🦋Pertunangan

2187 Kata
Sepasang sepatu berwarna pink muda mendekat saat Daniel membenarkan ikatan tali sepatunya sendiri, dia hanya memandang sepasang sepatu itu lalu kembali fokus pada miliknya sendiri. Selesai. Daniel berdiri, netranya betumbukan dengan netra coklat muda milik gadis sepatu pink itu. "Ada apa?." Dengan wajah kebingungan gadis itu melempar senyum lalu menggeleng. Udara hari ini terasa lebih menusuk ketimbang biasaya. Entahlah, mungkin karena musim kemarau sedang melanda. Daniel membuang nafas, dia kembali menatap gadis di sampingnya yang sedari tadi menutup mulut rapat rapat. "Harusnya kau bicara." cecar Daniel dengan nada sedikit kesal. Mata gadis itu berkedip satu kali, memberanikan diri untuk membalas tatapan Daniel. Lagi lagi bibirnya mengukir senyum namun tak secerah biasanya. "Busnya sebentar lagi datang." ucapnya membalas setelah membisu sedari tadi. Daniel menarik tangan mungil milik gadis itu, mengajaknya duduk di kursi halte. Tidak di lepas. Daniel menggenggam tangan yang terasa lebih dingin dari biasanya, sekaan akan tidak ada lagi tenaga untuk melawan, dia hanya diam dengan perlakuan Daniel. "Kita bukan orang asing, tidak seharusnya bersikap seperti ini Savana." Ya. Gadis itu adalah Savana, dia mendengar Daniel seksama, memandang wajah pria yang sudah bertahun tahun mengisi hatinya, menjadikannya kuat dengan alasan yang jelas, yaitu cinta. Suara riuh di jalanan sedikit menyamarkan helaan nafas Savana yang lelah, dia tidak ingin seperti ini, harapannya sudah menemukan harapan baru. "Aku tidak mengatakan bahwa kita asing." Savana menjeda ucapannya. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?." Daniel tidak mengerti, sebenarnya kenapa Savana bersikap acuh seperti ini, biasanya Savana selalu heboh tiap kali mereka bertemu. Apa karena kejadian tempo hari? Daniel mengaku salah tidak memiliki waktu sama sekali untuk sahabatnya, tidak lagi bisa minum bersama, makan bersama, menikmati angin malam bersama, bahkan untuk bertegur sapa pun mereka sudah jarang melakukannya. Hening. Lagi lagi mereka tidak bicara. Savana menatap langit sore yang tampak mendung, dan benar saja tak lama rintik hujan mulai jatuh berbondong bondong, sudah sangat lama sejak terakhir kali hujan turun, Savana merindukan hujan seperti dia merindukan Daniel nya. "Katakan Savana, mengapa kau bersikap seperti ini?." Savana menoleh, menatap Daniel datar. "Tidak ada yang serius, aku hanya kehilangan moodku setelah melihatmu berciuman sengan seorang gadis di taman." Wajah Daniel tampak terkejut, dia bahkan melonggarkan genggaman di tangan Savana, wajahnya tampak menyesal. "Tidak perlu di pikirkan, aku hanya sedang tidak memiliki suasana hati yang baik." Sudah jelas Savana cemburu, namun dia berusaha menutupinya dengan cara seperti ini, Daniel tidak tahu harus mengatakan apa, dia kebingungan dengan keadaanya sendiri. Apa mencium gadis lain adalah kesalahan? Secara logika tentu saja tidak, mereka hanya teman, dan tak ada yang perlu di lebih lebihkan dari status mereka, namun apa Daniel pernah berfikir tentang perasaan Savana yang sebenarnya? Mungkin saja sejauh ini Daniel menganggap mereka hanya teman, namun bibirnya pernah berucap dusta bahwa tak ada yang lebih baik dari Savana. Apa semua laki laki memang begini? b******k dan tak punya hati? "Maaf." Hanya itu yang terlontar dari bibirnya, Savana tertawa hambar. Maaf? Untuk apa? Tidak ada yang perlu di maafkan, Savana terluka karena harapannya sendiri. "Maafkan aku Savana." Daniel merasa bersalah, mengecewakan sahabatnya sendiri, dia tidak bisa memberikan Savana kata kata untuk meyakinkan bahwa itu hanya ketidaksengajaan. Karena kali ini perasaannya pada Alexia benar adanya. "Tak ada yang perlu di maafkan, cukup lupakan Daniel, kita hanya teman." Savana menarik paksa tangannya dari genggaman Daniel, gadis itu membuka tasnya, mencari letak handphone miliknya lalu terdengar dia bicara dengan sang driver. Setelah selesai Savana menatap Daniel, melempar senyum yang tampak lebih menyakitkan. "Lupakan, jangan pernah merasa bersalah padaku, karena memang akulah yang bersalah atas diriku, aku memutuskan untuk mencintaimu di tengah hubungan pertemanan kita, bukan salahmu jika kau tak merasakan cinta itu, cukup berikan aku waktu untuk berfikir Daniel." Hati Daniel seakan terkoyak, dia b******k sekali, dia menyakiti wanita yang selama ini menjaganya dan memperlakukannya dengan baik. "Aku harus berfikir, pergi untuk melupakan, atau melupakan dengan menggantimu dengan orang lain." Savana berdiri dari duduknya, melihat mobil yang menjemputnya sudah datang, dia berjalan menjauh dari Daniel, kemudian menyempatkan diri untuk melambai. "Maaf aku tidak jadi naik bus, hati hati saat kembali nanti." Suara Daniel seakan menghilang, dadanya begitu nyeri, nafasnya tercekat melihat gadis yang berusaha menahan tangisnya, gadis baik itu menahan tangisnya di hadapan Daniel. Sangat menyakitkan. ~~~ Galen menatap datar orang orang yang kini tengah berlalu lalang sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri, hanya diam dan tak bersuara, terlalu malas untuk bicara dan membuka suara tentang pemikirannya. Ruangan yang biasanya terisi dengan sofa beserta t***k bengeknya sudah di sulap menjadi sebuah ballroom pesta yang begitu megah dan elegan. Ada acara apa memangnya? Alexia tersenyum mengejek melihat wajah kusut Galen, gadis itu memang tidak ada henti hentinya berniat untuk membuat Galen sengsara, baginya itu sebuah kesenangan tersediri. Berdiri di sebelah sang kakak tiri, Xia melipat kedua tangan di dadanya. "Aku tebak kau sangat tidak bahagia." ucapnya nyeletuk tanpa dosa, lagi pula orang gila pun pasti bisa melihat raut wajah kusut bak kertas lama pada wajah tampan itu. Galen masih diam tak bersuara, hanya terdengar helaan nafas beberapa kali dari bibirnya. "Harusnya tidak perlu bertunangan, kalian langsung menikah saja bukankah membuat acara seperti ini hanya membuang buang uang?." Alexia menjeda ucapannya, kembali memperhatikan pelayan yang menata ruangan dengan cekatan. "Padahal kalian miskin." oloknya tak berhati nurani. Galen menoleh, menatap jengkel. Mau bagaimana lagi, adik tirinya memang semenjengkelkan itu. "Kau tau ini bukan kemauanku." jujur Galen pada Xia, Alexia mengangguk paham. Memang bukan kemauan Galen untuk bertunangan dengan Bianca, tapi kemauan Gema dan Leon sebagai mentor abal abalnya. Merasa agak kasihan dengan kakak tirinya, Alexia menepuk pundak Galen pelan, Galen memandang tangan mungil itu lalu beralih memandang wajah Xia keheranan. Tidak biasanya Alexia bersikap sebaik itu, seakan akan memberi semangat pada Galen untuk lebih menguatkan diri. Alexia tak sejahat itu. Batinnya. "Jangan putus asa, aku tau kau kecewa dengan keputusan bodoh ibumu, aku juga tidak keberatan teruslah mengemis padaku Galen." ucap Alexia tanpa bersalah. Alexia memang sejahat itu. Galen meralat ucapannya barusan. "Sejujurnya aku menykai gadis lain." jujur Galen. "Tapi tampaknya dia tak menyukaiku." sambungnya dengan nada pasrah. Alexia berdecih. "Memangnya kau sudah mengakui perasaanmu padanya?." tanya Alexia. Galen menggeleng, lalu mengangguk. "Bodoh, apa arti menggeleng lalu mengangguk." cecar Alexia kesal. Karena memang Galen sudah mengatakannya namun tidak menyatakannya dengan jelas, dia baru saja mengatakannya namun tidak berani mengakui bahwa dia menyukai adik tirinya sendiri. "Aku sudah mengatakannya, tapi dia tidak menyadari tentang perasaanku padanya." "Sepertinya dia gadis bodoh." maki Alexia mengatai dirinya sendiri. Galen tertawa sesaat, dia menggeleng. "Dia bahkan tidak bodoh sama sekali, jujur dia adalah gadis paling sempurna yang pernah aku temui, sayang sepertinya tidak ada kesempatan untuk diriku mendekatinya." Alexia membenci ucapan itu, menurutnya Galen harus tetap berusaha sekuat mungkin jika memang dia mencintai gadis itu, kenapa harus merasa putus asa seperti sampah? Tidak ada yang tidak mungkin kan? Kecuali Tuhan memang tidak merestui hubungan keduanya. "Dasar penakut." hardik Alexia dengan wajah mengejek. Galen memutar matanya malas, ujung ujungnya dia hanya akan di kata katai lagi oleh si bungsu. "Kejar apapun yang kau inginkan, bukankah kau sendiri mengatakan bahwa kita harus mengejar sesuatu yang menurut kita pantas untuk dikejar?." sambung Alexia mengomel. "Dia terlalu tinggi untuk di gapai, seperti katamu, aku hanya anak pelayan tidak mungkin aku bisa meminang seorang putri raja." Sialan, Alexia merasa bersalah karena mengucapkan kata itu berkali kali pada Galen. Dia memang anak pelayan, tapi dia adalah teman Alexia sejak kecil, Alexia membencinya namun sesekali Alexia akan tetap mendukungnya dengan cara jelek sekalipun. "Tidak ada yang tau, Tuhan bisa saja menjodohkan putri raja dengan pria lumpuh sekalipun, ini tentang kehendak Tuhan bukan tentang kehendak manusia yang terus mengeluh tanpa berusaha." Galen lagi lagi mengulas senyum tipis, dia tahu Alexia tidak pernah melupakan pertemanan mereka meskipun wajah dan bibir itu selalu menyerapah sepanjang hari padanya. "Akan ku coba." jawab Galen singkat. Alexia kesal. "DASAR IDIOT." Xia meninju lengan Galen kuat, kemudian melenggang pergi menuju dapur. Galen tertawa renyah melihat kekesalan Alexia, kembali menghela nafas Galen tidak akan pernah bisa menggapai Alexia, dia tidak mungkin kembali merusak hubungan mereka dan dia juga tidak mungkin mematahkan hati wanitanya saat ini. ~~~ Tampak pagi ini kediaman Alexia begitu rusuh, suara ribut diluar membuat tidur Alexia terganggu, terpaksa gadis itu harus bangun. Meskipun tidak berminat untuk menghadiri acara pertunangan Galen dan Bianca, namun dirinya berniat mengkepo sedikit. Lagi pula acara itu di gelar di rumahnya, tidak ada salahnya kan tuan rumah hadir? Alexia meraba nakas, mencari letak benda pipih dengan seribu kegunaan, apalagi kalau bukan ponsel. Dapat. Xia segera mengetik pesan singkat pada bodyguardnya, Daniel. Dia berniat membuat kerusuhan lalu setelah itu pergi berbelanja atau ke pantai bersama Daniel. Alexia bergegas bangun dari ranjang empuknya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah 30 menit berlalu dia keluar menggunakan kaos dan celana pendek. Kalau saja kalian mengira Alexia tidak pernah menggunakan celana pendek dan kaos oblong kalian salah besar, pada kenyataannya dia menyukai stelan gembel, ya meskipun tak tampak seperti gembel. Seperti biasa dia hanya duduk dan membiarkan pelayannya mengambil alih memoles wajah cantiknya, sembari menunggu dia memainkan ponselnya, sesekali menatap pantulan dirinya pada cermin besar di hadapannya. "Jam berapa acara tidak penting itu dimulai?." tanya Alexia pada pelayannya. Mereka saling melempar pandangan, lalu salah satu dari mereka menjawab. "Jam 10 nona." Alexia hanya mengangguk angguk. Dilihatnya jam pada ponsel yang ada di tangannya, masih pukul 8 lewat 45 menit. Selesai. Alexia mengganti pakaiannya, dan bersiap untuk turun menemui Daniel. Entahlah, dia sangat tidak sabar menunjukkan dirinya pada Daniel. Sejak kejadian itu Alexia begitu berbunga tiap melihat bodyguardnya sendiri. Alexia keluar dari kamarnya, dia menatap lurus ke depan, memandang pintu besar yang tertutup rapat. Kamar mendiang ibunya. Alexia mulai berandai andai. Andai saja ibunya tidak mati, mungkin tidak akan ada acara tidak penting seperti ini dirumahnya. Namun tampaknya kematian ibunya juga menjadi suatu hal yang agak menguntungkan Alexia, meskipun lebih banyak ruginya. Dasar manusia. ~~~ Daniel sudah rapi dengan stelan kemeja putih panjang beserta jas hitam yang begitu pas melekat pada tubuh kekarnya, sembari menunggu sang nona Daniel berbincang dengan beberapa karyawan yang juga menghadiri acara penting milik Galen dan kekasihnya itu. Suasana yang begitu meriah dan tampaknya juga banyak orang orang kalangan tinggi menghadiri acara ini. Wajar saja lagi pula Bianca juga anak pembisnis yang namanya sudah tidak asing lagi, tentu acaranya akan semeriah dan semewah ini. "Bau bau uang." celetuk Ello membuat beberapa rekan kerjanya termasuk Daniel tertawa. "Aku tidak dapat membayangkan seberapa banyak uang yang tuan Galen habiskan." Tentu saja ratusan juta. "Buku tabunganku akan menangis jika melihat acara ini." sambung Daniel membuat mereka kembali tertawa. "Orang kaya pasti bingung bagaimana cara menghabiskan uang mereka." ucap Kevan. "Padahal cukup mudah." jawab Daniel. "Cukup mereka buang ke rekeningku." sambungnya tertawa jenaka. "Seberapa banyak yang kau mau?." "Cukup 500 juta." jawab Daniel, mendadak mereka diam tak menyaut. "Oke done." Wajah Daniel berubah ketika tahu pertanyaan itu dari nonanya. Tak lama Daniel hampir saja mengeluarkan bola matanya setelah melihat pemberitahuan dari ponselnya. Alexia benar benar mentransfer uang 500 juta ke dalam rekeningnya. "Nona aku tidak serius." kata Daniel. "Maka aku sedang tidak bercanda." Enteng sekali bukan? Begitulah orang kaya. ~~~ Acara selesai, pemasangan cincin dan lain sebagainya berjalan dengan sangat lancar, tadinya Alexia ingin merusuh namun tampaknya lebih baik mengajak Galen baku hantam di belakang panggung. Beberapa tamu sudah sibuk memilah milah makanan dari makanan ringan sampai yang paling berat, meskipun tidak seberat beban hidup namun tetap saja dan menambah berat badan bukan? Alexia menyipitkan matanya, netra coklat terangnya tak sengaja bertumbukan dengan gadis yang kini tengah menatapnya dengan wajah setengah kesal. Memangnya dia salah apa? Alexia berfikir dimana ada tamu sekurang ajar itu pada tuan rumah. Karena ikut merasa jengkel Alexia sengaja mengajak Daniel untuk mengucapkan selamat pada Galen, sebenarnya tidak terlalu tulus hanya sekedar formalitas biasa. Xia menggandeng tangan Daniel menuju tempat Galen dan Bianca berdiri, jelas sekali raut wajah gadis yang sedari tadi memandangnya itu memerah padam, bola matanya hampir keluar, sangat mengerikan namun juga menyenangkan. "Selamat tuan Galen, saya berharap anda dan nona Bianca menjadi pasangan yang saling mencintai sampai ajal memisahkan." ucap Daniel memberi selamat. Alexia menaikkan sudut bibirnya jengah. "Semoga ajal cepat memisahkan kalian." sambung Alexia ngawur. "Maksudku semoga kalian cepat menemui ajal." semakin gila Daniel menganga tidak percaya, nonanya benar benar tidak takut di tampar oleh kakak tirinya setelah mengucapkan kata kata tidak pantas itu. "Jangan terlalu kaget Daniel, aku sudah biasa menghadapi sikap tidak warasnya." jawab Galen tanpa emosi. Alexia berdecih, sesekali di liriknya gadis yang terus menatapnya dari kejauhan. "Jangan terlalu bahagia, dasar gembel." hinanya dengan nada kesal. Galen tertawa renyah, tidak tersinggung meski di katai gembel oleh si bungsu, dia tahu Xia sedang berbicara dengan teman bukan dengan seorang kakak tiri. "Terimakasih sudah memberi doa baik untuk kami." akhirnya Bianca membuka suara. Alexia tidak bisa berkata kata lagi sudah jelas dia mendoakan keburukan, kenapa tunangan kakak tirinya itu malah berterimakasih. Dasar stress. Gerutunya tak habis habis. "Jadi kapan kalian akan mulai membuat anak?." "Ha?." Daniel dan Galen membeo tidak paham. "Kita ini belum menikah." sahut Galen kesal. "Lalu apa masalahnya?." tanya Xia lagi. "Belum saatnya membuat anak, tidak di anjurkan dalam agama." Xia memandang remeh. "Jangan sok suci, ku dengar kaum laki laki gemar bermain sabun." ejeknya. Wajah Daniel dan Galen berubah memerah. "Alexia Maurellin!!." Teriak Galen emosi. "Diam DASAR AMOEBA!!." balasnya berteriak marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN