Savana berjalan lesu menenteng tasnya, sudah selarut ini namun dia belum juga sampai dirumah karena memilih pulang berjalan kaki, entahlah kekacauan yang menyelimuti dirinya seakan mengombang ambingkan perasaannya.
Benar.
Cinta memang bukan hal yang semestinya di paksakan, benar cinta bukan sesuatu yang harus di miliki dan benar cinta memang harus berjalan semestinya, tapi apakah salah jika seseorang ingin sedikit egois untuk memikirkan dirinya sendiri?
Bukan cinta yang membuatnya sakit, harapan yang dia tanam sendiri itulah yang membuatnya sakit, merasa tidak lagi memiliki tumpuan dan juga kehilangan arah berjalan.
Tidak ada yang berhak menyalahkan Savana atas cintanya kepada Daniel, karena tiap manusia berhak mencintai dan memiliki rasa seperti itu, tidak ada yang salah dengan Savana, hanya saja dunia seperti sedang tidak berpihak padanya.
Savana membuang nafas berat, bibirnya mulai bergetar menahan genangan air mata yang hampir jatuh membasahi pipinya.
Hampir kehilangan keseimbangan, tubuh Savana di dekap oleh seseorang. Savana menoleh memandang wajah yang sudah tak asing lagi baginya.
"Sudah ku bilang aku akan mengantarmu nona."
Zio melebarkan senyumannya, Savana kembali berdiri dengan benar, dalam keadaan masih linglung Savana hanya menurut saat Zio menggenggam tangannya erat.
Mereka kembali berjalan menelusuri trotoar yang terlihat masih sangat panjang.
Zio tidak menghilangkan senyumannya sama sekali, Savana masih saja memandang Zio lekat.
"Apa aku tampan?." tanya Zio membuyarkan segalanya.
"Ha?."
Savana sontak tersadar.
"Kenapa kau mengikutiku?." tanya Savana sedikit penasaran.
Zio menggeleng gelengkan kepalanya pelan, dia menatap Savana sekilas..
"Arah rumah kita sama nona." jawabnya berbohong, Savana tidak menyadari kalau memang arah rumah mereka berbeda.
"Ah begitu." beo Savana mengalihkan pandangannya ke jalanan yang tampak sepi.
Terkadang ada yang datang untuk menghilangkan rasa sakit yang selama ini telah mereka rasakan, sebagian akan menyadari dan memilih berhenti terluka, sebagian pula memilih bertahan dengan alasan sulit melupakan.
Bukankah manusia terlalu rumit untuk di mengerti?
Mengapa mereka selalu mempertahankan sesuatu yang menyakiti diri mereka sendiri?
Langkah kaki keduanya berhenti tepat di depan gerbang rumah Savana, Zio melepaskan genggamannya, menatap Savana dengan mata berbinar cerah.
Zio mendekat ke arah Savana.
"Habiskan waktumu untuk memikirkan hal yang membuatmu bahagia, jangan terpaku di satu titik yang membuatmu lemah, nona adalah gadis terbaik yang pernah aku temukan, jadi ku mohon jangan bersedih."
Savana hanya terdiam mencerna kalimat yang baru saja Zio ucapkan, bibirnya bahkan sudah tidak bisa menjawab.
"Masuklah, aku akan pulang."
Apa Savana menyadari bahwa selama ini ada seseorang yang ingin membahagiakannya lebih dari siapapun?
~~~
Di tempat lain Alexia menatap bayangannya di tengah kegelapan, menyisir pelan tiap helai rambut panjangnya, melamunkan sesuatu yang selalu menjadi ketakutannya tiap malam.
Bagaimana dunia berkerja sangat tidak adil pada seorang Alexia, mungkin orang lain berfikir bahwa dia adalah gadis yang sangat bahagia, hidupnya tak pernah lepas dari kemewahan, apapun yang dia inginkan selalu dia dapatkan pula.
Namun pernahkah seseorang memikirkan mengapa dia mendapatkan itu semua?
Dunia ini bekerja tumpang tindih, kita tidak akan pernah mendapatkan segalanya dengan sempurna.
Kau harus miskin untuk merasakan kehangatan keluarga, kau harus kehilangan kehangatan keluarga ketika kau menginginkan kekayaan, kau harus berhati baik ketika penampilanmu tak sesempurna yang kau harapkan.
Dunia ini terlalu kejam untuk kita salahkan, karena pada akhirnya kita yang disalahkan kembali.
"Pernahkah kau berfikir mengapa aku sangat membencimu?."
Seseorang hanya menjawab dengan senyuman tipis, dia bahkan tidak perduli bahwa gadis ini membencinya setengah mati, namun apa salahnya mengetahui alasan di balik kebenciannya?
"Tidak, aku tidak perduli." jawabnya acuh.
"Karena kita adalah teman." Alexia kembali menatap pantulan dirinya sendiri.
"Kita adalah teman, saat itu kau berjanji untuk tidak menyakitiku, kau berjanji bahkan akan membunuh siapapun yang membuatku menangis." Alexia menjeda ucapannya.
"Maka bunuhlah ibumu." seringai tipis muncul di bibir cantik Alexia.
Alexia membalikkan tubuhnya, menatap mata yang sudah terlebih dahulu menatapnya tajam.
Alexia tergelak, mentap manusia yang kini mungkin sangat ingin menikamnya.
"Bukankah itu janjimu? Apa kau sudah sangat pintar berbohong hm?."
Galen membuang muka.
Dia bersedia membunuh siapapun yang menyakiti Alexia tapi bukan seperti ini yang dia maksud, Alexia sudah membenci ibunya begitu dalam, tidak ada lagi kata maaf yang dapat ibunya terima dari gadis yang kini sudah menjadi anak tirinya itu.
"Selain ibuku."
"Jelas saja kau itu seorang pembohong." ketus Alexia.
Galen hanya diam membuang nafas lesu, berapa kalipun dia menjelaskan Alexia tidak akan pernah percaya dengan ketulusannya, mungkin Galen bisa membunuh semua manusia di bumi demi Alexia, tapi tidak dengan ibunya. Mana ada anak yang tega membunuh ibunya sendiri, kalau bukan orang gila.
"Bianca." beo Alexia.
"Apa kau benar benar mencintanya?." tanya Alexia penasaran.
"Entahlah, aku hanya menjalani itu dengan semestinya." Galen menjeda ucapannya.
Laki laki mana yang tidak b******k, sejatinya mereka selalu mempermainkan hati wanitanya tanpa berfikir dua kali, namun merengek seribu kali meminta kesempatan untuk kembali.
"Apa aku menyakiti hatinya? Aku mencintai gadis lain, aku mengharapkan gadis lain, bahkan saat menggenggam tangannya aku hanya memikirkan gadis yang ku cintai. Apa aku menyakitinya?."
Galen memiringkan tubuhnya, menatap lekat mata yang di cintainya bertahun tahun lalu itu.
Alexia menatap datar, membenci mulut manusia yang baru saja mengeluarkan suara hatinya.
Sudah jelas menyakiti, mengapa dia masih bertanya lagi? Sudah jelas dia menyadari, mengapa tak berhenti?
"Semua manusia sangat menjijikan, bertahan demi sebuah alasan yang tidak masuk akal." Galen terkekeh pelan seakan akan ucapan Alexia adalah sebuah lelucon.
"Apa kau termasuk?."
"BISAKAH KAU BERCERMIN!." jawab Alexia dengan nada tingginya.
Galen terdiam, dia kembali menatap Xia lekat.
"Tidak bisakah kita mengulang masa lalu? Tidak bisakah kita menjadi teman seperti saat itu? Tidak bisakah kau memberiku maaf?." tanya Galen dengan suara pelan.
Mungkin.
Mungkin bibir Alexia bisa mengucapkan bisa, namun hatinya masih menyimpan seribu duka dan luka, terus di hantui rasa benci, dan menjadikan mereka musuh yang nyata. Alexia tidak ingin mengulang lagi, biarlah semua berjalan seperti ini, agar ada yang bisa di pelajari.
"Tidak."
Jawab Xia membuang muka.
"Terima saja kenyataannya bahwa aku membencimu sampai mati."
Lanjutnya beranjak dari kamarnya sendiri, meninggalkan Galen yang hanya bisa mendesah berat, dia kehilangan keduanya, teman kecil serta cinta pertamanya dalam satu waktu.
~~~
Meringkuk sendirian, terus di serang rasa ketakutan, menangis tiap malam datang. Mengapa? Dunia selalu tak berpihak padanya?
Terkadang Tuhan memberi sebuah ujian yang memang sangat menyakitkan bagi hambanya, memberi pelajaran agar hamba-Nya tahu siapa dan apa kedudukannya di muka bumi. Banyak dari mereka yang menyombongkan diri seakan akan dunia adalah miliknya, padahal dia hanya bagian kecil dari dunia yang begitu luas.
Sering kali terlihat seperti drama, kehidupan yang tak lama ini benar benar sangat menguras tenaga, beberapa bahkan berharap agar dirinya mati dengan cepat. Tidak tahukah dia bahwa Tuhan tengah membiarkannya memperbaiki diri? Tidak tahukah dia bahwa Tuhan tengah memaafkan kesalahannya yang ribuan kali lebih banyak dari buih di lautan? Pantaskah dia memikirkan kematian itu sebagai pilihan akhir dari segala usahanya?
Alexia sering kali bertanya tanya apakah dosanya hingga Tuhan memberinya cobaan seberat ini, apa salah Xia kecil saat itu? Apa dosa yang dapat di perbuat oleh anak usia 5 tahun? Mengapa hukuman dari Tuhan berjalan tanpa ujung?
"Aku tidak pantas menanyakan hal itu, Tuhan lebih tau segalanya, aku hanya manusia yang bahkan selalu lupa akan Tuhannya, sangat tidak tau malu."
Kesunyian malam menjadikan hari ini akhir yang sangat memilukan, membiarkan luka lama, membiarkan kenangan yang telah usai kembali menyerang pikirannya, dia ingin melupakan semua itu, hanya saja belum menemukan caranya.
Tuhan sengaja memutar kembali sebuah kenangan lama untuk melihat apa mereka menyesali perbuatannya atau malah menjadi semakin pongah, manusia tetap manudis, terlalu naif dan munafik.