnya ketus. Daniel mendesah pelan, membuat Alexia menatap Daniel sinis. "Bagaimana kalau kita pulang saja?." ucap Daniel memberi saran, Alexia mengangguk setuju. "Bagaimana kalau kita ke hotel saja?." tawar Alexia balik membuat Daniel agak gugup, Xia tertawa pelan. "Bisa kita lakukan kalau kau ingin." sambungnya membuat Daniel semakin gugup, Daniel berdehem pelan sembari menggeleng. "Sepertinya rumah lebih nyaman." Alexia membuka mulutnya tidak percaya. "Benar kamarku kedap suara, tidak akan ada yang mendengar suara keributan kita." "BUKAN ITU MAKSUDKU NONA!." teriak Daniel sambil melotot, mana ada bodyguard kurang ajar seperti Daniel berani membentak dan menolak ajakan nonanya. Alexia tertawa, bangkit dari kursinya mengambil tas di atas meja kerja, lalu berjalan terlebih dahulu. "Kau tidak akan menolakku di lain hari Daniel." Benarkah? Pesona Xia memang kuat, dan Daniel bisa menahan pesona nonanya tapi tidak dengan otak kotornya. Dasar laki laki. ~~~ "Bagus." ucap pria bertubuh kekar itu dengan nada puas. Tangannya menepuk nepuk pundak bawahannya, dari sisi manapun dia terlihat sangat berkuasa dan mengintimidasi lingkungan sekitarnya, suara baritone miliknya akan terdengar semakin menakutkan ketika dia marah. "Kau memang dapat di percaya." pujinya lagi, pria tua yang sedari tadi di puji oleh tuannya itu tersenyum senang. "Jadi dia datang dan juga memberimu hadiah? Ya meskipun dengan hinaan dan cacian dari bibir indahnya, bagiku itu sudah sangat mengesankan." Rajendra, pria tua itu melaporkan segala sesuatu yang sudah Alexia lakukan selama berada di pestanya tadi malam, tak lepas dengan hinaan dan keangkuhan gadis itu juga menjadi laporan terpenting yang di sampaikan oleh Rajendra. Bosnya adalah penggila seorang Alexia Maurellin Gilbert, apapun di lakukannya untuk mendapatkan gadis itu, hanya saja waktu belum memihak padanya. "Dia memang seperti itu, gadisku yang pemberani. Sejak kecil dia selalu menghajarku kalau aku berbuat kesalahan, tapi tiap pukulan lemahnya membuatku semakin jatuh cinta pada semua kehidupannya." kekeh pria itu. "Termasuk uangnya." Perasaan tidak tulus yang di kemas sedemikian rupa hanya untuk mendapatkan harta milik gadis yang tidak dicintainya. ~~~ "Bukankah menjadi seorang CEO itu menyenangkan?." tanya Zaheen dengan nada mengejek, Xia melempar senyum geli, tangan cantiknya memegang botol anggur lalu menuangkan ke gelasnya sendiri. "Seperti yang kau lihat, selebihnya hanya seorang CEO yang tau." Zaheen tertawa, pria blesteran Indonesian Arab itu menaikkan kedua kakinya ke meja, Alexia tak keberatan sama sekali toh manusia di hadapannya ini adalah pionnya. "Kau harus lebih sering membuang uangmu Xia, aku takut kau mati tertimpa gunung uang milikmu." Gurauan Zaheen yang tidak lucu tetap di tanggapi Alexia dengan gelak tawa palsu. "Bukankah lebih damai? Kecuali Galen yang mati tertimpa gunung uang mungkin saja dia akan menyesal karena gunung uang itu mereka kais dengan cara mengemis padaku." Dua bersaudara itu kembali tergelak, mereka kali ini menghabiskan waktu untuk minum bersama di sebuah hotel ternama di Jakarta. Zaheen adalah sepupu Alexia, dia anak Lauren, bibi yang sangat di sayangi Alexia. Wajah Zaheen dan Alexia sekilas mirip hanya saja Zaheen sangat kental dengan wajah ketimur tengahnya tidak seperti Alexia yang lebih condong ke wanita pribumi yang anggun. "Aku hanya butuh tau siapa saja anjing William, aku harap kau bisa di andalkan." sambung Alexia to the point setelah melempar gurauan. Zaheen menyesap anggurnya, mengangguk paham. "Anything for you my lady...." senyum Zaheen. ~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN