Daniel mondar mandir di dalam kantor sebelum Alexia datang, entah apa yang membuatnya begitu gelisah, atau lebih tepatnya Daniel tengah kebingungan, dia tidak tahu bagaimana harus bersikap nanti ketika Alexia datang. Malu, canggung, dan senang bercampur jadi satu setelah kejadian tak terduga tadi malam.
Jantungnya seakan akan ingin meledak saat bibirnya dan bibir Alexia saling bersentuhan, Daniel sepenuhnya sadar kalau Alexia tidak memiliki rasa padanya, namun apa salahnya mencoba? Mungkin Daniel sudah melanggar ucapannya sendiri untuk tidak jatuh cinta pada nonanya, tapi tidak salah kan kalau dia mencintai Alexia?
Jatuh cinta bukan sebuah kejahatan, setiap orang berhak mencintai orang lain, entah perasaan itu akan terbalas atau tidak itu adalah bonus, jika dia mencintaimu maka kalian bisa saling mencintai, jika tidak cukup lupakan perlahan dan carilah kebahagiaan lain.
Terdengar suara ketukan sepatu yang semakin mendekat, jantung Daniel semakin berdegup tidak karuan, dia mengambil posisi tegap seperti biasanya. Pintu kantor yang menjulang tinggi berwana coklat itu terbuka, menampilkan Alexia yang selalu cantik setiap harinya, Daniel memberi salam hormat dan ucapan selamat pagi pada Xia.
"Selamat pagi nona." ucap Daniel setengah membungkuk.
Alexia membalas ucapan Daniel sembari berjalan ke arah kursinya.
"Pagi kembali Daniel, apa tidurmu nyenyak?."
TIDAK.
Jiwa Daniel serasa ingin berteriak mengatakan 'TIDAK' bagaimana mungkin dia bisa tidur nyenyak setelah kejadian tidak terduga itu, otaknya bahkan selalu membayangkan wajah cantik Alexia, rasanya sudah seperti setengah gila.
"Tentu nona." jawabnya berbohong.
"Bagaimana denganmu?." sambung Daniel bertanya balik.
Alexia menarik nafasnya, lalu menatap Daniel lekat, mengedip beberapa kali seakan akan tengah berfikir.
"Tidak, tidurku tidak nyenyak, aku merasa terganggu." jawabnya.
Daniel hanya mengangguk angguk, berfikir mungkin ada hal lain yang mengganggu nonanya itu.
"Memikirkan bibirmu." sambung Alexia.
Wajah Daniel tampak memerah, dia malu, dan ini sangat memalukan, dia bahkan seumur hidup tidak pernah menunjukkan wajah malu malunya. Bukankah ini sangat memalukan?
Alexia tertawa puas melihat tingkah lucu Daniel, dia tidak menyangka Daniel bisa selucu itu.
"Kau lucu Daniel." ucapnya sambil tertawa.
Memalukan, Daniel sangat malu.
Alexia mulai mengerjakan pekerjaannya, dia tampak fokus dan sangat serius tidak seperti beberapa saat tadi, Daniel lagi lagi memperhatikan wajah Alexia seksama, sembari berbicara terus menerus di dalam hati.
Tidak ada salahnya mencintai nona.
Tidak ada salahnya mencintai nona.
Tidak ada salahnya memang, andai Daniel tahu siapa lawannya, lawannya adalah kakak tiri nonanya sendiri.
Terlalu mengerikan, Galen menutup mata hanya karena cinta.
~~~
Hari ini, adalah hari peringatan pernikahannya dengan wanita cantik yang wajahnya tak lagi dapat dia tatap atau dia sentuh, hari ini hari pertama kali dia melihat senyum cerah di wajah wanita itu karena pernikahan mereka.
Hari ini Leon menyempatkan diri mengunjungi makam Hellen, tangan yang sudah tampak tua itu menggenggam sebuket bunga mawar putih kesukaan mendiang istrinya itu.
Leon meletakkan bunga itu di atas nisan Hellen, dia menatap lama batu bertulisan Hellen Gilbert, wajahnya tersenyum kecil.
"Selamat untuk hari ini Elle, aku tidak bisa mendo'akan panjang umur untuk hubungan kita, karena memang hubungan kita sudah berakhir."
Leon merogoh saku jaket tebalnya, mengambil sebuah foto yang tampak usang namun terlihat masih jelas. Wajah Hellen dan dirinya terpampang, foto pernikahan mereka.
"Putri kita sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat pintar dan juga cantik, dia bahkan tidak pernah memiliki waktu bersantai karena pekerjaannya sangat menumpuk, anak kita sudah mencapai harapannya untuk menjadi pebisnis yang handal." Leon berucap lirih.
"Tapi dia juga melupakan dirinya sendiri, tidak sempat mencari kebahagiaan, melupakan sifat manjanya, dan membuang jauh jauh rasa cintanya padaku."
Mata Leon berkaca kaca, tidak dapat di pungkiri, Alexia selalu dia anggap sebagai putri kecilnya, dia sadar Alexia berubah karena kesalahannya, namun Leon tidak berani meminta kasih sayang itu lagi setelah dia sendiri melupakan kasih sayangnya pada sang putri.
"Dia pasti sering menangis ketika malam memeluk tubuh kecilnya." Leon sedikit terkejut, mendengar suara wanita yang kini sudah berada di sampingnya.
Wanita itu menoleh, lalu melempar senyum.
"Kau tau, anak anak selalu menyalahkan dirinya sendiri ketika orang tua mereka gagal memberi kasih sayang, mereka bahkan menyalahkan diri mereka sendiri ketika hari yang mereka harapkan selalu saja gagal." wanita itu menjeda ucapannya.
"Seburuk apapun orang tua, mereka selalu berfikir bahwa merekalah yang lebih buruk, kehadiran mereka yang memperburuk, pada kenyataannya orang tua mereka yang egois pada anak anaknya." lanjutnya menatap lurus.
Sebagai anak seringkali mereka di salahkan atas hal yang tidak pernah mereka lakukan, apa alasannya?
Karena orang tua ingin melampiaskan kemarahannya dan juga menutupi kesalahan mereka sendiri, tanpa berfikir tentang perasaan anak anak mereka.
"Kalau kau sadar seharusnya kau bertindak, bukan hanya memendam, sebelum putrimu benar benar membenci ayahnya sendiri."
Sebuah tamparan bagi Leon, entah akan berefek atau tidak, namun setidaknya dia harus mulai berfikir tentang perasaan Alexia.
~~~
Alexia kembali kerumah dengan keadaan yang begitu lelah, pekerjaannya sangat menumpuk sekali, Xia melirik jam dinding. Pukul 18.27, Xia melepas sepatunya lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Hanya berdiam diri sambil melamun, kebiasaannya setiap pulang berkerja memang begitu, rasanya sangat nyaman dan melegakan.
Alexia memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya memilih mandi.
Tak lama setelah membersihkan diri Alexia turun ke lantai satu untuk makan malam, kaki jenjangnya mengabsen tiap anak tangga satu persatu. Matanya tertuju pada sebuah vas yang tampak asing baginya, dan benar saja vas cantik miliknya entah hilang keman di gantikan dengan vas yang sangat jelek menurutnya.
Xia mendekati vas itu, mengusap pelan vas berwarna keemasan itu.
"Hadiah dari ibu Bianca." ucap Gema menjelaskan sembari melempar senyum kecil.
Wajah Alexia tampak tidak bersahabat.
"Lancang sekali kau Gema." Xia menatap Gema tajam.
Alexia selalu mengingatkan bahwa tidak ada yang boleh mengubah susunan apalagi mengganti barang barang miliknya, namun sepertinya Gema siap untuk kehilangan vas baru itu.
"Ibu memindahkan vas itu ke ruang keluarga kita, jangan khawatir Xia."
"Siapa yang memberimu izin? Siapa yang memintamu untuk melakukan hal hal itu sesuka hatimu?." nada bicara Alexia benar benar sudah menunjukkan kemarahannya.
"Kau tidak berhak Gema, ini rumahku, kau hanya pelayan di sini." lanjut Alexia berucap tajam.
Alexia mendorong vas itu tanpa merasa bersalah, Gema tampak panik ketika vas itu menyentuh lantai dan berubah menjadi kepingan kepingan, Xia melempar senyum kecil.
"Kau mungkin bisa menggeser posisi ibuku seperti kau memindahkan vas itu, tapi kau bisa lihat sendiri bukan? Vas baru berharga murah itu akan ku hancurkan beribu ribu kali, agar kau paham kau tidak pantas berada di sini."
Alexia meninggalkan Gema yang masih syok, dia tidak perduli, Gema terlalu lancang akhir akhir ini, bukankah mereka harus mendapat pelajaran?
Galen menatap ibunya dari atas, hatinya sedikit kesal melihat tingkah Alexia namun dia juga sadar kediaman ini milik Alexia, seharusnya Gema harus lebih berhati hati.