Jam 7 pagi Alexia sudah duduk di depan meja riasnya, membiarkan para pelayannya memakaikan segala jenis perhiasan elegan serta memoles wajah cantiknya agar terlibat lebih fresh, pagi ini dia memiliki beberapa jadwal penting bersama rekan bisnisnya, salah satunya menghadiri sebuah pameran.
Kalung indah berbandul mutiara putih mengkilap sudah bertengger di leher jenjangnya, tak lupa pula giwang senada menghiasi kedua telinganya, memilih sedikit mencolok Alexia menggunakan lipstik berwarna merah menyala. Dengan wajah datar Alexia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca, hanya berkedip beberapa kali, pikirannya seperti kosong setiap pagi.
"Sudah nona." ucap salah satu pelayannya setelah siap mendadani Alexia.
Xia tak menjawab sama sekali, dia hanya mengangkat tangan agar para pelayannya pergi menjauh, Xia memilih tas yang akan di pakainya hari ini, setelah selesai dengan acara memilih tasnya Alexia langsung turun menuju meja makan. Seperti biasa tidak akan ada sapaan hangat untuk gadis cantik itu, semua hanya diam karena enggan mendapat kata kata tajam dari mulut sang gadis tiap kali mereka mengajak dia berbicara.
Malas berbasa basi Alexia langsung menyantap sarapannya, tampak di sebelahnya Galen memperhatikan adik tirinya seksama, meskipun tidak di ungkapkan Galen sedikit bisa menebak sang adik sepertinya sedang dalam keadaan mood tidak baik. Alexia memang tidak menyukai semua orang yang tinggal di kediamannya, namun dia selalu memastikan bahwa segala yang mereka makan dan mereka butuhkan harus lengkap dan terbaik, begitulah Alexia pada kenyataannya dia tak sejahat yang ada di pikiran orang lain.
Selesai dengan sarapannya, Xia bergegas pergi, punggungnya hilang di telan daun pintu utama rumah mereka, Gema dan Galen saling berpandangan, Galen menggeleng pelan.
"Sepertinya dia sedang marah." ucap Gema menebak.
"Aku rasa juga begitu bu, tidak biasanya dia membiarkan kita begitu saja di meja makan."
Leon hanya diam, sembari terus menatap daun pintu utama, hatinya sedikit merasa bersalah pada putrinya yang sejak kecil selalu mendapat perlakuan tidak adil bahkan Leon selalu menyalahkan putrinya setiap kali Xia mencoba menjelaska sesuatu.
~~~
Savana menyodorkan satu cup kopi hangat untuk Daniel, Daniel menerimanya sambil melempar senyum tipis, keduanya duduk di halte sembari menunggu bus datang. Agak canggung, namun harus tetap di paksakan.
Savana tidak ingin kehilangan momen lagi bersama Daniel, sudah terlalu sering dirinya kehilangan kesempatan bersama sahabatnya itu.
"Jujur aku kesal padamu." ucap Savana membuka pembicaraan.
Daniel mengalihkan pandangannya, menatap gadis yang baru saja mengeluarkan suaranya itu lama, dia sadar akhir akhir ini Alexia tidak memberikan jeda sama sekali pada Daniel untuk bersantai.
"Resiko pekerjaanku Savana, aku menghabiskan waktu untuk mengejar semua hal yang sudah lama aku inginkan." jawab Daniel apa adanya.
Rasa kesalnya bertambah ketida mendengar jawaban Daniel, seakan akan dirinya terlau banyak menuntut pada lelaki di sampingnya itu.
"Ini terlalu berlebihan." nada bicara Savana sedikit ketus, dia mulai tidak menyukai Alexia dengan berbagai alasan, dan alasan utamanya adalah karena Daniel.
"Berlebihan?." ulang Daniel lagi.
Daniel membuang nafas pelan.
"Dia sengaja membuatmu tetap sibuk, agar tidak memiliki waktu denganku." sarkas Savana membuat Daniel sedikit terkejut.
"Kau pikir dia akan memikirkan kita? Bahkan dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan orang tuanya apalagi memikirkan kau dan aku yang jelas jelas di bawah tingkatnya, jangan membuat lelucon seperti itu Savana, kau harus tau batasan."
Hati Savana mencelos nyeri, bahkan sekarang Daniel sudah tidak mau membelanya lagi, hanya karena seorang Alexia.
"Kau keterlaluan Daniel, kita sudah saling mengenal lebih dari 15 tahun, bagaimana bisa kau membela perempuan itu ketimbang aku?."
Daniel meletakkan cup kopinya di kursi halte, tangannya memegang kedua pundak Savana.
"Aku bersedia berangkat bersamamu tidak untuk ribut Savana, aku tidak berselera saat ini." tatap Daniel sedikit tajam, Savana diam, dia melepas paksa pegangan Daniel.
"Sepertinya kau mulai jatuh cinta pada nonamu itu."
Mendengar itu Daniel langsung tertawa.
"Ahahaha yang benar saja, pikiranmu kekanakan sekali." jawab Daniel terus melanjutkan tawanya.
"Aku dan nona Xia tidak pernah memikirkan sesuatu seindah cinta." Savana berdecih pelan.
"Bicaramu sudah seperti kalian adalah satu kesatuan, menggelikan sekali."
Daniel tidak mau mengambil pusing, dia sadar kalau sebenarnya Savana merasa cemburu dan kesal, namun siapa dirinya sampai harus cemburu? Mereka tidak memiliki hubungan apapun, lantas kenapa harus begitu?
Daniel adalah manusia bodoh, wajar jika pertanyaan itu muncul di kepalanya.
"Jangan bicara sembarangan, bisa saja ucapanmu menjadi do'a, jangan berlagak sudah siap kehilangan diriku Savana."
Jantung Savana berdegup kencang, darahnya seakan memanas mendengar perkataan Daniel, seumur hidup mereka bertemu Daniel belum pernah seperti ini padanya, sangat sakit bukan?
"Kita-
Bus yang di tunggu tunggu akhirnya datang, Daniel segera menarik tangan Savana masuk ke dalam bus tanpa mau mendengar kelanjutan dari ucapan Savana, terlalu berat untuk membahas hal hal seperti ini di pagi hari.
~~~
Saling diam tak bersuara, Alexia sibuk dengan pekerjaannya dan Daniel sibuk memandanginya. Jarang jarang Alexia mendiamkan Daniel seperti ini, tampaknya Alexia benar benar sedang tidak baik suasana hatinya.
Daniel melirik jam tangannya, dan kembali memandang Alexia, sudah jam 12.15 Alexia harusnya sudah istirahat dan pergi untuk makan siang, Daniel khawatir.
Sedikit.
"Nona..."
Daniel membuka suara, Alexia hanya menjawab dengan bergumam.
"Sudah waktunya makan siang." lanjut Daniel.
Alexia berhenti memandangi layar monitor, melirik jam tangan.
"Maafkan aku Daniel, kau bisa makan siang sekarang." ucap Alexia meminta maaf.
Bukan, bukan itu maksud Daniel, dia hanya mengingatkan nonanya untuk makan siang dan beristirahat.
Namun sepertinya Alexia benar benar tidak bisa keluar dari ruangannya, Daniel mengangguk, dia keluar dari kantor Alexia dan segera mencari makanan untuk nonanya dan juga dirinya sendiri.
Lima belas menit, dia kembali ke dalam kantor Alexia, membuat gadis itu terkejut, melihat Daniel membawa beberapa bag makanan.
Daniel mengatur nafasnya pelan, kemudian menunjukkan barang bawaannya kepada Alexia.
Alexia menahan senyumnya.
"Kau untuk apa membawa itu semua kemari?." tanya Alexia pura pura tidak paham dengan keadaan.
Daniel mendekati meja Alexia, mengeluarkan satu persatu makanan dari dalam tas makanan.
"Kau terlihat sangat sibuk dan tidak sempat keluar, aku membeli ini untuk makan siang kita berdua kalau nona tidak keberatan makan siang semeja denganku." jelas Daniel.
Alexia tidak dapat menahan senyumnya lagi.
"Duduklah, kita bisa makan bersama di sini." senyum Xia cerah.
Daniel membalas senyum Alexia, akhrinya gadis cantik itu mau membuka suara dan menampilkan senyum indahnya.
Daniel duduk di hadapan Alexia, mereka kemudian sibuk masing masing dengan makanannya.
Entahlah akhir akhir ini Daniel teralu banyak memandang Alexia tanpa alasan yang jelas, dia hanya suka saja memandangi wajah cantik itu, wajah cantik yang mungkin hanyalah topeng untuk kepribadiannya yang lain, entah dia sebenarnya gadis yang lemah, rapuh, atau gila tidak ada yang tahu sama sekali.
Namun dia sukses untuk menyembunyikan siapa dirinya sendiri, tidak ada yang pernah berfikir bahwa mungkin dia pernah menangis diam diam di kamarnya, tidak ada yang pernah berfikir mungkin dia sering menyalahkan dirinya sendiri, atau mungkin hampir bunuh diri.
Semua hanya melihat bagaimana seseorang dari segi penampilan dan prilakunya sehari hari, tidak ada yang pernah benar benar memikirkan orang lain, mereka selalu sibuk dengan diri mereka, tidak ada manusia yang benar benar perduli pada orang lain.
"Berhenti memandangiku, Daniel." tegur Alexia karena Daniel sudah lebih dari lima menit mengabaikan makanannya.
Daniel tersentak kaget, kemudian mengalihkan pandangannya malu.
"Maaf nona." pintanya pada Alexia, merasa tidak sopan memandangi atasannya seperti itu.
Alexia tertawa pelan.
"Tidak masalah, pandangi aku sesuka hatimu, tapi kali ini pandanglah makananmu terlebih dahulu."
Daniel mengangguk.
"Apa kau punya janji malam ini?." tanya Xia.
Daniel menggelengkan kepala.
"Tidak nona."
"Aku ingin melepas penat, apa kau mau menemaniku?." Daniel mengangguk cepat.
Tidak biasanya Daniel seperti itu.
"Baiklah, temui aku di taman dekat rumahmu." perintah Alexia di jawab anggukan lagi.
Apa ini termasuk awalan sebuah hubungan? Atau sikap baik Daniel hanya berlandaskan rasa kasihan?
~~~
"Tumben sekali kau datang Clay." tanya Leon sembari menyesap kopinya.
Clay hanya melempar senyuman tidak jelas.
Ya memang benar, tumben sekali keponakannya itu mau datang kerumah mereka, karena biasanya Alexia yang pergi untuk menemui sepupu sepupunya di bar.
"Mungkin aku rindu padamu om." jawab Clay sedikit geli.
Leon tertawa hambar, dalam hati mengatakan 'tidak mungkin'.
"Sangat bagus kalau memang benar."
Clay menyenderkan tubuhnya ke sofa, memandangi tiap sisi rumah cantik nan megah itu, teringat masa kecilnya ketika dia sering kali berkunjung dan Hellen tidak akan pernah absen membuat pai kesukaannya.
"Bukankah auntyku sangat baik? Dia bahkan memiliki wajah yang tidak manusiawi, tapi mengapa manusia manusia yang bahkan tidak berhati manusia itu membuang auntyku begitu saja."
Leon tidak mengerti apa maksud Clayton.
"Siapa yang kau maksud Clay?." tanya Leon penasaran.
"Tentu saja aunty Hellen." balasnya dengan nada sedikit tinggi.
Clayton tertawa, wajah Leon benar benar bercampur aduk antara marah dan kaget.
"Ku tegaskan bahwa aku tidak pernah menyukai golongan orang miskin yang tidak mau berusaha untuk dirinya sendiri, kita ambil contoh paling dekat seperti om dan pelayan itu." terkesan tidak sopan tapi begitulah sikapnya.
Tidak jauh jauh dari Alexia, Calyton sangat pandai menghina orang yang tidak di sukainya.
"Ingat Clay kau masih keponakanku." tegas Leon.
"Tapi aku tidak merasa begitu, kita bukan keluarga, bahkan kau hanya menumpang di rumah ini, harusnya kau tidak memperlakukan adikku dengan buruk."
Clayton muak dengan manusia di hadapannya itu, muak degan sikap tidak adilnya, dan juga sikap pongah yang tidak manusiawi.
"Kita langsung ke intinya saja." lanjut Clayton sembari menatap Leon tajam, dia menyeringai kecil.
"Aku tau semua yang kau lakukan, bahkan siapa wanita yang dulu kau cintai, hingga anak haram hasil hubungan kalian." Calyton tertawa puas setelah melihat wajah terkejut Leon.
"Jadi jangan pernah mempermainkan adikku Tuan Leon kalau kau tidak ingin hidupmu berakhir seperti auntyku." ancam Clayton.
Haruskah kita merasa kasihan pada Leon? Dia selalu mendapat tekanan dari anak maupun keponakannya, entahlah. Aku pribadi tidak ingin mengasihaninya.