🦋Savana

1043 Kata
Daniel sudah rapih, dia menatap dirinya sendiri pada pantulan kaca dan tersenyum manis, selesai bersiap Daniel langsung bergegas mengambil handphonenya dan keluar dari rumahnya. "Wah sepertinya ada yang ingin berkencan." ucap Raken membuat Daniel sedikit terkejut, Daniel menggeleng geleng pertanda tebakannya meleset. "Tengg, salah." jawab Daniel tertawa. "Kau pasti berbohong denganku." tuduh Raken dengan wajah kesal. "Aku benar benar tidak berbohong." "Baiklah aku akan mendoakan yang terbaik, dan semoga hubungan kalian berjalan lancar." Daniel memukul lengan Raken, dia langsung bergegas pergi setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Raken menatap punggung temannya yang semakin hilang. "Dasar Daniel." ~~~ Sampai di taman Daniel melihat gadis yang mengajaknya pergi sudah duduk di salah satu kursi, malam ini tidak terlalu ramai namun juga tidak sepi, Daniel yang menyempatkan diri membeli ice cream tadi langsung menghampiri Alexia. "Kau sudah datang." ucap Alexia menoleh. Daniel mengangguk. "Maaf nona aku terlambat." Daniel menyodorkan ice cream yang sudah di belinya tadi, Alexia hanya mengangguk angguk, mengambil ice creamnya lalu segera memakannya. "Tidak masalah, lagi pula aku belum terlalu lama di sini." jawab Xia. Daniel menatap wajah ayu itu dari samping, entah ada masalah apa nonanya tiba tiba mengajak dirinya untuk menikmati angin malam, biasanya Alexia tidak pernah mau menikmati angin malam sekedar di taman kota, dia pasti akan pergi ke tempat yang lebih mewah. "Apa menikah itu perlu?." tanya Alexia tiba tiba. Daniel sedikit terkejut, mengapa Alexia menanyakan hal itu? "Menurutku pribadi, tentu saja perlu." Daniel menjeda ucapannya. "Tapi tidak harus kau lakukan jika menikah kau anggap sebuah pilihan bukan kewajiban, banyak orang yang memilih berjalan sendirian seumur hidupnya karena mereka menjadikan menikah sebagai pilihan." Alexia mendengarkan Daniel seksama sambil menjilati ice creamnya. "Menikah juga bukan pilihan yang mudah, kau harus menikah dengan seseorang yang kau cintai, seseorang yang bersedia menghabiskan sisa umurnya denganmu, manusia yang bisa bersabar dengan segala sifatmu, dan yang pasti harus tulus padamu." Xia menghela nafas panjang, dia menatap Daniel dangan wajah lesu. "Aku tidak memiliki rasa serumit itu untuk manusia Daniel, aku tidak pernah jatuh cinta sejauh ini." Benar benar jawaban yang sulit di percaya, tidak mungkin Xia tidak pernah jatuh cinta, apakah dia berbohong? "Bagiku di hianati seseorang yang paling berharga dalam hidupku sudah cukup membuktikan bahwa cinta itu menakutkan dan hina, jangan sebut aku tidak beralasan mengatakannya, kau bisa lihat ayahku." Alexia membuang muka. "Jadi kalaupun aku menikah suatu saat nanti, itu karena aku ingin terlihat normal seperti gadis lain, bukan karena ingin merasakan cinta." Daniel paham, trauma bukanlah hal yang dapat di sepelekan, Alexia di kecewakan oleh ayahnya berkali kali, itu sudah cukup untuk membuatnya merasa bahwa cinta adalah kebohongan yang di bungkus rapih, harusnya Leon menjadi cinta pertamanya dan juga pelindungnya, namun Alexia tidak merasakan itu sama sekali. "Lalu apa alasanmu bertanya tentang menikah?." tanya Daniel penasaran. "Aku hanya ingin tau saja." jawab Alexia seadanya. Daniel mengangguk anggukan kepalanya paham. "Ayo menikah." Daniel hampir menelan stik ice cream yang ada dalam mulutnya, ucapan Alexia barusan tidak masuk akal sama sekali. "A-apa?." beo Daniel, Alexia menoleh menatap Daniel lekat. "Aku bilang ayo menikah, bukan karena aku mencintaimu tapi karena aku ingin terlihat normal." Tapi ini terlalu tiba tiba. "Tapi mengapa nona mengajak aku?." "Karena aku ingin merasakan dirimu." Jawab Alexia membuat Daniel menelan ludahnya kasar, jantungnya bedegup tidak karuan, perasaan macam apa ini? Kenapa dia merasa sangat grogi. ~~~ Raken menggaruk tengkuknya bingung, Savana saat ini berada di hadapannya sembari menanyakan kemana perginya Daniel, bukankah mereka tadi pergi bersama? Kalau bukan dengan Savana, lalu Daniel bersama siapa? "Demi Tuhan kau sangat menyebalkan, aku bertanya dimana Daniel." Ucap Savana lagi setelah bertanya beberapa kali sebelumnya. "Aku tidak tau Savana, ku kira dia bersamaamu karena wajahnya terlihat begitu senang, ku kira kalian akan berkencan." Savana terdiam, sudah berapa kali dia kalah start? Daniel selalu saja tidak ada waktu dengannya, lalu kali ini dengan siapa Daniel menghabiskan malamnya? Sesak semakin menjadi dalam dadanya, kenyataan bahwa Daniel mulai melupakan keberadaannya membuat Savana seakan tertampar berkali kali, Savana belum siap kehilangan sahabat kecilnya sekaligus cinta pertamanya. Mata Savana berkaca kaca, dia sebisa mungkin menahan air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya. Raken merasa bersalah setelah jujur dengan Savana, sungguh dia tidak tahu kalau Daniel menemui orang lain bukan Savana. "Maafkan aku Savana, aku benar benar tidak tau." pinta Raken. Savana hanya mengangguk, dia kemudian berbalik lalu pergi begitu saja, Raken semakin bingung harus bagaimana, ini bukan urusannya tapi dia sedikit bersalah karna mengucapkan kalau Daniel seperti akan berkencan. Savana berjalan menysuri trotoar jalanan, air matanya sudah mengalir deras, sasak, sakit, dan sakit. Dia di lupakan oleh Daniel, Daniel yang dia anggap miliknya kini entah dimiliki oleh siapa, sesak, jantungnya seakan akan sulit berdetak. Savana sampai di taman dekat rumah Daniel, dia mencari tempat duduk yang sepi, mengusap pipinya sendiri kasar, namun lagi lagi buliran bening itu jatuh ke pipinya tanpa aba aba. Entahlah di sini siapa yang tersakiti, kalau memang Savana yang tersakiti maka dia tersakiti oleh harapannya sendiri, dari awal Daniel bukan miliknya, dia tahu sendiri bahwa Daniel bukan miliknya. Namun dia yakin bahwa Daniel juga memiliki perasaan yang sama dengannya, itu yang membuat Savana sakit ketika mendengar Daniel bersama orang lain. "Bukankah kita sudah berjanji untuk bersama?." ucap Savana dalam tangisnya. Savana kembali mengusap pipinya, samar samar dia seperti melihat Daniel tidak begitu jauh dengannya, Savana mengusap matanya dan kembali memahamkan. Jantungnya kali ini serasa akan berhenti berdetak, melihat Daniel dan seorang gadis hampir berciuman, nafas Savana tercekat, panas menjalar ke seluruh tubuhnya, air matanya kembali mengalir deras. Kali ini apa Daniel benar benar sudah melupakannya? ~~~ Daniel membuka matanya perlahan, jantungnya semakin berdegup tidak karuan. Baru saja, baru saja dia merasakan kecupan dari bibir lembut milik nonanya sendiri, rasanya seperti mimpi namun mereka baru saja melakukannya. Alexia menatap mata Daniel lekat, Daniel memberanikan diri untuk menyentuh pipi Alexia, mengusapnya lembut. "Itu ciuman pertamaku." aku Alexia tanpa malu. Daniel semakin terkejut, tidak menyangka dia yang akan mendapatkan first kiss nonanya. "Apa aku beruntung?." tanya Daniel membeo. Alexia terkekeh. "Sudah pasti aku beruntung, bahkan tidak ada pria yang berani menyentuh ujung jariku sama sekali, dan sekarang lihatlah kau menyentuh pipiku seakan akan aku milikmu." Tersindir namun Daniel tidak berhenti meyentuh pipi lembut Alexia. "Dan aku tidak keberatan menjadi milikmu." lanjut Alexia sembari melempar senyuman cantiknya. Lalu apa mereka berkencan? Kalau iya bagaimana dengan Savana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN