🦋Cemburu

1356 Kata
Savana menopang dagu, hari ini Daniel berkunjung kerumahnya, entah ada apa tapi agaknya ada sesuatu yang penting, entah benar atau tidak Savana juga kurang paham lagi pula dia hanya menebak. "Aku bawakan kue kesukaanmu." ucap Daniel sambil menyodorkan kue yang tadi di belinya dalam perjalan kerumah Savana. "Hm." Savana hanya bergumam, dia menerima uluran dari Daniel, meletakkan kue dengan kotak berwarna pink itu di meja. Sejenak mereka terjebak hening. Merasa saling canggung setelah pembicaan terakhir mereka seakan akan percakapan beberapa hari lalu begitu menggantung dan tidak ada kejelasan. Sebenarnya sudah selesai, namun Daniel masih merasa belum ada titik terang, dia tidak suka hubungan di antara mereka renggang begini. Menyorot datar, Savana memberanikan diri membuka suara. "Tumben sekali kau datang, ada keperluan apa?." tanyanya tanpa basa basi. Ada apa? Sudah jelas terjadi masalah yang cukup rumit di anatara keduanya, lagi pula bohong jika Savana mengaku tidak sakit hati setelah dia berusaha menahan air matanya. "Apa aku perlu alasan untuk datang kerumahmu?." Savana menggeleng, tapi dia tahu kali ini kedatangan sahabatnya itu memang mengandung maksud tertentu. "Tidak juga, hanya saja kau tampak selalu sibuk beberapa minggu terakhir jadi aku pikir kau kemari karena ada sesuatu yang mendesak." Daniel meluruskan pandangannya pada figura besar di dinding berwarna cream itu, di sana tampak potret Savana kecil di pajang, wajah polosnya nampak sangat manis persis seperti saat ini. Gadis dalam figura itu masih sama, baik, penyayang, lembut, dan tak banyak menuntut. "Kau harus berkedip sebelum matamu kering." Daniel tertawa pelan, dia meminum segelas teh hangat yang sudah di sediakan Savana saat dirinya datang. Keduanya lagi lagi saling diam. Terjebak dalam pikiran masing masing, masih kalut untuk mengatakan apa yang sedari tadi mereka tahan. Kalau saja bisa, Daniel ingin mempertahankan keduanya. Hubungannya dengan Alexia dan juga hubungannya dengan Savana, terkesan sangat egois namun Daniel juga tidak ingin kehilangan gadis yang sudah menemaninya dari awal hingga kini. "Kalau saja aku berhak atas hatiku, pasti sudah ku buang jauh jauh dirimu." ucap Savana santai sembari memasukan potongan kue dari Daniel kedalam mulutnya. Savana berdecak kemudian menggeleng. "Tapi sayang sekali aku tidak berhak, Tuhan membiarkanku berkali kali menatap mata dan wajahmu dengan rasa sakit sekaligus benci." Daniel membungkam, dia memilih diam dan mendengarkan isi hati gadis di sampingnya itu. "Kau tau Daniel aku sangat ingin memukul kalian berdua, tapi sekali lagi ku pikir untuk apa? Apa yang akan berubah jika aku melakukannya? Apa kau akan menjadi miliku? Tentu saja tidak." Ada benarnya. Namun sekali lagi penuturan itu di ucapkannya juga dengan penuh keberanian, Savana mulai berpikir tengang hungan keduanya yang semakin memburuk jika terus di biarkan semakin larut. "Maaf Savana." lirih Daniel menyentuh tangan kiri gadis itu. Di genggamnya hangat, penuh penyesalan. Savana tertawa pelan. "Jangan terlalu senang, lagi pula aku sedang berusaha merayu Tuhan untuk membiarkanmu menjadi miliku." Daniel tak habis pikir. "Aku harus apa? Aku benar benar merasa aku menyukainya." Pria b******k di samping Savana itu berucap lesu, Savana sangat ingin menampar manusia ini. "Tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu." "Siapa bilang kau kehilanganku?." Wajahnya agak berubah cerah. "Aku tidak kehilanganmu?." "Tidak." Savana menjeda. "Aku yang kehilanganmu." Hening. ~~~ Alexia terbaring di ranjangnya yang setengah berserakan, dari pagi hingga kini dia belum beranjak sama sekali, maklum ini hari minggu. Semua orang libur bekerja, dia tidak sudi juga untuk bekerja rodi sendirian. Terdengar ketukan pintu dari luar pintu kamarnya, dengan suara malas malasan dia mengizinkan siapapun yang masuk, apalagi kalau yang masuk adalah Daniel. Mimpi. Windi tersenyum lebar sembari mengangkat dua kresek besar berwarna hitam, tidak tahu apa isinya tapi sepertinya enak. Hari ini Alexia tidak mood untuk keluar dan sarapan bersama keluarganya, pasalnya Bianca menginap dan sekamar bersama Galen. Leon dan Gema agaknya sudah tidak waras, mereka itu baru bertunangan belum menikah, bagaimana membiarkan dua orang dewasa berlawanan jenis dalam satu ruangan hingga pagi, pasti terjadi sesuatu yang sangat di inginkan para manusia manusia dosa. Ya, meskipun Alexia sendiri juga pendosa, namun dia merasa dia tidak terlalu buruk untuk masuk ke dalam surga. Sepertinya sih. Windi meletakkan tasnya diatas sofa kamar Alexia. "Astaga bangun Xia, wajahmu tampak lusuh seperti gembel." Diam diam Alexia mendesis, kalau saja Windi berani berkata seperti itu di kantor pasti sudah di pecatnya sekertaris multitalen itu. Windi tertawa, dia sibuk mengelurkan barang bawaannya untuk di tunjukkan pada manusia yang kini terlihat seperti setengah bernyawa. Tidak ada gairah hidup. Hari ini hampa. Batinan Alexia. Ada sekotak kue rasa matcha kesukaan Alexia, dan juga buah apel. Melihat bawaan Windi, gadis itu bringsut turun dari ranjangnya duduk di lantai yang dilapisi karpet berbulu tebal yang sudah pasti mahal harganya. Alexia mencomot satu buah apel di masukkannya ke dalam mulut, menggigit pelan lalu mengunyah malas. Windi hanya menggeleng gelengkan kepalanya tidak habis pikir, Alexia yang selalu tampak gila kerja serta menakutkan di kantor berubah 180° seperti pengangguran kekurangan uang. "Aku sedang bertanya tanya." ucap Windi ikut mengunyah apel yang tadi di bawanya. "Apa?." "Seberapa banyak uangmu di bank." random sekali, bisa bisanya Windi memikirkan hal yang tidak akan pernah dia miliki. "Banyak." jawab Alexia malas malasan. "Ya, seberapa banyak?." "Yang pasti lebih banyak daripada uangmu." Alexia menjeda, wajahnya tampak berfikir. "Sepertinya uangmu hanya 1% dari 99% uangku." Sialan. Sombong sekali manusia di sampingnya itu, ingin saja Windi menghardik namun dia sadar diri, memang benar faktanya seperti itu. Windi itu teman kuliah Alexia, mereka tak tampak akrab sebelum keduanya lulus dari bangku perkuliahan, terlebih lagi Alexia benar benar menjadi anak yang dipandang memiliki kasta tertinggi di kampus. Dia anak orang kaya, gayanya begitu mencolok namun tidak norak, hingga akhirnya saat mereka lulus Windi melamar pekerjaan di perusahaan Alexia, sedikit banyak Alexia ingat dengan wajah Windi karena dia tak pernah menitip absen tiap ada kelas. Kedekatan mereka terjalin begitu saja, Windi kira Alexia tidak sudi berteman dengan rakyat biasa sepertinya, namun ternyata Alexia sangat baik, murah hati, dan tidak pelit, meskipun mulutnya mengalahkan setan kalau sudah menghina. "Apa kau tidak pernah berfikir untuk berkencan?." tanya Windi lagi. Alexia mengunyah gigitan terakhirnya, menggeleng namun sedetik kemudian mengangguk. "Kalau iya harusnya kau mulai memikirkan banyak pria yang selama ini menyukaimu." "Pria yang mana?." beo Alexia seakan buta. "Anak anak pejabat tinggi dan colega bisnismu." jawab Windi mengingatkan. "Mereka menyukaiku?." "Hm." "Atau uangku?." sejenak keduanya saling diam. "Aku rasa uangmu." Windi nyengir menjawab jujur. Sudah Alexia duga, lagi pula dia tidak tertarik pada pria, pengecualian untuk seorang Daniel. Mengingat wajahnya saja Alexia sedikit bersemu. "Tapi apa salahnya kau coba, katamu kau ingin berkencan." "Aku sudah berkencan." Windi tersedak kaget. "Benarkah?." Alexia mengangguk malas. "Siapa? Siapa pria beruntung itu?." terlalu berlebihan. "Daniel." Windi syok, tidak mungkin. Tapi bisa saja mungkin, Windi menggaruk kepalanya sendiri. "Memangnya Daniel sudah menyatakan perasaannya padamu?." Alexia kembali menggeleng. Kali ini dia memasukan satu potong kue ke dalam mulutnya, dia melupakan soal diet ketat dan juga berat badannya. "ITU NAMANYA KALIAN TIDAK BERKENCAN!!." teriak Windi setengah emosi. Alexia menyorot mata Windi, muluynya penuh dengan kue. "Tapi kami berciuman." jawabnya enteng. "HAH!!." Mereka ini sudah dewasa kenapa sikapnya masih seperti ABG saja, Windi menyerapah Daniel diam diam. "Kalian berdua ini pura pura bodoh atau memang bodoh?." ~~~ Daniel tengah sibuk mengunyah potongan daging yang ada dalam mulutnya. Malam ini dengan mendadak Alexia mengajak pria tampan itu untuk makan malam, hanya diam dan tak saling bicara, namun Alexia memperhatikan Daniel dengan seksama. Daniel tampan, rambutnya setengah ikal, kulitnya tak terlalu putih, condong seperti kebanyakan orang asia tenggara lainnya agak kecoklatan namun tidak gelap. Hidungnya mancung, manik matanya coklat tua hampir mendekati hitam, tatapannya tajam, dia sempurna menurut Alexia. Sayang sekali gayanya bak pengangguran yang tak punya harapan untuk maju saat pertama kali Alexia menemukannya di pinggir pantai. Daniel mulai sadar sedari tadi Alexia terus menyorotnya. "Ada apa nona?." Alexia membuang nafas lesu. "Ada masalah apa?." tanya Daniel lagi setengah khawatir. "Aku harus membuktikan ini hanya rasa suka biasa atau cinta." Alexia menjeda, dia menyentuh tangan Daniel pelan, menautkan jari jemari mereka menjadi genggaman hangat. Daniel hanya menatap dengan wajah tidak paham, ini maksudnya bagaimana? "Ayo kita tidur bersama." Hampir tersedak air liur Daniel mencoba untuk mengatakan tidak. "Jangan berbicara ngawur seperti itu nona, apa kau mabuk?." "Kalau begitu akan ku coba dengan orang lain." putusnya gila. "TIDAK." Alexia menyunggingkan senyum puas. Begini toh rasanya di cemburui.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN